Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Wisuda Akbar (Part 1)


__ADS_3

Acara wisuda akbar mulai di lakukan ba'da Asar, para tamu undangan dari daerah berbeda pun sudah mulai berdatangan. Beberapa Kiai besar dari Surabaya dan Malang turut di undang untuk memeriahkan acara yang paling di tunggu-tunggu oleh setiap orang tua yang berharap anak mereka hafal Tiga Puluh Juz Al-Qu'ran.


Seorang pemuda dengan setelan jas memasuki tempat acara, dengan senyuman manisnya ia berhasil membius para wanita yang memandang kearahnya. Ia terlihat benar-benar sangat tampan.


Seorang lelaki separuh baya menemaninya namun dengan kesal ia mengusir laki-laki itu untuk segera menjauh dari pandangannya.


Kenapa dia tidak mau pergi dariku? Apa aku terlihat seperti orang menyedihkan yang sedang membutuhkan pengawal di saat yang berbahagia ini? Dasar payah! Gerutu Araf dalam hatinya.


"Hai teman baru?" Araf memanggil seseorang sembari melambaikan tangan.


Merasa dirinya di panggil dua anak gadis menghentikan aktivitas kejar-kejarannya. Mata mereka berdua memandang dengan tatapan tajam kearah sumber suara.


"Apa kau masih mengingatku?"


"Aku tidak mengenal mu." Jawab salah satu anak berbaju gamis ungu.


"Bukan kamu, tapi dia." Tunjuk Araf pada salah satu anak yang masih memandangnya dengan tatapan tajam. Araf merunduk dan mensejajarkan tingginya dengan kedua anak yang berdiri di depannya.


"Apa kau mengenalnya Fazila?"


"Ia. Dia paman dokter." Balas Fazila sembari melepas tangan Lisa kemudian ia melipat kedua lengannya.


"Ummi belum mengizinkan ku untuk berteman dengan paman dokter, Ummi berpikir aku akan mengganggu paman dokter. Untuk sekarang kita belum bisa berteman, tunggu sampai lusa." Jawab Fazila dengan tingkah narsisnya.


Anak-anak ini sangat lucu, entah makanan apa yang di berikan ibunya sampai mereka seimut ini. Aku suka ini! Gumam Araf dalam hatinya.


Ooh tidak. Aku tidak mau menikah, lalu kenapa aku berpikir anak-anak ini lucu. Apa aku sudah siap menjadi ayah? Tidak... Itu konyol. Gumam Araf lagi sembari memandang dua gadis kecil nan menggemaskan yang masih berdiri di depannya.


"Hai tuan, apa yang sedang kau pikirkan?" Lisa bertanya karena penasaran.


"Sudahlah. Anda tidak perlu menjawabnya, lagi pula pemikiran orang dewasa sangat rumit. Ibu ku bilang 'Hai Lisa jangan terlibat dengan urusan orang tua, otak mu masih terlalu kecil untuk itu, kau tidak akan sanggup menampung bayak masalah disini. Sebaiknya gunakan otakmu untuk belajar yang giat agar kau dapat juara kelas seperti Fazila." Lisa menirukan suara dan raut wajah ibunya ketika sedang marah, dan itu berhasil membuat Fazila dan Araf tertawa terbahak-bahak.


"Apa ibumu sungguh selucu itu?" Araf bertanya karena penasaran.


"What? Lucu? Iihhh... Itu keterlaluan. Di antara semua orang ibuku lah yang paling menakutkan. Berbeda dengan Umminya Fazila, dia lembut, cantik, baik, shalihah. Semua kualitas ada dalam diri Umminya. Sementara ibuku? Ayah ku bahkan takut padanya. Jika ibu marah padaku, ayah selalu bilang 'Dengarkan Ucapan ibumu' dan jika ibu memarahi ayah aku selalu bilang 'Dengarkan ucapan istrimu'." Lagi-lagi bocah nakal itu menirukan gaya ibunya, raut wajah dan gayanya itu berhasil membuat Araf tertawa lepas di hari keduanya berada di Malang.

__ADS_1


Sepertinya aku tidak salah dalam memilih tempat ini menjadi arena uji adrenalin ku? Lirih Araf dengan wajah sumringah.


Uji Adrenalin? Tantangan!


Itu terdengar sangat konyol, namun bagi Araf ia harus membuktikan diri, mamanya selalu memaksanya untuk segera menikah, hanya untuk menghindari pernikahan ia memutuskan meninggalkan rumah dan memilih setuju untuk mengabdikan diri di desa.


"Paman dokter, apa yang sedang anda pikirkan?" Tanya Fazila sembari memegang pundak Araf.


"Ti..tidak ada." Balas Araf guguf.


"Dimana sahabatmu?" Araf bertanya karena tidak melihat Lisa di samping Fazila.


