Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Kurang Garam


__ADS_3

Sepekan berlalu sejak acara pesta itu, kehidupan rumah tangga ku dengan Ummi Fazila berjalan benar-benar sangat luar biasa.


Ummi Fazila mengurus ku dengan sangat baik. Di mulai dari bangun pagi, wanita saleha penyejut mata dan hati ku itu tidak membangunkan ku dengan cara berterus terang. Ku pahami itu, itu terjadi karena jarak kami yang belum terlalu dekat.


Wanita saliha itu terbangun sebelum azan subuh berkumandang, sejak ia membuka mata aku selalu mengawasi setiap gerak geriknya. Terkadang ia akan bolak-balik sambil menatap wajah ku yang sedang berpura-pura terlelap. Jujur, saat dia melakukan itu rasanya aku ingin tertawa lepas, aku tidak pernah bertemu dengan wanita pemalu seperti dirinya sebelumnya.


Terkadang dia juga mengeraskan suara air yang bersumber dari kamar mandi. Tidak ada hal yang membuat ku tidak semakin jatuh cinta padanya, dia benar-benar tipe sempurna.


Selama sepekan ini hanya Aku dan Ummi Fazila saja yang tinggal di istana megah berlantai dua yang ku tinggali selama lima tahun terakhir, putri saliha ku Meyda Noviana Fazila bilang akan tinggal di rumah kakek buyut agar Ummi dan Abinya semakin dekat. Bukankah dia sangat pengertian? Hahaha... Aku tahu itu, putri cantik ku memang seperti itu, aku bisa mengandalkannya dalam segala hal.


Apa yang harus ku lakukan? Aku bergumam sendiri sambil membasuh tubuh kekar ku dengan air dingin.


"Apa aku harus mengajak Ummi Fazila menonton Flem? Tidak. Tidak. Aku yakin dia pasti tidak akan menyukainya!"


Bukankah aku sangat bodoh? Aku bertanya pada diriku sendiri, pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawabannya.


Alan... Apa kau sadar sekarang kalau kau sangat membosankan? Seharusnya kau manfaatkan momen ini sebaik mungkin agar kau tidak menyesalinya! Lagi-lagi aku hanya bisa bergumam dalam hati.


Dengan cepat aku meraih handuk yang tergantung tidak terlalu jauh dari tempat ku berdiri. Menutup setengah tubuh dan membiarkan tubuh bagian atas ku tak berlapis sehelai benang pun. Otot-otot dada yang kekar bersama tubuh gagah ber-sixpack kini berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengacak-acak rambut basah dengan jemari.


"Sarapannya sudah siiiiii."


Ucapan Ummi Fazila tertahan di tenggorokannya begitu melihat ku keluar dari kamar mandi. Wajah terkejutnya terlihat sangat manis, dia terlihat seperti kelinci menggemaskan bila sedang terkejut.


"Ma-maafffff. Aku tidak segaja." Ucap Ummi Fazila cepat, ia kembali membuka suara setelah tubuh rampingnya sempurna membelakangi tubuh kekar ku.


"Lain kali aku akan mengetuk pintu sebelum masuk kamar, aku tidak pernah menyangka kebiasaan lama ku terbawa sampai rumah Abi Fazila." Sambung Fatimah ku lagi.


"Ti...tidak apa-apa! Ini juga kamar Ummi Fazila, lain kali aku akan berhati-hati." Balas ku sambil tersenyum gemas.


"Iya, baiklah. Mulai hari ini kita berdua akan berhati-hati. Cepat ganti baju, setelah itu turun kebawah. Sarapannya sudah siap." Sambung Ummi Fazila lagi. Dari suaranya aku bisa mengetahui dengan jelas kalau dia sangat gugup, tentu saja hal yang sama berlaku bagiku. Hanya saja aku berusaha menenangkan hati ku agar tidak terlihat seperti pecundang.


