
Aku terdiam sambil menatap wajah nyaris sempurna Ummi Fazila. Ku lihat wajah itu memamerkan penyesalan. Entah apa yang membuatnya merasakan penyesalan mendalam. Jika penyesalan itu datang karena dia telah menampar Seren, maka aku ingin dia menghilangkan perasaan bersalah itu. Bagiku, itu bukan masalah besar, yang jadi masalah jika Seren yang menamparnya. Jika itu terjadi, aku pasti akan mematahkan tangan yang berani melukai Wanita yang paling ku cintai itu.
"Jadi maksud Ummi, Ummi menampar Seren?" Aku kembali bertanya hanya untuk memastikan saja. Bukankah aku sangat konyol? Aku tahu jawaban yang akan ku dengar, tapi kenapa aku malah memilih menanyakannya.
"Iya... Ummi melakukannya!"
"Kanapa?"
"Karena Ummi marah padanya."
"Kenapa Ummi tidak memberitahukan Abi sejak tadi. Dan Ini? Untuk apa Ummi memamerkan wajah penuh penyesalan.
Abi sangat mengenal Seren, dia pasti mengatakan omong-kosong sampai membuat Ummi kesal. Sekarang katakan, apa yang dia katakan pada Ummi?"
"Seperti kata Ummi sebelumnya, Ummi tidak marah saat dia menghina Ummi. Ummi marah karena dia berani menghina putri ku. Dia bilang Fazila kita busuk."
Mendengar ucapan singkat Ummi Fazila entah dari mana datangnya amarah ku, aku mulai merinding. Tak seorang pun berhak menghina putri berharga ku. Dan kekesalan ini mulai memenuhi seluruh pori-pori tubuh ku.
"Jika Abi berada diposisi Ummi, Abi yakin Abi pasti akan melakukan hal yang sama. Sekarang lupakan Seren dan mari kita ke-pesta berharga Araf, jika dia tidak melihat kita, bisa saja dia kesal kemudian ngambek." Celoteh ku untuk mengalihkan pikiran Ummi Fazila tentang kejadian yang berhasil membuatnya prustasi.
Tidak ada balasan darinya kecuali senyuman saja.
Sementara aku? Aku berjanji di dalam hati akan memberikan pelajaran pada wanita kasar itu, berani sekali dia memanggil Fazila ku busuk.
...***...
Prok.Prok.Prok.
Suara tepuk tangan kembali memenuhi rumah megah itu, sepertinya lelucon yang di ucapkan host muda itu membawa kebahagiaan tersendiri bagi jiwa yang kurang mendapatkan waktu luang untuk sekedar mencari hiburan karena tumpukan pekerjaan.
"Dokter Araf? Menurut ku, dia cukup tampan. Tapi sayangnya aku jauh lebih tampan seratus delapan puluh derajat di bandingkan dengan dirinya." Lagi-lagi host muda itu berucap penuh semangat. Namun terkadang intonasi ucapannya terdengar tak beraturan, kadang tinggi kadang juga rendah.
"Hiks.Hiks.Hiks. Sayang sekali, setelah aku sadar ternyata ketampanan ku hanya ada di dalam mimpi." Sambung Host muda itu lagi. Tak ayal, hal itu berhasil membuat semua orang tertawa lepas. Begitu juga dengan Araf yang saat ini duduk satu meja dengan Mamanya, Tante Riska.
__ADS_1
"Bi... Lihat senyuman dokter Araf, sepertinya dia cukup terhibur setelah mendengar ucapan pria muda itu. Ngomong-ngomong kenapa pesta ini di adakan untuk menyambut kepulangannya?Apa dia benar-benar jarang di rumah?" Ummi Fazila bertanya setelah meletakkan gelas jus yang ada di tangannya di atas meja.
"Ooohhhh itu? Araf tidak terlalu dekat dengan papanya. Setiap kali mereka bersama, mereka pasti akan terlibat masalah. Hal itu bermula sejak kami duduk di bangku SMA.
