
Delapan pria kekar dengan wajah rupawan kini berdiri tepat di depan ku. Tatapan matanya tajam, wajah mereka terlihat serius, sepertinya mereka jarang tersenyum. Bisa saja itu yang terjadi, pekerjaan mungkin menuntut mereka untuk tidak banyak bercanda.
Mmmmmmm!
Aku berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana yang terasa sedikit menegangkan. Aku menatap satu per satu wajah mereka tanpa menyunggingkan senyuman.
"Aku sudah memeriksa data pribadi kalian! Aku suka dengan prestasi kalian, karena itu aku memutuskan menerima kalian sebagai Bodyguard orang tersayang ku." Ucap ku menegaskan.
Bobby dan Iklima berdiri di sisi kiri sofa, mereka diam sambil mendengar keputusan yang akan ku buat.
"Kalian berempat. Maksudku, Randa, Anton, Bemby dan Aiman. Kalian bertugas menjaga istri ku. Dia wanita yang baik dan pengertian, kalian tidak akan pernah mendapat masalah karenanya." Ucap ku sambil menunjuk empat pria berkarisma itu.
"Sisanya... Maks, Ruan, Dude, dan Bastian. Kalian berempat bertugas menjaga putri ku. Dia anak yang manis dan ceria. Kalian juga tidak akan pernah mengalami masalah karena tingkahnya.
Tugas kalian hanya menjaga dan mengawasinya selama jam sekolah berlangsung. Kalian semua bisa tinggal di rumah ku, selama bekerja di bawah kuasa ku, kalian akan mendapat gaji bulanan dan juga bonus seperti yang lain. Kalian bisa mengambil Cuti dan mengunjungi keluarga kalian secara bergantian. Jika kalian punya masalah dan keluhan kalian bisa bicara pada Iklima atau Bobby." Ucap ku sambil bangun dari tempat duduk ku.
Aku tersenyum sambil menepuk pundak Ruan yang berdiri di samping kananku. Wajahnya cukup tampan, aku sendiri heran kenapa dia memilih pekerjaan yang bisa saja mempertaruhkan nyawa berharganya. Apa pun itu aku menghormati kedelapan orang yang berdiri di depan ku dengan sepenuh hati ku.
...***...
Alhamdulillah... Akhirnya aku sampai rumah. Ini benar-benar menakjubkan. Dulu... Setiap hari melalui kemacetan panjang, tak sehari pun aku mengeluh. Mungkin saat itu aku tahu tidak ada yang menunggu ku. Tapi sekarang? Jiwa ku selalu saja mendesak ku untuk segera pulang. Dan aku mulai kesal walau terlambat satu detik saja. Aku bergumam di dalam hati sambil melangkah memasuki istana dua lantai yang sekarang terlihat lebih indah.
Setelah berada di dalam rumah netra ku mencari satu sosok, sosok yang sejak tadi sangat ku rindukan. Sayang sekali aku tidak bisa menemukannya.
Tanpa berusaha mengucapkan Salam aku langsung beranjak menuju anak tangga, samar-samar aku mendengar ketiga wanita yang menjadi Art baru itu sedang membicarakan hal yang berhasil mengalihkan fokus ku.
Aku berbalik dan berjalan kearah sumber suara, berdiri mematung sambil melipat kedua lengan di depan dada, tentu saja tanpa disadari oleh ketiga wanita beda generasi itu.
Entah sejak kapan aku mulai perduli dengan urusan orang lain, dan lihatlah betapa recehnya diriku. Aku berdiri seperti pencuri hanya untuk menguping? Ini benar-benar di luar kebiasaan ku.
"Mukanya gak usah di tekuk kayak gitu Ndok, muka jelek mu semakin jelek. Hahaha." Art separuh baya itu terkekeh sambil memegang perut ratanya.
Entah apa yang dia pikirkan sampai berkata seperti itu. Apa dia berpikir itu lelucon? Itu benar-benar tidak lucu. Inilah alasannya kenapa aku tidak terlalu suka terlibat dalam perkumpulan tidak berguna. Selalu saja ada hal yang tidak menarik di jadikan bahan candaan.
Dan anehnya, kenapa aku masih memilih untuk berdiri dalam diam, sementara aku merasakan kerinduan mendalam untuk Fatimah ku.
