Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Dari Hati Ke Hati (Part2)


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Abi Fazila meluncur dengan cepat, menembus jalanan yang lumayan legang. Biasanya di jam seperti ini aku terjebak di jalanan, terjebak dalam kemacetan panjang, dan tentu saja setiap kali hal itu terjadi membuatku selalu menghela nafas kasar.


Selama dalam perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir kami berdua. Kami hanya duduk diam sambil fokus pada pikiran masing-masing. Aku sengaja membuka kaca agar bisa menghirup udara segar, berharap kecanggungan ini akan menghilang seiring belaian angin malam yang terasa sangat menyejukkan.


"Apa kita bisa bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin ku tanyakan! Aku tidak tahu apa ini penting atau tidak bagi anda. Tapi bagiku, ini sangat, sangat, sangat penting. Aku tidak ingin bahagia di atas penderitaan wanita lain." Ucapku sambil menatap kearah depan.


Aku benar-benar tidak tahu apa yang di pikirkan Abi Fazila setelah mendengar penuturan singkat ku. Ia bahkan sampai menghentikan mobilnya tepat di depan bangunan megah, di depannya ada dua penjaga yang sedang bertugas. Aku tidak tahu kami berada dimana.


Samar-samar aku mendengar Abi Fazila sedang bicara dengan kedua pria berbadan kekar itu sambil memamerkan senyuman menawan miliknya, senyuman yang untuk pertama kalinya aku berani melihatnya secara diam-diam. Apa dia juga selalu tersenyum seperti itu di depan wanita angkuh itu? Entahlah, aku sendiri tidak tahu itu.


"Tanyakan apa pun yang ingin Ummi Fazila tanyakan. Aku tahu dengan jelas saat ini Ummi Fazila sedang memikirkan sesuatu, dan hal itu pasti bukan hal yang baik. Apa aku salah?" Ucap Abi Fazila memecah keheningan setelah kami berada di ruang bertuliskan VVIV.


Untuk sesaat aku terdiam sambil menatap wajah rupawan milik Abi Fazila.


"Yahhh... Itu benar. Aku punya pertanyaan dan aku butuh jawaban. Jawaban Abi Fazila akan menentukan akan seperti apa perjalanan kita selanjutnya.


Beberapa jam yang lalu, aku bertemu dengan seorang wanita anggun. Ia memiliki kecantikan sempurna, kecantikan yang akan membuat semua laki-laki terpesona bahkan silau oleh pesona indahnya. Hanya saja aku lupa namanya. Kalau tidak salah namanya Ses... Ser... Ahhh iya, aku ingat, namanya Seren." Ucapku tanpa basa-basi. Kepalaku masih tertunduk, aku berusaha menjaga pandanganku.


Beberapa bulan yang lalu aku pernah mendengar Bu Yati dan teman-temannya bicara buruk tentang diriku, mereka bilang aku hanya orang tua tunggal yang tidak peka pada putriku. Selanjutnya, mereka bilang aku tidak perlu menjadi wanita pemilih dan menikah saja tanpa perlu memperdulikan harga diri. Jujur, aku sangat kesal mendengar ucapan mereka. Berani sekali mereka mengatakan aku tidak perlu memperdulikan harga diriku!


Harga diri seorang wanita terletak pada caranya bersikap, pada caranya bertindak, dan pada caranya bicara. Bagaimana bisa aku tidak memperdulikan harga diriku sementara aku tahu Tuhan ku selalu memperhatikanku, dan salah satu caraku menjaga harga diri dengan cara menjaga pandanganku, menjaganya dari pria yang tidak halal bagiku, termasuk Abi Fazila.


Hahhhhhh!


Indra pendengaranku menangkap suara helaan nafas kasar Abi Fazila. Apa dia marah karena mendengar ucapanku? Atau ucapanku membuka luka lamanya? Entahlah, aku tidak bisa menebak hanya dari mendengar helaan nafas kasarnya.


"Apa ucapanku membuat Abi Fazila merasa terbebani? Aku minta maaf untuk itu. Hanya saja..." Aku menggantung kalimat ku sambil diam sejenak. Sementara itu tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Abi Fazila.


