Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Kebenaran Mulai Terungkap


__ADS_3

Dua hari berikutnya.


Jakarta hari ini terasa sangat panas, cuaca panas ini benar-benar membuatku sesak. Dua hari yang ku berikan untuk menemukan kebenaran tentang bocah manis itu terasa sangat lamban, tidak ada hal yang lebih membuatku gelisah selain menunggu informasi dari orang suruhanku.


Pandanganku menatap lurus kedepan, tidak ada hal menarik selain acara ulang penampilan bocah manis itu. Acara yang selalu membuatku deg-degan.


Dret.Dret.Dret.


Selamat siang bos? Kami sudah memeriksa semua hal yang berkaitan dengan informasi yang bos minta. Kami sudah melakukan segala hal yang kami bisa. Jika informasi yang kami dapatkan masih kurang... Kami bisa menyelidiki ulang. Bunyi pesan singkat yang di kirim oleh orang kepercayaanku.


Satu lagi bos! Selama dua hari ini ada orang lain yang mencari informasi yang sama dengan yang kami cari, menurut pengamatan kami mereka anak buah Opa anda sendiri. Opa Ade.


Pesan kedua yang ku terima sungguh sangat mengejutkan. Bagaimana mugkin Opa Ade terlibat dalam urusan ini? Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini selain diriku. Sebelum terlambat, aku harus menghentikan Opa Ade. Terlibat dengannya hanya akan membuat masalah semakin runyam.


Aku mulai meraih ponsel yang ku letakkan di atas Laptop, kini perasaan takut mulai memenuhi rongga dadaku. Aku takut melihat kenyataan yang sudah menungguku, dan aku pun merasakan jantungku seolah akan melompat keluar. Dengan tangan bergetar, aku mencoba membuka E-mail dari ponsel.


Dag.Dig.Dug.


Dadaku bergetar sangat kencang. Pelan aku mulai membaca laporan yang di kirim detektif kepercayaanku.


Fatimah Azzahra Lahir di Surabaya, sejak kedua orang tuanya tiada ia tinggal bersama kakek dan nenek angkatnya. Peristiwa tragis yang terjadi di Gunung butak merenggut nyawa kakeknya, dan tidak lama berselang neneknya pun tiada di gunung butak.


Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi pada nona Fatimah Azzahra, semenjak kakek dan neneknya tiada dia meninggalkan Kota Surabaya dan memilih menetap di Kota Malang.


Di Kota Malang, nona Fatimah Azzahra tinggal bersama putri semata wayangnya yang ia beri nama Meyda Noviana Fazila.


Fazila anak yang cerdas, ia menghafal 30 Zuj Al-Quran dalam usianya yang baru menginjak tujuh tahun. Saat ini anak itu sedang mengikuti lomba Hafidz Qur'an di salah satu stasiun Tv Swasta.


Tidak ada satu pun yang tahu dimana ayahnya berada. Sementara, contoh DNA yang bos berikan cocok dengan anak yang bernama Meyda Noviana Fazila. Mereka berdua bisa di pastikan 99.9% adalah ayah dan anak. Semua lampiran dari laporan ini bisa bos periksa ulang dengan teliti.


^^^Terima kasih.^^^


Gdebukkk.


Aku tersungkur, kepalaku membentur meja kerjaku. Dadaku yang tadi terasa sesak kini semakin sesak. Belum sempat memeriksa laporan lain, ponsel di tanganku malah terlepas membentur lantai. Meskipun tidak membaca laporan lainnya, aku rasa aku sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanku.

__ADS_1


Aku tidak tahu harus memulai darimana, membayangkan wajah wanita anggun itu menderita sendirian membuat kepercayaan diriku menghilang. Aku merasa aku Manusia terburuk di muka bumi ini! Aku membiarkan Wanita saliha itu melewati deritanya tanpa ada sokongan apa pun dariku.


Hhhhuuuuuaaaaaa...


