Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Kunjungan Pertama (Alan)


__ADS_3

Langit biru dengan awan putih membumbung tinggi menghiasi cakrawala. Seperti yang sudah di rencanakan, hari ini Aku dan Fazila berangkat menuju Jakarta di temani salah satu asisten rumah tangga Nyai Latifa.


"Nyai, Fatimah tidak perlu di temani oleh siapa pun! Bukankah Nyai sangat mengenal ku?" Aku ngotot tidak ingin membawa salah satu asisten rumah tangga Nyai Latifa. Kesederhanaan dan sikap kemandirian sudah mendarah danging dalam kehidupanku.


"Siapa yang ingin mendengar pendapatmu? Terima apa pun yang Nyai berikan, bukankah kau selalu mengatakan Nyai sama seperti ibumu. Apa Nyai hanya seperti ibu bagimu karena itu kau berani membantahku? Apa kau berani membantahku jika aku benar-benar ibumu?" Nyai Latifa menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


Tatapan tajam yang berasal dari netra teduhnya seolah menusuk ulu hatiku. Aku rasa Nyai Latifa sedang bersedih. Aku ingin menangis bersamanya, tapi air mata ku tidak bisa keluar di tengan keramaian Bandara.


"Kau dan bu Melan akan tinggal di Pesantren saudara Kiai Hasan. Fazila akan tinggal di Asrama, kau bisa mengunjungi Fazila setiap hari dan bu Melan akan mengerjakan semua tugasmu." Sambung Nyai Latifa.


Wanita separuh baya itu memelukku dengan derai air mata. Untuk pertama kalinya aku melihat Nyai Latifa serapuh itu.


"Kenapa Ummi menangis? Ini saat-saat yang paling membahagiakan. Cucu kita Fazila akan melakukan hal yang sangat mulia, bukannya melepas Fatimah dan putrinya dengan senyuman, Ummi malah menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya." Guyon Kiai Hasan sambil menyodorkan sapu tangan coklat pada Nyai Latifa.


"Ummi bahagia bii... Hanya saja Ummi tidak bisa mengontrol emosi yang ada. Tolong biarkan Ummi kali ini saja. Jangan katakan apa pun sampai mereka berdua berangkat." Balas Nyai Latifa dengan nada suara cukup tenang.


Kiai Hasan hanya bisa diam mendengar ucapan singkat istrinya. Ketika istri sudah menunjukan kuasanya laki-laki hanya bisa mangut saja.


"Dokter Araf mencarimu? Jangan lupa berpamitan dengannya!" Sambung Kiai Hasan lagi.


Tadinya aku berniat mencari dokter Araf, syukurlah dia muncul di depanku tanpa harus mencarinya dalam kerumunan. Dia tidak sendiri, ada Fazila dalam gendongannya.


"Nona Fatimah! Begitu anda sampai di Jakarta, anda akan di jemput oleh sekertaris sahabat saya. Kalian akan tinggal di apartemen, kecuali Fazila akan tinggal di Asrama."


"Dokter Araf tidak perlu mengkhawatirkan kami, Kiai Hasan dan Nyai Latifa sudah menyiapkan segalanya."


"Ooohhh... Benarkah?" Tanya dokter Araf asal, ia terlihat kecewa karena aku menolak tinggal di apartemen yang di maksutnya.


"Sahabatku pria yang baik. Aku berharap bisa mengenalkan anda dengannya, sayangnya anda tidak bisa, aku berkata seperti ini karena hari ini dia akan berkunjung untuk pertama kalinya." Ucap Dokter Araf pelan, ia terlihat sedih, sedetik kemudian ia merunduk sambil menghela nafas panjang.


"Akan ada waktu di lain hari, Insya Allah kita semua akan bertemu." Balasku sambil tersenyum pada pria yang selalu berbuat baik pada putri manisku.


Aku sedikit terkejut, ingatan ku tentang percakapan yang terjadi sebelum menaiki penerbangan buyar seketika. Pesawat yang kami tumpangi bergetar sesaat ketika gumpalan awan terlihat membumbung di sekeliling kami, 15 menit lagi pesawat yang kami tumpangi akan Landing, dan semua penumpang diperintahkan mengenakan sabuk pengaman.

__ADS_1


Ketinggian pesawat semakin di turunkan, aku sempat khawatir sebelum terbang menuju Jakarta, untunglah kekhawatiran ku tentang Fazila yang merasa tidak nyaman tidak terjadi, anak manis itu bahkan terlihat antusias menikmati penerbangan pertama kami.


Tak berapa lama setelah pengumuman dari pilot tentang pesawat yang akan mendarat, akhirnya maskapai Garuda Indonesia tiba dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta.


Dengan cepat aku menuntun Fazila, di temani pembantu Nyai Latifa. Ini perjalanan pertamaku, rasanya seperti ada batu besar yang mengganjal di hatiku. Ada resah dan gelisah yang tiba-tiba memenuhi relung jiwaku.


Aku sendiri tidak tahu darimana rasa aneh itu datang dan menyulitkan diriku, apa keputusan datang kekota ini benar atau salah aku benar-benar tidak tahu!


