
"Bi... Abi kenapa? Apa Abi kesal pada Ummi?" Aku bertanya begitu kami sampai rumah.
"Tidak. Abi tidak kesal."
"Jika Abi tidak kesal kemana senyum menawan Abi menghilang? Aahhh... Iya, Ummi tahu. Senyuman Abi pasti tertinggal di rumah Papa. Iya, kan?"
Akhirnya usaha ku untuk menghibur Abi Fazila tidak sia-sia. Wajah tampannya kembali mengukir senyuman. Ia menggenggam erat jemari ku sambil menyodorkan kotak kecil yang ia keluarkan dari saku bajunya.
"Apa ini?" Aku bertanya dengan mata membulat.
"Abi tidak tahu. Kotak itu dari Oma Ochi, beliau bilang itu berkat untuk Ummi."
Baru saja aku bersiap untuk membuka kotak kecil yang ada ditangan ku, tiga wanita masuk dari pintu depan sambil membawa tas pakaian, di belakangnya berjalan empat pria juga.
"Tuan maaf mengganggu!" Sapa wanita separuh baya yang berdiri di depan ku. Abi Fazila yang di sapa hanya bisa mengganggukan kepala.
"Istri ku akan menjelaskan apa saja tugas kalian. Perintahnya harus kalian lakukan, kalian berada di rumahku, dan kalian harus mengikuti semua aturan yang ada di tempa ku. Kalian mengerti?"
"Baik, tuan." Balas ketujuh orang yang ada di depan ku. Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Abi Fazila langsung pergi, berjalan pelan menaiki anak tangga sambil membawa wajah seriusnya.
Apa dia selalu seserius itu? Entahlah, aku sendiri tidak yakin soal itu. Sebulan berada di sisinya dan menghabiskan waktu bersama belum tentu membuat ku mengenalnya seutuhnya. Kita lihat saja nanti, sebentar lagi sikap Abi Fazila pasti akan nampak di permukaan, aku berdoa semoga ia benar-benar orang yang baik, bukan orang yang berpura-pura baik.
"Mbok bisa langsung masuk kekamar, kamarnya ada di ujung lorong ini. Aku sudah membersihkan kamarnya dan aku juga sudah mengganti seprainya, Mbok bisa langsung istirahat.
Dan untuk Mamang berempat, kamar kalian ada di sebelah kiri lorong ini, sama seperti ucapan saya sebelumnya, kamar kalian sudah saya bersihkan, seprainya juga sudah di ganti. Kalian bisa langsung istirahat. Jika kalian lapar kalian bisa masak sendiri. Semua yang kalian butuhkan ada di dalam kulkas dan meja itu." Ucap ku menjelaskan panjang kali lebar.
"Terima kasih atas kebaikan Nyonya." Ucap ketujuh orang di depanku.
Jujur, kata Nyonya terdengar sangat aneh di indra pendengaran ku. Aku ingin tertawa tapi takut dosa. Aku ingin berbangga diri sayangnya aku tidak punya apa-apa, karena semua yang ada di depan ku saat ini adalah titipan dari yang Kuasa, titipan yang bisa di ambil kapan saja.
"Baiklah, aku akan naik sekarang." Ucap ku lagi. Setelah itu aku beranjak menuju lantai atas.
Dikamar Abi Fazila duduk termenung di sisi ranjang, ia menyangga kepala dengan tangan kanannya. Sesekali aku mendengar suara helaan nafas kasarnya. Entah apa yang dia pikirkan sampai segelisah itu.
Aku berjalan mendekatinya kemudian duduk disisi kirinya. Tubuh kekarnya masih tidak bereaksi walau aku sudah menyentuh pundaknya. Sekarang aku yakin dia pasti dalam masalah besar.
Apa dia punya masalah di kantornya? Jika itu benar. Sayang sekali aku tidak akan bisa berbuat apa-apa karena itu bukan bidang ku.
"Ada apa? Ummi perhatikan Abi terlihat kesal, apa ada masalah?"
__ADS_1
"Tidak ada!" Balas Abi Fazila singkat.
Mendengar jawabannya aku hanya bisa mengangguk pelan, tentu saja aku tidak percaya itu. Walau aku tahu itu, aku pun harus berpura-pura baik-baik saja. Kini nama ku terikat dengan namanya, setiap luka dan kesedihannya adalah milik ku juga.
