Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Gagal Lagi


__ADS_3

Aku berjalan pelan sambil menuruni anak tangga, aku masih kesal sampai wajah ku pun terlihat memamerkan sikap kurang ramah. Di ruang tengah masih ada Mama dan Papa, entah apa yang mereka bicarakan sampai Mama terlihat menahan tawa.


"Abi...!" Putri manis ku, Fazila berlari kearah ku sambil menenteng es krim yang ia bawa dari dapur. Bibirnya sedikit belepotan, tanpa di minta aku langsung membersikan bibir Fazila dengan sapu tangan yang biasa ku selipkan di saku.


"Apa putri cantik Abi sudah makan?"


"Sudah."


"Kenapa putri saliha Abi belum mengganti seragam sekolah? Apa Tante Sabina tidak mengurus mu? Katakan pada Abi, Abi pasti akan memarahi Tante Sabina"


"Abi tidak boleh marah pada Tante Sabina, dia sangat baik dan juga kerennn!"


Mendengar penuturan manis Fazila membuat ku tersenyum bahagia, begitu mudah putri saliha ku memperbaiki kondisi hati ku. Kesal ku seolah menguap keangkasa bersamaan dengan tarikan dan hembusan nafas kasar ku.


Aku duduk di samping Mama sambil memangku Fazila, sementara Umminya duduk di samping Oma Ochi. Di meja sudah tersedia Teh hijau dan camilan.


"Abi tahu hari ini hari yang menegangkan."


"Ap-apa... Menegangkan???" Netraku membulat, tak percaya. Semua anggota keluarga Wijaya bereaksi sama.


"Apa maksudmu, nak? Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Abi benar-benar takut membayangkan kau terluka." Aku memeluk putri cantik ku.


Apa aku bersikap berlebihan? Fazila adalah putri saliha penyejuk mata dan hatiku. Jika dia sampai terluka maka aku akan tiada, aku tidak akan bisa memaafkan siapa pun yang berani melukai putri berharga ku.


"Abi tidak perlu takut. Tante Sabina bisa mengatasi segalanya!"


"Tante Sabina? Ada apa dengan tante Sabina, nak?" Ummi Fazila bertanya sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Tadi... Saat pulang sekolah, beberapa pria jahat mengikuti kami dari belakang. Mereka berusaha menghentikan mobil. Karena Tante Sabina tidak mengikuti perintah mereka, orang jahat itu mulai memecahkan kaca mobil.


Karena Fazila menangis tante Sabina terpaksa menghentikan mobilnya. Bukan hanya menghancurkan kaca mobil, orang jahat itu


juga menusuk ban mobil Tante Sabina agar kami tidak bisa kabur." Putri cantik ku merunduk sambil memainkan jemarinya.


"Beruntungnya, Tante Sabina tidak mudah di kalahkan. Tiga pria jahat itu mengayunkan senjata tajam tepat di depan wajah Tante Sabina. Dan Abi tahu apa yang terjadi...? Hahaha!"


Aku menatap setiap anggota keluarga wijaya dengan tatapan heran, dari semua orang hanya putri manis ku yang larut dalam tawa.


"Tante Sabina menghajar ketiga preman itu sangat mudah. Tante Sabina hanya mengayun kan tangan dan kaki jenjangnya, tidak lama kemudian ketiga preman itu pun tumbang."


"Putri Abi menyaksikan kekerasan di depan matanya, Abi yakin putri kesayangan Abi pasti merasa ketakutan." Aku memeluk tubuh Fazila sambil berderai air mata.


"Tidak, Abi. Abi salah. Fazila tidak takut. Sama sekali tidak takut."


"Yuppp... Anak manis seperti Fazila kita tidak perlu takut pada siapa pun." Ujar Sabina begitu ia memasuki rumah, jari kelingkingnya terbalut perban. Di belakangnya Araf berjalan sambil mebawa tas medisnya.


"Kau? Kau ada disini?" Aku bertanya sambil mengerutkan kening. Araf yang ku tanya hanya bisa tersenyum tipis.


"Apa nak Araf datang bersama Sabina? Bagaimana bisa?" Mama bertanya sambil menatap Araf dengan tatapan terkejut.


"Putri cantik Tante bersikap seperti jagoan, dia menghajar tiga pria sampai babak belur. Beruntungnya aku lewat di saat yang tepat sehingga aku bisa membawanya pulang.

__ADS_1


Lihat tangannya? Tangannya mirip seperti tangan pekerja kasar. Entah siapa pria tidak beruntung yang akan mendapatkan anak tante ini." Guyon Araf sambil memamerkan wajah pura-pura sedihnya.


Pletakkkk!


Tanpa berpikir panjang aku melempar wajah Araf dengan bantal kecil yang ada di sisi kiri ku. Tentu saja semua mata langsung menatap ku dengan tatapan heran.


