
Seperti yang sudah di katakan Kiai Hasan sebelumnya, dan tepatnya seperti yang sudah ku duga, acara akad nikah ini bukan sekedar akad nikah biasa. Aku tidak pernah menduga Kiai besar yang sering ceramah di acara televisi dan terkadang tanpa sengaja aku melihatnya saat pulang kerumah kediaman Wijaya pun datang siang ini.
Dari mana aku tahu dia sering mengisi acara televisi, jawabannya sangat sederhana, Oma ku Oma Ochi wanita sepuh berhati lembut itu selalu duduk di ruang tengah hanya untuk menyaksikkan acara ceramah kesukaannya. Terkadang aku merasa bingung kenapa orang sering menonton TV padahal bayak sekali acara TV yang kurang mendidik.
"Bapak bangga padamu. Bapak turut bahagia atas peristiwa besar ini.
Bagi Kiai Hasan dan keluarga besar bapak, Fatimah itu seperti putri berharga yang tidak ada duanya. Bapak hanya memiliki Ikmal karena itu bapak sangat menyayangi Fatimah." Ucap pria yang baru saja datang dan memegang pundak ku.
"Abi... Pertama Abi harus mengenalkan diri dulu. Lihat wajah kak Alan, dia terlihat bingung." Sambung Ikmal sambil meraih tangan pria yang ia sebut sebagai Abinya, ia mencium punggung tangan pria berkarisma itu penuh hormat.
"Kak Alan, beliau adalah Abi Ikmal. Tepatnya, beliau adalah adik dari paman Kiai Hasan." Ucap Ikmal lagi, kali ini ia memeluk Abinya.
Setelah Abi Ikmal datang semua jama'ah kembali duduk tenang. Dua pria yang datang bersama Abi Ikmal duduk di depanku. Kalau dilihat dari pakaiannya, dia pasti penghulu yang sengaja di jemput Abi Ikmal.
Sementara itu di tempat berbeda Bu Nani sedang memejamkan mata sambil menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar dari bibir.
"Kenapa Mama ikut-ikutan tegang. Jika Mama yang duduk disini saja merasa gugup, bagaimana dengan kak Alan yang duduk di hadapan ribuan jama'ah? Sabina berharap kak Alan tidak melakukan kesalahan." Ucap Sabina sambil memperbaiki kebaya yang ia gunakan. Wajah cantiknya seolah mengabarkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Bina... Mama merasa sedikit tegang. Semuanya masih terasa bagai mimpi. Mama tidak pernah memikirkan kakak mu akan menikah dihari terbaik dan di tempat terbaik."
Belum sempat Sabina merespon ucapan Mamanya, netra indahnya menatap pada satu titik.Titik sempurna yang saat ini berdiri di depannya dengan penampilan luar biasa.
"Kakkkk...!" Netra Sabina membulat, sedetik kemudian ia mulai mengedipkan mata. Ucapannya terkatup di bibir.
"Sayang... Kau sangat cantik."
"Terima kasih, tante!"
"Nonono. Bukan Tante, sayang. Tapi Mama!"
Entah kenapa air mataku tiba-tiba menetes. Belasan tahun aku menghabiskan hidupku tanpa kehadiran seorang ibu. Dan sekarang? Mendengar kata Mama membuatku merasakan haru luar biasa. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok, karena itulah hidup itu menarik.
__ADS_1
"Mulai hari ini aku adalah Mama mu. Jika Alan atau Sabina berani mengganggumu katakan pada Mama, Mama akan menarik telinga mereka dan akan terus melakukan itu." Ucap Bu Nani mencoba menenangkanku
Dan benar saja, ucapannya membuatku merasa tenang. Fatimah yang biasanya hidup dalam kesunyian kini mulai di penuhi kebahagiaan, dan yang lebih penting dari itu, saat ini aku di kelilingi oleh orang-orang baik. Dimulai dari Kiai Hasan dan Nyai Latifa, keluarga besar Ustadz Ikmal yang selalu bersikap ramah, dan sekarang keluarga baru yang mengikatku dan Abi Fazila. Apa aku seberuntung itu? Entahlah, aku tidak tahu itu. Semuanya masih terasa bagai mimpi, mimpi indah yang terasa sangat menenangkan. Jika ini mimpi aku tidak ingin bangun lagi. Aku hanya ingin berdiri di satu tempat, di tempat yang bisa membuat putri berhargaku bahagia, Meyda Noviana Fazila.
"Terkadang Alan bersikap jutek, dia juga suka menyimpan dukanya sendirian, Mama berharap kau bisa mengimbangi Alan dengan baik.
Mama tahu kau masih berada dalam dilema. Meskipun demikian Mama yakin, benar-benar sangat yakin kalau Alan bisa membuatmu bahagia." Ucap Mama Nani sambil memelukku. Tidak ada balasan dariku selain anggukan kepala, aku pun berharap demikian, berharap duka yang sudah mengakar di hati segera menghilang.
...***...
Allah akbar...
Allah Akbar...
Semakin aku berusaha menenangkan hatiku, semakin aku merasakan gugup. Rasanya seperti ada kupu-kupu beterbangan di hatiku, aku merasa geli dan bahagia di saat bersamaan.
Penghulu yang duduk di depanku sejak tadi menggenggam erat jemariku. Sungguh, sekujur tubuhku rasanya seperti terkena sengatan listrik bertegangan tinggi. Percaya atau tidak, itulah yang sedang ku rasakan saat ini.