Aku berteriak kasar dengan derai air mata, pilu. Rasanya hatiku bagai teriris belati, sakit. Sangat sakit sampai aku tidak bisa bernafas.


Hiks.Hiks.Hiks.


Waktu terus berjalan, tapi aku masih saja menangis. Seandainya ada yang melihatku mereka pasti berpikir aku pria cengeng tidak berguna. Aku tidak perduli dengan tanggapan orang lain tentang diriku, karena hanya aku yang mengetahui betapa sedihnya diriku dan betapa menyedihkannya kehidupanku.


Aku pria menyedihkan karena aku tidak tahu kalau aku memiliki seorang putri! Aku pria menyedihkan karena telah melukai harga diri seorang wanita, dan setelah melakukan dosa besar itu aku bahkan tidak bisa mengingat wajahnya. Aku pria menyedihkan yang bahkan tidak bisa hidup dan bernafas dengan tenang. Kemana lagi aku akan menghadapkan wajahku?


Pada Tuhan?


Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku bersujud menghadapkan wajahku padanya! Akankah ia menerima ku dan mengampuni segala khilapku? Bahkan air mata sialan ini tidak bisa berhenti menetes, dan ini untuk kesekian kalinya aku menangis dalam derita yang tidak bisa ku ukur kedalamannya.


Di-di-dia put-ri-ku? Hiks.Hiks.


Tung-gu Pa-pa sayang, Pa-pa akan segera menemuimu dan ibumu! Aku bergumam sendiri sembari menggapus sudut mata dengan punggung tanganku. Sudah waktunya aku mempertanggung jawabkan dosa masa laluku.


Di tengah-tengah kesedihan yang ku rasakan, entah dari mana datangnya perasaan bahagia yang membelai lembut hatiku, aku mulai tersenyum sendiri, aku meraih tisu dengan tangan kananku di atas meja kerjaku, membersihkan lendir yang keluar dari hidungku. Sungguh, ini pertama kalinya aku menangis pilu namun di saat bersamaan bahagia pun datang, memiliki putri semanis dan secerdas Fazila bukanlah hukuman, dia karunia terindah yang Tuhan berikan untuk ku.


Sekarang bukan waktunya bersedih, dengan semangat luar biasa aku beranjak dari lantai tempatku duduk sejak tiga puluh menit terakhir. Otakku mulai merancang rencana kecil sampai rencana besar untuk mendapatkan maaf dari wanita saleha itu. Bibir yang tadinya mengeluarkan tangis pilu kini hanya bisa memamerkan senyum seindah purnama.


Tok.Tok.Tok.


Aku tahu, yang selalu mengetuk pintu dan menggangguku di saat tidak tepat pasti pekerjaan Bobby. Berkali-kali ia mencoba mengetuk pintu berkali-kali pula aku tidak memberikan jawaban untuknya.


"Masuk!" Ucapku dengan suara lantang setelah memastikan diriku baik-baik saja, baik-baik saja dari perasaan sedihku yang telah menguap ke angkasa bersama helaan nafas kasar.


"Jika aku tidak memintamu masuk dengan cepat, itu artinya aku tidak ingin di ganggu oleh siapa pun! Kau benar-benar membuatku kesal." Ucapku pada Bobby begitu ia menampakkan wajah datarnya.


Aku menatap wajah pria yang berdiri di depanku dengan tatapan setajam belati, tentu saja ia tidak berani balas menatap ku. Seandainya Bobby berani menatap wajahku, maka pesonaku sebagai atasan yang dingin dan tegas akan luntur begitu ia melihat mata bengkakku.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Maafff, bos! Hari ini perwakilan klien kita dari Thailand akan datang. Mereka meminta bertemu di Hotel." Balas Bobby masih dengan wajah merunduk.


"Baiklah! Tunggu di luar. Aku akan keluar sebentar lagi."


