
Hari ku benar-benar berwarna, kehadiran Mama, Papa, Oma Ochi dan Opa Ade membuat ku semakin bahagia. Mereka tidak mengatakan apa pun tentang kebersamaan kami hari ini, walau begitu aku sangat mengetahui kalau mereka juga sangat bahagia melebihi diriku.
"Alan, sayang. Apa kau yakin akan mempekerjakan delapan bodyguard itu? Entah kenapa perasaan Mama mengatakan kalau ini tidak benar!"
"Mam... Alan lebih takut Fazila atau Umminya di ganggu oleh orang jahat tanpa kehadiran siapa pun disisinya. Setidaknya dengan kehadiran bodyguard itu Alan bisa tenang saat bekerja di kantor." Celoteh ku demi menggugurkan ketakutan Mama.
"Alan benar, Ma. Setidaknya kejadian yang menimpa Sabina tempo hari tidak akan pernah terulang lagi karena ada yang melindunginya." Kali ini Papa mulai masuk kedalam pembicaraan kami. Oma Ochi dan Opa Ade hanya bisa diam, tampaknya mereka sedang memikirkan solusi yang sama. Aku yakin kedua anggota tertua keluarga Wijaya itu akan membenarkan alasan ku. Bagaimanapun juga, kami semua sangat menyayangi Fazila dan Umminya dan kami tidak ingin mereka terluka.
"Apa yang di katakan Alan benar, Nani. Fazila harus ada yang melindunginya." Kali ini Opa Ade yang memberikan komentarnya, entah kenapa wajah Mama masih juga memamerkan kegelisahan tingkat tinggi. Ku akui tidak akan mudah meyakinkan Mama, karena diantara semua orang beliau-lah yang paling sulit di bujuk.
Untuk sesaat aku melirik Ummi Fazila, aku mencoba memberikan isyarat dari mata. Ku akui Fatimah ku memang keren, tanpa mengatakan apa pun dia tahu apa yang ku inginkan dan apa yang ku pikirkan.
"Mama tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Fatimah juga yakin, Abi Fazila akan menjaga kami berdua.
Jika boleh jujur... Fatimah juga merasakan ke khawatiran yang sama seperti yang Mama rasakan. Fatimah tidak suka pada orang-orang itu. Tapi, di detik selanjutnya Fatimah mencoba meyakinkan diri, apa pun yang di lakukan Abi Fazila itu pasti demi kebaikan kami berdua." Ucap Ummi Fazila dengan suara lemah lembutnya.
Mendengar ucapan Ummi Fazila, Mama hanya bisa mengangguk pasrah. Aku tahu Mama belum sepenuhnya menyetujui keputusan ku, setidaknya hari ini aku mengetahui dengan jelas kalau Mama lebih menyayangi menantu perempuannya dari pada anaknya sendiri. Dan aku sangat bersyukur untuk itu.
"Baiklah. Mama akan mengikuti keinginan Alan. Satu hal yang harus kau ketahui, Mama menyetujui keputusan Alan demi dirimu. Hanya demi dirimu." Ucap Mama menegaskan.
"Terima kasih, Ma." Ummi Fazila memeluk Mama erat, sangat erat sampai siapa pun tidak akan bisa masuk dan memecah kasih sayang antara ibu mertua dan menantunya.
"O iya, nak. Besok kau harus menemani Mama ke salon. Kita akan berdandan secantik mungkin agar semua pria terpesona melihat kecantikan kita." Ujar Mama sambil menangkup wajah cantik Ummi Fazila.
"Mam... Dia istri ku. Aku tidak ingin semua mata tertuju padanya. Apa Mama mau Alan memiliki saingan baru? Apa Mama benar-benar Mama ku?" Aku bertanya sambil berpura-pura cemberut. Bukannya mendapat perlakuan manis dari Mama, Mama malah bertindak kekanak-kanakan. Seumur hidup, aku tidak pernah melihat Mama bertingkah seperti itu kecuali hari ini.
Pletakkkkk!
Mama melempar bantal kecil yang ada di samping kirinya, tepat mengenai wajah ku.
"Ini urusan perempuan, laki-laki tidak boleh ikut campur!" Ucap Mama sambil memamerkan wajah sok garangnya.
Sedetik kemudian kami semua larut dalam tawa. Bahagia yang kurasakan detik ini tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Walau Oma Ochi dan Opa Ade tidak mengatakan apa pun, aku juga tahu mereka sangat bahagia. Wajah sepuh mereka tidak bisa berhenti memamerkan senyuman.
Sepertinya pesta yang akan di adakan di rumah Araf membuat Mama ketar-ketir sampai beliau ingin berdandan. Aku juga menantikan saat Araf bisa melupakan perasaan cintanya pada Ummi Fazila dan mendapat pasangan terbaik yang bisa membuat sifat kekanak-kanakan juga playboy-nya lenyap untuk selama-lamanya.
