Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Dari Hati Ke Hati


__ADS_3

Dimana Bidadari penyejuk jiwa itu? Aku menunggunya dan dia belum juga datang! Apa dia tidak ingin berada di dalam mobil yang sama dengan ku? Ahhhh... Tidak mungkin! Jika dia tidak ingin berada di mobil yang sama dengan ku dia pasti akan mengatakannya. Dia bukan tipe wanita yang akan menyembunyikan perasaannya kemudian menderita sendiri. Aku tahu itu walau hanya dengan melihat wajah ayunya. Aku bergumam sendiri sambil berdiri di depan pintu mobil.


Alan... Kau benar-benar payah. Bagaimana kau bisa tahu perasaannya? Kau bahkan tidak berani menatap matanya. Sekarang katakan, kapan terakhir kali kau menatap matanya tanpa rasa takut? Aku berusaha memejamkan mata sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku menatap wajah cantik itu tanpa rasa takut. Dan bodohnya diriku, tidak sekalipun aku menatap wajahnya tanpa rasa takut. Masih untung jantung ku tidak loncat keluar saat berada di dekatnya. Lalu sekarang? Apa yang akan terjadi pada jantungku selama dua jam kedepan, sanggupkan ia tidak membebaniku dengan berdegup kencang? Entah kenapa aku merasa seolah ada kupu-kupu di hatiku, aku merasa geli sendiri dan hal ini semakin membuatku bersemangat penuh cinta.


Sementara itu di tempat berbeda, berdiri seorang gadis dengan wajah datarnya. Wajah cantik itu mengukir kekesalan luar biasa. Entah apa yang dipikirkan otak kecilnya sampai ia merasa seolah dunia sedang menghimpit pundak lemahnya. Deru nafas kasarnya mulai menghiasi indra pendengaran seorang pria yang sengaja bersembunyi di balik daun pintu yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.


"Fatimah? Apa benar nama mu Fatimah?"


Sorang gadis muda berdiri di depanku sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


"Bisa kita bicara sebentar? Tidak akan lama, akan butuh waktu sekitar lima atau sepuluh menit saja!" Sambungnya lagi.


Lima atau sepuluh menit! Untuk apa aku meluangkan waktu ku untuk orang asing? Ku lihat raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat. Tatapan tajamnya seolah mengabarkan kalau dia ingin mengulitiku, rasanya aku ingin menolak. Namun menolak pun aku tidak kuasa. Aku bergumam sendiri sambil menatap raut wajah yang di penuhi keangkuhan itu.


"Di tempat ini ada tempat nyaman yang menjadi favorit ku, kita bisa bicara sambil minum kopi. Dan dari namamu aku bisa tahu kalau kau berasal dari desa. Jika aku salah kau bisa mencelaku." Sambung wanita anggun itu lagi, ia tersenyum tipis. Aku bisa merasakan kalau dia sedang berpura-pura tersenyum. Entah apa motif di balik sikap kepura-puraannya.


Tidak ada jalan lain selain mengikuti keinginan kecilnya, lagi pula aku bukan wanita kasar ataupun jahil yang akan membuat lawan bicaranya merasa terhina.


"Sejujurnya aku merasa aneh dengan sikap sok akrab yang anda tunjukan. Walau aku tidak mengenal anda, aku akan tetap menuruti keinginan anda. Lima atau sepuluh menit itu tidak akan lama." Balas ku sambil melipat kedua lengan di depan dada juga.


Sangat mudah membuat orang angkuh terluka egonya, jika dia merasa tersaingi maka itu adalah musibah baginya. Padahal sebenarnya itu hanya perasaannya saja, perasaan tidak berguna yang akan menghancurkan ketenangan jiwanya.


"Apa kamu bersungguh-sungguh ketika mengatakan kamu tidak mengenalku?" Wanita anggun itu kembali bertanya setelah kami duduk di tempat yang ia katakan sebelumnya, tempat yang menjadi favoritnya. Ia bertanya dengan wajah heran. Tidak ada jawaban dariku selain anggukan kepala saja, karena itu memang kebenarannya.Tampaknya wajah cantik itu memamerkan kekecewaan.


