
"Haiii... Kalian bertiga, ayo kita membeli Camilan sebelum kita pulang." Ucap Amir si bocah gembul itu sembari menarik tangan Lisa dan Dena, sementara Fazila hanya berjalan mengikuti langkah mereka.
"Ayo kita pulang. Besok kita sekolah." Ucap Fazila pelan.
"Kau benar-benar membosankan. Kita pasti pulang, tapi sebelum itu kita harus maakaannn!" Amir memberikan tasnya pada Fazila, tiga sahabatnya itu berlari menuju kios bu Hanip. Maklum saja, tidak bisa menjawab pertanyaan Kiai Hasan membuat Amir ingin melampiaskan kekesalannya dengan memakanan makanan apapun yang ada di depannya.
"Dena, kau mau makan apa?" Lisa bertanya pada Dena yang masih berdiri mematung di samping Fazila.
"Dan kau peri kebanggaan Ummi Fatimah, kau mau makan apa?" Tanya Amir sambil menarik lengan Fazila dan Dena bersamaan.
"Tenang saja, aku yang teeraakktir." Celetuk Amir di sela-sela mengunyahnya.
"Aku tidak mau makan apapun." Balas Fazila sembari duduk di samping Dena yang sedang asik mengunyah kripik pedasnya.
"Ya sudah jika kau tidak mau." Balas Amir sambil melanjutkan aktivitas makannya. Setiap kali melihat Amir makan selalu membuat Fazila menelan salivanya. Bukan karna ia ingin mencobanya, hanya saja bocah gembul itu selalu makan seperti orang kesurupan. Tidak jarang Fazila menegur Amir untuk tidak terlalu banyak makan, sayangnya sahabatnya itu masih belum bisa menuruti nasihatnya. Meskipun begitu Fazila tidak akan berhenti untuk mengingatkan Orang-orang tersayangnya untuk selalu melakukan kebaikan.
Islam mengajarkan umatnya untuk tidak terlalu kenyang dan berlebihan terkait makan dan minum. Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut dengan makanan, beliau berkata, "Kekenyangan membuat badan menjadi berat, Hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah."
Hal ini sejalan dengan Firman Allah dalam Al-Quran:
Ya bani adama khuzu zinatakum 'inda kulli masjidiw wa kulu wasyrabu wa la tusrifu, innahu la yuhibbul-musrifin.
"Wahai anak adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) Masjid, Makan dan minumlah, Tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (Qs. Al-A'raf: 31)
...***...
"Assalamu'alaikum, aku pulang." Putriku memasuki rumah sembari meletakkan sandalnya di dekat pintu masuk.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa terlambat?" Selidikku sambil melirik jam di dinding yang tak jauh dari tempatku berdiri.
"Maaf Ummi, tadi Fazila dan teman-teman mampir di kios bu Hanif." Ucap putri manisku sambil merunduk, merasa bersalah.
"Apa yang kau dapatkan hari ini?" Aku berusaha mencairkan suasana, putriku langsung tersenyum sembari meraih tanganku kemudian berjalan kerah sofa yang mulai memudar warnanya.
"Ummi yang terbaik!" Celetuk Fazila sambil mencium wajah ku, rasanya semua beban di pundak ku menguap keangkasa.
__ADS_1
"Ummi tahu? Hari ini kakek Kiai mengajarkan metode baru untuk mengingat Hafalan!"
"Metode baru?" Tanyaku heran sambil memandangi wajah ceria putriku.
"Hari ini kakek Kiai memintaku untuk sambung ayat, dan itu sangat menyenangkan. Ummi tahu? Amir di berikan pertanyaan oleh kakek Kiai, sangat menyedihkan karena dia tidak bisa menjawabnya." Fazila menampakkan wajah sedihnya, ia merunduk dan peri kecilku hampir saja menangis. Mereka berempat memang sangat akrab, FaziIa, Dena, Lisa dan Amir, mereka seperti satu paket komplit yang saling menyayangi dan melengkapi.
"Jika kau tidak suka Teman-temanmu tidak bisa menjawab pertanyaan kakek Kiai, maka kau harus membantu mereka dalam belajar. Apa kau masih ingat apa yang sering Ummi katakan..." Aku menghentikan ucapanku, Fazila menatapku dengan tatapan bahagia. Dan tentu saja itu menjadi semangat baru untuk ku mengarungi kehidupan ini.
"Membagi Ilmu tidak akan membuatmu bodoh, bersedekah tidak akan membuatmu miskin, dan barang siapa yang selalu membagikan kebahagiaan maka dia akan selalu bahagia." Ucapku bersamaan bersama putri kecilku. Allah memberiku pelangi yang sangat indah setelah badai malam itu berlalu, meskipun begitu sakitnya masih terasa.
"Fazila lapar, Ummi?" Ucap Fazila sembari mengelus-elus perut datarnya.
"Benarkah Peri cantik Ummi selapar itu?" Godaku sambil mencubit hidungnya.
Fazila menganggukkan kepalanya, ia menyodorkan tasnya yang berisi Al-Quran dan sajadah.
"Ummi akan menyiapkan makan malam untuk kita berdua!" Ucapku sembari meninggalkan Fazila yang sibuk bermain dengan Tipo, kucing kecil yang ia pungut sebulan yang lalu.
Ada keharuan yang memuncak mengisi seluruh pori-pori tubuh ku, menjalar hingga ke ubun-ubun. Aku tahu, perkara putriku tidak mengetahui siapa ayah nya adalah perkara yang berat.