Baru saja bersiap untuk melangkahkan kaki, lagi-lagi aku tidak bisa melangkah gara-gara mendengar percakapan Art beda generasi itu. Aku benar-benar heran kenapa Mama memilih mereka walau Mama tahu aku tidak suka mendengar gosip.
__ADS_1
"Mbok tahu kan, Lara? Anaknya bu Al. Kemarin gadis manis itu mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak tahan dengan cibiran masyarakat."
"Ada apa dengan Lara?" Art separuh baya itu mulai bertanya, wajah penarasarannya menjelaskan kerisauannya.
"Gadis yang malang. Kenapa dia memilih jalan yang sulit, mengakhiri hidup sendiri bukanlah jalan yang benar. Semoga Gusti Allah mengampuninya." Balas Art muda lainnya.
"Mengakhiri hidup? Innalillah." Balas Art separuh baya itu lagi, sekujur tubuhnya terlihat bergetar.
"Ini bukan tentang jalan yang benar atau jalan yang salah Mbok. Jika masalah itu mulai mencekik, rasanya tidak ada jalan lain selain memilih mengakhiri diri sendiri. Jika aku jadi Lara aku juga akan melakukan hal yang sama." Art seumuran dengan adik perempuan ku itu berucap dengan suara berat, berkali-kali ia terlihat menghela nafas kasar. Kini ketiga wanita itu terlihat memamerkan kesedihan mendalamnya.
"Memangnya masalah apa lagi yang bisa membuat wanita mengakhiri dirinya sendiri selain masalah harga diri! Kasian Lara Mbok, wanita mekarnya hanya sekali. Dan dia? Gadis malang itu mengakhiri hidupnya karena pria kurang ajar itu telah menghisap madunya, setelah puas dia membuang wanita tanpa mau bertanggung jawab."
Sekujur tubuh ku langsung bergetar, mendengar ucapan ketiga Art itu membuat ku menelan kepahitan luar biasa. Dengan kaki bergetar aku berusaha berpegangan di meja dekat ku berpijak. Sungguh, nafas ku terasa sesak. Aku meremas dada ku kuat, berharap rasa sakitnya berkurang. Sayang sekali, semakin mendengar ucapan ketiga wanita yang berdiri di depan ku itu semakin membuat ku merasakan sakit.
"Apa maksud mu, Ndok?"
"Mbok, Lara hamil. Dan laki-laki kurang ajar itu meninggalkannya begitu saja. Apa benar dunia yang kita tinggali saat ini seburuk itu? Kenapa laki-laki itu meninggalkannya setelah dia mengambil hal paling berharga dari seorang wanita? Apa sulitnya meminta maaf, bertaubat dan tidak mengulangi hal buruk itu lagi? Dalam hal ini hanya wanita lah yang paling kehilangan."
"Hhhhmmm! Duka Nak Lara sangat berat, Ndok. Anak malang itu tahu dengan jelas, walau mereka menikah hak perwalian anaknya tidak akan jatuh pada ayah biologisnya.
Wajah ketiga wanita itu terlihat prustasi. Lara? Nama gadis itu Lara! Dia mengakhiri hidupnya karena tidak bisa menahan deritanya. Rasanya aku ingin berteriak, aku ingin memaki diri ku sendiri. Apa yang terjadi pada gadis malang itu pun terjadi pada Fatimah ku yang berharga.
Dada ku semakin sesak, dan aku tidak bisa menahan amarah ku. Membayangkan rasa sakit yang di alami Ummi Fazila membuat ku tidak bisa menahan amarah yang semakin memuncak, memenuhi seluruh pori-pori tubuhku.
Pranggggg!
Karena kesal aku mulai melempar gelas kaca yang ada di dekat ku. Tiga wanita beda generasi itu langsung menoleh. Aku bisa melihat dari gerak geriknya kalau mereka terkejut sekaligus ketakutan. Tidak ada yang bisa ku lakukan untuk menghibur mereka, karena saat ini aku hanya ingin memuntahkan racun yang sejak tadi membuat dada ku sesaak.
Sekujur tubuh ku mulai mengeras, mata ku mulai memerah menahan amarah. Tatapan ku setajam belati, tiga wanita yang ku tatap hanya bisa diam sambil berpegangan tangan. Aku sendiri tidak pernah menyangka akan mengalami amarah sebesar ini, dan tentunya ini untuk pertama kalinya.