"Bi... Apa besok Fazila boleh kerumah Kakek Buyut? Fazila rindu Tante Sabina."
"Sayang... Kau baru saja pulang, apa kau tidak merindukan Ummi dan Abi?" Aku bertanya sambil menatap wajah polos putri manis ku.
"Abi sudah tahu jawabannya. Ummi dan Abi yang terbaik. Sampai kapan pun Fazila akan selalu menyayangi Ummi dan Abi."
__ADS_1
Fazila memeluk ku dan Umminya secara bergantian. Lengan kecilnya melingkari tubuh kekar ku.
"O iya... Mi. Apa Ummi tahu? Amir punya adik baru. Nama adiknya... Bagas. Terus Fazila kapan punya adik baru?" Putri manis ku bertanya dengan wajah memelas. Dan hal itu berhasil membuat wajah Ummi Fazila bersemu memerah.
Oma Ochi, Opa Ade, Mama dan Papa yang mendengar pertanyaan polos Fazila hanya bisa tersenyum sambil melirik ku dengan tatapan tajam.
Kurasa Mama yang paling penasaran dan ingin mendengar jawaban ku, tidak ada yang bisa ku lakukan selain duduk dalam diam. Entah kenapa melihat ku menggaruk kepala yang tidak gatal membuat Mama tertawa lepas. Seumur hidup ku, baru kali ini aku mendapat pertanyaan yang tidak ku ketahui jawabannya.
Putri saliha ku, Meyda Noviana Fazila ingin adik! Aku bergumam di dalam hati sambil menatap wajah Umminya.
...***...
12:30 Salon.
"Nyonya Nani anda di sini? Ini benar-benar kejutan." Seorang wanita dengan penampilan elegan menyapa begitu kami menginjakkan kaki di salon. Ku tebak usianya sekitar empat puluhan. Dia mendekat setelah meletakkan kotak yang ada di tangannya di atas meja.
"Hay... Seyra, apa kabar?"
"Kabar saya baik Nyonya. Sekarang katakan,
apa yang bisa saya bantu?"
"Perkenalkan, dia menantuku, Fatimah Azzahra. Kau harus membuatnya berkilau seperti berlian sehingga semua mata akan menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Lebih-lebih Alan-ku."
"Hahaha... Kau tidak perlu mengatakan itu Seyra. Aku percaya pada mu." Mama terkekeh sambil menatap ku. Netra teduhnya bersinar, aku yakin seyakin-yakinnya, Mama Nani pasti merasa bahagia dan terharu di saat bersamaan.
"Nona pengantin baru, anda sangat cantik. Tidak akan sulit mendandani anda. Cukup di poles sedikit dan di tambah perona bibir, saya yakin tuan Alan tidak akan bisa berkedip setelah menatap Bidadari seindah anda. Semoga anda di lindungi dari mata jahat."
"Terima kasih Nyonya Seyra. Anda tidak perlu menyanjung ku seperti itu, anda juga tidak perlu sungkan, anda bisa memanggil ku Fatimah saja." Ucap ku tanpa melepas senyuman.
Tanpa ku sadari sepasang mata sedang mengawasi ku dengan tatapan Elangnya, ia mendengus seperti banteng kelaparan. Kedua tangannya terkepal, giginya bergemeletuk menahan amarah. Matanya mulai memerah. Amarah sebesar itu tidak berguna, semakin besar amarah maka akan semakin besar juga kebahagiaan mu yang terkikis, dia tidak menyadari itu dan dia hanya bisa meremas jemarinya, ia hanya bisa berharap amarahnya segera tertumpah pada seseorang yang menurutnya telah mencuri kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.
"Saya sudah siap jika Nyonya Seyra ingin mendandani saya sekarang. Tapi, sebelum itu apa saya boleh permisi ke kamar kecil?" Aku bertanya sambil tersenyum.
"Tentu saja Nona pengantin baru bisa pergi. Toiletnya ada di lorong, belok kanan di ujung."
"Mam... Fatimah akan segera kembali." Ucapku berpamitan, setelah itu aku berjalan meninggalkannya bersama Bu Seyra. Untuk sesaat aku berbalik kebelakang, entah apa yang mereka bicarakan sampai senyuman Mama Nani memancarkan beribu-ribu kebahagiaan.
Syukurlah tidak ada siapa pun di toilet, aku merasa nyaman karena tidak ada siapa pun. Sayangnya perkiraan ku meleset, baru saja akan bersiap keluar, seseorang berdeham sambi memanggil namaku.
"Hoho... Ternyata ada gadis kampung disini, aku pikir kita tidak akan bertemu lagi."
__ADS_1
Aku menatap tajam kearah sosok anggun yang berdiri di depan ku. Wajah cantiknya mengukir senyuman sinis.
