Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Fazila Pulang


__ADS_3

Dua pekan berlalu sejak putri salihaku di rawat di rumah sakit. Saat ini kondisinya benar-benar telah pulih total. Tim dokter yang mengoprasinya memutuskan dia bolah pulang dengan syarat harus merawatnya dengan baik selama dirumah, tentu saja sebagai orang tua aku merasakan bahagia luar biasa.


Bahkan sejak semalam Abi Fazila terus saja rewel, kapan putriku bisa pulang? Kapan putriku bisa sekolah lagi? Kapan putriku bisa bermain lagi? Entah berapa banyak pertanyaan yang sudah ia lontarkan dan hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Jujur, Abi Fazila lebih ketat di bandingkan dengan diriku dalam urusan putri kami. Selelap apa pun ia tertidur, ia akan terbangun saat mendengar Fazila batuk, karena ia tidak ingin melewatkan sedetik pun waktunya tanpa mengurus kami berdua. Dia benar-benar berusaha keras untuk menebus waktu yang telah berlalu dan hal itu yang membuatku semakin menghormatinya, mengaguminya, dan tentu saja aku semakin mencintainya. Aku tidak salah kan mencintai suamiku sebesar ini? Apa pun itu, aku berharap Allah akan memudahkan segala urusan kami.


"Ummi... Abi dimana?" Fazila bertanya sambil merapikan kain penutup kepalanya. Wajahnya masih terlihat pucat namun hal itu tidak mengurangi pesona indahnya.


"Abi sedang bicara dengan paman dokter, sebentar lagi beliau pasti kembali." Balasku sambil tersenyum.


"Ummi... Fazila haus."


"Fazila haus, nak? Maafkan Ummi karena tidak peka." Aku bangun dari sofa dan melangkah untuk mengambil air mineral yang terletak di samping kulkas.


"Ummi... Kapan kita berkunjung kerumah Kakek Kiai? Fazila rindu suasana pesantren, tapi Fazila lebih rindu dengan Kakek Kiai dan Nenek Nyai. Nanti setelah sampai rumah, Fazila ingin bicara dengan mereka, apa boleh?"


"Tentu saja, sayang! Kau boleh bicara dengan Kakek Kiai dan Nenek Nyai sepuasnya. Ummi dan Abi akan melakukan apa pun yang Fazila minta. Asalkan..."


"Asalkan hal itu bernilai positif!" Sambung putri manisku penuh semangat.


Hahahaha...


Kami berdua langsung tertawa lepas. Larut dalam bahagia dan mencair dalam nuansa penuh cinta. Aku menangkup wajah Fazila kemudian mencium kening mulusnya. Kami begitu terikat satu sama lain sampai bisa menebak jalan pikiran masing-masing.


"Kenapa kalian meningalkan Abi sendiri? Kalian tertawa tanpa Abi?" Celoteh abi Fazila begitu ia masuk kamar Fazila. Wajah tampannya memamerkan kekesalan, tentunya kekesalan yang sengaja ia buat-buat.

__ADS_1


Hahaha...


Aku dan Fazila kembali tertawa lepas, melihat wajah pura-pura kesal Abi Fazila mengundang kelucuan tersendiri. Sungguh, dia benar-benar tidak terlihat bagus jika sedang marah, dia terlihat lucu.


"Hmm! Sekarang Abi jadi bahan lelucon untuk putri tersayang Abi dan istri tercinta Abi. Lihat saja nanti, Abi pasti akan membalas mereka!" Guyon Abi Fazila sambil mengalihkan pandangannya.


Fazila yang melihat tingkah menggemaskan Abinya hanya bisa tersenyum sambil merapatkan tubuhnya, sedetik kemudian ia mulai memeluk tubuh Abinya dengan pelukan erat. Sangat erat sampai siapapun akan merasakan iri saat melihat kedekatan mereka.


Muach...


"Satu kecupan hangat di pipi kanan untuk Abi terbaik di dunia."


Muach...


Sungguh, aku masih belum sadar. Semua ini masih terasa bagai mimpi bagiku, kebahagiaan sebesar ini? Kasih sayang sebesar ini? Dan cinta sebesar ini? Bukankah ini menakjubkan? Beberapa saat yang lalu putri salihaku selalu bertanya dimana abinya? Bagaimana rupanya? Apa pekerjaannya? Dimana tempat tinggalnya? Dan masih banyak lagi kata 'Dimana' yang keluar dari bibir tipisnya. Sayangnya, sebanyak apa pun dia bertanya maka sebanyak itu pula aku tidak bisa menjawabnya.


Dan hari ini, Allah mengabulkan segala permohonan Fazila. Dia tidak hanya bertemu dengan Abinya, dia juga menyatukan hati kami berdua dalam suka cita luar biasa. Bukankah aku tidak pernah salah saat mengatakan putri berhargaku Fazila titipan dari surga?


