Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Kunjungan Ke Pesantren (Alan)


__ADS_3

"Bukankah aku sudah bilang, kau tidak akan betah tinggal di rumah dinasku?" Araf membuka suara begitu melihat ku sedang mengipas wajah dengan koran yang tersimpan di atas nakas.


Tanpa membalas ucapan Araf, aku langsung beranjak menuju ruang tamu yang terletak sepuluh langkah dari kamar tempat ku berbaring, aku tidak kuat dengan hawa panas, karena itulah aku berbaring di kamar Araf tak lebih dari lima menit saja.


"Sebaiknya, Bobby mengantarmu kehotel! Aku sudah terbiasa tinggal dirumah ini! Entah itu hawa dingin atau panas tidak berpengaruh lagi bagiku! Kau berbeda, kau tidak akan kuat dengan hawa panas yang akhir-akhir ini membuatku merasa sesak." Sambung Araf lagi.


"Tidak perlu. Aku bisa beradaptasi di manapun aku berada. Bahkan jika aku terjebak di kandang Singa sekalipun, aku pasti bisa mengalahkannya. Dan ini? Ini hanya masalah cuaca saja, bukan masalah besar."


Araf menyebikkan bibirnya mendengar ucapan menyakinkanku. Ia masih tidak percaya dengan penuturanku. Dan aku pun belum yakin dengan keputusanku.


Sejak kecil aku selalu ingin mencoba suasana baru, tinggal di pegunungan selama berbulan-bulan. Atau sekedar keliling Nusantara mencari ketenangan yang jarang kurasakan. Nampaknya itu sangat sulit dalam kehidupanku yang di penuhi liku-liku terjal yang melelahkan.


Cinta, kasih sayang, bahagia, semua itu hanya omong kosong dalam kehidupan ku yang terlihat sempurna, namun sebenarnya penuh dengan derita.


Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku merasakan bahagia, aku juga sudah lupa kapan terakhir kali aku tertawa lepas, atau sekedar tersenyum tanpa beban.


Penderitaan yang hampir membuat nafas ku sesak masih bisa ku tahan tanpa keluhan, lalu bagaimana mungkin aku akan mengeluh hanya karena cuaca panas. Setidaknya dikota asing ini masih ada Araf yang akan jadi temanku berbagi kisah sedih.


"Jika kau mau istirahat, istirahat saja. Malam ini kita akan berkunjung ketempat sederhana namun penuh dengan bahagia. Kau akan melupakan deritamu ditempat itu." Ucap Araf membuyarkan lamunanku tentang betapa banyaknya kesedihan yang sudah menghampiri hidup ku.


Benarkah ada tempat seperti itu? Gumamku sembari memandangi Araf dengan tatapan tidak percaya.


"Terima kasih karena kau sudah mengirim Iklima untuk menjemput nona Fatimah."


"Tidak perlu berterima kasih, yang jelas kau harus balas budi. Hanya aku sahabat yang bersedia meminjamkan sekertarisnya untuk menjemput wanitamu." Aku tersenyum tipis, senyum yang coba ku paksakan.


"Yayaya... Baiklah. Akan ku turuti satu keinginan mu, kapan pun kau mau, kau bisa mengatakan pintamu itu." Ucap Araf sambil memamerkan seyum bahagianya.


Wanitamu?


Ucapan itu sangat mudah keluar dari bibirku! Lalu bagaimana dengan diriku? Derita yang disebabkan Seren masih membekas dalam lubuk hatiku. Setelah itu, tragedi buruk itu pun terjadi. Hidupku yang mulanya baik-baik saja berubah menjadi hidup menyedihkan dan memuakkan. Tidak ada lagi keinginan ku untuk merajut kasih.


"Tuan Araf, wanita yang di jemput Iklima sudah sampai apartemen dengan selamat. Besok pagi Iklima yang akan mengantar nona itu beserta putrinya menuju Asrama." Lapor Boby sembari merunduk hormat karena di depannya masih ada tuannya yang sangat dia hormati

__ADS_1


"Sampaikan ucapan terima kasihku pada Iklima." Balas Araf tanpa memperdulikan ku yang masih menatapnya dengan tatapan tajam.


Iklima sekertaris yang penurut. Biasanya dia tidak mau melakukan hal yang tidak ada hubungannya dengan urusan kantor. Namun kali ini berbeda, suara lantangku memaksanya untuk menjemput wanita yang membuat Araf jatuh cinta. Entah gadis seperti apa lagi yang membuatnya sampai mabuk kepayang.


Gadis? Dia bukan gadis! Dia seorang ibu tunggal! Gumamku pelan.


Sekujur tubuhku terasa nyeri, perjalanan kali ini benar-benar melelahkan. Sepertinya saat ini hanya saran Araf yang paling kubutuhkan, saran untuk beristirahat walau hanya untuk sesaat saja.


...***...


19.30. Pesantren Kiai Hasan.


"Assalamu'alaikum." Aku dan Araf mengucapkan salam secara berbarengan ketika lelaki berjanggut putih berdiri di depan pintu, ku taksir usianya sekitar 57-an.


Walau usianya tidak muda lagi, ia terlihat sehat, gagah, dan penuh energi positif. Aku yakin siapa pun yang ada disisinya akan berpendapat sama denganku.


