Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Berita Besar


__ADS_3

Semangat...!


Saat ini satu kata itu yang memenuhi diriku, aku tidak tahu bekerja di dapur menjadi hal yang sangat ku rindukan.


Sejak memutuskan menikah dengan Abi Fazila, aku mulai menjadi istri yang manja. Aku tidak pernah masuk kedapur lagi, bukan karena aku memanfaatkan uangnya untuk menyewa Asisten Rumah Tangga sehingga aku bisa hidup berleha-leha sambil tunjuk kanan dan kiri. Tidak, itu bukan gayaku dan aku pun tidak akan pernah meminta bantuan selama aku masih bisa mengerjakannya.


Saat aku mulai bekerja di dapur atau sekedar mencuci baju sendiri, tanpa memberitahukan ku diam-diam Abi Fazila mulai memarahi ART yang bekerja dirumah. Sering kali aku melihat itu. Aku tidak pernah mengabaikan amarahnya, perlahan aku mulai membimbingnya agar menjadi pria yang penyabar.


Dan malam ini? Aku merasa bahagia karena dia mengizinkanku bekerja di dapur tanpa perlu berdebat dengan siapa pun. Mungkin bagi orang lain ini hal sederhana dan tak perlu di banggakan sama sekali. Namun bagiku ini hal besar. Itulah alasannya kenapa kita tidak perlu membandingkan hidup kita dengan orang lain, karena kita memiliki standar bahagia yang berbeda-beda. Ada yang bahagia karena banyak harta, namun ada juga yang bahagia karena hidup sederhana apa adanya. Sama seperti diriku yang merasakan bahagia selama putri berhargaku, Fazila baik-baik saja.


"Nona, nona tidak perlu melakukan ini. Jika tuan Alan marah bagaimana?" Art separuh baya itu bertanya sambil memamerkan wajah tidak nyamannya. Melihatnya bertingkah seperti itu membuatku menghela nafas kasar, seharusnya dia tidak perlu merasa sungkan apa lagi takut padaku.


"Mbok jangan khawatir, itu tidak akan terjadi. Tuan Alan mengizinkan ku melakukan ini." Balas ku sambil tersenyum tipis. Mendengar penjelasan singkatku, Art separuh baya itu mulai merasakan lega.


"Saya harap nona betah menginap disini. Semua orang yang ada di rumah ini sangat baik, karena itu Mbok masih bertahan bekerja di tempat ini. Sebenarnya anak Mbok di kampung meminta Mbok untuk pulang dan tidak perlu bekerja lagi.


Seperti yang nona lihat, semua hal yang ada di rumah ini membuat Mbok merasa terikat. Mbok hidup dengan melihat Tuan muda Alan dan Nona Sabina tumbuh besar. Walau Mbok tidak dekat dengan tuan Alan, Mbok sangat mengenal beliau. Beliau orang yang sangat baik. Dan Mbok merasa bersyukur wanita sebaik Nona Fatimah menjadi pendamping Tuan Alan. Mbok berdo'a pada yang Kuasa semoga Tuan Alan, nona Fatimah dan nona kecil Fazila selalu di berikan kebahagiaan melebihi kebahagiaan siapa pun yang pernah Mbok kenal." Ucap Art separuh baya yang berdiri di depanku itu. Setiap hurup yang ia rangkai menjadi kata-kata berhasil membuat ku merasakan bahagia. Kata-katanya terdengar tulus, dan ucapannya berhasil menembus lubuk hati terdalamku. Hanya ucapan yang berasal dari hati yang akan menembus hati pendengarnya.


"Aamiin." Balas ku singkat kemudian memeluk Art separuh baya itu, senyuman tulusnya membuat ku merasa nyaman berada di dekatnya.


"Nona, Mbok permisi sebentarya? Mbok mau ke kamar kecil. Mbok akan memanggil Arta untuk menemani Nona. O iya, Arta itu keponakan Mbok dari kampung."

__ADS_1


"Iya Mbok, silahkan." Jawabku sambil menatapnya sebentar kemudian kembali fokus pada adonan kue yang ada di depan ku. Semuanya sudah siap, sekarang waktunya untuk memanggang.


Hhhaaaahhhhh!


Beberapa saat setelah Art separuh baya itu meninggalkan ku, entah kenapa nafasku mulai terasa berat, kakiku bergetar seolah tidak bisa menopang berat badan ku, sekujur tubuhku merinding. Aku sendiri tidak paham kenapa tiba-tiba aku merasa tidak nyaman. Pundak ku terasa berat seolah sedang memikul beban berat, dunia ini pun terasa berputar.