"O iya.... Mama telpon, Mama bilang kita harus kerumah beliau dan menengok Fazila." Ucap ku sebelum Ummi Fazila melangkah keluar kamar.


"Baiklah. Aku akan bersiap-siap setelah selesai menyiapkan sarapan."


Semenit kemudian Ummi Fazila tak nampak lagi di netra ku.


Satu. Dua. Tiga.


Huhhhhhhh!

__ADS_1


Aku membuang nafas lega, seandainya Ummi Fazila masih berdiri di depan ku, aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan hati ku. Dada ku berdebar sangat kencang, aku bahkan bukan anak Abg yang baru merasakan cinta, namun entah kenapa setiap kali berada di dekatnya membuat ku merasakan getaran luar biasa.


Sambil membuang nafas lega netra teduh ku menatap kearah ranjang, celana jeans biru dengan kaos putih sudah ada disana. Tak lupa Ummi Fazila juga meletakkan jam tangan di atas kaos putih itu. Karena bahagia, aku bahkan meraih baju itu, mendekapnya di dada sambil tersenyum seperti orang tidak waras.


"Ayo Alan... Cepat. Bidadari mu sedang menunggu di bawah. Kau tidak boleh membuatnya menunggu terlalu lama." Celoteh ku sambil memakai pakaian ku satu demi satu.


...***...


"Kenapa dia lama sekali? Kenapa dia belum turun? Apa aku harus memanggilnya lagi?


Tidak. Tidak.


Bagaimana jika hal itu terulang lagi? Maksud ku bagaimana jika dia belum menggunakan pakaiannya seperti tadi. Itu benar-benar memalukan, dada ku masih berdebar sangat kencang." Celoteh ku sambil meremas jemari. Aku benar-benar sangat menyesal.


Aku menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar dari bibir, berjalan pelan menuju anak tangga.


Huhhhhhhh!


"Baiklah, aku akan naik. Kali ini aku akan mengetuk pintu sebelum masuk. Aku tidak mau hal itu terulang lagi, aku benar-benar tampak seperti orang bodoh." Ucap ku lagi, kali ini aku menepuk pelan pipi ku untuk menyadarkan diri.


Baru saja melangkahkan kaki, ku lihat sosok sempurna itu berjalan pelan sambil menuruni anak tangga. Wajah rupawan itu memamerkan senyuman, ia berjalan sambil memakai jam tangan.


Fatimah.... apa yang kau lakukan? Apa aku terlalu terburu-buru? Lihatlah... Pria rupawan itu bahkan belum sempat memakai jam tangannya! Aku bergumam di dalam hati. Namun sebenarnya aku merasakan malu luar biasa.


"Tidak apa-apa. Silahkan duduk." Pinta ku sambil menunjuk meja makan.


"Wah... Aroma ini benar-benar membangkitkan selera makan ku."


"Aku tidak yakin dengan rasanya. Semoga Abi Fazila menyukai-nya." Balas ku pelan.


Tidak ada balasan dari Abi Fazila selain senyuman menawan yang masih mengembang di wajah tampannya. Sungguh, aku semakin tersipu malu. Senyumnya, perlakuan lembutnya, tingkah manisnya, sikap ramahnya, semua itu semakin membutku terpesona. Ternyata benar kata orang bijak, tak kenal maka tak sayang.


Ku akui aku tidak sesayang itu padanya, hanya saja akhir-akhir ini aku merasakan ada yang aneh dengan hatiku. Dada ku selalu berdebar kencang saat dekat dengannya, bahkan nafas ku terasa tak beraturan. Dan lebih anehnya lagi netra indah ku selalu mencari keberadaan Abi Fazila saat aku jauh darinya.


Apakah aku sedang jatuh cinta? Jawabanya, tentu saja aku masih belum yakin soal itu. Karena sejujurnya aku tidak pernah mencintai siapa pun sebelumnya, aku tidak pernah merasakan cinta seperti pasangan lainnya. Aku pun masih menunggu akhir dari kisah aneh ini.


