Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Rayuan Malam (Alan&Fatimah)


__ADS_3

Malam terasa sangat singkat bagi pujangga yang mengagungkan cinta. Tidak ada yang nampak di depan mata selain gelora yang terasa semakin menggebu-gebu.


Cinta!


Satu kata itu berhasil memenuhi ragaku. Apa yang akan terjadi jika cinta sebesar ini tidak mendapat balasan dan perlakuan yang sama dari seseorang yang telah berhasil mencuri setiap malamku?


Bahkan memeluknya masih terasa bagai mimpi! Apakah mimpi indah ini nyata? Jawabannya tentu saja, iya. Semua ini nyata. Walau aku masih tidak percaya namun itulah kebenarannya. Setiap kali aku selalu melangitkan doa-doa. Semoga bahagia ini tidak akan pernah berakhir sepanjang hidupku. Bahkan Rembulan pun seolah mengatakan 'Tuhanmu mendengar segala pintamu, kau akan selalu melangkah bersama wanita yang saat ini berada dalam pelukanmu. Tak perlu lagi merasa sedih ataupun risau'


Bukankah aku sangat konyol? Aku bahkan sok pintar mengartikan cahaya indah sang Rembulan.


"Kenapa Abi diam? Apa Abi merisaukan hal lain? Katakan pada Ummi, walau Ummi tidak sepintar Abi, Insya Allah Ummi bisa meringankan sedikit beban Abi."


"Abi tidak merisaukan apa pun, Abi hanya berusaha menikmati indahnya malam ini.


Cahaya Rembulan dan angin malam. Semua ini terasa sangat, sangat menenangkan. Abi tidak tahu harus berkata apa, karena itulah Abi diam. Dan yang lebih menguntungkannya lagi, Abi di temani oleh wanita tercantik di dunia." Ucapku sambil mengeratkan pelukanku di tubuh ramping Ummi Fazila.


"Ummi tidak perlu mengatakan Abi lebay. Karena Abi bukan pria yang akan mengumbar ucapan konyolnya pada sembarang wanita." Sambungku lagi sebelum Ummi Fazila membalas ucapanku, aku tahu saat ini Ummi Fazila pasti sedang tersenyum penuh kemenangan. Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajah cantiknya karena wajah itu masih tenggelam di dada bidangku. Haruskah aku mengeluh? Jawabannya tentu saja tidak, karena pelukan Ummi Fazila selalu saja menenangkan ku dan menghangatkan jiwaku.


"Kata siapa Ummi akan mengatakan Abi lebay, yang benar itu Abi sangat, sangat, gombal." Celoteh Ummi Fazila sambil mengangkat kepalanya sebentar, setelah itu ia kembali mengeratkan pelukannya. Kedua lengannya melingkar di pinggangku.


"Gombal? Sejak kapan Ummi belajar ucapan itu?"


"Sabina mengatakan hal yang sama pada dokter Araf saat kami ada di ruang Makeup."


"Wahhh... Kalian para wanita sama saja. Saat kami mengagumi kecantikan kalian, kalian malah mengatakan kami gombal. Malangnya diriku..." Celoteh ku sambil pura-pura sedih.


Ummi Fazila yang mendengar ucapan omong kosongku hanya bisa cekikikan. Untuk pertama kalinya aku melihanya sebahagia ini. Dibandingkan dengan dirinya, aku pun merasakan bahagia luar biasa, aku berharap waktu ini tidak akan terhenti, saat aku melihat keindahan tawa Ummi Fazila, hidup ku terasa sempurna.


"Abi terlihat lucu saat Abi sedang marah. Jangan lakukan itu di depan orang lain. Jika Abi melakukannya di depan orang lain, bukannya takut mereka pasti akan menjadi penggar Abi. Abi Pa-ha-m?"


Ummi Fazila terdiam sebentar, dia bahkan sampai menutup bibirnya hanya untuk menahan tawa. Baiklah, sudah cukup candaan ini. Sekarang waktunya bicara serius.


Eeitttsss, tunggu dulu. Yang ku maksud bicara serius yang jelas bukan tentang pekerjaan kantor. Melainkan bicara serius tentang cinta, kasih sayang dan masa depan seindah apa yang ku inginkan. Melihat wajah bersemu Ummi Fazila selalu membuatku ingin merancang setiap detik waktu ku dengan cinta, cinta, dan cinta.


"Sekarang katakan, masa depan seperti apa yang Ummi inginkan? Abi berharap, Abi ada di dalam impian indah Ummi."


"Masa depan?"


Ummi Fazila terdiam sambil menatap cahaya Rembulan. Raut wajahnya menjelaskan kalau dia sedang berfikir, entah apa yang di pikirkan otak kecilnya sampai dia terlihat sedikit serius.


