
Dua jam sebelumnya.
Entah kenapa aku merasa sangat khawatir, sejak pagi dadaku terus saja berdegup kencang. Seolah hal buruk akan menimpa kehidupan ku yang mulai sedikit tenang. Aku merasa sangat takut. Aku takut menjadi sosok tertutup seperti dulu. Satu-satunya kekuatanku hanya putriku, jika aku sampai kehilangannya maka aku akan tiada.
Fazila baru saja menyelesaikan murajaahnya bersama ustadz Latif. Setiap kali membaca Al-quran, putri manisku sanggup duduk berjam-jam untuk belajar. Menghafal Al-quran adalah jatuh cinta yang disengaja, bagiku tidak ada hal yang lebih berharga dalam hidup ini selain menjadikan Al-Quran sebagai teman baik, dan hal itu pun sudah ku tanamkan pada putriku sejak dalam kandungan.
"Masya Allah... Ummi terlihat cantik!" Sanjung putri manisku sembari menangkup wajah dengan kedua tangannya.
"Pakaian itu terlihat sempurna karena Ummi yang memakainya!" Sambung putriku lagi, kali ini ia tersenyum sambil mengedipkan mata kanannya.
Tidak ada jawaban dariku selain senyuman menawan, aku menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Beginilah kami hidup, saling menyanjung hanya untuk saling menguatkan.
"Baiklah, Ummi sudah menampung semua ucapan manismu, sekarang kau boleh pergi karena sahabatmu sedang menunggu di depan pintu." Ucapku tanpa melepas senyuman dari bibirku.
Putri manisku anak yang ramah, ia mudah bergaul. Belum genap seminggu, ia sudah akrab dengan semua anak gadis yang menjadi rivalnya di atas panggung. Berbeda dengan anak pria, ia tidak terlalu berteman dengan mereka kecuali si bocah gembul, Amir.
Shoting akan di mulai setegah jam lagi, setelah Fazila tidak terlihat lagi oleh netraku, aku segera meraih tas tangan di atas nakas. Sudah waktunya untuk hadir di studio dan memberikan dukungan serta semangat bagi pererta lain dan orang tua mereka. Hidup memang penuh dengan persaingan, tapi hidup tidak boleh saling merendahkan hanya karena takut kalah dari yang lain.
Dret.Dret.Dret
Baru saja akan meninggalkan kamar, ponsel yang ku letakkan di atas nakas bergetar, entah siapa yang memanggil sesore ini. Ku taksir itu Nyai Latifa atau dokter Araf, karena di antara semua orang yang ku kenal hanya mereka berdua yang tahu nomer ponselku.
Klikkk.
Aku terdiam, begitu juga dengan penelpon di sebrang sana. Aku mulai mengerutkan dahi, dua menit berlalu namun tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir sang penelpon. Bukannya geram, aku justru tersenyum. Ia berani menelpon namun tidak berani mengatakan sepatah katapun.
Mmmmm. Aku berdehem pelan mencoba mencairkan suasana.
"Se-la-mat so-re no-na Fatimah?" Ucap pria di sebrang sana begitu ia mulai membuka bibirnya, suaranya terdengar gugup. Entah apa yang membuatnya segugup itu sampai ia tidak bisa bicara dengan lancar.
"Dokter Araf? Katakan padaku, apa yang membuat anda gugup?" Aku bertanya sambil tersenyum, sepertinya Fatimah yang dulu sudah kembali. Fatimah yang ceria dan Fatimah yang suka bercanda.
"Aku. Saya. Maksud saya, maafff! Ahhhh, apa yang ku katakan!"
__ADS_1
Untuk sesaaat aku terkekeh, dan ini untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir.
"Aku tidak akan memakan mu! Kau tidak perlu takut padaku! Aku hanya wanita dengan satu anak, kau tidak perlu segugup itu! Kau boleh gugup, tapi hanya di depan wanita yang kau cintai!" Sambungku.
"Nona Fatimah, terima kasih sudah menerimaku sebagai teman! Aku berjanji akan menjadi teman yang setia!" Ucap Araf serius, aku yakin ia tidak hanya bicara omong-kosong.
Aku sangat mengetahui, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun begitu, aku ingin mempercayai setiap hal yang di ucapkan dokter Araf. Ia akrab dengan putri manisku, sementara denganku? Itu tidak mungkin, karena masih ada batasan yang tidak boleh ku lewati.
Dua menit kemudian, kami mengakhiri percakapan biasa-biasa ini dengan salam dan saling tersenyum walau tidak saling melihat.
...***...
"Anda ada disini?" Seorang wanita muda bertanya padaku begitu aku sampai di depan studio penyiaran. Mendengar pertanyaannya aku hanya bisa mengerutkan dahi tak percaya, 'Jika tidak disini lalu aku harus kemana?' Rasanya aku ingin mengatakan itu padanya, tapi ucapan itu hanya terkatup di bibirku. Seperti biasa, aku hanya bisa tersenyum, bukan senyum yang di paksakan.
"Bukankah anda Ummi-nya Fazila?" Wanita muda itu kembali bertanya.
"Iya... Benar! Saya Ummi-nya Fazila!" Balasku pelan.
"Jika anda ada disini lalu dengan siapa Fazila pergi?"
Aku tidak bisa menjadi lemah disaat seperti ini, pelan aku menghapus sudut mata dengan punggung tanganku.
"Si-siapa orang itu? Bukankah anda tahu siapa orang yang pergi bersama putriku?" Tanyaku dengan suara nyaris tak terdengar.