"Aku tidak ingin terlibat dalam hubungan segi tiga. Jika Abi Fazila masih mencintainya, Abi Fazila bisa kembali padanya. Jangan pikirkan kami, aku tidak ingin hanya karena Fazila kebahagiaan anda tertunda.


Aku tidak ingin bahagia di atas penderitaan wanita lain. Lima tahun bertunangan? Aku yakin banyak kenangan indah yang sudah terjalin diantara kalian berdua." Ucapku lagi tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


Pemilik wajah rupawan itu memamerkan senyuman, ia menatap wajahku yang masih tertunduk sempurna. Sementara aku? Aku kembali diam sambil mendengar jawaban singkatnya.


"Di butuhkan dua tangan untuk bisa bertepuk tangan. Sementara aku? Aku tidak bisa lagi bersama wanita itu."


Abi Fazila mulai membuka suara, dan suaranya terdengar sangat kesal, beberapa detik kemudian ia kembali terdiam sambil menatap kearah lain.


"Jika tidak salah, dulu aku pernah menyinggung tentang Seren."


Abi Fazila kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Aku, Fatimah Azzahra hanya bisa diam sambil mendengar pembelaannya.


"Aku hanya pria penggila kerja. Berkali-kali Mama berusaha menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya. Sayang sekali, tidak ada yang berhasil menggerakkan hatiku, seolah hatiku terbuat dari batu." Abi Fazila terdiam lagi, aku rasa dia sedang memikirkan ucapan apa yang akan ia sampaikan selanjutnya.


"Suatu hari tanpa sengaja Mama bertemu dengan seorang wanita, beliau bicara dengannya cukup lama sampai akhirnya beliau memutuskan pilihannya jatuh pada wanita itu, Seren. Pilihan untuk menjodohkan ku lagi.


Seperti ucapan Ummi Fazila sebelumnya! Aku terpesona pada kecantikan yang ada di depanku. Aku bahkan tidak berkedip saat berada disisinya. Berada di dekatnya membuatku semakin jatuh cinta.


Aku tidak pernah menyadari kalau cintaku pada Seren semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Bisa bertunangan dengannya? Aku merasa tidak ada yang paling beruntung di dunia ini selain diriku.


Berkali-kali aku memintanya untuk segera menikah. Dan berkali-kali juga dia menolakku padahal kami sudah bertunangan selama lima tahun lamanya. Dia hanya memiliki satu alasan bahwa pekerjaannya sangat berharga baginya. Dan tentu saja aku tahu itu karena itulah aku tidak pernah menghalangi jalannya untuk bahagia."


Abi Fazila kembali terdiam, ia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir. Aku pun masih larut dalam diam, aku masih mencerna setiap hurup yang ia rangkai menjadi kata. Terdapat banyak cinta dalam kenangan manisnya. Lagi-lagi aku berpikir seolah aku dan putriku sebagai penghalang pria rupawan ini untuk bahagia. Padahal, dia tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun.


"Disaat aku menunggu kedatangannya dan akan memintanya untuk menikah, bagai disambar petir disiang bolong aku mendapati kenyataan pahit kalau Seren telah menghabiskan malamnya dengan pria lain.


Rasanya aku ingin muntah melihat apa yang dilakukan Seren di belakangku. Di bandingkan dengan rasa marahku padanya, aku jauh lebih jijik pada diriku sendiri karena telah mencintai wanita yang salah."


Lagi-lagi Abi Fazila diam sambil menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar dari bibir. Untuk sesaat aku memberanikan diri


untuk menatap netra teduhnya. Wajah tampan itu terlihat prustasi, aku sendiri bingung melihat ekspresi wajah tampannya. Apa dia begitu menyesali masa lalu sampai wajahnya terlihat layu? Entahlah, aku sendiri tidak tahu itu. Asal menebak lalu berkomentar buruk bukanlah keahlianku.


