
"Iklima. Kamu dan Bobby boleh pulang. Sebelum kalian pulang bawakan dokumen laporan bulan ini." Ucap ku tegas, kemudian mematikan sambungan telpon.
Semenit kemudian, suara nyaring dari ketukan pintu memenuhi indra pendengaran ku. Sebelum mempersilahkan masuk, wajah Iklima muncul dari balik daun pintu. Wajah wanita dua puluhan tahun itu terlihat segar dan menawan walaupun di sore hari. Ia mengenakan Blazer orange, dan rok selutut berwarna hitam yang di padu pandankan dengan sepatu berwarna senada.
"Ini dokumen yang bos minta! Oo iya bos, pihak Stasiun Tv tadi menelpon, mereka bilang bulan depan sudah ada keputusan Audisi, dan hasilnya akan di umumkan melalui Website mereka." Ucap Iklima sambil memandang kearahku, aku terlalu fokus pada pekerjaan ku sampai tidak memperhatikan gadis anggun itu, dan aku memang tidak akan pernah bisa memperhatikan gadis manapun.
"Minta Bobby mengantar mu pulang. Sekarang pergilah." Ucapku lagi dengan suara datar. Iklima berjalan mundur, kemudian pelan menutup pintu tanpa menimbulkan suara.
Hhhhh! Aku menghela nafas kasar, kemudian menyandarkan kepala di sandaran kursi. Hati ku terasa hampa, aku merasa ada yang hilang dari ku. Aku ingin menangis namun air mataku rasanya tertahan di pulupuk mataku.
Tuhan, aku tahu aku tidak terlalu dekat dengan mu. Meskipun demikian aku akan tetap memohon padamu, tolong jangan berikan aku masalah melebihi batas kemampuan ku. Aku terlalu lemah untuk tidak mengeluh. Aku bergumam sendirian.
Dada ku terasa sesak, dan jantung ku berdetak lebih cepat. Untuk menghilangkan kejenuhan, pelan aku melangkahkan kaki menuju jendela. Berdiri sembari menyaksikan gemerlap ibu kota dengan lampu yang menembus cakrawala.
Aku menutup mata sambil merentangkan kedua tangan, suara tawa yang berasal dari kebahagiaan yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, dan suara tangisan yang bersumber dari kesedihan rasanya bisa kurasakan.
Bahagia? Itu terlalu jauh dariku, aku sendiri tidak bisa mengukurnya dengan jarak tempuh sekian kali sekian.
Kesedihan? Ya... Satu kata itu sangat dekat dengan ku sampai aku sendiri merasa sesak karenanya. Tidak ada hal yang kusukai, rasanya aku ingin menghilang saja dari dunia ini.
Ooh tidak, aku tidak sebodoh itu dan tidak seputus asa itu. Karena ku orang lain masih bisa hidup, ada ribuan karyawan yang bekerja di bawah naungan perusahaan ku. Rasanya terlalu bodoh untuk memikirkan kata menghilang. Dan aku bukanlah seorang pecundang.
__ADS_1
Alan... Kau harus kuat. Jika kau tahu Rencana Tuhan untukmu dan bagaimana dia mengatur segala urusanmu maka kau akan menangis karena jatuh cinta padanya. Gumamku menguatkan diri sendiri.
Kau dimana? Cepat pulang, Opa mu memintamu untuk segera pulang. Ada hal penting yang ingin beliau katakan. Jangan sampai terlambat, kami menanti mu untuk makan malam. Aku meraih ponsel di saku ku, dan pelan membaca pesan. Pesan dari mama yang artinya 'Alan kau berada dalam masalah'.
Yah, aku yakin tidak ada yang baik jika itu menyangkut Opa. Meskipun demikian aku harus segera pulang karena masalahku jauh lebih kecil dari perasaan kasih sayang dan cinta yang ku miliki untuk semua anggota keluargaku.
...***...
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di meja makan, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu saja yang saling bersahutan. Aku masih sibuk mengunyah makanan ku ketika Opa berdehem memecah keheningan di antara senyapnya udara.
"Lanjutkan makan malam kalian. Jangan hiraukan aku." Ucap Opa sambil meraih gelas air mineral di dekat tangan kanannya.
