Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Ingin Cucu


__ADS_3

"Haii... Nak, kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menggigitmu." Ucap bu Nani sambil mengusap puncak kepala Fazila.


Senyum tulusnya membuat Fazila memberanikan diri untuk menatapnya.


"Maafkan putriku Nyonya, dia sangat mencintai Al-Qur'an. Jika dia mulai membaca atau menghafalnya, dia akan melupakan segalanya. Dan tanpa sengaja dia mengganggu perjalanan anda." Ucapku penuh penyesalan.


Wanita separuh baya yang berdiri di depanku, terlihat santai. Ia bahkan tidak melepas senyuman dari wajahnya.


"Tidak apa-apa, ini hanya masalah kecil. Anak-anak memang kadang-kadang melakukan kesalahan. Tapi, jika di bandingkan dengan anak tante, dia terlihat jauh lebih lembut. Bahkan, putri tante selalu membuat tante pusing." Ucap bu Nani dengan keluhan singkatnya.


"Ummi, Fazila lapar!"


"Kau lapar? Tunggu sebentar, sopir tante akan segera tiba dan membawa banyak makanan." Ucap bu Nani lagi, entah kenapa ia merasa nyaman berada di dekat anak kecil yang bahkan baru dikenalnya.


Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari lisan Fazila, sejujurnya ia merasa tidak nyaman karena ada orang asing yang terus menerus mengelus puncak kepalanya. Namun, bocah manis itu lebih memilih untuk diam.


"Ummi, Fazila mau duduk disana!" Tunjuk Fazila pada kursi Jati yang terletak di bawah pohon rindang.


Iklima memilih jalan paling depan, di ikuti olehku, Fazila dan tentu saja bu Nani.


"Jadi, Fazila terlibat dalam acara Hafiz Qur'an?" Bu Nani bertanya setelah kami duduk di bangku, ia memandang lekat wajah Fazila.


"Benar, nyonya. Putriku lolos dalam audisinya. Pihak stasiun Tv meminta kami untuk segera datang, karena itulah kami ada disini."


"Bagus kalian ada disini, acara ini adalah acara terbaik. Aku selalu salut pada setiap orang tua yang berhasil menuntun anak-anak mereka menjadi penghafal Qur'an. Karena rasa salut itu aku terlibat untuk mensponsori acara ini." Ucap bu Nani dengan perasaan bahagia yang teramat besar.


"Nyonya, ada telpon dari tuan!" Ucap pria separuh baya yang menghampiri kami, sedetik kemudian ia menyodorkan ponsel yang ada di tangan kanannya.

__ADS_1


"Saya permisi sebentar."


Aku dan Iklima sama-sama mengangguk pelan mendengar bu Nani meminta izin. Padahal, walaupun beliau tidak mengatakan apa-apa, kami tidak akan mengatakan apapun padanya.


"Ia, pa." Jawab bu Nani kemudian menjauh dari meja yang kami duduki.


"Apa nona Fatimah butuh sesuatu? Jika nona Fatimah butuh sesuatu, anda bisa menghubungi nomor ponsel saya, saya janji akan segera menemui anda." Iklima menatapku sambil tersenyum. Aku pun balas tesenyum padanya.


Kami bahkan belum genap dua puluh empat jam saling mengenal. Iklima memperlakukanku dan Fazila sangat baik, sampai aku merasa tidak nyaman untuk meminta apapun lagi.


"Tidak, terima kasih. Nona Iklima sudah melakukan segalanya untuk kami, aku akan menelpon dokter Araf dan mengatakan kalau anda tidak perlu melakukan apa pun lagi."


"Kakak cantik! Kakak cantik mau pergi? Jangan lupa kunjungi Fazila, Fazila pasti akan merindukan kakak cantik." Ucap Fazila pelan.


"Kakak cantik janji, kakak cantik pasti akan mengunjungi Fazila ku yang manis ini. Walaupun kakak cantik tidak bisa mengunjungi Fazila terlalu sering karena kesibukan di kantor, kakak cantik akan melihat Fazila di Tv, kau harus janji, kau harus menang dalam lomba ini." Balas Iklima sambil menyodorkan tangannya hendak menjabat tangan Fazila.


"Fazila tidak bisa janji. Janji dibuat untuk ditepati, sementara Fazila? Fazila tidak yakin bisa menang dalam kompetisi ini. Jika pasangan lombanya Amir, Dena dan Lisa, maka Fazila yakin bisa mengalahkannya. Disini berbeda, pasti bayak orang-orang hebat yang ikut dalam lomba. Fazila tidak ingin mengecewakan siapapun." Ucap Fazila pelan, terdengar nada berat dalam setiap ucapannya. Aku tidak ingin putriku terbebani oleh kata 'Kalah dan menang' Aku hanya ingin ia menikmati setiap prosesnya tanpa beban.


