
Sahhhhh!
Satu kata itu terus saja bergema di telingaku, tiga jam berlalu namun aku masih saja senyum-senyum sendiri karena mengingat satu kata itu. Aku tidak pernah menduga akan merasakan bahagia sebesar ini.
Seketika, senyuman bahagiaku langsung menghilang dan di gantikan perasaan aneh. Aku merasa aneh, aku merasa kosong, dan aku merasa bersalah.
"Alan... Selamat, nak." Papa tersenyum sambil menepuk pundakku.
"Wanita itu seperti kaca, terkadang kita bisa membaca suasana hatinya hanya dengan melihat wajah cantiknya. Namun tidak semua wanita bisa menampakkan perasaannya.
Papa yakin Fatimah tidak akan membagi dukanya padamu selama dia belum yakin kau pria yang baik untuknya. Dan yang lebih penting dari segalanya, kau tidak boleh memaksanya.
Wanita tidak butuh pria yang kaya raya, mereka butuh rumah yang bisa membuat mereka merasa nyaman, aman dan terlindungi.
Ingat ucapan Papa nak, kau harus menjaga kaca itu agar tidak retak apa lagi sampai pecah. Karena jika wanita tidak merasa aman dari lisan dan tindakan suaminya maka jangan harap mereka akan bertahan, mereka di lahirkan untuk di cinta dan di jaga, dan bukan untuk dicaci, dimaki, apa lagi sampai menggores wajahnya hanya karena amarah tak berguna." Ucap Papa lagi sambil menyodorkan kotak seukuran telapak tangan. Ucapan Papa ada benarnya, jauh di dalam lubuk hatiku, aku berjanji akan menjadi ayah dan suami yang baik bagi keluarga kecilku.
"Apa ini, pa?"
"Kau tidak perlu tahu, ini urusan ayah mertua dan menantunya."
"Apa Papa benar-benar akan merahasiakannya dari Alan?"
"Jika Papa benar-benar ingin merahasiakannya untuk apa Papa memberikan kotak ini padamu? Dasar anak nakal." Balas Papa sambil menepuk pipi ku. Mendengar ucapan Papa aku hanya bisa mengangguk pelan, setiap ucapannya mengandung kebenaran.
"Papa akan bicara dengan Kiai Hasan dan keluarganya, setelah itu kami akan pulang.
Papa akan membawa Fazila bersama dengan kami. Besok kalian juga harus pulang setelah berpamitan dengan keluarga besar Kiai Hasan." Ucap Papa lagi sambil memamerkan senyuman.
Tak ada bantahan dariku, aku hanya bisa menganggukkan kepala tanda setuju. Lagi pula, kalau di pikir-pikir ucapan Papa ada benarnya juga. Tapi yang membuatku merasa gugup, Ummi Fazila akan bersamaku di bawah satu atap, memikirkan itu saja membuat kembang kempis dadaku.
"Apa kau masih mendengar ucapan Papa?"
"Ahhh iiiiyaaaaaa!" Balasku gugup sambil menatap wajah Papa yang masih di penuhi senyuman bahagia.
Sedetik kemudian Papa beranjak dari hadapanku dan berjalan kearah Mama yang memanggilnya hanya dengan menggerakkan kedua matanya. Terkadang aku berpikir, cinta Mama dan Papa sangat kuat sampai-sampai badai sekuat apapun tidak akan mudah menggoyahkan pondasi cinta mereka.
__ADS_1
Suatu hari aku pernah bertanya Rahasia kekuatan cinta Papa untuk Mama, dan aku tidak menyangka jawabanya sangat sederhana, Papa bilang dia selalu menatap Mama dengan tatapan cinta, menganggap Mama lebih cantik dari wanita di luar sana, membiasakan mencium keningnya dan percaya padanya sepenuhnya.
Mungkin rumus Papa yang selalu mencintai Mama dengan sepenuh hati dan percaya tanpa ada keraguan sudah ku praktekan sejak membina hubungan dengan Seren. Dan lihatlah hasilnya, aku keluar sebagai pihak yang terluka karena cinta. Aku sendiri merasa bingung kenapa setelah memberikan cinta sebesar itu masih saja ada ketidak puasan di dalamnya?
