
"Nyai benar-benar tidak tahu alasanmu memilih untuk tetap sendiri, Fatimah. Nyai tidak akan menyerah, justru kau yang harus menyerah terhadap permintaan Nyai. Jika tidak hari ini, maka besok, lusa, bulan depan atau tahun depan." Ucap Nyai Latifa kesal.
Ini bukan yang pertama kalinya Nyai Latifa menjodohkan ku dengan pria asing. Setiap ada yang datang berkunjung ke pesantren, tidak jarang salah satu di antara tamu yang datang mencoba mengkitbah ku pada Kiai Hasan.
"Nyai... Aku tidak tahu takdir apa yang sudah menanti ku! Aku hanya ingin bahagia bersama putri ku!" Pinta ku sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Hati ku masih terasa perih membayangkan masa lalu yang menyakitkan. Jika aku bisa, aku ingin bahagia walau sedetik saja.
"Baiklah. Mulai saat ini Nyai tidak akan memintamu untuk menikah. Tapi kau harus janji, kau harus menceritakan kenapa kau tidak ingin membina rumah tangga padahal kau masih muda." Ucap Nyai Latifa sembari menggenggam tangan ku dengan derai air mata yang masih membasahi wajah separuh bayanya.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipisku, yang bisa ku lakukan hanya menganggukan kepala saja.
Aku tidak pernah membayangkan orang yang paling menyayangiku di tempat yang awalnya asing ini menangis karena penolakan yang ku lakukan. Allah maha tahu dengan segala perihku. Semoga Rasa sakitku tidak di alami oleh wanita mana pun setelah ini.
...***...
"Bos... Produser acara hafidz Qur'an akan menemui anda hari ini di kantor. Karena bos yang mensponsori acara mereka, jadi mereka akan mendiskusikan beberapa hal penting dengan anda."
Bobby memberikan laporannya sembari meletakkan berkas yang dikirim stasiun Televisi.
"Kau boleh pergi." Ucapku mengusir Bobby dengan suara malas.
"O iya bos, nyonya menelpon. Katanya beliau akan datang."
__ADS_1
Baru saja Bobby memberitahukan beritanya, Iklima membuka pintu kantorku di ikuti mama yang berjalan di belakangnya. Aku terbelalak, aku masih terkejut karena kedatangannya yang menurutku terlalu tiba-tiba.
Mama duduk di sofa sembari menatapku dengan kerinduan luar biasa. Aku berjalan mendekati mama dan di ikuti oleh Bobby dan Iklima yang meninggalkan kami berdua.
"Kenapa mama harus repot-repot menemuiku. Seharusnya mama menelpon sehingga kita bisa makan siang di luar." Ucapku sembari duduk di sofa yang menghadap ke arah mama.
"Mama sangat kesal padamu! Apa kau pikir mama bisa makan saat bernafas saja terasa menyesakkan."
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan hubunganmu dan Seren? Bukankah kau sangat mencintainya dan ingin segera menikahinya. Kau terburu-buru memutuskan hubunganmu dan Seren. Dan sekarang Opa mu yang terburu-buru ingin menikahkanmu dengan wanita lain. Katakan pada mama, apa yang harus mama lakukan agar hati mama bisa tenang? Mama terjebak di antara kau dan opa mu!" Ucap bu Nani mengeluarkan segala kepedihan yang mengusik jiwanya.
"Mama mendengar kau terlibat dalam acara televisi. Untuk apa kau terlibat dalam acara seperti itu? Jika media mengejarmu, maka tamatlah reputasi keluarga kita." Ucap mama kesal sembari melempar ku dengan bantal kecil yang ada di tangan kanannya.
"Untuk apa kau melawan opa mu? Tidak bisakah kau menurut saja untuk menikahi wanita manapun yang di tunjukan padamu!" Kali ini mama bicara dengan nada memelas. Air mata mulai keluar dari sudut matanya.