Ya Allah... Ada apa dengan diriku? Apa aku akan tiada? Jika aku akan tiada maka jadikan ini sebagai pemutus keburukan ku, masukkan aku kedalam hamba-hamba mu yang Salih. Aamiin. Aku bergumam di dalam hati sambil mengusap dada dengan sisa tenaga yang kupunya.


Gdebukkkkk!


Aku terjatuh, kepalaku membentur kaki meja. Aku ingin berteriak, namun suaraku tidak bisa keluar. Aku hanya bisa meringis menahan sakit di dalam hatiku. Perasaan takut ini membuatku hilang akal, namun sedetik kemudian aku kembali beristigfar, membaca Tahmid, Takbir dan Tahlil. Aku membaca semua yang kubisa. Apa ini mimpi atau kenyataan aku benar-benar tidak bisa membedakannya, aku melihat sosok wanita dengan tubuh jangkung berjalan kearah dapur, sedetik kemudian wajah cantik itu mulai memamerkan ketakutan, dan....


Aaaaaaaaaaaa!


...***...


"Kenapa Araf lama sekali? Dimana dia berada? Apa dia dimakan Singa sampai tak kunjung datang?" Aku mengoceh tanpa berpikir panjang. Kepanikan ini membuatku berada di titik aku pikir aku akan gila.


Gigi ku bergemeletuk menahan amarah. Pada siapa aku kesal? Aku sendiri tidak tahu. Tubuhku mulai merinding, melihat Ummi Fazila tak sadarkan diri di lantai membuat nafasku terasa sesak. Aku takut setengah mati.


"Sabar, nak. Araf bilang dia hampir sampai." Mama mencoba menenangkanku, percuma saja, aku tidak akan bisa tenang karena sumber ketenangan ku hanya bersama Ummi Fazila.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..." Balas ku dan semua anggota keluarga Wijaya.


Aku merasa lega melihat kedatangan Araf, aku pasti sangat mengejutkannya. Dia bahkan datang menggunakan piyama tidurnya.


"Semua orang tolong keluar, kecuali Sabina dan Tante Nani." Araf berucap santai sambil mengeluarkan beberapa alat medis dari dalam tasnya.


Aku bisa memahami kenapa dia menyuruh kami keluar, kami benar-benar berisik. Aku yakin Araf takut kami mengganggunya. Dan alasan Mama dan Sabina tetap diam di dalam karena Araf tidak ingin terjadi fitnah.


Tanpa perlu disuruh dua kali. Aku, Papa, Oma Ochi dan Opa Ade langsung keluar dan menunggu di lantai bawah. Jujur, rasanya nyawaku ada di ujung tenggorokanku. Menantikan Araf keluar dari kamar dan menunggu hasil pemeriksaannya terasa bagai sepakan.


"Apa dokter payah itu sedang tidur? Kenapa dia lama sekali? Hhuuuuhhh!" Aku mulai tak bisa mengendalikan perasaanku. Apa yang harus ku lakukan saat hal seperti ini terjadi? Duniaku terasa sempit.


"Alan, sabar nak! Oma yakin Araf akan segera kelu..." Oma Ochi belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi Araf sudah berjalan bersama Mama dan Sabina, menuruni anak tangga sambil menenteng tas medis di tangan kirinya. Wajah Mama terlihat berseri-seri.


"Ada apa dengan Fatimah, Araf? Apa yang terjadi sampai dia terlihat sepucat itu?" Oma Ochi mulai bertanya sambil memegang lengan Araf. Sementara itu, Papa dan Opa Ade hanya bisa mematung. Mereka memang tidak mengatakan apa pun, namun wajahnya menjelaskan seberapa besar tingkat kekhawatirannya.


"Oma tidak perlu khawatir. Fatimah baik-baik saja. Saat ini dia sedang HAMIL, kalian bisa membawanya kerumah sakit dan memastikannya pada dokter kandungan." Celoteh Araf sambil menatap semua orang.


Aku yang mendengar ucapan Araf langsung terdiam. Bahagia dan terharu, entah apa lagi namanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku langsung berlari menuju lantai atas. Berita besar tentang kehamilan Ummi Fazila membuatku berlari dengan senyuman lebar.

__ADS_1


Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, karena dulu Ummi Fazila menghabiskan waktunya sendirian, jika aku mengingat-ingat kembali waktu itu rasanya aku ingin mengutuk diriku sendiri. Tapi kali ini berbeda, aku berjanji aku tidak akan membiarkan Ummi Fazila sendirian walau hanya sekejap saja.


...***...


__ADS_2