Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Mimpi Terindah


__ADS_3

"Kenapa kau menatapku? Bawa dia keruang kesehatan dan minta dokter David memeriksa kondisi Iklima dan Seren." Perintahku pada Bobby yang terlihat panik.


Bobby mengangguk pelan kemudian beranjak dari kantorku sambil menggendong iklima. Sedetik kemudian, Ruan yang bertugas menjadi Bodyguard putri manisku menyusul Bobby, dia menggendong Seren dengan wajah super panik. Aku bisa memahami kepanikan yang ia rasakan, ku tebak hubungan mereka pasti cukup dalam.


Lima menit yang lalu aku benar-benar tidak bisa menahan amarahku, karena kesal aku menarik pelatuk dan melepaskan tembakan.


Aku tidak melukai siapa pun dengan senjata yang ada di tanganku, aku menembak Televisi yang berada tepat di belakang Seren, karena terkejut Seren mulai panik kemudian pingsan.


Sementara Iklima? Gadis aneh itu masuk kedalam kantorku dengan gaya layaknya model yang sedang melakukan pertunjukan, bukannya melihat suasana tenang seperti biasa dia malah melihatku memegang senjata yang sengaja ku bidik kearah Seren. Aku tidak pernah berniat menembak wanita angkuh itu, aku hanya ingin menakutinya saja. Aku tidak segila itu sampai harus menghilangkan nyawa orang lain. Aku hanya ingin menjadi ayah yang bisa di banggakan putriku, suami yang selalu menjaga Bidadari Surgaku, Fatimah Azzahra.


"Kalian berdua... Urus pria separuh baya itu. Minta dokter mengobatinya dengan perawatan terbaik. Setelah sadar, lempar dia kepenjara bersama Seren yang menjadi otak di balik kekacauan ini.


Aku tidak ingin mendengar kalian bersikap lunak padanya. Jika pihak berwajib ingin bertemu denganku segera antar dia kerumah." Celotehku pada Aiman dan salah satu rekannya. Aku manarik jas yang ku sampirkan di sandaran kursi, memakainya kemudian bersiap untuk pulang.


"Dan satu lagi, minta OB membersihkan kantor ku, aku benci dengan kekacauan ini." Ucapku menegaskan.


"Baik Tuan." Balas kedua Bodyguard itu berbarengan.


Aku berharap kejadian seburuk ini tidak akan pernah terjadi lagi. Sebenarnya aku sangat kasihan pada pria separuh baya yang di pukuli oleh Aiman bersama ketiga rekannya secara bergantian. Namun buruknya, aku tidak bisa menghentikan tindakan mereka karena aku ingin membuat pria itu jera, apa gunanya mendapat gelar menjadi penembak jitu jika keahlian itu hanya ia gunakan untuk melukai orang lain. Manusia yang baik adalah manusia yang bisa bermanfaat bagi semesta.


"Saya akan mengantar tuan kerumah sakit." Aiman beranjak dari tempatnya berdiri sambil merunduk.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri." Balasku sambil menatap Aiman dengan tatapan tajam, setelah itu aku meninggalkan kantor dan berjalan menuju Lift yang akan membawaku menuju parkiran lantai dasar.


...***...


Sementara itu di rumah sakit, semua orang sedang bahagia karena Fazila sudah bisa bicara normal. Sejak dia bangun, dia mulai mencari mushapnya, dia mulai membaca Al-Quran sambil menyandarkan tubuh lemahnya di bantal. Menghafal Qur'an adalah jatuh cinta yang disengaja, dan sampai kapan pun anak secerdas Fazila tidak akan meninggalkan hafalannya hanya karena dia terluka.


"Sayang... Apa kau tidak lelah? Kau baru saja bangun. Istirahat akan membuatmu lekas sembuh." Ujarku sambil membelai kepala putri berhargaku.


"Tidak Ummi, Fazila akan merasa lebih baik jika Fazila membaca Al-qur'an. Fazila hanya ingin menyinari hati Fazila dengan cahaya Al-qur'an."


"Biarkan putrimu melakukan apa pun yang dia inginkan, nak. Kami merasakan ketenangan berlipat ganda hanya dengan mendengar suara indahnya." Oma Ochi berjalan kearahku, kemudian menggenggam erat jemariku. Wajah sepuhnya memamerkan senyuman terbaiknya.