Aku... Fatimah azzahra tidak akan pernah menyakiti siapa pun entah dengan lisan ataupun tulisan. Karena sesungguhnya setiap hal buruk yang kita lontarkan pada orang lain akan kembali kepada diri kita sendiri. Lalu, apa gunanya menghina orang lain? Dan apa gunanya juga menyakiti perasaan orang lain. Sedih dan senang? Suka dan duka? Perasaan itu tidak akan bertahan karena aku tahu hanya Allah lah yang kekal.

__ADS_1


"Aku merasa jijik pada diriku sendiri karena mencintai orang sebesar itu namun tidak ada hal lain yang ku dapatkan selain duka saja.


Aku berusaha melarikan diri dari kenyataan pahit itu, dan Ummi Fazila tahu apa yang terjadi selanjutnya? Peristiwa lebih buruk menanti di depanku.


Aku seorang Alan Wijaya yang selalu berusaha untuk tidak menyakiti hati siapa pun berakhir dengan melakukan dosa besssar itu!"


Nada suara Abi Fazila terdengar berat, sangat berat sampai aku sendiri tidak begitu jelas mendengar setiap kata yang ia ucapkan dan...


Brukkkk!


Tubuh kekar itu duduk bersimpuh di hadapanku. Ia menangis sambil sesegukan. Sementara aku? Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir tipisku. Aku masih terkejut dengan semua yang ku dengar dan kulihat.


Sungguh... Aku ingin mengatakan padanya agar dia tidak perlu berlutut lagi. Aku sudah memaafkannya dan aku tidak ingin membebani perasaannya. Ada apa dengan diriku saat ini? Bukannya mengatakan sesuatu, aku malah meraih lengannya kemudian membantunya duduk kembali di kursi yang ia duduki sebelumnya.


Aku bukanlah seorang pezina! Dan aku juga bukan seorang pendusta. Apa yang terjadi di masa lalu itu memang sangat menyedihkan. Dan luka akan kepedihannya pun masih aku rasakan.


Hhhhmmmm!


Sekarang giliran ku yang menghela nafas kasar, wajah tampan milik Abi Fazila terlihat pucat. Aku yakin dia benar-benar menyesali perbuatannya.


"Aku tahu apa yang terjadi di masa lalu sangatlah buruk. Seandainya aku tahu hal buruk itu akan terjadi, aku tidak akan pernah menampakkan wajahku di tempat itu.


Dari rahim siapa kita di lahirkan, kita tidak bisa memilih itu. Dan jauh sebelum kita tercipta yang Kuasa telah menentukan takdir hidup yang akan kita jalani. Takdirku mengandung dan melahirkan tanpa suami! Dan takdir ku memiliki putri saliha sesempurna Meyda Noviana Fazila.


Jangan sesali masa lalu lagi, kita berdua akan menata masa depan agar menjadi orang tua sempurna untuk putri kita. Aku sudah mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaanku. Sekarang aku sudah siap berdiri di samping mu, membina rumah tangga bersama mu. Dan berbagi suka dan duka denganmu.


Tapi... Sebelum itu kau harus meminta restu pada Kiai Hasan dan Nyai Latifa. Mereka seperti orang tua kandung bagiku. Tidak perlu pesta yang megah atau mahar yang bernilai miliyaran rupiah. Aku hanya ingin Abi Fazila mencintai Fazila dan menebus setiap waktu saat tidak pernah bersamanya dulu. Itu sudah cukup bagiku." Ucap ku dengan suara pelan sambil menatap wajah tampan Abi Fazila.


Masalah itu bisa terjadi kapan saja, tapi yang lebih baik dari itu semua kita mau menyesaikan masalah itu dengan segera. Hari ini, aku berusaha bicara dari hati ke hati dengannya. Tidak ada hal yang lebih baik dari itu. Aku semakin yakin keputusan yang ku ambil dan memilih tinggal disisinya adalah kebaikan untuk kita bersama.


Masa lalu akan selalu menjadi pembelajaran berharga agar tidak terulang lagi dimasa mendatang. Masa lalu tetaplah masa lalu, biarkan semuanya tetap tertinggal di belakang dan berusahalah untuk meraih masa depan, masa depan yang lebih membahagiakan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2