
Pranggggg!
Sebuah Vas hancur berkeping-keping, menghantam cermin seukuran lemari. Bantal, seprai bahkan semua make up yang tertata rapi di atas meja rias pun berserakan di lantai.
Hiks.Hiks.Hiks.
Suara tangis kini memenuhi kamar yang terlihat seperti kapal pecah. Asisten rumah tangga yang berjumlah delapan orang itu pun terlihat heran mendengar suara tangisan, isakan dan juga bantingan yang bersumber dari kamar nona mudanya.
Sayangnya... Tidak ada yang berani menyapa nona mudanya. Bagi asisten rumah tangga yang tidak di hargai oleh yang empunya rumah, menyapa atau menghibur mereka saat dalam masalah sama dengan bunuh diri. Bukankah itu miris? Terserah apa yang di katakan orang tentang masalah ini, nyatanya itulah kebenarannya.
"Ada apa dengan penjahat itu?" Seorang asisten bertubuh kurus bertanya pada rekan lainnya.
"Ssstttttt! Jaga lidah mu jika kau ingin tetap bekerja disini!" Balas rekannya sambil berbisik.
"Aku rasa dia kehabisan stok obatnya, kalau dari yang ku dengar, aku yakin semua barang mewahnya pasti sudah berubah menjadi barang pecah belah."
"Ku bilang tutup mulut mu, jika kepala pelayan mendengar ucapan mu maka karir pelayan mu akan berakhir sebelum kau bisa mengedipkan mata. Dan yang membuat ku takut, bisa saja kau terbangun dalam penjara."
Pranggggg!
Satu bantingan keras kembali terdengar dari balik daun pintu. Kedua asisten yang tadinya bergosip dengan kehati-hatian kini terlihat memamerkan ketakutan.
Hiks.Hiks.Hiks.
Suara rintihan dan isakan kembali terdengar, siapa pun yang melihat dan mendengarnya akan langsung larut dalam kesedihan mendalam.
Jatuh cinta dan saling mencintai adalah kebahagian terbesar, namun tidak semua orang seberuntung itu dalam urusan cinta. Ada banyak krikil-krikil kecil yang terkadang mudah sekali membuat tersandung, dan saat terjatuh tidak ada yang bisa membantu untuk kembali berdiri tegak.
"Berani sekali wanita itu mengambil tempattttt kuuu! Aku akan membunuhnya, aku pasti akan membunuh-nya!"
Teriakan itu terdengar sangat lantang, dua asisten yang tadinya bergosip terlihat pucat. Sekujur tubuhnya merinding. Sungguh, suara teriakannya terdengar menggema di seluruh sisi rumah megah itu. Iblis yang bersembunyi pun akan tertawa melihat besarnya amarah yang tersimpan di dalam hatinya.
"Aku harus mengundurkan diri, aku tidak mau bekerja disini lagi. Jika aku tinggal lebih lama di tempat ini, aku takut aku akan berubah jadi monster seperti dirinya." Ujar asisten bertubuh kurus itu, ia berlari menuju kamarnya sambil menutup telinga dengan kedua tangannya. Saat sedang berlari dia tidak sengaja menabrak kepala pelayan. Untungnya setelah meminta maaf, kepala pelayan itu mengizinkannya untuk pergi.
"Apa Seren masih kesal? Apa yang di lakukan gadis gila itu?"
Kepala pelayan yang di tanya hanya bisa merunduk tak berdaya.
"Apa dia masih mengamuk seperti sebelumnya?"
"Syukurlah tuan Ruan sudah datang, hanya tuan Ruan yang bisa menenangkan nona muda. Jika dia terus kesal seperti itu, saya yakin nona Seren akan jatuh sakit." Bukannya menjawab pertanyaan, kepala pelayan itu malah memamerkan senyuman, ia merasa lega.
"Apa dia sudah makan? Apa dia masih di kamarnya? Apa Mama dan papanya sudah menelpon? Apa pria kurang ajar itu menelponnya? Kenapa dia bisa sekesal itu? Apa kalian melakukan kesalahan? Bukankah aku sudah meminta kalian untuk menjaganya? Kenapa kau membiarkannya berada dalam keadaan seburuk itu? Apa aku harus melenyapkan mu agar kau tahu aku sangat marah?"