"Kenapa kau merasa khawatir, soal kalah dan menang itu bukan masalah besar. Kau hanya perlu fokus dalam setiap penampilanmu, nikmati prosesnya, percayalah pada Tuhan, semuanya akan baik-baik saja." Ucap bu Nani begitu ia duduk di bangku yang sempat ia tinggalkan beberapa saat lalu karena menerima panggilan.


Pelan Fazila mengangkat wajah merunduknya, kemudian menatap sosok asing yang duduk di samping Iklima.


"Ia, sayang. Maksut kakak cantik juga begitu. Kau tidak perlu merasa takut. Lihatlah kami berdua, walau kami baru mengenalmu tapi kami mendukungmu. Banyak hal luar biasa yang akan terjadi di panggung Hafiz nantinya, kau hanya perlu menyiapkan hatimu." Sambung Iklima.


Mereka benar. Kami bahkan baru mengenal, tapi mereka layaknya sahabat dan keluarga sendiri. Iklima dengan sikap ramahnya, dan bu Nani dengan sikap bersahajanya. Semua resah dan gelisah yang ku bawa dari kota asalku kota Malang serasa menguap keangkasa karena menerima kebaikan dari dua orang yang saat ini duduk di depanku sambil mengumbar senyum terbaiknya.


"Nyonya ini makanan yang nyonya minta."Ucap pria separuh baya itu lagi.

__ADS_1


"Terima kasih." Balas bu Nani sambil menerima bingkisan yang disodorkan pria itu padanya.


"Kau boleh pergi, tunggu saja di mobil. Atau kau bisa mencari tempat yang nyaman untukmu meminum kopi."


"Baik nyonya." Ucap pria itu kemudian ia berlalu dari hadapan kami.


"Bukankah kau bilang kau lapar! Makanlah! Ini makanan terenak. Makanan ini berasal dari Restoran langganan keluarga kami." Ucap bu Nani sambil membukakan kotak makanan yang ada di depannya.


"Wah... Ini sangat enak!" Fazila takjub dengan makanan yang bu Nani sodorkan padanya, sedetik kemudian ia mulai menyebikkan bibir tipisnya begitu melihat bayangan Oranye bercampur menjadi satu dengan makanan yang ada di depannya.


"Ummi, aku tidak mau makan makanan ini!" Keluh Fazila sambil menarik pelan jilbabku.


"Kenapa sayang? Apa kau tidak suka dengan makanannya? Ini sangat enak! Cobalah, kau akan ketagihan." Bu Nani mencoba membujuk Fazila, dan sayangnya sampai kapanpun Fazila tidak akan pernah berhasil di bujuk oleh siapapun termasuk aku sendiri.


"Tidak. Fazila tidak suka makanannya." Jawab Fazila polos.


"Sayang, kau tidak boleh bersikap seperti itu pada orang yang berbuat baik padamu! Bukankah Ummi selalu bilang kalau kau tidak boleh menghina makanan, sekarang katakan apa yang sering Ummi ajarkan padamu?"


"Jangan makan sampai kekenyangan, itu akan membuatmu malas. Jangan menghina makanan karena di luar sana banyak orang yang kelaparan." Jawab Fazila dengan wajah polosnya. Bu Nani dan Iklima terlihat takjub dengan ucapan singkat Fazila.


Sedetik kemudian Fazila mengambil kembali makanan yang di berikan bu Nani padanya, perlahan ia mulai menyingkirkan Wortel yang ada. Sikap dan prilaku Fazila mengingatkan bu Nani pada seseorang yang begitu akrab dengannya.


"Maafkan Fazila nyonya, sejak kecil putriku ini memang tidak suka Wortel." Ucapku mencoba menjelaskan, aku tidak ingin bu Nani kecewa melihat tingkah Fazila.


Oohhh Tuhan, melihat anak ini membuatku sadar kalau dia sangat mirip dengan Alan. Raut wajahnya ketika menyingkirkan Wortel, gerakan tangannya ketika melakukan suapan pertama. Cara dia merunduk, dan cara dia bicara seolah salinan dari putraku. Mereka memiliki gerakan dan persamaan yang luar biasa. Aku harus bertemu dengan Alan dan memaksa anak itu untuk segera menikah! Aku mau cucu yang lucu dan pintar seperti Fazila. Tuhan, persamaan antara Alan dan Fazila membuatku sadar kalau aku ingin cucu. Lirih bu Hanum sembari memandangi wajah Fazila yang sedang menikmati makanannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2