Saat itu saudara perempuan Araf mencintai seorang pria dari kalangan biasa-biasa saja. Yang jadi masalahnya bukan karena pria itu miskin. Yang jadi masalahnya Papa Araf tidak menyetujui hubungan mereka karena pria itu berbohong tentang status keluarganya."
"Lalu apa yang terjadi dengan hubungan mereka?"
"Jangan tanya lagi, Mi. Karena Ummi tidak akan sanggup mendengar kebenarannya. Araf pun sama, dia tidak sanggup mendengar kakak yang sangat di cintainya tiada karena terhalang restu dari papanya.
Araf berpikir kakak perempuannya tiada karena sikap keras Papanya. Tapi nyatanya, mereka tiada dalam kecelakaan tragis yang akan membawa dua sejoli itu kabur menuju Pulau Dewata." Ucap ku sambil mengenang kembali kisah lama yang berhasil membuat sekujur tubuh ku merinding
"Saat mengetahui kakak perempuannya tidak ada bersamanya lagi, Araf mulai bersikap tertutup. Perdebatan dengan Papanya selalu saja terjadi, dia tidak hanya bersikap kasar, dia bahkan sampai menghancurkan semua hal yang ada di dalam hidupnya dengan perlahan. Untungnya saat itu Sabina remaja ada bersamanya, Sabina remaja mampu mengimbangi Araf yang liar. Dan lihat lah sekarang, dia berubah menjadi playboy hanya untuk memperlihatkan sikap berontaknya. Dia hanya memberontak pada papanya, Abi sendiri tidak tahu kapan Araf yang lembut dan bijaksana akan kembali lagi dalam kehidupan kami." Ucap ku panjang kali lebar.
Ummi Fazila yang mendengar cerita ku hanya bisa mengangguk pelan. Dan di antara semua orang hanya aku dan Ummi Fazila saja yang terlihat sedih. Aku sangat mengenal Araf, walau bibirnya mengukir senyuman namun bahagianya telah menghilang bersama dengan tertimbunnya tubuh kakak perempuan yang sangat disayangi dengan sepenuh jiwanya.
"Abi tidak perlu khawatir, lihat saja nanti. Hal yang telah hilang dari kehidupan dokter Araf perlahan-lahan akan kembali lagi padanya. Sesungguhnya bahagia itu tidak terlalu jauh dari kehidupan kita, yang harus kita lakukan saat masalah, musibah atau apa pun yang datang dalam hidup kita, kita harus bersabar dan bersyukur."
Seren... Kau benar-benar menjadi duri dalam kehidupan ku. Kau mengganggu ketenangan ku. Tunggu sampai malam ini berakhir, aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan mengurus mu sampai kau tidak akan bisa mengangkat kepala mu lagi. Aku bergumam di dalam hati sambil menatap wajah tersenyum Ummi Fazila, tangan ku mengepal sempurna. Amarah yang saat ini tidak bisa ku ungkapkan dengan sekedar kata-kata akan ku tuntaskan besok saja.
Sementara itu di meja makan duduk Araf, Mama dan Papanya. Ku tebak, Araf pasti sedang menahan amarahnya.
"Mam... Apa Araf bisa pergi sekarang? Araf merasa sesak di tempat ini."
"Sayang, Mama melakukan ini hanya untuk mu. Bagaimana kau bisa meninggalkan acara ini sebelum acaranya selesai? Jika kau melakukan itu Mama pasti akan merasa sedih."
"Apa Mama sedang mengancam Araf? Kenapa Mama selalu mengatakan hal yang sama?"
"Sudah, Ma. Biarkan saja dia pergi. Bukankah Papa sudah bilang percuma menariknya dengan cara seperti ini. Dia hanya akan memberontak, karena sejatinya dia hanya bisa memberontak." Papa Araf bicara dengan nada kesal, sayangnya dia pun harus menahan amarahnya karena dia berada di antara ribuan tamu undangan yang sedang menikmati pesta luar biasanya.
