
Cinta?
Aku masih belum bisa mengatakan betapa besar rasa cintaku padanya. Kata orang, cinta itu datang dari mata kemudian turun kehati. Tapi bagiku, cintaku datang dari hati kemudian kemata, karena itulah setiap kali aku berpapasan dengannya atau sekilas tanpa sengaja melihat wajahnya dadaku rasanya tidak bisa menahan degupannya. Apakah ini yang di namakan cinta luar biasa? Entahlah, apa pun itu aku berharap rasa ini tidak akan pernah layu kemudian mati.
Alan Wijaya yang selalu tampil sempurna kini tak lebih dari pria biasa yang sedang di mabuk cinta. Dan lebih bodohnya lagi, semakin hari aku semakin jatuh cinta pada satu sosok nyaris sempurna, Ummi Fazila. Aku bergumam sendiri sambil menatap kearah panggung Hafizd. Sudut bibirku sedikit terangkat. Apa aku tersenyum? Aku rasa memang benar, aku sedang tersenyum.
Di atas panggung sudah berdiri Fazila dan Umminya serta dua peserta lain bersama wali mereka. Seperti ucapanku sebelumnya kalau perusahaanku lah yang menjadi sponsor terbesar acara ini, aku sudah menyiapkan hadiah spesial untuk ketiga peserta.
Seratus juta rupiah untuk juara pertama dan tiga tiket Umrah. Tujuh puluh lima juta rupiah untuk juara kedua dan dua tiket Umrah, lima puluh juta rupiah untuk juara ketiga dan dua tiket Umrah. Aku juga sudah menyiapkan beasiswa untuk ketiga anak luar biasa itu sampai jenjang perguruan tinggi, dan tentu saja salah satunya adalah putri berhargaku, Meyda Noviana Fazila.
Bahkan jika putri berhargaku tidak mendapatkan juara sekali pun aku masih sanggup memberikan segalanya padanya, jika di pikir-pikir acara ini bermakna luar biasa bagi kehidupanku.
Anak manis seumuran Fazila baru saja di umumkan sebagai juara kedua, kini tinggal putri salihaku dan anak lelaki berwajah rupawan itu yang tersisa. Siapa pun yang keluar sebagai pemenangnya aku hanya bisa memanjatkan rasa syukur pada yang kuasa, bisa bertemu putri salihaku dan akrab dengannya hanya dalam waktu kurang dari satu bulan bukankah itu luar biasa? Menurutku itu luar biasa apa pun pendapat orang lain.
Prok.Prok.Prok.
Tepuk tangan kembali memenuhi indra pendengaranku, semua orang tampak terkesan. Bahkan gemerlapnya panggung hafizd Qur'an terasa sempurna dan menakjubkan bagi diriku sosok yang hanya menghabiskan waktunya dengan tumpukan pekerjaan.
Haaaahhhhhhhh!
Host multitalenta itu terdengar menghela nafas kasar, aku rasa dia juga sangat penasaran hasil wisuda akbar kali ini. Di depan masih terlihat keempat juri sedang mengumpulkan hasil penilain beliau selama sebulan ini. Karena terjadi kesalahan keempat juri itu harus mendiskusikan hasil akhirnya lagi walau sebelumnya sudah di umumkan juara kedua. Dan benar saja, tak butuh waktu lama bagi ku untuk menunggu. Hanya dalam waktu kurang dari seratus dua puluh detik hasil yang berhasil membuat dadaku berdebar sudah berada di tangan Host berwajah rupawan itu, dan tentu saja aku jauh lebih tampan darinya.
Haisttt! Bisa-bisanya aku mememikirkan soal ketampanan disaat aku berada di titik hampir tiada hanya karena penasaran. Netraku menatap wajah putri cantikku, wajah itu masih di penuhi senyuman. Aku sangat tahu, apa pun keputusan hari ini akan tetap membuatnya bahagia.
__ADS_1
"Anda tegang? Saya juga tegang! Dan hasil yang ada di tangan saya akan menghapus semua resah kita." Ucap Host itu penuh semangat, nada suaranya terdengar naik turun.
"Tersisa dua peserta kita! Apakah Bidadari cantik dari Malang sang Hafizah Qur'an tiga puluh Juz, Meyda Noviana Fazila Akan keluar sebagai pemenang?
Atau justru pangeran tampan kita, Muhammad Falih Akmar dari Aceh yang akan memenangkannya?" Ucap host itu memotong kalimatnya. Tersirat tanda tanya besar dari ucapannya, aku sendiri tidak bisa menebaknya.
Dag.Dig.Dug.
Aku menggenggam jemari ku kuat-kuat. Aku menutup kedua mataku sambil merunduk. Dan hatiku? Jangan tanya lagi! Hatiku tak berhenti bertasbih, untuk pertama kalinya dalam hidup aku merasakan suasana layaknya duduk di taman surga. Dan tanpa terasa air mata yang sejak tadi berusaha ku tahan agar tidak keluar akhirnya tumpah juga, aku meneteskan air mata dalam diam, namun nafasku terasa semakin berat.