__ADS_1


Lima menit kemudian Fazila menghentikan bacaan Qur'annya. Wajah pucatnya mulai memamerkan senyuman. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh otak kecilnya sampai ia sebahagia itu. Aku benar-benar tidak bisa menebak jalan pikirannya.


"Nenek buyut... Tolong peluk Fazila. Oma cantik juga. Fazila sangat merindukan kalian." Ucap putri manisku setelah ia meletakkan mushapnya di atas nakas. Ia membentangkan lengan kecilnya tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya.


"Nenek buyut juga sangat merindukan Fazila. Tetap sehat, nak. Fazila adalah cahaya keluarga kami, Fazila adalah penyejuk hati dan pandangan kami, dan Fazila lebih berharga dari hidup kami." Ucap Oma Ochi sambil memeluk tubuh kecil Fazila.


Kasih sayang sebesar itu? Dan cinta sebesar itu? Sungguh, tidak ada yang kurang dalam kehidupanku. Dan aku selalu bersyukur untuk itu. Sekarang giliran Mama Nani yang memeluk Fazila, di susul oleh Opa dan kakek Buyutnya. Hanya satu yang kurang dari moment ini, Abi Fazila tidak bersama kami. Dan...


Tok.Tok.Tok.


Suara ketukan sontak membuat netra kami menatap kearah daun pintu. Senyum seindah purnama mulai terlihat begitu daun pintu itu terbuka sempurna.


"Waw... Tante cantik datang! Tante bawa apa untuk Fazila?"


Fazila terlihat antusias melihat kedatangan Sabina. Maklum saja, mereka berdua bagai permen karet yang selalu menempel. Sabina sangat menyayangi Fazila, begitu juga sebaliknya. Hati yang di ikat oleh Allah untuk saling menyayangi tidak akan pernah bahagia melihat penderitaan orang terkasihnya.


Saat mengetahui keponakannya terluka, Sabina mulai menangis meraung-raung. Aku tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan seperti itu dari sosok secantik Sabina, aku dan Fazila bahkan baru masuk kedalam keluarga Wijaya kurang dari delapan bulan, tapi kami sudah mendapatkan cinta yang begitu luar biasa. Maka nitmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Membayangkan semua itu membuat mataku mulai berair.


"Haha. Coklat manis untuk yang termanis. Dan tentu saja Tante akan datang, siapa yang berani melarang Tante bertemu dengan Bidadari semanis Fazila?" Ujar Sabina sambil tertawa lepas. Gigi-gigi putihnya tampak berkilau. Lesung pipi menambah kecantikan alaminya. Dia tidak menggunakan make up tebal tapi kecantikannya mengalahkan bintang iklan kecantikan.


"Kakak juga datang? Aku pikir kakak masih sibuk di kantor. Inikan belum jam pulang kerja?" Sabina bertanya sambil menatap wajah tampan kakaknya, yang di tanya hanya bisa bergeming kemudian menyebikkan bibir tipisnya. Sedetik kemudian....


Pletakkkk!


Satu sentilan mendarat tepat di kening mulus Sabina, melihat perdebatan adik dan kakak itu membuat semua orang tertawa geli. Putri manisku juga ikut tersenyum.


"Awww... Sakit, kak. Lihat saja nanti aku pasti akan membalasmu." Celetuk Sabina sambil mengusap-usap puncak kepalanya.


"Semua orang sudah berkumpul. Ada hal penting yang ingin Fazila ceritakan." Ucap Fazila begitu kamarnya mulai tenang. Semua orang terlihat heran.


'Penting' Satu kata itu mengalihkan fokus ku. Entah sepenting apa hal yang akan di sampaikan Fazila sampai wajahnya terlihat berkilau oleh cahaya kebahagiaan.


Sekarang kami sedang menanti ucapan apa yang akan keluar dari lisan Fazila. Oma Ochi, Opa Ade, Mama Nani, Papa Otis, Sabina dan Abinya terlihat memiliki ekspresi wajah yang sama. 'Penasaran' Itulah kata kuncinya. Tak terkecuali diriku yang saat ini duduk di sisi kanan Fazila.

__ADS_1


"Saat Fazila terluka, Fazila pikir Fazila akan pergi jauh dan tidak akan bisa bertemu dengan Ummi, Abi, Oma, Opa, Kakek Buyut, Nenek Buyut dan juga Tante cantik. Fazila tidak takut pada kematian karena Fazila tahu Allah sangat menyayangi Fazila." Urai putri manisku begitu ia membuka bibirnya. Semua orang terdiam menantikan ucapan apa yang akan keluar dari lisannya selanjutnya.