"Hayyy... Play boy cap ikan asin, Sabina kami tidak kekurangan apa pun. Dia bisa mendapatkan pria manapun yang dia inginkan. Bahkan jika kau yang memintanya aku pasti akan menolakmu. Hanya pria luar biasa yang boleh mempersunting Sabina." Ucap ku sambil tersenyum tipis. Fazila yang duduk di pangkuan ku berjalan mendekati Araf.


Kali ini giliran Araf, putri cantik ku duduk di pangkuannya sambil membelai wajah tampannya.


"Paman Dokter, apa paman dokter punya kekasih?"


"Ahhhh iya, ada. Ahahhh Tidak." Melihat wajah gugup Araf membuat ku ingin tertawa lepas, bisa-bisanya dia segugup itu hanya karena pertanyaan anak kecil.


"Apa maksud paman dokter? Aahhh, iya ada. Atau aahhh iya tidak ada." Fazila bertanya sambil melipat lengan di depan dada.


"Sayang, nak. Jangan ganggu paman dokter. Ayo... Kita harus naik dan ganti seragam Fazila." Celetuk Fatimah ku mencoba mengusir keheningan.


"Baik, Ummi." Balas putri cantik ku dengan suara lembutnya. Anak manis itu mengikuti langkah Umminya yang berjalan dua langkah di depannya. Aku menatap mereka, aku mengalihkan pandangan ku setelah Fazila dan Umminya tak nampak lagi di netra teduh ku.


Pletakkkkk!


Kali ini giliran Araf yang melempar wajah ku dengan bantal kecil, melihat ku menghela nafas kasar membuatnya tertawa lepas.


"Hayyy bos, dia istrimu. Bukan musuh mu. Kenapa kau menatapnya seperti itu? Jika kau ingin dia tidak jauh dari mu kenapa kau tidak mengikutinya saja? Kau masih malu? Haha... Aku tahu itu. Jika di lihat dari wajah mu, kau tampak seperti pecinta gila yang kehabisan akal dan tidak tahu harus berbuat apa!" Celoteh Araf sambil menatap satu per satu anggota keluarga Wijaya. Tatapannya terhenti pada sosok indah Sabina.


Ku amati satu persatu anggota keluarga Wijaya, mereka tersenyum sambil menatap ku dengan tatapan heran, seolah mengiakan ucapan Araf.


...***...


"Abi ada disini?" Aku sedikit terkejut saat Abi Fazila melingkarkan kedua lengan kekarnya di tubuh ku tanpa mengeluarkan suara.


"Jika aku tidak disini lalu aku harus berada dimana? Istri cantik ku tidak bersama ku dan hal itu membuatku gelisah."


"Bagaimana jika Papa memanggil Abi lagi?"


"Abi akan menemui Papa nanti, sekarang biarkan Abi memeluk istri cantik Abi tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun."


Aku tersenyum sambil menatap kedepan, seluas mata memandang, semua yang ada di depan ku benar-benar luar biasa. Indah dan menenangkan, di tambah sekarang aku berada dalam dekapan pria tertampan di dunia.


"Bagaimana jika ada yang datang?" Aku bertanya sambil memainkan jemari Abi Fazila.


"Tidak ada yang akan datang. Aku sudah mengunci pintunya."


"Apa Abi Fazila selalu bersikap senakal ini pada setiap wanita?" Mendengar pertanyaan ku Abi Fazila langsung melepas pelukannya, ia menatap ku dengan tatapan tajam.


"Aku bukan laki-laki murahan! Ummi lihat bibir ku? Bibir ini masih perawan, aku tidak pernah mencium wanita manapun selain Ummi. Dan aku tidak akan pernah melakukan


itu, hari ini dan selamanya."


Aku tersenyum di dalam hati setelah mendengar pengakuan singkat Abi Fazila. Baiklah, sekarang waktunya menggoda Abi Fazila. Aku berharap aku bisa membuatnya mengakui perasaannya lagi siang ini.

__ADS_1


"Yahhh... Ummi tahu, itu. Walau Abi bertunangan dengan wanita cantik itu selama lima tahun, Abi tidak akan pernah menciumnya. Siapa namanya...?"


"Seren."


"Iya, benar. Nona Seren. Tapi, tunggu dulu. Kanapa Abi begitu mudah menyebut namanya di tengah-tengah percakapan kita. Apa Abi masih mencintainya?" Aku bertanya sambil pura-pura marah. Padahal di dalam hati ku, aku tertawa penuh kemenangan melihat ekspresi menggemaskan Abi Fazila.


"Abi tidak mengingatnya. Karena Ummi bertanya makanya Abi berusaha untuk menjawab. Ummi marah karena mendengar namanya? Wahhh... Ini benar-benar membuat ku kesal."


"Ooo... Jadi Abi kesal pada Ummi? Sudah berapa lama kita menikah? Ini bahkan belum satu bulan, dan sekarang Abi bilang Abi kesal. Malangnya nasib ku." Celetuk ku sambil menyenderkan kepala di dada bidangnya, tentu saja sambil berpura-pura menangis.