Sedetik kemudian Ummi Fazila mengalungkan kedua lengannya di leher ku, karena tinggi kami tak berimbang Ummi Fazila bahkan sampai berdiri dengan kaki menjinjit. Sedikit lucu, tapi aku suka momen indah ini.

__ADS_1


"Mmmm... Masa depan yang Ummi inginkan?Tentu saja masa depan dimana Abi Fazila tidak ada di dalamnya. Itu dulu!


Ummi ingin terbang bebas seperti burung. Kemudian Ummi berpikir, Ummi butuh tempat yang hangat untuk tinggal, sehangat dekapan Abi Fazila. Ummi ingin hidup dengan melihat senyuman Abi, tetaplah bahagia seperti ini."


Tadinya aku merasa sedih karena Ummi Fazila mengatakan dia menginginkan masa depan tanpa kehadiranku disisinya. Namun sedetik kemudian dia mengubah setiap ucapannya. Wajah cantiknya kembali memamerkan senyuman.


Aku terdiam sambil menatap wajahnya, dan tanpa kuduga Ummi Fazila mulai melayangkan kecupan singkatnya. Aku sedikit terkejut, aku juga merasa berbunga-bunga karena mendapat perlakuan manis dari wanita terindah di dunia.


Tatapan kami saling beradu, sementara itu bibir ku hanya bisa diam. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di dadaku, aku merasa geli dan bahagia di saat bersamaan. Bukankah ini konyol? Entahlah aku sendiri tidak tahu, yang ku tahu aku sangat mengagumi, mencintai, menghormati, dan menyayangi sosok indah Bidadari yang saat ini berdiri di depanku.


"Dalam setiap ucapan Ummi terkandung sihir."


"Ini lah alasannya kenapa Ummi bilang Abi itu gombal. Mendengar setiap godaan Abi membuat Ummi seolah terbang keawan. Ummi bukan anak remaja, tapi lihatlah wajah Ummi. Wajah ini mulai bersemu memerah." Celoteh Ummi Fazila sambil mencubit lenganku.


Aku malah cekikikan, untunglah hanya kami berdua yang masih terjaga. Bayangkan jika Mama dan Papa yang mendengar ku cekikikan di tengah malam, bisa-bisa beliau akan meledekku tanpa henti.


"Ummi membuat ku mabuk kepayang!" Sambungku lagi. Kali ini aku mulai melayangkan kecupan di bibir ranum Ummi Fazila.


"Sekarang Abi mulai nakal. Bagaimana jika Fazila bangun?" Celoteh Ummi Fazila, kali ini dia mencubit perutku.


Aku kembali cekikikan sambil menatap Ranjang kami. Disana putri manisku Meyda Noviana Fazila masih terlelap, sepertinya putri penyejuk hatiku itu sangat kelelahan. Maklum saja, sejak mengetahui tantenya akan menikah dengan Araf yang menjadi sosok kebanggaannya, dia mulai antusias melebihi siapa pun.


Abi, kapan paman dokter datang? Abi, dimana Tante Sabina akan tinggal? Apa paman dokter dan tante Sabina bisa tinggal di rumah kita? Pokoknya Fazila akan menginap di rumah Tante cantik setiap sebulan sekali! Titik. Entah berapa puluh kali sudah anak manis itu mengulangi ucapan yang sama, dia mulai antusias sejak aku berjanji aku akan memindahkannya dari sekolah yang lama menuju Pesantren yang di pimpin oleh Abi Ikmal.


Matahari untuk siang hari, Bulan untuk malam hari dan Ummi untuk selamanya dihatiku. Apa Ummi tahu? Abi ingin selalu bersama Ummi dalam dua waktu, yaitu sekarang dan selamanya." Ujar ku sambil menempelkan keningku di kening mulus Ummi Fazila.


Aku tahu rayuanku tidak akan mempan di hadapan wanita sesaliha Ummi Fazila, jika ada yang bertanya kenapa hal itu bisa terjadi? Tentu saja jawabannya sangat sederhana, Bidadari surga yang berdiri di depanku ku ini lebih indah dari apa pun yang ada di Dunia, sanjungan tidak akan cukup untuk menggambarkan pesona indahnya.


Bukankah aku berlebihan? Tentu saja tidak. Jika ada pria yang menyanjung wanita lain di depan Ibu dari anak-anaknya maka dia telah tersesat sangat jauh. Aku selalu menjaga pandanganku dari wanita lain, Papa selalu mengatakan, seseorang yang tidak bisa menjaga matanya maka hatinya tidak ada harganya.


Selama jantung ini masih berdetak, detakannya akan selalu beriringan dengan nama Ummi Fazila, malam ini dan untuk selamanya.


"Abi tidak pernah merasakan ketakutan sedikit pun saat berada di dekat Ummi, karena Ummilah kekuatanku. Ummi tahu apa persamaan Matahari dan rasa sayang Abi pada ummi?"


Ummi Fazila yang ku tanya hanya bisa menggelangkan kepala. Setiap ucapannya terkatup di bibir saja.