Dia lagi. Dia lagi. Sabar Fatimah. Tahan amarah mu. Aku bergumam di dalam hati sambil melipat lengan di depan dada, menatap tajam kearah gadis anggun yang saat ini sedang mencuci tangannya.
"Aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi. Nyatanya dunia ini hanya selebar telapak tangan, walau aku tidak menyukaimu, aku senang bisa bertemu dengan mu di tempat yang seharusnya di datangi oleh kaum elit saja." Ucap wanita aneh itu lagi, ia tersenyum? Aku tahu hatinya pasti sedang terbakar.
Aku masih diam di tempat ku berdiri sebelumnya tanpa bergerak seinchi pun.
Fatimah... Jika kau meladeni mantan kekasih suami mu yang kasar itu maka kau tidak jauh berbeda darinya. Aku kembali bergumam di dalam hati tanpa melepas pandangan ku dari wajah cantiknya.
"Maaf Nona Seren, saya tidak bisa bicara terlalu lama, Mama sedang menunggu di depan." Ucap ku dengan bahasa yang sangat sopan. Entah dimana letak kesalahan ku saat bicara padanya, bukannya bersikap lembut, gadis kasar itu malah melempar punggung ku dengan botol parfum yang ada di tangan kirinya.
Aaaaaaa...!
Aku meringis kesakitan karena punggung ku terkena botol yang terbuat dari kaca.
"Apa kau tidak waras? Tadinya aku ingin bersikap lunak padamu, sayangnya wanita kasar seperti mu tidak perlu di hadapi dengan hati karena kau tidak punya hati." Ucap ku dengan nada suara ketus.
Semampu ku, aku berusaha menahan amarah agar tidak mencacinya dengan kata-kata kasar karena aku bukan wanita yang suka mencaci siapa pun.
"Aku masih waras. Aku masih waras!" Seren berteriak dengan nada suara tinggi. Matanya memerah menahan amarah. Melihat tingkah anehnya aku hanya bisa menghela nafas kasar.
"Kau hanya wanita kampung, kenapa kau tidak kembali kekampung saja. Kau terlihat dimana-mana, kau seperti api yang membakar kebahagiaan orang lain. Aku benci wanita sok alim seperti mu. Kain penutup kepala yang kau gunakan hanya untuk menyembunyikan kebusukan mu, kau hanya bisa merayu pria kaya. Kenapa kau tidak tiada saja...!" Seren kembali berucap dengan suara lantangnya.
Sungguh, amarah yang coba ku tahan mulai meluluh lantakkan kesabaran ku. Dada ku terasa sesak. Nafas ku tak beraturan. Dia benar-benar kelewatan. Dan anehnya aku tidak bisa membiarkannya lagi.
Sok Alim? Busuk? Merayu pria kaya? Ucapan kasarnya benar-benar bergema di indra pendengaran ku.
"Bukan hanya kamu, putri busuk mu juga iiii...."
Plakkkkkkk!
Amarah ku kini memenuhi pori-pori tubuh ku. putri ku kebanggaan ku, kebanggaan Abinya, kebanggaan Oma dan Opanya, juga kebanggaan Kakek buyut dan Nenek Buyutnya. Berani sekali dia mengatakan putriku busuk. Satu tamparan tidak akan bisa menyumpal mulut kasarnya.
"Cukup! Sudah cukup aku mendengar sampah yang keluar dari mulut mu. Kau seorang perempuan, apa kau tidak merasa malu menghina perempuan lain?
Begitu banyak racun di hatimu, apa kau tidak merasa sakit? Aku menampar mu bukan karena kau menghina ku, aku menamparmu karena kau sudah berani menghina putri berharga ku. Kali ini kau berhasil membuat ku jengkel dengan ucapan kasarmu, kau harus berhati-hati." Ucap ku dengan pandangan tajam.
Saat aku bersiap untuk pergi Seren malah menarik lengan ku, dengan sigap aku berputar dan memelintir tangannya. Aku bisa mendengar dengan jelas, bibir ranumnya meringis kesakitan.
"Aku adalah seorang wanita dengan satu anak, aku tidak akan menghina harga diriku apa lagi sampai merayu pria kaya seperti yang kau katakan. Aku menikah dengan suami ku karena dia mencintaiku dan aku pun mencintainya. Dia tidak akan berbalik kebelakang hanya untuk menemui wanita kasar sepertimu." Ucap ku lagi sambil melepas tangan Seren.
__ADS_1
Aku meninggalkan gadis anggun itu dengan kemarahannya yang semakin memuncak. Aku merasakan kedua kaki ku bergetar hebat. Entah dari mana datangnya keberanian ku untuk melawannya. Bahkan dada ku berdebar sangat kencang, pelan aku mulai menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir, aku berusaha mengendalikan diriku agar aku tidak terlihat buruk di depan Mama Nani. Hari ini benar-benar hari yang berat bagi jiwa ku.
...***...