"Wa'alaikumsalam! Nak Araf ada disini?" Jawabnya sambil memamerkan senyum bahagianya.


"Mari, silahkan duduk, nak."


Aku tersenyum untuk sesaat kemudian menjabat tangan Kiai karismatik itu dengan penuh kelegaan. Entah perasaan aneh apa yang menelusup masuk kedalam hatiku, ada rasa tenang juga khawatir.


Merasakan ketenangan? Itu terasa aneh bagiku. Tentu saja aneh, selama ini kesedihan selalu memenuhi hari dan malam ku.


Malam ini, aku baru menyadari ternyata ketenangan masih bisa menyapa lembut dinding-dinding hatiku yang mulai mengeras disebabkan derita luar biasa yang ku alami sampai membuatku teroma tingkat tinggi.


"Wah... Ternyata teman nak dokter sangat tampan! Sangat menyenangkan bisa bertemu denganmu!" Balas kiai Hasan tanpa melepas senyuman dari bibirnya.


"Nyai! Di depan ada tamu...! Minta bibi membawakan minuman hangat." Pinta Kiai Hasan dengan nada suara lembutnya.


Semenit kemudian Nyai Latifa tiba sembari membawa minuman hangat dan kue kering.


"Nyai, beliau teman nak dokter. Malam ini beliau akan menginap di rumah nak dokter." Ucap Kiai Hasan pada istrinya

__ADS_1


Nyai Latifa tersenyum ramah kearahku sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Wah... Ternyata teman nak dokter sangat tampan!" Ucap Nyai Latifa, sanjungan yang sama seperti yang di lontarkan suaminya.


"Terima kasih." Balasku pelan.


"Apa Kiai tahu? Sahabat saya ini adalah pengusaha besar, dan acara yang akan di ikuti oleh putri kita Fazila, perusahaannya lah yang jadi seponsor terbesar." Ucap Araf memberikan sanjungan.


Tatapan takjub terlihat nyata dari wajah Kiai sepuh itu dan istrinya. Melihat mereka berdua menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan, aku hanya tersenyum sembari menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Araf payah! Araf menyebalkan! Gerutuku dalam hati. Seharusnya dia tidak perlu mengatakan apa pun, aku meninggalkan segalanya di belakang tanpa perlu memikirkan pekerjaan.


"Subhanallah... Ini benar-benar kejutan. Kami belum menyaksikan acara luar biasa itu, tapi Allah kirimkan orang besar di balik acara itu kerumah kami." Ucap Nyai Latifa lagi.


"Kiai tidak menyangka, nak Alan masih sangat muda, tapi nak Alan mau terlibat dalam acara hafiz. Kiai benar-benar salut."


"Awalnya, saya juga tidak ingin terlibat. Terlalu bayak masalah yang hadir dalam hidup saya, ketika produser acara itu datang, saya berpikir hanya dengan terlibat di acara inilah saya akan mendapatkan ketenangan." Ucapku sembari memandang tiga orang di depanku secara bergantian.


Ucapan singkatku membawa kesedihan mendalam. Entah takdir apa yang sudah menungguku di depan. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, kenapa hidupku bisa sekacau ini? Sayangnya tidak ada jawaban tepat yang bisa ku temukan.


"Nak Alan tidak perlu khawatir, Insya Allah... Nak Alan akan mendapat kebaikan besar. Tetaplah semangat." Ucap Nyai Latifa sembari menepuk-nepuk punggung tanganku.


"Cucu kami ikut dalam acara itu, namanya Fazila. Siang tadi dia dan ibunya sudah berangkat ke-Jakatra. Seandainya mereka masih ada disini, kami pasti akan mengenalkan mereka pada nak Alan." Sambung Kiai Hasan, wajahnya nampak memamerkan kesedihan. Sepertinya beliau sangat merindukan sosok yang sedang beliau bicarakan.


"Berapa hari nak Alan akan tinggal disini?"


"Besok pagi saya akan ke-Surabaya. Ada sedikit pekerjaan disana. Malamnya saya akan kembali Ke-Jakarta." Jawabku sambil memandang Nyai Latifa dan Kiai Hasan bergantian.


"Kiai, dia orang yang sibuk. Jika saya tidak memaksanya untuk datang, maka dia tidak akan datang. Seolah Jawa Timur menuliskan memori buruk dalam kehidupannya." Guyon Araf dengan tawa kecilnya.


Sekujur tubuhku terasa bergetar mendengar pernyataan singkat yang Araf lontarkan. Aku tercyduk, aku terkejut, nafasku terasa sesak, seolah alam sedang meledak ku, kalau aku makhluk terburuk yang ada di tempat ku berpijak saat ini.


Pesantren! Kunjungan ku ke-pesantren kali ini bagai tamparan keras buatku. Aku merasa seperti terdapar di suatu tempat yang sangat indah, dan hanya aku sendirilah yang berbeda.

__ADS_1


Tuhan. Adakah kesempatan lain yang akan kau berikan untuk ku agar aku bisa merubah diriku menjadi hamba mu yang kau berkahi...? Lirihku pelan diantara guyonan-guyonan kecil yang Kiai Hasan lontarkan.


...***...


__ADS_2