Tanpa terasa aku mulai meneteskan air mata melihat Fazila dan Abinya saling berpelukan. Sebelumnya hanya ada amarah dan kebencian dalam hatiku. Tapi hari ini? Amarah itu telah menghilang bersama helaan nafas kasarku. Aku bahkan tidak pernah menyangka hari seindah ini akan hadir dalam kehidupanku dan Fazila.


Fatimah... Nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan? Allah sangat menyayangimu. Allah selalu mendengar permohonanmu. Dan Allah tidak pernah meninggalkanmu. Allah sangat dekat denganmu, lebih dekat dari urat nadimu. Aku bergumam di dalam hati sambil tersenyum bahagia. Aku memeluk tubuh Abi Fazila dari belakang sambil memanjatkan rasa syukurku kepada Allah yang maha pemurah.


...***...

__ADS_1


Saat ini aku, putriku dan Ummi Fazila berada di rumah Mama. Entah kenapa Mama dan semua anggota keluarga Wijaya yang lainnya ngotot agar kami menginap di rumah besarnya. Seberapa pun kuatnya aku menolak maka sebesar itu pula Mama menentangku. Bahkan Ummi Fazila yang di tanya hanya bisa tersenyum saja. Senyumnya menjelaskan kalau dia tidak ingin mengecewakan siapa pun.


"Bukankah Mama sangat tidak pengertian? Abi ngotot tidak mau menginap dirumah ini agar kita bisa menghabiskan waktu berdua saja. Mama benar-benar tidak pengertian." Aku pura-pura menggerutu. Sementara tubuhku? Tubuhku menempel sempurna di tubuh Ummi Fazila, karena aku memeluknya dari belakang. Jangan berpikiran mesum, karena aku tidak melakukan apa pun. Aku memeluk Ummi Fazila karena aku sangat mencintainya, hanya dengan melihatnya, memeluknya, dan mencium aroma bunga yang menguar dari tubuh langsingnya membuatku merasakan ketenangan lahir dan batin. Sungguh indah perasaan ini. Maha Suci Allah yang telah mengikat nama dan hati kami dalam jalinan cinta tanpa batas.


"Huss! Abi tidak perlu mengatakan itu. Ummi tahu Mama yang terbaik. Dan siapa pun yang berani menghina Mama mertuaku maka aku tidak akan tinggal diam. Paham?" Ucap Ummi Fazila dengan nada pelan, aku yang mendengarkan ucapannya hanya bisa mengiyakan sembari mengeratkan pelukan.


Tok.Tok.Tok.


"Hmmm! Inilah yang Abi tidak suka. Saat kita menghabiskan waktu berdua selalu saja ada pihak antagonis yang menjadi pengganggu." Celotehku sambil melepaskan pelukanku. Ummi Fazila yang mendengarku hanya bisa tertawa lepas. Sungguh, aku tidak ingin tawa bahagia menghilang dari wajah cantiknya. Dia sepuluh kali lipat lebih cantik saat sedang tertawa. Melihatnya bahagia membuatku merasakan lega. Aku lega karena itu tandanya dia tidak menyesal telah menghabiskan waktu berharganya dengan diriku yang di penuhi ribuan bahkan jutaan kekurangan.


"Masuk!" Ucapku singkat dengan nada suara malas. Begitu daun pintu terbuka, wajah Art muda itu langsung memamerkan senyum terbaiknya. Dia terlihat kaku dan salah tingkah. Aku pikir dia merasa bersalah.


"Ada apa? Katakan!" Celetukku sambil menatap wajah takutnya. Apa aku terlihat semenakutkan itu? Aku bahkan tidak mengatakan apa pun yang terkesan kasar, lalu bagaimana bisa dia merasakan takut? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menebak itu.


"Ada apa, kak?" Ummi Fazila bertanya dengan suara lembutnya sambil memegang lenganku. Ia mengisyaratkan agar aku menutup mulutku. Karena dia tahu semakin aku bicara semakin Art itu merasakan canggung.


"Maafff nona. Nyonya besar memanggil anda dan tuan muda untuk turun kebawah, makan malam sudah siap."


"Baiklah. Kami akan segera turun. Terima kasih sudah memanggil kami." Balas Ummi Fazila lagi. Semenit kemudian Art itu sudah tidak nampak di netra kami lagi.


"Ayo kita turun. Semua orang pasti sudah menunggu di meja makan." Ujar ku sambil menatap wajah cantik Ummi Fazila. Tidak ada balasan darinya selain anggukan kepala. Aku mencium puncak kepalanya, setelah itu kami turun kelantai bawah sambil perpengangan tangan mesra.


...***...

__ADS_1


__ADS_2