Fatimah... Kau benar-benar nakal, sangat nakal. Aku bergumam di dalam hati, kali ini aku berusaha membelakangi Abi Fazila, wajah ku terasa nyeri karena sejak tadi berusaha menahan senyuman. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku bersikap kekanak-kanakan.


...***...


Hhhhhmmmmm!


Bidadari terindah di dunia, dan dia adalah Bidadari di hati ku. Aku tahu saat ini dia sedang berpura-pura marah. Aku akan meladeni seperti yang dia inginkan.


Darimana aku tahu Fatimah ku sedang berpura-pura marah? Tentu saja dari informan handal yang ku miliki. Siapa lagi selain Putri cantik nan sholeha ku Meyda Noviana Fazila.


Ummi tidak suka marah-marah, beliau bukan tipe wanita pemarah. Ummi memiliki hati yang lembut, lebih lembut dari sutra dan lebih berharga dari perhiasan dan dunia beserta isinya. Terkadang Ummi terlihat seperti Singa yang akan menerkam mangsanya, lihat saja, saat beliau melakukan itu beliau pasti akan menggigit bibir bawahnya, jika beliau melakukan itu, itu artinya beliau sedang berpura-pura marah. Ucapan putri manis ku kembali bergema indra pendengaran ku. Dan benar saja, saat ini Ummi Fazila sedang menggigit bibir bawahnya, itu terlihat seksi di mata ku.


Bidadari indah itu masih berdiri membelakangi ku, ia mengepalkan tangan kanannya berusaha menahan tawa. Pelan Aku kembali memeluk tubuhnya dari belakang, melingkarkan kedua lenganku di tubuh rampingnya sembari menikmati nuansa penuh cinta.


"Jarak di antara kita tidak akan pernah ada." Ucap ku memecah keheningan.


Untuk sesaat aku menatap kearah ranjang, putri cantik ku masih terlelap disana karena ini waktunya tidur siang.


"Semua amarah mu ini palsu! Jangan tanyakan dari mana aku mengetahuinya karena aku tidak akan mengatakan apa pun." Sambung ku sambil berbisik di telinga Ummi Fazila. Tidak ada balasan darinya selain senyuman tipis yang menghiasi wajah cantiknya.


"Kita akan bicara dari hati ke hati. Kita akan melakukan itu dengan duduk bersebelahan, saling memandang satu sama lain." Ujar ku masih dalam keadaan berbisik.


Pelan aku membalikkan tubuh Ummi Fazila, mata kami saling beradu dalam kesunyian. Ucapannya terkatup di bibir. Percaya atau tidak, bibir indahnya terus saja menyunggingkan senyuman, senyuman menawan yang sanggup meluluh lantakkan jiwa ku jika aku tidak melihatnya.


"Jangan menyiksa ku dengan berpura-pura marah. Aku akan menjaga cintaku, karena hanya Ummi cinta sejati ku. Nama mu menyatu dengan nama ku, aku hidup untuk mu dan kau hidup untuk ku. Sungguh, aku tidak bisa hidup tanpa mu. Langit serasa runtuh tanpa kehadiran mu disisi ku."


Entah dari mana datangnya kesedihan yang mulai membelai lembut lubuk hati terdalam ku. Aku sendiri tidak tahu dari mana kisah cengeng ku berawal.


Alan yang bodoh. Alan yang payah. Aku menggerutu di dalam hati, sementara kedua tanganku masih menangkup wajah tersenyum Ummi Fazila.


Dan untungnya Fatimah ku bukan tipe wanita yang lemah, sekujur tubuh ku serasa terkena sengatan listrik bertegangan tinggi saat Ummi Fazila menempelkan bibir lembutnya di bibir ku untuk menghentikan kesedihan ku.


Apa semua wanita saliha melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Fatimah ku? Dia benar-benar membuat ku bahagia. Kecupan singkatnya berakhir saat aku mulai membuka mata. Kini giliranku yang bersikap manis padanya, aku mencium kelopak mata kananya, sedetik kemudian beralih pada kelopak mata kirinya. Berlanjut menuju kening mulusnya.


Aku membayangkan betapa indahnya moment ini, bibir lembut ku masih menempel di kening Ummi Fazila. Saat aku mulai memiringkan kepala dan bersiap melayangkan ciuman di bibir tipis Ummi Fazila, fokus ku tertuju pada suara yang membuat ku tersadar.


"Ummi... Fazila haus, Mi." Ucap putri manis ku dengan suara khas bangun tidur.


"Hhmmmm... Gagal lagi." Ucap ku lirih sambil menghentikan aksi nakal ku. Ummi Fazila hanya bisa tersenyum sambil membelai lembut wajahku. Sementara aku? Aku hanya bisa pasrah melihat Ummi Fazila meninggalkan ku dan berjalan menuju ranjang dengan membawa senyuman menawannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2