"Aku sedikit kecewa karena kamu tidak mengenalku. Padahal jika kamu menonton TV kamu akan mudah melihat wajahku. Semua orang mengidolakan diriku. Dan setiap gadis muda ingin seperti diriku."


"Mungkin yang anda katakan itu benar! Tapi mohon maaf aku benar-benar tidak mengenal anda.

__ADS_1


Hidup yang ku jalani jauh lebih menegangkan dari pada sekedar menaiki Roller Coster. Aku tidak punya waktu untuk menonton TV apalagi hanya untuk menonton gosip yang benar-benar tidak ada hubungannya dengan hidup damaiku.


Aku yakin anda memanggil ku bukan untuk sekedar minum kopi saja. Aku tidak punya waktu untuk ini. Katakan apa pun yang anda inginkan, aku akan mendengarkan." Ucapku tanpa ragu-ragu.


"Baiklah! Aku juga tidak suka membuang-buang waktuku untuk hal tidak berguna."


Hal tidak berguna? Hahhhh! Aku sangat kesal mendengarnya. Dari ucapannya, seolah ia mengatakan aku hanya nyamuk pengganggu. Baiklah, mari kita dengarkan ucapan apa yang akan keluar dari lisannya selanjutnya. Aku bergumam dalam hati sambil tersenyum sinis.


"Namaku Seren. Aku lahir dan besar di London. Tuntutan pekerjaan membuat ku harus berkeliling kemancanegara. Dan karena pekerjaanku, takdir membawaku bertemu dengan belahan jiwaku.


Selama beberapa hari ini aku selalu mengawasi Alan ku. Dan diantara sekian hari itu aku mendapati kamu berusaha untuk menggodanya."


Hueekkk! Rasanya aku ingin muntah mendengar wanita anggun yang duduk di depanku. Tatapan matanya sangat mengganggu ku.


Alan ku? Menggodanya? Dua kata itu seolah-olah menari di memori otakku. Aku bahkan sampai berpikir keras, kapan aku berusaha menggoda Abi Fazila? Apa aku salah dengar? Atau aku yang tidak menyadari kalau wanita yang duduk di depanku ini sedang berusaha melemahkan tekadku. Apa pun itu aku akan mendengar apa yang akan dia ucapkan selanjutnya. Aku masih terdiam, berusaha mencerna setiap omong-kosongnya.


"Aku dan Alan bertunangan selama lima tahun. Karena kesalah pahaman kecil Alan berusaha menjauh dariku. Tidak ada wanita yang lebih mencintai Alan selain diriku.


Kamu hanya wanita beli satu gratis satu. Maka dengan sangat aku memohon padamu, jauhi Alan ku dan jangan biarkan pandangan buruk putrimu mendekatinya. Kamu masih muda, aku yakin banyak pria di luar sana yang akan menerimamu apa adanya." Ucap wanita kasar itu tanpa rasa bersalah.


Glekkkkkk!


Aku menelan saliva sambil berusaha tersenyum sinis. Mendengar ucapan santai namun terasa menusuk dari wanita aneh ini membuat dadaku terasa panas. Aku benar-benar ingin menampar wajah cantiknya. Kaya, cantik, dan terkenal tidak memberinya hak untuk menghinaku.


"Apa anda tidak berpikir kalau anda sudah melewati batas? Anda bahkan sampai berpikir kalau aku hanya wanita beli satu gratis satu yang menggunakan putrinya sebagai umpan.


Anda tahu apa pendapat ku tentang masalah ini? Rasanya aku ingin pulang dan segera meresmikan hubunganku dengan Alan.

__ADS_1


Dan satu lagi, jangan bicara denganku tentang betapa besar cintamu padanya. Bicara pada Alan secara langsung dan selesaikan masalah mu sendiri." Aku sangat kesal sampai ingin menarik rambut lurusnya. Aku bangun dari tempat duduk ku dengan perasaan campur aduk. Aku duduk dengannya tak lebih dari empat menit saja, itu cukup membuat ku merasa sangat kesal. Jika lebih lama lagi, bukan hanya menarik rambutnya, aku juga ingin mencekik leher jenjangnya


Dia bilang akan membawaku ketempat yang nyaman, nyatanya ini hanya ruang tertutup dengan fasilitas luar biasa. Ku tebak, sepertinya wanita angkuh ini dicampakkan karena sikap egoisnya.