__ADS_1
Kepala pelayan yang di tanya hanya bisa menatap pria rupawan yang berdiri di depannya dengan tatapan penuh penyesalan. Begitu banyak pertanyaan namun tak satu pun bisa ia jawab dengan suara lantang.
"Pergi dari hadapan ku sebelum aku melukai mu. Aaahhhhhhhh!" Ruan berteriak kesal. Ia beranjak menuju kamar Seren sambil membawa makanan yang ia ambil dari tangan kepala pelayan. Kini Ruan bisa mendengar dengan jelas suara tangisan pilu pemilik kamar tak berdaya itu.
Klikkkkkk!
Terdengar suara pintu di buka dari luar. Sontak pemilik kamar yang sejatinya saat ini sedang terluka langsung meraih satu-satunya vas yang masih utuh, tanpa berpikir panjang ia langsung melempar vas itu kearah pintu tanpa melihat siapa yang datang.
Pranggggggg!
Nasib sial tak bisa di hindari, vas itu mendarat tepat dikening Ruan. Darah segar kini mulai menetes dan membasahi pelipis kirinya. Sejujurnya ia tidak merasakan sakit pada lukanya, ia justru merasakan sakit karena melihat wanita yang sangat di cintainya itu seperti ular berbisa yang siap mematuk siapa pun yang mengganggunya.
"Tinggalkan aku sendiriiiiii... Bukankah aku sudah bilang aku tidak ingin di ganggu? Hiks. Hiks.Hiks." Isakan tangis Seren kembali terdengar.
"Apa kau merasa tenang? Apa kau merasa bahagia? Apa kau merasa terluka? Katakan pada ku agar aku bisa melakukan yang terbaik untuk mu!" Ruan berteriak sambil mengguncang tubuh ramping Seren Alamsyah. Matanya memerah karena menahan amarah.
"Untuk apa kau hidup seperti ini? Apa pria kurang ajar itu menemui mu? Tidak, kan? Lalu untuk apa kau menyakiti dirimu seperti ini, hah?" Ruan kembali berteriak.
Tidak ada balasan dari bibir Seren selain suara tangisan pilunya. Hal itu membangkitkan jiwa kelelakian Ruan, ia memeluk Seren sangat erat sambil menepuk pelan punggungnya. Seren mencium aroma lembut yang menguar dari tubuh pria rupawan itu, dan hal itu mendatangkan sedikit ketenangan bagi jiwanya.
Dua menit kemudian Seren langsung mendorong tubuh kekar Ruan sampai terjatuh di ranjang.
"Cukup. Sudah cukup. Aku muak dengan semua ini. Tak bisakah kau meninggalkan ku hanya untuk hari ini saja?"
"Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan mu!" Balas Ruan dengan nada tinggi.
Pranggggg!
Karena kesal Ruan melempar makanan yang tadi ia letakkan di atas meja, niatnya untuk makan bersama kekasih hatinya terpaksa harus kandas hanya karena Seren terus mengingat mantan terindahnya.
"Apa kau harus hidup seperti itu? Lihat kondisi mu? Kau tampak seperti kucing liar yang tak terurus.
Kenapa kau memikirkan pria tidak berguna itu, hah? Disana dia bersenang-senang dengan istrinya, sementara kau?" Ruan menghentikan ucapannya, dia tidak ingin mengatakan apa pun lagi, karena kesal ia bahkan mulai tak terkendali.
"Cukup. Aku bilang cukup. Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi." Balas Seren dengan mata menyala-nyala.
"Kau meminta ku agar tetap diam, itu tidak akan mengubah apa pun. Sadar Seren, sadar!
Di mana Seren yang ku kenal dulu? Seren yang anggun, percaya diri dan mengagumkan. Aku mohon kembalilah.
Kembalilah menjadi Seren yang cantik, Seren yang di agung-agungkan oleh semua orang, dan Seren yang selalu bersinar dengan senyum indahnya." Ucap Ruan sambil berjalan mendekati Seren, ia larut dalam perasaan cintanya sampai memberanikan diri memeluk Seren lagi.
Bukannya mendapat perlakuan manis, Seren malah mendorong tubuh kekar Ruan sampai membentur dinding.