Tanpa berucap sepatah kata, Araf benar-benar meninggalkan meja yang dia duduki bersama kedua orang tuanya dan berjalan menuju meja Sabina, di meja itu duduk tiga gadis lain yang merupakan sahabat Sabina juga. Mereka terlihat santai, duduk sambil menikmati perasmanan yang ada, sayang sekali kegembiraan mereka harus berakhir saat Araf datang kemudian memegang lengan Sabina.
"Ayo kita berdansa!"
__ADS_1
Netra indah Sabina membulat sempurna. Antara terkejut dan tidak percaya dengan keadaan yang ada di depannya.
"Mas Araf apaan siihhh...! Sabina gak bisa, cari aja wanita lain, Sabina sedang membahas hal penting dengan teman-teman Sabina!"
Bukannya mengindahkan ucapan Sabina Araf malah menarik lengan kecil itu hingga berada di tengah-tengah pasangan lain yang sedang berdansa.
"Bagaimana pendapat Abi tentang Sabina dan dokter Araf?"
"Maksud Ummi?" Aku bertanya dengan mata menyipit.
"Maksud Ummi, mereka terlihat serasi. Bagaimana kalau...."
"Cukup." Aku memotong ucapan Ummi Fazila, karena aku tahu ucapannya tidak akan pernah terjadi. Bukannya aku bermaksud mendahulukan takdir, hanya saja aku sangat mengenal mereka, mereka berasal dari dunia berbeda. Menurut ku jiwa liar Araf tidak akan cocok bersama Sabina yang terkadang keras namun penurut.
"Mereka tidak akan cocok. Lagi pula tipe pria yang Sabina inginkan tidak ada dalam diri Araf." Sambung ku lagi sebelum Ummi Fazila kembali bertanya. Tatapan matanya seolah menjelaskan kalau dia tidak setuju dengan ucapan ku. Seolah tatapannya itu mengatakan 'Jika Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin.'
...***...
Aaaaauuuuu!
Araf meringis kesakitan, Sabina sengaja menginjak kakinya dengan harapan pria tampan itu akan membiarkannya pergi.
"Apa Mas Araf sudah gila? Kenapa Mas Araf menarik ku ke tempat Dansa? Lihat wajah Mama dan Papa ku? Lihat juga wajah Tante Riska, mereka terlihat heran." Protes Sabina sambil berbisik.
"Biarkan saja. Aku ingin kau membantu ku, kencan ku dengan model cantik itu harus berjalan lancar."
"Lakukan apa pun yang Mas Araf bisa, dan jangan libatkan aku dalam kekonyolan ini. Mas Araf dan Kak Alan terlibat dengan Model cantik, ujung-ujungnya kalian yang akan menangis. Aku heran dengan laki-laki, kenapa mereka lebih memilih wanita yang cantik dari pada wanita yang baik?" Celoteh Sabina lagi sambil mengimbangi langkah Araf di lantai Dansa. Mereka bahkan tidak menyadari semua mata menatap takjup padanya. Seolah tatapan itu mengabarkan kalau mereka pasangan serasi yang di ciptakan oleh yang kuasa.
"Kau tidak tahu saja, ketika kami para pria mendapatkan wanita yang cantik, kami merasa bangga membawa mereka kemana-mana." Araf terkekeh sambil mengeratkan genggaman tangannya di jemari lentik Sabina.
"Yayaya... Aku mengerti maksud Mas Araf. Tapi menurut ku, hanya laki-laki bodoh yang lebih memilih wanita yang cantik dari pada wanita yang baik. Tapi jika dia cantik dan juga baik seperti ku maka itu bonus yang di berikan Tuhan untuk mu. Apa sekarang sudah cukup? Biarkan aku pergi sebelum Tante Riska dan Mama ku berpikiran yang aneh-aneh dengan hubungan ini." Sabina melepas gengaman tangannya dari Araf, kemudian mundur dua langkah, setelah itu berlalu meninggalkan Araf di tengah-tengah lantai Dansa.
...***...
__ADS_1