Secantik atau setampan apa pun dirimu jika masih terdapat sikap egois dalam sebuah hubungan maka tak lama lagi hubungan itu akan berubah menjadi kenangan, kenangan lama yang ingin kau lupakan, atau justru kenangan indah yang akan sulit kau lupakan. Dan ku rasa wanita ini, siapa namanya tadi? Aahhhh iya, Seren. Aku rasa Nona Seren ingin kembali kepada Abi Fazila. Entah masalah apa yang membuat dua makhluk indah ini berpisah.


Bertunangan selama lima tahun?


Memori otakku terus saja mengingatkan ku pada ucapan singkatnya. Apa keputusanku sudah benar dengan menerima Abi Fazila? Atau sebaliknya! Aku benar-benar bingung. Aku tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan orang lain. Apa lagi hanya karena sebuah tanggung jawab.


"Aku tidak menyangka perempuan desa sepertimu masih punya nyali. Aku sudah mencoba memperingatkanmu dengan cara baik-baik. Kamu mengabaikan peringatan ku, dan kamu membuatku kesal."


Duarrrrr!


Bagai disambar petir di siang bolong. Teriakan wanita anggun itu memenuhi indra pendengaranku. Sikapnya tidak seanggun paras dan penampilannya, dia layaknya wanita yang sedang dirasuki Iblis. Berada di dekatnya akan semakin membuatku kesal. Aku mempercepat langkah kakiku. Aku tidak ingin tinggal walau hanya sedetik saja di tempat yang tidak ada kedamaian di dalamnya.


Tanpa ku sadari aku sudah berjalan sampai di parkiran, melihat amarah wanita itu sampai membuat sekujur tubuhku bergetar. Aku berpengagan di setiap sudut yang ku lewati, aku nyaris terjatuh karena sekujur tubuhku masih bergetar. Entah dari mana dia datang kemudian meraih tubuh lemahku yang hampir tersungkur. Kini jarak kami sangat dekat, sangat dekat sampai bisa mendengar dengup jantung masing-masing.


Dengan cepat aku berusaha melepaskan tubuhku dari lengan kekarnya. Dan untuk sesaat netra teduhnya membelai lembut hatiku.


Entah perasaan aneh apa ini?


"Apa Ummi Fazila baik-baik saja?"


Dia bertanya padaku dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Walau dia tidak mengatakan apa pun aku bisa menangkap dari raut wajahnya, raut wajah itu menjelaskan kalau dia sedang tidak baik-baik saja, raut wajah itu menjelaskan kalau dia sangat khawatir sampai di titik hampir tiada. Aku merasa tersentuh karena mendapat perlakuan sederhana namun bermakna luar biasa darinya.


Baiklah! Aku akan bicara padanya, aku akan bertanya tentang wanita aneh itu. Aku tidak akan menyimpan apa pun darinya. Aku akan bicara dari hati ke hati dengannya. Aku tidak ingin salah paham padanya, dan semoga semuanya baik-baik saja. Aku bergumam dalam hati sambil mundur tiga langkah.

__ADS_1


Aku rasa, bicara dari hati ke hati akan menjauhkan kita dari salah paham. Dan masalah sekecil apa pun harus di selesaikan. Kini, wajah rupawan Abi Fazila tersenyum singkat sambil membukakan pintu mobil. Aku rasa dia bisa membaca pikiranku, buktinya dia tidak membukakan pintu depan melainkan duduk di belakang sebagai penumpang. Senyuman singkatnya seolah menjelaskan 'Perlakukan aku sebagai sopirmu, menjaga kehormatanmu atau pun kenyamanan mu adalah tanggung jawab ku' Setidaknya itu yang ku tangkap dari sikap luar biasanya.


...***...


__ADS_2