Alan... Hidayah telah membelai lembut hatimu! Sekarang pilihanmu, kau akan memeluk hidayah itu dengan penuh syukur? Atau justru kau akan melepasnya dan semakin durhaka pada Tuhanmu? Sekarang, tentukan pilihanmu! Aku bergumam sendiri kemudian membuang nafas lega.
Di depan, putri cantikmu sedang menunjukan pada dunia bahwa menjadi orang yang baik adalah pilihan, dan tidak ada hal yang lebih baik dari pada mengabdikan diri pada Tuhan. Aku kembali bergumam sambil pelan membuka mata.
Lagi-lagi host muda itu menggantung kalimatnya. Apa semua Host melakukan hal yang sama? Membuat pemirsanya sangat penasaran sampai di titik akan tersedak oleh salivanya.
Putri cantikku memeluk Umminya sambil berderai air mata. Sementara semua anggota keluarga Wijaya yang terdiri dari Opa Ade, Oma Ochi, Papa dan Mama pun terlihat tegang. Ku tatap satu persatu wajah semua orang yang ada di sekelilingku, semuanya meneteskan air mata. Apa acara ini menguras emosi mereka? Itu benar, aku sendiri mengalami hal yang sama. Aku takjub karena anak sekecil mereka sudah hafal Qur'an di luar kepala. Dan di saat bersamaan aku merasa benar-benar menyedihkan.
"Kita sambut juara kita tahun ini... Anak manis kebanggaan Umminya... Meyda Noviana Fazila....!"
Prok.Prok.Prok.
Suara tepuk tangan kembali memenuhi indra pendengaranku, samar-samar aku menangkap wajah menangis Mama sambil memeluk Oma Ochi. Aku bisa mengerti kenapa Mama larut dalam tangisnya, selama ini beliau selalu memaksa putra menyedihkannya untuk menikah agar beliau bisa menimang cucu. Dan lihatlah Takdir yang Kuasa dalam kehidupan kami? Yang Kuasa menganugrahkan kami Bidadari indah penghafal tiga puluh Zuj Al-Qur'an.
__ADS_1
Putri cantikku langsung melakukan sujud di atas panggung, aku sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan itu. Setahuku, kita biasa melakukan itu saat sedang shalat saja.
Aahhh... Iya. Aku ingat, mungkin itu yang dinamakan sujud Syukur. Sujud yang di lakukan saat seseorang mendapat nikmat. Sekarang aku mulai menyadari kalau aku sangat bodoh, hal sekecil itupun aku tidak tahu. Sekecil apa pun yang kulakukan semoga hal itu tidak sampai mempengaruhi putri cantikku.
Rasanya aku ingin berlari kearah Fazila kemudian memeluknya. Sayang sekali, aku tidak bisa melakukan itu. Aku harus mengumumkan pada media tentang dirinya dan pernikahan ku terlebih dahulu. Bahkan keluargaku yang sangat dekat dengan Fazila tidak bisa bergerak dari tempat duduknya, mereka hanya bisa merasakan bahagia luar biasanya hanya di bangku saja.
"Ummi... Bagaimana pendapat Ummi setelah mengetahui Putri Ummi keluar sebagai pemenangnya?" Host itu bertanya sambil menyodorkan mikrofon.
Untuk sesaat, panggung Hafizd Qur'an terasa senyap. Tak ada suara sama sekali, wanita saliha itu meneteskan air mata. Ia menutup mata dengan telapak tangan kanannya. Jujur, aku ingin memeluknya dan berkata aku sangat, sangat, sangat bangga padanya.
"Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam. Segalanya terjadi sesuai dengan kehendaknya.
Aku... Fatimah Azzahra yang selalu hidup dalam kesunyian, tidak pernah menduga hal sebesar ini akan terjadi dalam hidupku.
Aku... Fatimah Azzahra yang selalu memulai hariku dengan menatap wajah putriku dengan penuh kebanggaan, hari ini rasa bangga dan hormatku padanya melebihi rasa hormatku pada siapa pun.
Aku bersyukur pada yang Kuasa yang telah menitipkan Bidadari Surga seindah Fazila. Bahkan jika aku harus tiada hari ini aku ikhlas dan ridho, karena aku tahu Cahaya Al-Qur'an akan membimbing Fazila ku menuju kebenaran di tengah dunia yang mulai di penuhi dengan Godaan dan Fitnah."
Wanita saliha itu memeluk Fazila sambil berlutut, aku ingin bergabung dalam nuansa haru penuh bahagia itu. Sayang sekali, aku bahkan tidak bisa menggerakkan kakiku.
Bahagia datang tanpa di undang, dan bahagia itu bukan hak sikaya saja. Bahagia itu hak semua orang, jangan pernah cegah diri sendiri untuk bahagia. Dan semakin kamu bersyukur semakin bertambah nikmat itu, nikmat yang kita ketahui berbentuk ketenangan dan kebahagiaan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mengetahui putri cantik ku keluar sebagai juaranya, dan ini adalah hasil Akhirnya. Aku kembali menghela nafas kasar, setelah ini apa yang akan terjadi padaku dan Ummi Fazila? Semuanya ku serahkan pada yang Kuasa yang maha menggenggam jiwa.
__ADS_1
...***...