"Baik, Bos!" Ucap Bobby lagi, wajah tampan itu masih merunduk menghindari tatapan tajam dariku. Ia bahkan berjalan mundur.


Sepuluh menit kemudian aku sudah keluar dari kantorku dan saat ini berada di Lobi. Iklima, Bobby dan beberapa staf dan manager ikut bersamaku untuk memastikan persentasi dengan pihak Thailand berjalan dengan lancar.


Duarrrr!


Bahagia yang tadi ku rasakan seolah menguap keangkasa. langkah kakiku yang tadinya di penuhi semangat untuk memenangkan semua tantangan demi putri manisku kini terhenti. Mataku menatap ke satu titik. Titik yang selama ini menjadi mimpi burukku, sekaligus menjadi mimpi yang membuatku tidak berhenti tersenyum karena bahagia.


"Kenapa bos berhenti?" Iklima bertanya karena ia belum melihat sosok yang membuatku sangat terkejut, terkejut luar biasa.


Sedetik kemudian, jarak delapan tahun yang memisahkan kami kini hanya tersisa dua langkah lagi. Ucapan yang sudah ku rancang begitu aku bertemu dengannya kini hanya terkatup di bibir. Ia datang secara tiba-tiba dan mengejutkanku. Dari mana aku akan memulai pembicaraan serius ini.



"No-na kau? Kau ad-da di-si-ni?" Dadaku berdebar sangat kencang, air mataku kembali menetes.


Alan Wijaya... Apa dia tahu kau akan menemuinya setelah pertemuanmu usai dengan pihak Thailand? Dari mana dia tahu alamat kantorku? Aku bergumam sendiri sambil menatap wajah cantik ibu dari putri manisku.


Plakkkk!


Bukannya mendapat jawaban dari wanita anggun yang berdiri di depanku, aku malah mendapat tamparan cukup keras sampai wajahku menoleh sempurna kearah kiri. Belum hilang perih yang ku rasakan di pipi kananku.


Plakkkk!


Satu tamparan kembali mendarat di pipi kiriku. Aku merasakan perih luar biasa di pipi kiri dan kananku. Hatiku terasa sakit. Bukan tamparan itu yang membuat hatiku terasa sakit, untuk sesaat aku menatap wajah sempurna ibu dari putriku, ku lihat tatapan matanya seolah ingin membunuhku, mata indah itu malah meneteskan air mata, air mata pilu. Kesedihan yang sama seperti kesedihan yang selama ini ku rasakan.


Iklima, Bobby dan beberapa orang yang berdiri di belakangku tampak shock melihat atasan mereka mendapat tamparan di tempat yang cukup ramai. Aku tidak ingin melihat semua orang menatap ibu dari putriku dengan tatapan kesal, dengan cepat kuraih pergelangan tangannya dan menariknya menuju kantorku. Ia berontak, namun tak sepatah katapun keluar dari bibir tipisnya. Ia tidak menghinaku di depan karyawanku untuk menjaga martabatku, dan aku bersyukur untuk itu.


Pergelangan tangan yang ku pengang terasa sangat dingin, aku merasa dia takut padaku. Setelah berada di kantorku, aku menutup pintu. Kini hanya kami berdua. Aku sudah pasrah walau ia membunuhku.


"Kau masih ingat padaku? Ku rasa tidak! Tapi aku masih mengingat wajah Iblis yang berani menghancurkan hidupku!" Suara lantang wanita anggun yang berdiri di depanku memenuhi indra pendengaranku.

__ADS_1


Fatimah Azzahra? Apa yang membuatnya sangat marah sampai ia berani menemuiku di kandangku? Aku yakin ini masalah besar! Semoga Opa tidak membuat masalah dengannya dan putri kami. Aku kembali bergumam sembari menanti apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dan ini pertemuan pertama kami setelah delapan tahun lamanya, wajah indah itu tertutup kemarahan yang hampir meledak, kemarahan yang sudah lama terpendam.


...***...


__ADS_2