"Ketika Fazila tertidur Fazila bertemu dengan sosok indah yang keindahannya mengalahkan ribuan Purnama.


Beliau bertubuh sedang dengan bahu yang bidang, ada semburat merah merona pada diri beliau, rambutnya tercuntai hingga menyentuh daun telinganya. Beliau sangat wangi lebih wangi dari pada minyak misik. Ketinggian badan beliau itu sedang, warna kulitnya putih kemerah-merahan. Wajahnya laksana Matahari yang memancar. Sungguh, Fazila tidak bisa lagi menggambarkan keindahannya karena beliau lebih indah dari apa pun yang ada di semesta.


Beliau bilang beliau suka Fazila karena Fazila anak yang baik, Fazila menghafal Qur'an dan Fazila mengamalkan isinya. Beliau juga meminta Fazila agar tetap Istikomah. Ketika Fazila terbangun Fazila sudah tidak merasakan sakit lagi, Fazila merasa bahagia karena Fazila bisa melihat wajah seindah purnama. Beliau tidak datang sendiri, beliau berdiri bersama sahabat beliau." Tutup putri manisku sambil menatapku dengan tatapan penuh cinta.


Semua orang menatapku dengan tatapan heran. Entah kenapa air mataku mulai tumpah, aku memeluk Fazila sambil menangis sesegukan. Bukan karena sedih, aku menangis karena bahagia. Sungguh ini benar-benar karunia luar biasa.


"Ummi... Kenapa Ummi menangis? Apa Ummi marah karena Fazila merepotkan Ummi? Maafkan Fazila, Mi. Hiks.Hiks.Hiks." Putri manisku merengek sambil mengeratkan pelukannya. Tangisnya juga pecah, begitupun dengan diriku.


"Ti-tidak sayang. Ummi tidak marah karena Fazila merepotkan Ummi. Ummi merasa bahagia dan Ummi merasa bangga. Kau tahu dengan jelas, nak. Kau sangat mengetahui dengan jelas dengan siapa kau bertemu di dalam mimpimu!"


Mendengar ucapan ku, Fazila menganggukkan kepala. Dia tersenyum lebar sementara air mata masih menetes dari netra teduhnya.


"Dengan siapa kau bertemu, nak? Apa kau tahu siapa yang datang di dalam mimpimu itu?" Opa Ade bertanya sambil memegang pundak Fazila.


"Iya... Fazila tahu Kakek buyut."


"Kau melihat wajahnya dengan jelas, beliau siapa, sayang?" Kali ini Oma Ochi yang angkat bicara. Wajah sepuhnya menunjukkan kalau beliau benar-benar penasaran.


Fazila menatapku sambil menyipitkan mata, aku mengangguk sambil menangkup wajah polosnya. Perlahan Fazila menatap satu per satu semua anggota keluarga Wijaya.


"Kakek Buyut, Nenek buyut, Oma cantik dan Opa baik. Tante cantik, dan terakhir Abi yang sangat Fazila sayangi, Fazila bertemu dengan..." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya, wajah cantiknya kembali memamerkan senyuman.


Kulihat Oma Ochi memegang jemari Fazila sambil menatapnya dengan tatapan penasaran. Ia terlihat tidak sabar menanti ucapan Fazila selanjutnya. Hanya aku yang larut dalam bahagiaku karena aku tahu ucapan apa yang akan Fazila ucapkan selanjutnya. Maha suci Allah dengan segala karunianya, keindahannya, dan juga kasih sayangnya.


"Fazila bertemu dengan Rasulullah SAW dan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq..." Sambung Fazila lagi.


"Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad. Wa 'alaa aali sayyidinaa Muhammad. Subhaanallaah, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah."


Opa Ade dan Oma Ochi bersujud di lantai, mereka menangis sambil mengucap Salawat, Takbir dan Tahmid.

__ADS_1


Saat Opa Ade dan Oma Ochi masih bersujud syukur, tanpa di duga kedua orang tua Araf datang. Mereka terlihat heran melihat tingkah Oma Ochi dan Opa Ade. Walau demikian dengan jelasku katakan, putri manisku sangat beruntung. Ia di karuniai mimpi terindah, mimpi yang bahkan aku pun sangat memimpikannya.


...***...


__ADS_2