"Ummi mau kemana?" Abi Fazila bertanya saat aku beranjak dari sampingnya.
"Mau kemana lagi? Tentu saja Ummi harus kekamar mandi, berwudhu, shalat Isya, kemudian tidur." Balas ku singkat sambil menyunggingkan senyuman.
"Duduklah. Sebentar saja, Abi butuh teman. Teman bicara."
"Teman bicara? Ada apa?" Kali ini aku bertanya dengan mata membulat. Di benakku ada banyak pertanyaan, entah kenapa ucapan ku hanya terkatup di bibir, melihat kesedihan yang terpancar dari indra penglihatan Abi Fazila membuat ku merasakan kesedihan mendalam.
Bagaimana caraku menghiburnya? Apa yang harus ku lakukan untuk mengembalikan senyumannya? Aku bergumam di dalam hati sambil menepuk pundaknya pelan.
...***...
"Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja Abi merasakan takut luar biasa.
Seolah akan ada kesedihan besar yang akan datang menyapa hidup bahagia ku. Sungguh, selama ini Abi tidak pernah merasakan takut sebesar ini.
Rasanya... Rasanya nyawaku berada di kerongkongan ku. Rasanya aku akan tiada. Aku... Aku tidak bisa menggambarkan besarnya ketakukan yang melanda hatiku.
Ucapan ku tertahan di tenggorokan ku saat Ummi Fazila mulai memeluk ku, ia menepuk pelan pundak ku. Ada ketenangan yang mulai membelai lembut hatiku. Memiliki pasangan sebaik Ummi Fazila adalah karunia luar biasa. Semua yang ada dalam dirinya selalu bisa membuat resah ku menguap keangkasa.
Belaian tangannya, ucapan lembutnya, senyumannya, pelukannya. Semuanya adalah sumber kekuatan ku, inilah alasannya kenapa dunia dikatan perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang Shalihah.
"Hari ini hati Abi serasa terkoyak, jantung Abi seperti tertusuk duri, bahkan hingga detik ini Abi masih merasakan sakit yang sama, sakit seperti tadi siang."
"Ummi tidak tahu apa yang sedang Abi sembunyikan di hati dan pikiran Abi, bukan karena Ummi bodoh, hanya saja Ummi tidak bisa menebak setiap hal yang coba Abi sembunyikan. Mulai hari ini Abi harus jujur dengan perasaan Abi, agar Ummi bisa membantu Abi." Balas Ummi Fazila pelan sambil menangkup wajah sedih ku.
"Ummi Tahu hari ini? Hari ini dada Abi berdebar sangat kencang, mengetahui ada orang jahat yang mengikuti Sabina dan Fazila membuat Abi kesal. Rasanya Abi ingin membuat orang kurang ajar itu menjadi serpihan-serpihan kecil dan melemparnya di tengah lautan, kemudian Abi sadar, kekerasan bukan jalan yang di tunjukkan Islam."
Untuk sesaat, aku terdiam. Aku menatap Ummi Fazila sambil tersenyum. Jemari ku menggenggam erat jemari lentiknya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipisnya, dan dia bukan tipe wanita pencela. Dengan sabar Ummi Fazila menunggu ucapan apa yang akan keluar dari lisan ku selanjutnya.
"Abi tidak ingin kejadian hari ini terulang kembali, karena itu Abi memutuskan, mulai besok Ummi dan Fazila akan di jaga oleh Bodyguard. Entah Ummi setuju atau tidak Abi akan tetap melakukannya." Ucap ku menegaskan.
Hhhmmmm!
Aku mulai menghela nafas kasar. Kami bersama baru sebulan, lihatlah diriku? Aku tampak seperti suami kejam yang memaksakan kehendak pada istri cantiknya.
__ADS_1
Aku harus apa? Hanya ini jalan yang bisa di pikirkan oleh otak cerdas ku. Aku bahkan tidak bisa menatap wajah Ummi Fazila, aku terlalu takut menatap wajah kecewanya.
"Lakukan. Lakukan apa pun yang Abi inginkan. Ummi percaya setiap keputusan yang Abi Ambil. Jangan pernah lupakan ini, selama hal itu baik, Ummi dan Fazila akan selalu berdiri di sisi Abi." Ucap Fatimah ku dengan suara pelan, dia memeluk ku dari belakang, pelukan yang berhasil membuat kepercayaan diriku bangkit lagi.
