Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Aku Ingin Mencubitnya


__ADS_3

Menikah!


Bagaimana aku bisa menikah dan memulai hubungan baru jika hatiku saja masih porak-poranda oleh masa lalu.


Pelan, aku menarik nafas dalam. Kemudian kasar menghembuskannya dari bibir. Ku tatap lagi satu persatu wajah anggota keluarga inti, keluarga Wijaya


Opa terlihat tidak perduli dengan tanggapan yang akan ku berikan. Sementara mama dan oma mengharapkan hal yang sama, berharap agar aku segera menikah.


Untuk sesaat tatapanku beralih pada wajah papa, tatapannya menjelaskan kalau ia akan selalu mendukung setiap keputusan yang ku ambil, kapanpun dan dimanapun.


"Alan sudah bilang, Alan tidak ingin menikah! Apa hal seperti ini harus Alan ulangi setiap kali ada pertemuan keluarga." Ucapku dengan nada tinggi.


"Sayang, mama tidak ingin memaksamu! Mama hanya ingin kau menemui gadis itu! Jika kau suka, kita akan melanjutkan hubungan ini. Tapi, jika kau tidak suka pada gadis itu, mama janji tidak akan memaksamu!" Ucap bu Nani sambil menatap wajah putra yang sangat dirindukan netranya. Jarang-jarang hal seperti ini bisa terjadi, karena itulah bu Nani meminta pada ART nya memasak makanan kesukaan putra judesnya.


"Saat ini seharusnya kami sudah menimang cucu darimu! Kau tahu, nak. Hari ini?


Hampir saja mama meneteskan air mata! Di stasiun Tv, mama bertemu seorang anak yang sangat mirip denganmu. Cara mu bicara, cara mu menyuapkan makanan kedalam mulutmu, cara mu tersenyum, cara mu menyebikkan bibir saat tidak suka wortel, cara mu merunduk. Semua hal yang ada dalam diri anak itu mengingatkan ku padamu! Saat itu mama sadar, mama ingin cucu semanis anak itu.


Bahkan konyolnya, mama sampai berandai-andai kalau dia putrimu, dan dia cucu mama. Mama tidak punya pilihan lain selain memintamu untuk menikah.


Mama mohon sayang, temuilah Oliv. Dia gadis yang baik, dan kau tidak akan kecewa!" Pinta Mama pada ku, putra kesayangan yang terlalu sering membantahnya.


Apa yang harus ku lakukan jika sudah seperti ini? Tatapan mama menjelaskan harapan besarnya ingin segera terwujut. Mama tidak tahu duri yang masih menempel di hatiku. Bahkan, jika mama membawa Bidadari ke-hadapanku, aku akan tetap menolaknya.


Mungkin itu terdengar konyol, namun itulah kebenarannya.


Anak itu? Anak mana yang mama maksud mirip denganku? Gara-gara anak itu mama memintaku untuk menikah!


*Cucu!

__ADS_1


Dan Cucu lagi, seolah satu kata itu sudah menjadi musuhku*. Gerutuku dalam hati sambil menatap wajah mama dengan tatapan tajam.


"Baiklah, aku akan menemui gadis yang mama maksud. Tapi ingat, janji mama akan tetap berlaku, aku tidak akan menemuinya lagi jika aku tidak menyukainya!" Ucapku pelan.


Dalam hati aku bersorak gembira, tentu saja aku sudah memasang niat untuk menolaknya, entah dengan cara yang lebut atau dengan cara kasar.


"Aku akan menemuinya, hanya sekali saja. Hanya sekali." Ucapku menegaskan. Aku memperjelas ucapanku sambil menatap wajah mama yang terlihat bersemu bahagia dengan jawaban singkatku.


"Baiklah, hanya sekali. Cukup sekali." Balas mama sambil menggenggam erat jemariku. Wajah murungnya mulai menampakkan senyuman.


Oma Ochi dan papa, mereka menatapku tak percaya. Nampaknya hanya mama dan opa Ade yang tersenyum bahagia mendengar keputusanku untuk menemui, Viona, Viola, Maya, Resya atau siapun namanya, aku benar-benar tidak perduli.