"Fazila pergi bersama Pak Ade Wijaya! Pak Ade Wijaya itu kakek dari Pak Alan wijaya, beliau sponsor terbesar dari acara yang Fazila ikuti." Jawab kru muda itu lagi.
Ade Wijaya? Alan Wijaya?
Dua nama itu terus saja mengganggu pikiranku. Aku bahkan tidak mengenal mereka. Lalu, dendam apa yang mereka punya sampai mereka membawa putriku tanpa seizin dariku? Rasanya aku ingin berteriak, namun dengan keyakinat kuat pada yang Kuasa, aku yakin semuanya akan baik-baik saja.
"Si-siapa orang itu? Tolong katakan dimana aku bisa menemuinya? Aku harus membawa putriku kembali!" Ucapku dengan suara lirih. Wanita yang duduk di sebelahku menatapku dengan tatapan prihatin. Sedetik kemudian, wanita itu memberikan alamat yang harus ku tuju untuk bisa menemui orang yang berani membawa putri manisku.
Dua jam kemudian, akhirnya aku sampai di bangunan tinggi berlantai 40. Dengan kemarahan yang masih memuncak, aku berjalan memasuki gedung itu. Sosok yang tidak asing kini berdiri di depanku.
Dadaku terasa semakin sesak, ketakutan yang selama ini kurasakan kembali memenuhi rongga dadaku. Akhirnya aku mengerti, penjahat yang berdiri di depan ku adalah sosok yang mengambil putriku tanpa seizin dariku.
__ADS_1
Pemilik wajah itu terlihat gugup.
"No-na kau? Kau ad-da di-si-ni?" Tanya pria kurang ajar yang berdiri di depanku. Darahku terasa mendidih mendengar pertanyaannya.
Plakkkk!
Bukannya menjawab pertanyaannya dengan ucapan, aku justru melayangkan tamparan di wajah tidak tahu malunya.
Plakkkk!
Belum sempat ia membuka mulutnya, aku kembali melayangkan tamparan di pipi kirinya, semua orang menatapku dengan tatapan tajam, seolah tatapan itu ingin mengulitiku. Aku tidak perduli dengan tatapan semua orang, yang ku perdulikan hanya ingin menghancurkan pria kurang ajar di depanku sehancur-hancurnya.
Rasanya aku ingin memuntahkan semua racun yang ada di dalam hatiku, sebelum itu terjadi, pria kurang ajar yang tidak ku tahu namanya itu menarik lenganku menjauh dari kerumunan.
Sekujur tubuhku bergetar, ingatan tentang pristiwa mengerikan malam itu kembali berputar di memori otak ku. Rasanya aku ingin memakinya, namun kata-kata kasar tidak bisa keluar dari lisanku.
"Kau masih ingat padaku? Ku rasa, tidak! Tapi aku masih mengingat wajah Iblis yang berani menghancurkan hidupku!" Ucapku dengan suara lantang.
"Kau pikir dirimu itu siapa? Kau menghancurkan hidupku lalu menghilang seperti asap. Kau meninggalkan luka mendalam dalam hidupku.
Tak bisakah kau meninggalkan ku? Kenapa kau kembali lagi? Aku bahkan tidak mengenalmu, lalu dendam apa yang kau punya sampai kau tidak mau meninggalkan ku sendiri.
Selama ini aku tidak bisa tidur, luka yang kau berikan telah menghancurkan kepercayaan diriku! Apa kau tahu, karena kekejamanmu aku bahkan mencoba untuk mengakhiri hidupku!" Ucapku ku lagi, pria yang berdiri di depanku hanya bisa merunduk mendengar kemarahanku. Dia bersujut di depanku dengan derai air mata. Bahkan jika dia tiada, apa perduli ku? Kini aku menatap pria kurang ajar yang bersimpuh di depanku dengan tatapan setajam belati.
"Setiap detik aku selalu memikirkan kenangan buruk malam itu. Aku bahkan tidak berani menatap wajahku di cermin. Kekuatanku ada pada putriku! Tolong kembalikan putriku! Biarkan kami hidup dengan tenang!" Ucapku dengan suara bergetar. Air mataku tak bisa ku bendung, semua derita yang tersimpan dalam lubuk hatiku, ku keluarkan.
"Silahkan maki aku sesuka hatimu, benci aku sekuat yang kau bisa. Satu pintaku padamu, kau harus kuat agar kau bisa memberikan hukuman padaku! Aku berjanji padamu, tidak ada seorangpun yang akan mengambil putri mu dari mu. Bahkan jika aku tiada, aku tidak akan pernah membiarkan mu menangis lagi! Ini janjiku padamu! Janji seorang ayah tidak akan pernah ia ingkari!" Ucap pria itu dengan suara menyakinkan. Aku sangat membencinya, namun entah darimana kepercayaan itu muncul, aku berharap ia akan mengembalikan putriku dengan aman.
Aku masih berdiri mematung ketika pria itu melangkah keluar, ia meninggalkanku sendiri. Ketakutan ku kembali muncul, aku sangat takut luka lama yang coba kusembunyikan akan menghancurkanku.
Semenit kemudian, Iklima sudah berdiri di depanku. Entah apa yang membuat wanita anggun itu menatapku dengan derai air mata. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mencoba melangkahkan kakiku, sayangnya aku tidak sanggup untuk melakukan hal kecil itu. Iklima menuntunku berjalan menuju parkiran.
"Mereka mengambil putriku!" Ucapku pelan, Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari lisan Iklima , ia hanya bisa mengusap pundakku mencoba menenangkan, aku sendiri tidak akan bisa tenang selama putri manisku belum kembali.
...***...
__ADS_1