Aku menarik Ummi Fazila dan membenamkannya kedalam pelukanku, menyandarkan kepalanya di dada bidang ku. Jika di pikir-pikir, aku belum pernah melihat rambut Ummi Fazila secara langsung, kepalanya selalu terbungkus kain penutup kepala. Aku sendiri yang meminta itu.
Aku memintanya tidak perlu terburu-buru dengan hubungan ini, setelah semua yang terjadi di masa lalu aku ingin Ummi Fazila menikmati waktunya tanpa perlu takut padaku. Dan lihatlah buah dari kesabaran ku? Sekarang Ummi Fazila mulai membuka hatinya untuk ku, tidak ada lagi yang ku inginkan di dunia ini selain melihat Bidadari ku dan putri tersayang ku merasakan bahagia yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Baiklah. Sudah cukup moment romantisnya. Apa Ummi bisa bertanya?"
"Tanyakan apa pun yang Ummi inginkan!" Balas ku sambil mengeratkan pelukan ku di tubuh rampingnya.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam sembilan malam." Balas ku sambil melirik pergelangan tanganku.
"Kita harus shalat Isya kemudian tidur. Ummi tidak mau kalah dari ayam jago."
Hahaha... Suara tawa kami saling bersahutan. 'Tidak ingin kalah dari ayam jago' ucapan itu benar-benar menggelitik perut ku, untuk sesaat aku kembali teringat pada masa lalu, entah berapa ratus kali sudah aku kalah dari ayam jago, aku selalu bangun saat Matahari mulai menampakkan sinarnya, jangankan memikirkan Shalat Subuh, aku bahkan tidak ingat kalau aku masih seorang Muslim.
Sekarang aku mulai menyadari, menjadi seorang Muslim sejati bukan hanya yang tertera di atas selembar kartu kecil saja. Ada kewajiban yang harus di tunaikan dan larangan yang harus di jauhkan.
...***...
Waktu menunjukan pukul 10.30. Tiga jam berlalu sejak aku meninggalkan Fatimah ku di rumah, dan sekarang aku sangat merindukannya.
Aku tidak bisa fokus bekerja, kerinduan memenuhi setiap pori-pori tubuh ku. Dan hal ini membuat ku prustasi.
Haruskah aku pulang? Apa yang akan ku katakan jika dia bertanya kenapa aku pulang saat jam kerja belum berakhir? Aahhh... Apa perduli ku. Aku bisa pulang kapan pun yang ku inginkan, di tempat ini aku penguasanya, tidak akan ada yang berani bertanya aku mau kemana dan akan melakukan apa. Aku merancau di dalam hati sambil menatap laptop yang masih menyala.
Baru saja aku beranjak dari tempat duduk ku sambil memakai jas, netra ku langsung tertuju kearah daun pintu. Entah siapa yang datang di saat aku tidak ingin menemui siapa pun selain Fatimah ku. Efek menjadi pengantin baru, tidak sedetik pun berlalu tanpa merindukan pesona indah Bidadari indah itu.
"Selamat siang Bos. Beberapa pria jago bela diri seperti yang Bos minta ada disini." Ucap Iklima begitu ia memasuki kantor ku.
Ahhh iya... Aku lupa. Aku harus memilih beberapa pria jago bela diri sebagai Bodyguard Ummi Fazila dan juga putri cantik ku selama aku tidak ada di dekat mereka. Aku bergumam sambil melepas jas yang baru ku pakai.
"Suruh mereka masuk. Dimana Bobby?" Aku bertanya karena aku tidak melihat bayangannya.
Belum sempat Iklima menjawab ucapanku, sosok bertubuh jangkung dan kekar itu masuk kekantor ku setelah mengetuk pintu di ikuti delapan pria bertubuh kekar dengan otot yang tidak perlu di ragukan lagi. Aku merasa tidak sedang memilih Bodyguard untuk orang tersayang ku melainkan sedang memilih model untuk Brand Perusahaan ku. Tubuh dan wajah mereka tampak seperti model dengan bayaran Jutaan Dolar untuk sekali pemotretan.
__ADS_1
...***...