"Huahhhh! Paman dokter, anda menghilang kemana sampai tidak menyadari Lisa pergi bersama ibunya." Fazila menggoda Araf karena melihat lelaki tampan itu tampak seperti orang kebingungan.


Hahaha! Araf tertawa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Katakan padaku, apa kamu datang sendiri?" Araf mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Tentu saja, tidak. Ada Ummi disana!" Tunjuk Fazila kearah perkumpulan beberapa wanita yang sedang sibuk menyambut tamu undangan.


"Baju biru." Jawab Fazila.


Amir tiba-tiba datang dan menarik lengan Fazila tanpa meminta izin pada lawan bicara rekannya.


...***...


"Dia bilang ibunya ada di sana, dimana? Baju biru?" Netra Araf tertahan pada satu wajah, wajah yang selama dua hari ini sangat ia rindukan.


Sungguh aneh! Ia bahkan tidak tahu nama wanita yang sedang di incarnya. Jika saja dia menceritakan kisahnya pada orang lain, sudah pasti orang akan mencecarnya dengan pertanyaan yang akan berakhir dengan ledekan teriakan 'kau pasti sudah gila.


Cinta adanya di dalam hati, tidak perlu membuat orang mengerti dengan semua rasa tersembunyi. Satu hal yang pasti, kamu harus bahagia tentang rasa yang belum kamu ketahui akhirnya.


Cesss!


Netra Araf masih tertawan di wajah yang sama, dadanya berdebar semakin kencang.

__ADS_1


Siapa nama mu? Maukah kau makan malam dengan ku? Ayo kita menghabiskan waktu bersama walau untuk sedetik saja. Ingin rasanya Araf mengatakan itu pada wanita yang sangat ia rindukan, sayangnya jarak dan waktu tidak mengizinkannya untuk itu.


Saat ini semua tamu undangan diminta untuk duduk di tempat duduk yang sudah disediakan, dan hal itu membuat Araf kesal karena gadis incarannya menghilang dari pandangannya karena mendengan panggilan dari MC acara sore ini.


Baiklah... Aku bisa mengerti. Jika kita di takdirkan untuk bertemu maka kita pasti akan bertemu! Gumam Araf dalam diamnya.


Takdirrr!


Satu kata yang tidak pernah Araf yakini akan kekuatannya. Karena baginya tidak butuh takdir untuk bisa bahagia, tapi kali ini ia benar-benar mengandalkan satu kata itu untuk bisa mempertemukannya dengan gadis incarannya.


Selamat datang di tempat yang berbahagia ini, aku adalah MC paling kece dan paling tampan di tempat ini. Aahh... Maaf sepertinya aku keliru, disana ada yang lebih tampan dariku.


Tunjuk MC itu pada bangku paling depan.


Semua orang tertawa, lebih-lebih Araf, ia tertawa sangat lepas karena mendengar sanjungan pertamanya di tempat tinggal barunya.


"Nak Dokter, sepertinya mulai saat ini anda harus lebih berhati-hati!" Ucap Kiai Hasan menggantung kalimatnya.


"Hati-hati untuk apa Kiai?"


"Hati-hati saja, mulai saat ini setiap orang tua yang punya anak gadis akan mengincarmu untuk di jadikan anak mantu!" Guyon Kiai Hasan, senyum bahagia tak pernah lepas dari bibir lelaki separuh baya itu.


Apa sungguh bahagia semudah itu? Jika bahagia itu sangat mudah kenapa aku selalu merasa resah? Orang-orang di tempat ini tidak pernah menikmati apa yang ku miliki tapi mereka tetap bisa bahagia. Sebenarnya apa yang kurang dari kehidupanku? Lirih Araf dalam hatinya.


Semua tamu undangan menikmati setiap hal yang di suguhkan dalam acara wisuda akbar. Ada yang sedang duduk sembari menikmati perasmanan yang di suguhkan, dan ada juga yang sedang tertawa ria mendengar guyonan MC yang menurut Araf sama sekali tidak lucu.


"Silahkan ambil minumannya!"


"Terimaka..." Ucapan Araf tertahan di tenggorokannya begitu netranya memandang wajah orang yang menyodorkan minuman dingin padanya.


Betapa terkejutnya Araf, bagai di sambar petir di siang bolong. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau wanita yang ia incar hanya seorang pelayan berpenghasilan kecil, berbeda dengan semua mantan-mantannya.


Kenapa aku terganggu dengan profesinya? Tidak biasannya aku bersikap konyol seperti ini. Gumam Araf dalam hatinya, ia hanya mengeluh padahal wanita yang berdiri di depannya sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya.


Dalam hidup semua memiliki waktu dan makna sendiri, kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu jika belum saatnya kamu di takdirkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2