Namun kini aku mulai menyadarinya semenjak aku bertemu dengan Bidadari surgaku, Fatimah Azzahra. Cinta sebelum pernikahan ibarat uap panas yang tidak tahu kapan mulai mendingin, setelah dingin maka akan layu seperti bunga, kemudian mati tanpa menyisakan rasa apa pun lagi, hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah mencintai kekasih kita hanya sekedarnya saja, jika terluka sakitnya tidak akan menyiksa, dan pedihnya tidak akan berlama-lama.
"Nak Alan, menginaplah disini. Kalian pulang besok saja, aku yakin Fazila dan Umminya pasti merasa lelah."
Belum sempat aku membalas ucapan Abi Ikmal, netraku menatap Mama dan Papa yang berjalan beriringan sambil menggendong putri manisku yang sedang terlelap. Di belakang beliau berjalan Oma Ochi dan Opa Ade sambil menautkan jemari mereka masing-masing, bahkan wajah sepuh Opa tidak berhenti tersenyum melihat Oma Ochi terus saja bicara, entah apa yang mereka bicarakan sampai Opa Ade tersenyum sebahagia itu. Apa pun alasannya, aku berharap yang kuasa selalu melimpahkan rahmatnya sehingga kami sebagai hambanya akan selalu bersyukur dan berbuat baik sebaik yang kami bisa.
"Apa pak Ade dan keluarga juga akan pulang?Kenapa anda tidak menginap disini saja? Sebagai pimpinan pesantren saya akan merasakan bahagia luar biasa menerima tamu besar seperti anda!" Ucap Abi Ikmal begitu keluarga besar Wijaya berdiri di depannya.
"Terima kasih Kiai Lutfi, dan maafkan kami, kami tidak bisa menginap disini, besok pagi-pagi sekali kami akan menyambut Fatimah yang akan datang kerumah untuk pertama kalinya sebagai menantu di kediaman Wijaya. Untuk Hari ini Alan dan istrinya saja yang menginap disini." Balas Opa Ade tanpa ragu-ragu.
"Jika itu keputusan yang sudah anda buat maka kami hanya bisa mengangguk pasrah. Jujur kami benar-benar bahagia bisa mengenal keluarga bapak. Kami titip Fatimah dan Fazila." Kiai Lutfi berucap sambil menggenggam tangan Opa Ade erat sangat erat, wajah beliau pun tak lepas dari senyuman.
Setelah berpamitan Papa dan rombongannya meninggalkan Pesantren dengan iring-iringan mobil. Aku beranjak menuju kamar yang sudah di sediakan, sementara itu Kiai Lutfi menemui tamunya yang baru saja datang dari Mesir. Beginilah kondisi pesantren, terasa sangat menenangkan dan di penuhi kedamaian.
...***...
Aku tahu Ummi Fazila tidak akan merasa nyaman berada di dekat ku, dan dengan keyakinan itu aku lebih memilih meninggalkannya sendiri dan berjalan menuju ruang kerja Ikmal yang berada di lingkungan pesantren, tepatnya di ujung lorong bagian depan lingkungan pesantren.
Betapa anehnya cinta ini. Ini resiko yang unik. Aku bergumam sendiri sambil bersiap mengetuk ruang kerja Ikmal.
Tok.Tok.Tok.
"Masuk."
Satu ucapan tegas yang bersumber dari balik daun pintu berhasil menarik ku masuk. Tidak ada keraguan dalam diriku, aku merasa sedikit tenang karena akan memiliki teman bicara. Setidaknya teman bicara secerdas dan sebijaksana Ikmal akan menghilangkan sedikit resah yang mengganggu ku.
"Kak Alan ada sisini? Masuk, kak."
"Iya. Aku hanya lewat, aku pikir akan mampir sebentar." Aku berpura-pura dengan alasan mampir, padahal sejak sore aku sudah memikirkan alasan apa yang harus ku buat agar Ummi Fazila merasa nyaman tanpa perlu melihat wajah menyebalkan ku.
Menyebalkan? Sejak kapan aku berpikir wajah ku menyebalkan? Bukankah selama ini aku selalu bangga akan ketampananku? Entahlah, aku sendiri tidak yakin sejak kapan aku mulai berpikir seanah itu.
__ADS_1
"Kakak duduk saja di sofa, aku akan menyelesaikan pekerjaan ini. Setelah itu kita bisa mengobrol sebentar sebelum kakak masuk kedalam kamar pengantin." Guyon Ikmal sambil memamerkan wajah penuh senyuman.