Opa beranjak dari tempat duduknya menuju ruang keluarga, dan di ikuti oleh semua anggota keluarga termasuk aku di dalamnya. Mama duduk di samping Oma. Sementara papa, beliau duduk di samping Sabina, adik manja ku yang terkadang sangat ceroboh.
"Apa papa membutuhkan sesuatu? Katakan pada kami agar kami bisa melakukan apa pun yang papa inginkan." Ucap Mama memecah keheningan.
Papa masih diam, beliau masih menunggu apa yang akan di ucapkan Opa selanjutnya. Rasanya aku ingin tersenyum melihat wajah jenuh Sabina, jika ia di izinkan membuka suara pasti ia akan mengatakan 'Aku tidak ingin terlibat dengan urusan orang dewasa' sayangnya ia tidak akan bisa mengatakan apa pun karena di rumah kami keputusan Opa adalah keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat. Keputusannya adalah Hukum yang harus di jalankan.
"Aku sudah menemukan gadis baik untuk Alan. Besok kau harus bertemu dengannya." Ucap Opa mengagetkan semua orang
"Apa?" Aku hanya bisa memamerkan wajah terkejutku. Mama dan Papa saling lirik sebentar, mereka sama terkejutnya seperti ku.
__ADS_1
"Papa, biarkan Alan memutuskan pilihannya sendiri. Kita sebagai orang tua tidak perlu terlibat terlalu jauh. Lihat wajahnya? Dia terlihat tidak senang." Ucap mama yang mengerti makna tatapan tajam ku.
"Dia sudah besar! Tapi kelakuannya seperti anak-anak. Dia cucu laki-laki satu-satunya Wijaya, aku tidak akan pernah membiarkannya hidup seperti tidak terlihat. Kebebasan yang kita berikan padanya telah membuatnya terlena." Opa Ade marah, ucapannya memenuhi langit-langit rumah. Untuk pertama kalinya aku melihat beliau semarah itu.
Wijaya? Nama belakang itu seolah menjadi beban bagiku, setiap ada hal yang tidak ku sukai nama belakang itu akan berperan seperti cambuk yang membuat sekujur tubuhku terasa sakit.
Pelan aku melonggarkan Dasi yang mengikat di leherku. Aku mencoba menahan amarahku agar tidak meledak, suasana hatiku sedang tidak baik di tambah amarah yang di tujukan Opa membuat kesabaranku secara perlahan mulai terkikis habis.
"Apa kalian tahu apa pendapat orang tentang keluarga kita? Mereka memandang remeh pada kita hanya karena Anak kalian ini memutuskan hubungannya dengan Seren. Tidak tahu wanita seperti apa lagi yang di butuhkannya."
"Pa, biarkan Alan sendiri! Papa tidak perlu lagi mengungkit masalah Seren. Dia sudah menjadi masa lalu sejak Alan memutuskan pertunangan mereka." Papa mulai angkat bicara, lelaki penyabar itu membelaku di depan papa mertuanya yang sangat di hormatinya. Itu artinya papa ingin segera mengakhiri perdebatan konyol ini.
"Ini semua salah kalian. Kalian terlalu memanjakannya. Dia di hormati karena dia bagian dari keluarga Wijaya." Lagi-lagi Opa meninggikan suaranya, papa, mama, Oma dan Sabina hanya bisa menghela nafas kasar, seharusnya perdebatan ini tidak terjadi.
"Lakukan apa pun yang Opa inginkan, aku tidak akan terlibat dalam rencana itu." Aku bersiap untuk pergi, aku lebih memilih untuk tidak mendengarkan perdebatan yang melibatkan ku di dalamnya. Opa terlalu menuntut dalam setiap hal, dan aku bukanlah cucu yang sabaran untuk selalu mengikuti kehendaknya.
Plakkk!
Satu tamparan mendarat tepat di pipi kananku, wajahku terasa nyeri namun aku tidak menghiraukan itu lagi. Aku lebih memilih meninggalkan rumah dari pada meladeni kemarahan Opa. Ku lihat mata Mama mulai berair, aku sangat sedih melihat itu namun aku tidak bisa menghapus air matanya. Aku merasa seperti anak yang tidak tahu diri, dan itulah yang membuat hatiku terasa sakit. Lebih sakit melebihi ketika Seren menghianati ku.
...***...
__ADS_1