Satu yang pasti, semuanya akan tetap mendapat penolakan, penolakan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidupnya.


"Masalahnya sudah selesai, aku harus pulang!" Ucapku sambil bangun dari posisi duduk ku. Mama menarik lenganku, aku terjatuh dan duduk lagi di tempat semula.


"Kau tidak boleh pulang, kau akan makan malam disini, bersama kami. Mama sudah perintahkan mbok memasak makanan kesukaanmu."


Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya! Aku tahu, mama akan menggempurku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin ku dengar. Aku tidak ingin merasakan kesal, karena itulah aku lebih memilik untuk pulang kerumahku, disana tidak akan ada yang marah padaku, dan tidak akan ada pula yang berani bertanya padaku, aku dari mana dan apa yang kulakukan.


"Alan lelah, ma. Alan harus pulang." Ucap ku pelan sambil menatap wajah mama, terlihat guratan kekecewaan di balik senyuman yang coba mama tampakkan.


Aku tahu mama kecewa. Mama harus terbiasa dengan itu, karena aku pun sudah membiasakan diri untuk tidak mudah luluh pada siapapun. Hidupku sudah sangat kacau selama delapan tahun ini, dan aku tidak ingin menambah kekacauan itu dengan berpura-pura menjadi putra yang baik, biarkah semua orang mengutukku, satu yang pasti aku akan selalu berusaha melakulan yang terbaik semampuku.


Aku tidak perlu menjelaskan diriku pada siapapun karena yang menyukaiku tidak butuh itu, dan yang membenci ku tidak percaya itu!


"Mama yang putuskan, mama ingin menahanku disini untuk makan malam, atau aku tidak perlu menemui gadis itu besok malam?"


Aku sengaja memberikan mama pilihan yang terdengar sama, dengan memilih salah satunya ia akan tetap merasa kecewa.

__ADS_1


Mama mengangkat tangan menyerah, membiarkan ku pergi tanpa sepatah kata, aku pun pergi hanya dengan berpamitan singkat pada keluarga yang ku hormati dengan sepenuh hati dan jiwaku.


...***...


19.00 Restoran.


Hmmm!


Aku mendengus kesal, hal yang tidak ingin ku lakukan terpaksa harus ku lakukan demi mengikuti keinginan mama, menemui gadis pilihannya, gadis yang bahkan tidak ku ingat namanya walau berulang kali mama mengingatkan ku nama gadis itu.


Aku berjalan pelan, di ikuti Bobby di belakangku.


Gdebukkk!


Langkah kakiku terhenti. Seorang gadis kecil menabrak ku dengan kepalanya.


Auuu! Bocah manis itu mengusap kepalanya sambil menatapku dengan tatapan tajam. Ia meyebikkan bibir tipisnya sambil mengepalkan tangan.


"Paman! Kau harus hati-hati!"


"Haha... Yang harus hati-hati itu kau!" Balasku pada gadis kecil di depanku. Pelan, aku melepas kaca mata hitam yang gunakan sejak dari rumah.


"Lihat! Kau menggunakan kaca mata hitam, karena itulah kau tidak bisa melihat bocah sekecil diriku!" Protes bocah itu dengan suara lantang.


Aku melipat kedua lengan ku di depan dada. Bocah manis itupun melakukan hal yang sama, ia melipat kedua lengannya di depan dada sembari menggigit bibir bawahnya, aku rasa dia geram, aku pun sering melakukan hal yang sama. Menggigit bibir bawah karena mencoba menahan amarah.


Dasar bocah nakal! Gerutuku dalam hati, ia bahkan tidak menyingkir dari jalanku. Bobby yang berdiri di belakangku hanya bisa menahan tawa karena melihat ku berdebat dengan anak kecil.


Rasanya aku ingin mencubit pipi bocah yang berdiri di depanku, namun langkah kakiku tertahan oleh suara panggilan yang bersumber dari suara yang tidak asing di telingaku.

__ADS_1


...***...


Yeeeaaa... Kira-kira Alan berdebat dengan siapaya...? Apa Alan bisa mencubit pipi bocah yang ada di depannya? 🤔


__ADS_2