Jakarta, Aku disini. Tolonglah, baiklah padaku dan putriku. Lirihku dalam hati sambil membuang nafas, lega.


"Selamat datang di Jakarta." Sapa petugas berwajah oriental. Ku taksir umurnya sekitar 35-an.


"Terima kasih." Balas ku pelan sembari tersenyum kearahnya.


Setelah mengambil bagasi, aku keluar sambil menuntun Fazila. Putri manisku terlihat kesusahan berjalan di tengah keramaian, ia berjalan masih membutuhkan penopang untuk bisa berdiri tegap, tadinya aku ingin menggendongnya. Entah dari mana seorang gadis anggun menyapaku sambil membawa papan yang bertuliskan namaku.


"Nona Fatimah, selamat datang di Jakarta." Sapa gadis anggun itu sambil tersenyum ramah.


"Ahh iyaaaa!" Jawabku singkat, aku sedikit gugup, mungkin karena aku belum mengenalnya.


Dokter Araf?


Aku tersenyum mendengar nama yang di sebutkan gadis anggun di depanku. Rasa terima kasihku semakin besar pada dokter Araf. Dia pria yang baik. Sejak mengenalnya banyak hal baik terjadi.


"Apa nona Fatimah lapar?" Iklima bertanya sambil menoleh kearah ku.


"Mi. Fazila lapar!" Sambung Fazila yang duduk di kursi belakang.


"Ooo... Benarkah? Baiklah, kita akan meminta kakak cantik mencarikan tempat makan yang enak." Ucapku sambil tersenyum.


Aku benar-benar takjub dengan pemandangan yang ada di depan mataku, sungguh besar karunia Tuhan. Keindahan Jakarta memenuhi indra penglihatanku, gedung-gedung yang menjulang tinggi di sepanjang jalan yang kami lewati terlihat menakjubkan, kendaraan roda empat yang mengular di sepanjang jalan membuatku sedikit pusing.


Kemacetan? Aku rasa banjir yang menggenangi jalan yang menjadi sumber kemacetan sore ini, meskipun begitu tidak ada keluhan dari lisanku. Mengeluh hanya akan menambah masalah bukan menyelesaikan masalah.

__ADS_1


...***...


"Hay Arjuna..." Araf berlari kearahku, merangkul tubuhku, dan memberikan tonjokan kecil di bagian dada bidang ku.


"Waw... Ini menakjubkan! Pengusaha hebat ada di depanku, dan aku merasa terhormat untuk itu!" Araf melancarkan goyonan konyolnya. Ia tertawa lepas, entah ia bahagia atau hanya pura-pura bahagia aku tidak bisa mengartikannya.


Aku hanya bisa tersenyum mendengarkan omong-kosong yang keluar dari bibir Araf, walau sebenarnya semua yang dia katakan itu tidak salah.


"Kau yakin mau menginap di rumah dinasku?"


"Iya." Balasku sembari tersenyum tipis. Mendengar jawaban singkatku Araf terlihat menghela nafas.


"Kau yakin tidak akan kecewa?" Araf kembali mengurai tanyanya.


Bobby yang dari tadi sibuk mengemudi pun terlihat khawatir. Fokusnya terpecah, antara menyetir dan ketidak nyamanan tuannya.


"Rumah dinasku sangat kecil...! Bahkan, kamar mandi di rumah mewahmu tidak bisa di bandingkan dengannya." Sambung Araf lagi.


"Apa kau pikir aku anak kecil yang akan menangis ketika hal tidak baik terjadi di sekitarku?" Untuk sesaat aku kembali menatap wajah Araf.


Tinggal di rumah Araf, aku tidak akan mendapatkan kemewahan apa pun. Setidaknya ini jauh lebih baik dari pada tinggal dalam Hotel mewah namun terasa mencekik.


"Apa kau tidak waras? Untuk apa kau tersenyum pada rumah kosong." Protes ku melihat tingkah konyol Araf begitu mobil yang kami tumpangi melewati rumah sederhana.


"Kau berkata seperti itu karena kau tidak tahu siapa pemilik rumah sederhana itu!" Araf kembali tersenyum sembari membayangkan kecantikan sempurna wanita impiannya.


"Pemiliknya adalah Bidadari surga. Dia cantik, lembut, baik, dan tentunya aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama." Sambung Araf lagi.


Mendengar penuturan Araf tiba-tiba saja aku merinding, penuturan yang sangat berlebihan. Atau mungkin itu benar adanya? Jika itu benar adanya, apakah ini yang di katakan orang, dalam seribu gadis haya ada satu yang benar-benar baik dan tulus. Entahlah, aku sendiri tidak tahu.


Malang? Aku ada disini! Semoga tempat ini membawa keindahan dan keajaiban dalam kunjungan pertamaku. Lirihku pelan, kemudian memejamkan mata untuk sesaat. Netraku kembali terbuka ketika mendengar Araf penuh semangat mengatakan...


"Kita sudah sampai! Inilah istanaku selama beberapa bulan terakhir."

__ADS_1


...***...


__ADS_2