__ADS_1
"Aku sudah bilang menjauh dari ku. Aku tidak ingin melihat wajah mu! Gara-gara kau Alan ku menjauh dari ku. Bertemu dengamu adalah kutukan bagi ku!" Seren berucap dengan nada tinggi, tatapan matanya setajam belati.
"Kutukan! Kau bilang bertemu dengan ku adalah kutukan?"
Ruan semakin kesal, ia mendekati Seren yang saat ini masih berdiri mematung. Tanpa berpikir panjang ia langsung menyerang bibir ranum Seren. Dengan sekuat tenaga Seren terus berontak, sayangnya tenaganya tidak sekuat sosok kekar itu.
Sedetik kemudian Seren mulai menikmati permainan bibir Ruan, ia bahkan sampai memejamkan mata karena terbawa suasana. Entah dari mana datangnya ingatan tentang kandasnya kisah cinta yang begitu ia elu-elukan.
"Menyingkir dari ku! Hentikan semua ini. Apa kau tahu kenapa hubungan ku dan Alan berakhir?"
Ruan yang di tanya hanya bisa mematung. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, dia mulai menatap Seren dengan tatapan heran.
"Kau tahu kan? Aku sangat mencintai Alan, hidup ku terasa tidak berarti tanpa kehadirannya di sisiku. Aku mencintainya dengan sepenuh jiwa ku. Seandainya kita tidak pernah menghabiskan malam bersama maka peristiwa buruk ini tidak akan pernah terjadi.
Alan meninggalkan ku karena dia melihat vidio saat kita menghabiskan malam bersama. Jadi aku mohon padamu, menjauhlah dari ku. Jangan mengganggu ku hanya karena hubungan satu malam itu. Hidup ku sudah berakhir." Ucap Seren sambil duduk di sisi ranjang, matanya masih meneteskan air mata.
"Kau tidak ingin aku mengganggumu? Maka hal yang sama berlaku juga bagimu, pria itu pasti berharap kau tidak akan pernah mengganggunya.
Tak bisakah kau melupakannya? Ayo kita menikah, kita bangun rumah tangga bahagia melebihi mantan kekasih mu itu!" Pinta Ruan dengan sepenuh hatinya. Kali ini ia menangkup wajah cantik Seren dengan kedua tangannya. Bukannya mendapat persetujuan, Seren malah semakin menjadi-jadi.
Plakkkkk!
Satu tamparan keras mendarat di wajah tampan Ruan, gejolak amarah Seren menuhi setiap pori-pori tubuhnya. Jika sudah seperti ini tidak akan ada yang bisa lolos dari cengkramannya.
"Aku bilang aku hanya ingin Alan! Walau pria di dunia ini melebihi jumlah pasir di gurun, aku tidak akan pernah berpindah hati. Aku bilang aku mau Alan kuuuuuu!" Seren kembali berteriak hingga urat lehernya menegang.
"Jika kau mencintai ku, maka kembalikan Alan padaku. Aku tidak perduli dengan wanita itu, entah dia hidup atau mati itu bukan urusanku." Sambung Seren lagi.
Kali ini ia terlihat sedikit tenang.
"Apa kau akan bahagia jika aku menyingkirkan wanita itu?" Ruan bertanya sambil menatap wajah menangis Seren Alamsyah.
"Aku bertnya padamu, apa kau akan bahagia jika aku menyingkirkan wanita itu?" Ruan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama karena dia tidak mendengar jawaban apa pun.
"Iya. Aku akan bahagia." Seren berucap dengan nada suara tinggi.
"Baiklah jika itu keputusan mu. Demi cintaku padamu, aku berjanji kau akan mendapatkan apa pun yang menjadi keinginanmu." Ucap Ruan sambil meneteskan air mata. Ia berjalan meninggalkan Seren yang masih duduk mematung.
Tak ada lagi percakapan di antara dua makhluk indah itu, Seren bahkan tidak berbalik menatap sosok yang dulu pernah mengisi hatinya.
Patah hati?
Dua kata yang terdengar sangat menyakitkan bagi jiwa siapa saja yang merasakannya. Tidak perduli seberapa kuat posisi mu dalam kehidupan ini, jika patah hati menyapa hati, yang kuat pun akan berubah menjadi lemah. Sejatinya Cinta itu menguatkan, dan bukan melemahkan.
__ADS_1
Cintailah orang yang kau cintai dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cintai." (Hr.Tirmidzi)
...***...