Glekkkkkkk!
Aku menelan saliva sambil membayangkan wajah seindah purnama milik Ummi Fazila. 'Kamar pengantin' itu terdengar sedikit berbahaya, walau bagaimanapun aku tidak bisa menyalahkan Ikmal hanya karena dia mengucapkan itu.
"Sekarang katakan, apa yang membuat kak Alan merasa tidak nyaman? Aku yakin seribu persen kak Fatimah bukan tipe wanita diktator yang akan memaksakan kehendaknya pada kakak."
"Kau benar, kakak mu bukan wanita seperti itu. Hanya saja, aku ingin menikmati udara segar sebelum kembali kekamar kami." Balasku sambil menatap netra meneduhkan milik Ikmal.
"Kak Fatimah bukan tipe wanita pemarah. Dia juga bukan ibu yang cerewet. Semua orang yang mengenalnya pasti akan mengatakan kak Fatimah adalah tipe ideal bagi setiap pria yang mendambakan hidup bahagia." Sambung Ikmal lagi.
Matanya menjelaskan kalau dia juga membutuhkan wanita yang sekelas dengan kakak perempuannya itu, di saat seperti ini entah kenapa pikiran bar-barku malah tertuju pada adik perempuanku. Melihat Ikmal, dan membayangkan Sabina, mereka terlihat seperti berada di dunia berbeda. Yang satunya terlihat tenang dan bijaksana, sementara Sabina? Anak itu sedikit ceroboh. Memikirkan sikap Sabina membuatku mengurungkan niat untuk mengenalkan Ikmal padanya.
"Kak Alan tahu? Kemarin tanpa sengaja aku berpapasan dengan Nona Sabina. Dia gadis yang luar biasa."
"Kau yakin itu?" Aku bertanya dengan suara tinggi, aku tidak percaya dengan apa yang ku dengar. Mataku membulat sempurna.
"Tentu saja! Abi bahkan membicarakan ku dan nona Sabina pada Oma dan Opa Fazila."
Mendengar ucapan Ikmal membuatku sedikit terkejut, seolah Ikmal bisa membaca pikiranku dan dia mulai mengurai keresahanku.
"Kalian tidak pernah bicara, bagaimana kau yakin Sabina gadis yang baik?"
"Itu hal yang sederhana kak, terkadang untuk mengetahui keperibadian seseorang kita perlu melihat dengan siapa mereka berteman.
Biasanya, seorang teman akan memberikan warna yang dominan bagi keperibadian kita. Dan aku yakin nona Sabina gadis yang baik karena tanpa sengaja aku melihat perlakuan hormatnya pada semua wanita yang berpapasan dengannya."
Ikmal terlihat baik, jika Sabina bersamanya aku yakin gadis manja itu akan bahagia seumur hidupnya, namun semuanya kembali pada hati mereka masing-masing.
"Baiklah. Aku rasa aku harus kembali kekamar, kakak mu pasti sedang menungguku." Ucapku sambil bangun dari sofa yang ku duduki sejak setengah jam yang lalu. Tidak ada bantahan dari Ikmal, ia tersenyum sambil menunjuk kearah pintu dengan lengan panjangnya.
Dag.Dig.Dug.
Dadaku berdebar sangat kencang, setiap jengkal yang ku lewati akan membawaku kehadapan Ummi Fazila. Akankah setiap jengkal yang ku lewati ini akan membawaku pada cinta yang di dambakan setiap suami dari istrinya? Atau justru sebaliknya, setiap jengkal yang ku lewati akan membawaku menuju kebencian tak terbatas? Memikirkan itu saja membuat ku merasakan takut luar biasa. Aku merasa jantung ku bagai tertusuk duri. Sangat sakit sampai bernafaspun terasa sesak.
__ADS_1
Yaaa Allah... Aku tahu aku bukan hambamu yang baik, meskipun begitu aku tetap memohon padamu, tolong mudahkan segala urusanku dan satukan hatiku dengan dia yang saat ini menjadi Bidadari pilihan hatiku. Aku bergumam sendiri sampai tidak menyadari kalau saat ini aku sudah berdiri di depan kamar yang menjadi kamar pengantinku dengan dia wanita tercantik di dunia.
...***...