"Apa pun yang Ummi masak, aku pasti akan memakannya, asal jangan taruh racun saja. Aku masih muda." Guyon Abi Fazila sambil terkekeh. Dia benar-benar tampan saat sedang tertawa seperti itu.


"Ummi?" Aku bertanya dengan alis sedikit berkerut.


"Maksud ku, aku pasti akan menikmati apa pun yang Ummi Fazila masak untuk ku. Jadi jangan khawatir tentang aku tidak akan memyukainya."

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum tipis untuk mengekspresikan bahagia ku, dan di saat seperti ini tidak ada jalan lain yang bisa ku tempuh selain menghindar dari tatapan indahnya. Aku tidak ingin Abi Fazila mengetahui perasaan aneh yang ada dalam hati ku, perasaan aneh yang berhasil membuat kembang kempis dadaku.


Untuk sesaat aku kembali menatap mata indahnya, kami saling membalas senyuman. Setelah itu ia kembali fokus pada makanan yang ada di piringnya.


Satu suapan!


Baru saja satu suapan, ku lihat wajah tampan itu mulai mengerutkan keningnya. Bahkan wajahnya memamerkan kebingungan. Aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan.


"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?" Aku bertanya sambil berdiri di samping kirinya.


"Duduklah."


"Apa makanannya tidak enak?" Aku mengulangi pertanyaan yang sama sambil menatap wajah heran Abi Fazila.


"Aku tidak tahu ada apa dengan makanan ini, tapi sepertinya ini kurang garam!"


"Kurang garam? Tidak mungkin. Aku sudah mencobanya, dan rasanya baik-baik saja." Balas ku membela diri.


Abi Fazila yang mendengar jawaban ku malah tersenyum tipis. Sedetik kemudian aku duduk sambil meraih sesuap nasi dan lauk yang ada di piring Abi Fazila. Perlahan aku mulai mengunyah dan merasakan tidak ada yang salah pada makanannya.


"Makannya baik-baik saja. Garamnya juga sudah pas." Ucap ku lagi sambil melirik wajah tampan Alan Wijaya. Aku benar-benar terpesona melihat senyuman indahnya.


"Makanannya baik-baik saja, aku yang tidak baik-baik saja. Makanlah bersama ku!" Pinta Abi Fazila dengan tatapan berkaca-kaca.


Aku terdiam sambil berdiri dari posisi duduk ku. Baru saja akan beranjak, Abi Fazila meraih lengan ku tanpa melepaskan pandangannya dari wajah nyaris sempurna ku.


"Apa aku meminta berlebihan? Maafkan aku! Kita sudah menikah selama sepekan, kita juga berbagi kamar, aku berharap kita juga bisa menghabiskan waktu di meja makan."


"Aku tidak akan kemana-mana, aku akan kedapur untuk mengambil piring."


"Piring?"


"Ya piring. Bukankah Abi Fazila ingin makan bersama? Aku harus mengambil piring!"


"Jika aku ada disini untuk apa piring lagi? Kita bisa berbagi makanan dari piring yang sama."


Glekkkkkk!


Aku menelan saliva. Tatapan Abi Fazila menembus lubuk hati terdalam ku. Bagaimana aku bisa sebahagia ini? Dia meminta ku makan dari piring yang sama dengannya? Bukankah ini sedikit berlebihan? Selama sepekan ini kami selalu makan secara terpisah. Aku makan setelah beliau makan.


"Sa...satu piring ber-du-a?" Aku bertanya dengan suara gugup.

__ADS_1


Fatimah apa yang kau pikirkan, dia suami mu, tidak ada yang akan memarahi mu karena kau makan bersamanya. Aku berguman di dalam hati sambil menatap tangan Abi Fazila yang masih menggenggam jemariku.


...***...


__ADS_2