"Persamaannya adalah sama-sama terbit setiap hari dan akan berakhir sampai kiamat."


Aku kembali tersenyum, entah dari siapa aku belajar cara merayu wanita, aku rasa kegombalan Araf menulariku. Entah apa kabar pengantin baru itu?


Dan bagiku yang terlalu larut dalam buaian cinta, aku selalu menganggap setiap malam menjadi malam pertamaku. Beginilah caraku menjaga cinta ini agar selalu mekar dihati, memupuknya dengan sedikit candaan, sanjungan, rayuan, kasih sayang, dan sikap manis setiap saat.

__ADS_1


Dan jujur saja, tidak sulit membuat Ummi Fazila bahagia, Bidadari Surga itu sangat sederhana, setangkai mawar pun bisa membuatnya terlena, aku rasa setiap wanita Saliha sama saja, mereka tidak akan mengeluhkan segala hal, karena itulah wanita Saliha lebih berharga dari perhiasan dunia.


"Abi tidak perlu menyanjung Ummi sebesar itu. Apa Abi tahu? Setiap detik yang Ummi habiskan bersama Abi, Ummi anggap itu sebagai Anugrah.


Ummi tahu cinta Ummi tidak sebesar cinta Abi pada Ummi, walau demikian Ummi berjanji akan menjadi wanita yang bisa Abi banggakan, wanita yang bisa Abi kenang kebaikan..."


Belum sempat Ummi Fazila menyelesaikan ucapannya aku malah menyumpal bibir tipisnya dengan bibirku, bagaimana dia bisa memintaku mengenang kebaikannya? Hanya orang tiadalah yang butuh di kenang, jika aku bisa aku bahkan akan bernegosiasi dengan Tuhan agar menggantikan setiap dukanya dengan kebahagiaan ku.


Aku mulai memperdalam ciumanku, aku menghentikan aksi nakal ku saat Ummi Fazila mulai kesulitan bernafas. Dan lihatlah wajah cantiknya? Wajah itu terlihat memerah, ia terlihat malu.


Sikap malu yang ku maksud sikap malu yang berdasarkan keimanan, ia malu jika auratnya dilihat oleh pria yang tidak halal baginya, dan dia pun malu menatap pria yang bukan pasangan halalnya. Tapi kali ini Ummi Fazila malu karena aku bersikap manis padanya.


"Apa Ummi malu? Pada siapa? Pada Abi? Atau justru pada Cahaya Rembulan?"


Umi Fazila yang kutanya hanya bisa memegang bibir tipisnya, bibirnya semanis gula kapas. Aroma tubuhnya selembut bunga di taman bunga.


"Ayo kita istirahat!" Ucap Ummi Fazila begitu ia mulai menguasai dirinya.


"Sebentar lagi. Apa boleh?"


"Baiklah, jika itu yang Abi inginkan."


"Abi hanya ingin menghabiskan malam ini dengan penuh cinta." Sambungku lagi.


Mendengar ucapanku, Ummi Fazila hanya bisa mengerutkan keningnya tak percaya, aku bahkan sampai melirik pergelangan tangan ku.


Waktu menunjukan pukul 3.00 dini hari, apa aku akan mengajak Ummi Fazila terjaga sampai Subuh? Entahlah, yang jelas itulah yang di inginkan hatiku, aku tidak ingin malam ini berlalu dengan cepat.


"Biarlah kita jatuh cinta, dan biarlah waktu mengujinya. Bukti paling nyata dari cinta adalah kepercayaan. Dan Ummi tahu kan kalau Abi sangat mempercayai Ummi?"


Lagi-lagi tidak ada balasan dari Ummi Fazila selain anggukan kepala.


"Berulang tahun itu memang indah, namun bagi Abi yang lebih indah itu jika berulang kali bersama Ummi."


"Iya, dech. Ummi terima semua rayuan malam Abi. Tapi yang lebih manis dari semua kata-kata indah itu adalah Abi selalu menemani Ummi, menemani dalam suka dan duka. Jangan pernah berhenti mencintai Ummi walau rambut Ummi mulai memutih dan gigi-gigi Ummi mulai copot satu per satu." Ucap Ummi Fazila sambil menyandarkan kepalanya di dada bidangku. Aku tahu saat ini ia pasti sedang meneteskankan air mata bahagia.


Bahagia dan syukur!


Hanya dua kata itu yang saat ini memenuhi rongga dadaku. Aku sangat bahagia bisa bersama Ummi Fazila, bahkan cintaku untuknya semakin hari semakin dalam. Dan aku pun sangat bersyukur pada Tuhan, Allah tidak meninggalkanku setelah begitu banyak rintangan yang ku hadapi untuk bisa bersatu dengan dia, Fatimah Azzahra wanita terbaik di dunia.


...***...

__ADS_1


...❤*Tamat*❤...


__ADS_2