"Apa lagi yang kalian inginkan dariku? Apa aku tidak berhak memutuskan keinginanku sendiri? Kenapa harus mengikuti jalan yang opa tunjukan untukku? Aku juga ingin berjalan sendiri tanpa ada tekanan dari siapa pun!" Ucapku dengan nada tak kalah kerasnya dari mama. Mama terlihat mematung mendengar ucapanku.
"Aku hanya ingin sendiri! Tolong jangan paksa aku melakukan hal yang tidak ingin ku lakukan." Ucapku lagi, kali ini aku menangkupkan tangan di depan dada. Wajah mama tampak pucat, ia benar-benar terkejut dengan ucapan singkatku. Ia bangun dari tempat duduknya sembari meneteskan air mata, ia berjalan keluar kantorku dengan langkah tertatih. Aku rasa ia benar-benar terkejut, dan aku tidak bisa menghiburnya.
Tuhan. Tolong jangan hukum keluargaku karena kesalahan ku. Bimbing aku dengan kebesaranmu. Lirihku sembari menghantar mama sampai di depan pintu saja. Kulihat pengawal pribadinya menuntun langkah kakinya memasuki lift, dan itu benar-benar menggangguku.
...***...
"Ia benar, saya sendiri. Saya ibunya, ada yang bisa saya bantu?" Seorang di sebrang sana bertanya ia sedang bicara dengan siapa.
__ADS_1
Selamat bu. Anak ibu Meyda Noviana Fazila lulus Audisi Hafidz Quran bersama tiga puluh empat anak lainnya.
Kami menantikan kedatangan anda, dan putri anda di Jakarta untuk mengikuti rangkaian acara kami selanjutnya. Ucap orang disebrang sana. Dadaku berdebar sangat kencang sampai aku pikir aku akan pingsan.
"Apa putri ku benar-benar lolos Audisi?" Nada serak keluar dari bibir merah muda alamiku. Sungguh kelapangan ini benar-benar menenangkan jiwa ku. Tidak pernah aku mengalami kedamaian sedalam ini. Rasanya dunia mulai berputar di kakiku dan aku merasa malu kepada Tuhanku! Aku meminta kebahagiaan sebesar telapak tangan namun Dia memberiku kebahagiaan seluas langit membentang. Air mata keharuan mulai menetes dari mata ku, dan aku yakin ini pertama kalinya aku menangis bahagia dalam kurun waktu delapan tahun ini.
Ia, bu. Putri anda lolos Audisi. Kami menantikan kedatangan anda di Jakarta! Ucap seorang pria di sebrang sana lagi. Ia mengucapkan salam kemudian mengakhiri panggilan singkat kami.
Aku meletakkan ponsel di atas nakas kemudian larut dalam sujut syukur panjangku. Saat ini aku membayangkan wajah tersenyum bahagia Kiai Hasan dan Nyai Latifa, rasanya aku ingin berlari kepesantren dan memberikan kabar bahagia ini.
Langkah kakiku tertahan karena melihat jam yang tergantung di dinding samping foto tersenyum masa kecil Fazila.
Waktu menunjukan pukul 12:25, lima menit lagi putriku akan pulang dari sekolah. Aku membayangkan, akan langsung memberikan pelukan hangat padanya sebagai ungkapan terimakasihku karena ia ada untukku dalam dunia ini.
Aku berjalan menuju pintu depan, dan kudapati putriku turun dari mobil putih mewah yang ku yakini adalah milik dokter tampan yang datang tidak lama ini.
Benar saja, dua orang yang tak asing di netraku turun dari pintu penumpang sembari saling menggenggam tangan dan memamerkan senyum bahagianya.
"Ummiii!" Ucap putriku sembari berlari, hampir saja ia terjatuh namun untungnya dokter tampan itu menarik lengannya.
Rasanya kebahagiaan ini tidak lengkap tanpa berbagi dengan sesama. Setelah menerima pelukan hangat dari putriku, aku segera berhambur kedapur.
Allah. Terima kasih untuk segalanya. Maafkan aku karena aku masih sering mengeluh. Lirihku pelan, kemudian mempersilahkan dokter tampan duduk di teras bersama pengawalnya, di temani segelas coffe dan sepiring kue yang ku buat pagi ini.
__ADS_1
...***...