Jika aku boleh memaki, rasanya aku ingin memaki hatiku. Sejak tadi hatiku tidak mau menuruti keinginanku, keinginanku agar hatiku tetap tenang walau berada dalam keadaan genting sekalipun.
"Nak Alan harus santai! Nak Alan tidak perlu terburu-buru." Ucap penghulu berkacamata itu sambil tersenyum. Tatapan matanya seolah menjelaskan kalau dia akan tetap menuntunku walau aku melakukan kesalahan.
Glekkkkkkkk!
Mendengar ucapan penghulu itu membuatku semakin salah tingkah. Ini percobaan kedua ku, aku melakukan kesalahan karena merasa gugup. Ucapanku terhenti di tengah-tengah akad. Jika orang lain berada di posisiku, aku yakin aku akan tersenyum seperti semua orang yang saat ini menjadi saksi hari besar dalam hidupku ini.
"Mari kita coba lagi." Ucap penghulu itu masih dalam keadaan menggenggam erat jemariku. Melihatnya semakin membuat nafasku naik turun.
Fazila tahu Abi sangat pintar. Tidak perlu merasa gugup, anggap saja Ummi dan Fazila sedang duduk di samping Abi sambil tersenyum bahagia. Ucapan putri manisku terasa bergema di telingaku.
Tiga jam yang lalu, tepatnya sebelum jama'ah tiba di masjid, putri manisku menghampiriku sambil tersenyum bahagia. Entah apa yang di pikirkan otak kecilnya sampai ia sebahagia itu! Aku ingin bertanya, sayangnya tidak bisa karena Mama buru-buru datang dan mengajaknya kekamar Umminya.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, aku mulai berusaha lagi. Berusaha menenangkan diriku yang saat ini berada di depan lautan manusia.
Jika aku sampai salah lagi, maka harga diriku sebagai seorang laki-laki harus di pertanyakan. Bagaimana bisa aku segugup ini? Selama ini aku tidak pernah takut pada siapa pun. Gugup, haru, dan bahagia. Itulah yang sedang kurasakan.
Apa ini lucu? Kenapa semua orang tersenyum melihat kegugupanku. Apa hanya aku yang melakukan kesalahan? Entahlah. Dengan menghadirkan Allah dan Rasulnya di hatiku, kali ini aku yakin seribu persen, aku tidak akan melakukan kesalahan dan aku pun tidak akan di kalahkan oleh rasa gugup berlebihan.
Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Alan Wijaya bin Otis Wijaya dengan saudari Fatimah Azzahra bin Sulaiman dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dan emas seberat Lima ratus gram tunai.
Lagi-lagi dada ini berdebar semakin kencang, air mata ku pun semakin tak bisa di tahan. Betapa besar karunia yang ku terima hari ini, bagaimana bisa Tuhan ku sangat baik padaku? Aku mendapatkan dua bidadari surga sekaligus? Dengan keharuan luar biasa dan dengan rasa syukur yang membuncah aku mulai mengucapkan lafaz Bismillah.
Bismillahirrahmanirrahim...
Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah Azzahra binti Sulaiman dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.
Dengan air mata yang masih berlinang ku tatap wajah semua orang, sekujur tubuhku masih bergetar kala mendengar kata 'Sah' dari bibir semua orang. Perlahan, kiai Hasan mendekat kearahku sambil meneteskan air mata haru. Beliau memelukku tanpa berucap sepatah kata pun. Sedetik kemudian beliau menepuk pundakku, wajah sepuh itu mengukir senyuman tulus.
"Selamat, kak."
"Terima kasih." Balasku pada Ikmal yang duduk di sebelah kiriku.
"Tolong jaga kak Fatimah, jangan pernah membuat beliau menangis. Jaga juga Fazila untuk kami semua, anak manis itu kebanggaan kami semua." Ucap Ikmal lagi, kali ini giliran Ikmal yang merangkul ku. Semua orang yang ada di dekat ku menjabat tanganku sambil mendoakan keberkahan. Aku sangat bahagia, benar-benar bahagia.
Sayang sekali, kebahagiaanku terasa kurang lengkap tanpa kehadiran sahabat baik ku, Araf. Semoga dia tidak terluka mendengar kabar pernikahan ku dengan wanita yang juga merupakan penyejuk pandangannya. Sungguh, kebahagiaan ini terasa bagai duri yang menusuk jantungku tanpa kehadiran Araf disisiku.
Araf... Maafkan aku. Aku bergumam di dalam hati sambil menghapus sudut mata dengan punggung tanganku.
"Dia ada disini? Kapan dia datang? Kenapa dia tidak menemuiku? Apa dia masih marah padaku?" Netra sayuku menatap tajam kearah Araf yang baru saja bangun dari posisi duduknya. Aku ingin berlari kearahnya, namun sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa melewati lautan jama'ah untuk Araf yang baru saja berjalan keluar.
Mulai hari ini aku akan menjalani perjalanan baru dalam kehidupan ku. Aku sendiri tidak tahu apa yang sudah di gariskan yang Kuasa untuk ku. Satu pintaku, semoga jalan hidup yang ku pilih ini tidak akan menyakiti hati dan perasaan orang lain, termasuk Araf yang menjadi sahabat terbaikku.
Ya Tuhan, aku tidak pernah menyangka kami akan terlibat dalam hubungan yang rumit hanya karena cinta. Aku bergumam sendiri sambil menatap punggung Araf yang semakin menjauh.
__ADS_1
...***...