Setahun yang lalu pertanyaan 'Siapa ayah ku' yang keluar dari bibir putriku berhasil mengoyak-oyak hatiku. Bagi orang lain mungkin itu pertanyaan sederhana yang tidak memerlukan pemikiran, namun bagiku? Itu terdengar seperti bom waktu yang tidak tahu kapan meledak.
Sudah menjadi kebiasaan, aku memangku Fazila sembari menyuapinya dengan suapan kecil. Putri cantik ku pun akan melakukan hal yang sama. Tangan yang kemarin kecil sekarang sudah bisa menyuapi Umminya, aku benar-benar terharu, sampai-sampai aku tidak menyadari bulir hangat mendarat tepat di punggung tangan Putri ku.
"Tipo, kau harus pergi kekamar. Kakak akan menyusulmu sebentar lagi." Ucap Fazila sambil mengelus kepala kucing berbulu putih itu.
Kakak? Aku tertawa dalam hatiku. Sejak kapan Fazila, anak itu menganggap kucing sebagai adiknya. Dan anehnya kucing itu menuruti ucapannya.
"Ummi. Sejak kapan Ummi secengeng ini. Hai kau air mata, jangan pernah berani membuat kesanyangan ku menangis lagi, aku tidak akan memaafkan mu." Aku memicingkan mata, memandang heran pada Fazila yang berbicara dengan air mata ku yang masih berada di punggung tangannya.
"Baik tuan putri, aku tidak akan membuat Ummi kesanyangan mu mengeluarkan ku lagi. Aku janji." Balasku sembari menirukan suara anak kecil. Mendengar itu, aku dan putri ku sama-sama tertawa lepas.
Ya Allah. Terimakasih untuk segalanya, aku tidak akan bisa membayangkan kehidupan ku tanpa kehadiran Fazila.
Fazila benar-benar Titipan dari Surga untuk hidup ku yang penuh dengan warna.
__ADS_1
...***...
Aku akan terlambat kekantor hari ini, pimpin Rapat pagi ini bersama ketua tim dari semua divisi. Laporkan semuanya, Segera! Pesan singkat ku untuk Bobby.
Perintah ku adalah hukum bagi semua orang yang berada di bawah naungan perusahaanku.
Mungkin aku bukan orang yang ramah, karna bagi ku nilai karyawan terletak pada kinerjanya selama bekerja. Semakin bagus hasil pekerjaan mereka, maka akan semakin bayak pundi-pundi Rupiah menghampiri rekening mereka.
Aku mempercepat langkah kaki ku memasuki Restorant yang sudah ku pesan sejak semalam.
Biasanya aku adalah orang yang tepat waktu, namun kali ini mereka sudah menunggu ku. Ku rasa aku telat kurang lebih lima menit. Mudah-mudahan ini bukan masalah besar karna bagi pengusaha seperti kami waktu adalah segalanya. Semakin kamu menghormati waktu maka kamu akan semakin menjadi orang yang berhaga di mata orang lain dan dirimu sendiri.
"Selamat pagi pak Alan, apa kabar?" Ucap peria separuh baya itu sambil menjabat tanganku.
"Selamat pagi pak Santos, apa kabar?" Sapaku sembari tersenyum.
"Saya banyak mendengar tentang kesuksesan anda, saya tidak menyangka kalau anda semuda ini." Ucap pak Santos sembari melepaskan tanganku.
"Sekertaris saya sudah menjelaskan segalanya, saya bisa katakan dengan pasti kalo saya siap menjadi Seponsor acara Ramadan di stasiun Televisi Nasional yang bapak kepalai." Ucapku sembari duduk di depannya.
"Syukurlah. Saya takjub dengan keputusan bapak. Insya Allah, pak Alan tidak akan kecewa. Semoga acara ini bisa memberikan manfaat bagi semua orang tua untuk menjadikan anak-anak mereka menjadi penghafal Qur'an." Ucap pak Santos dengan wajah berbinar.
Apa dia sungguh sebahagia itu? Aku tidak menyangka karna hal kecil ini orang lain bisa bahagia. Aku masih memandangi wajah tersenyum peria separuh baya yang duduk di depan ku itu ketika dua wanita muda masuk sembari membawa hidangan yang di pesan pak Santos jauh sebelum aku datang.
...***...
Hujan rintik-rintik kembali menghantam Kota Malang, suhu terasa dingin. Untungnya, pagi ini Malang tidak di hantam Hujan deras yang disertai Angin yang terkadang datang menghampiri.
"Ummi. Ummi mau kemana? Ini masih gelap." Ucap Fazila sambil memperbaiki selimutnya, tidak biasanya anak manis itu tidur setelah Shalat Subuh.
"Hari ini hari yang Spesial, Ummi akan memasak masakan Spesial untuk orang terspesial." Ucapku sembari mengelus kepala Fazila yang di balut jilbab. Sejak kecil aku memang selalu membiasakan Fazila untuk menggunakan jilbab, karna itulah ia selalu merasa risih tanpa kain penutup di kepalanya.
Jilbab tidak hanya di gunakan sebagai penutup kepala saja, itu adalah jati diri seorang Muslimah. Jilbabmu bukan mobil yang bisa kamu bongkar pasang, apalagi hanya untuk mencari ketenaran.
Ya ayyuhan-nabiyyu qul li'azwajika wa banatika wa nisa il-mu'minina yudnina 'alaihinna min jalabibihinn, zalika adna ay yu'rafna fa la yu'zain, wa kanallahu gafurar rahima.
__ADS_1
Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak di ganggu. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.
...***...