"Apa yang kalian lakukan, hah?" Aku berteriak dengan nada suara tinggi.
"Aku tidak membayar kalian untuk bergosip di rumah ku! Berani sekali kalian membicarakan omong kosong di depan ku." Kali ini aku bicara sambil berjalan mendekati ketiga wanita itu. Tubuh mereka terlihat bergetar, sayangnya aku tidak perduli dengan apa yang mereka rasakan dan juga pikirkan.
"Aku tidak ingin melihat wajah kalian, enyah dari hadapan ku. Kemasi barang kalian dan pergi dari sini!" Aku menunjuk ketiga wanita itu tanpa melepas pandangan mataku dari wajahnya.
"Mam-maafffff tu-tuan. Ka-kami tidak se-nga-ja. Ja-jangan pe-cat ka-mi." Wanita separuh baya itu memohon sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Aku bahkan tidak paham dengan apa yang di ucapkannya. Ia bicara dengan suara bergetar.
__ADS_1
Aku benar-benar tidak menghiraukan ucapan wanita separuh baya itu, dengan amarah yang masih memuncak aku beranjak meninggalkan ketiganya.
Prangggg!
Aku kembali melempar gelas, kali ini gelas itu mengenai lemari kaca tempat menyimpan perabotan. Ketiga wanita itu terlihat ketakutan, mereka bahkan sampai meneteskan air mata. Aku sendiri masih merasakan sakit di hati ku, lalu bagaimana mungkin aku memperdulikan orang lain. Aku berlari menuju lantai atas sambil berusaha menahan tangisan, tangisan pilu yang mengiris lubuk hati terdalam ku.
...***...
Aku buru-buru menutup mushap yang ku baca sejak sejam yang lalu. Entah suara berisik apa yang terjadi di lantai bawah sampai mengganggu konsentrasi ku. Setelah mengakhiri bacaan Qur'an dan memcium mushap, aku langsung meninggalkan kamar.
Netra ku membulat, aku terkejut. Tiga wanita yang di datangkan Mama Nani sebagai Art itu menangis sambil sesegukan. Lantai pun terlihat berantakan, pecahan kaca ada dimana-mana. Aku bahkan tidak sadar telah menginjak salah satu pecahannya.
Sssssss! Aaahhhh!
Aku meringis menahan sakit, karena terburu-buru aku bahkan sampai lupa mengenakan sandal. Untungnya ini hanya luka kecil.
"Mbok... Ada apa dengan kalian bertiga? Apa ada masalah? Kenapa kalian menangis?" Aku bertanya dengan nada suara kecil.
"Nyonya. Tu-tuan. Tuan sangat marah. Beliau minta kami pergi!"
"Apa, pergi? Bagaimana bisa?" Aku kembali bertanya, kali ini aku memegang lengan wanita separuh baya yang masih menangis di depan ku itu.
"Kalian masuk saja, minta yang lain membersihkan pecahan kaca ini. Aku akan bicara pada tuan kalian. Beliau kemana?"
Salah satu Art itu menunjuk lantai atas, dan aku yakin Abi Fazila menuju ruang baca. Biasanya dia selalu bekerja di sana sampai larut malam, entah apa yang ada dalam pikirkannya sampai dia semarah itu. Bukan sekedar marah, ia bahkan sampai memecahkan barang, sekarang aku benar-benar khawatir, aku tidak memperdulikan kaki ku yang terkena pecahan kaca, aku bahkan semakin mempercepat langkah kakiku.
Troetttttt!
Aku membuka pintu ruang baca, betapa terkejutnya diriku menyaksikan sosok kekar itu menangis sambil memeluk lututnya di lantai yang dingin.
Apa yang membuatnya menangis sesegukan? Apa aku melakukan kesalahan? Aku bergumam di dalam hati sambil berjalan kearahnya. Melihatnya menangis, aku pun ikut larut dalam kesedihan, kesedihan mendalam.
"Aa-abi? Ada apa dengan mu? Kenapa Abi menangis seperti anak kecil?" Aku bertanya dengan derai air mata. Tidak ada balasan dari Abi Fazila, ia hanya menangis, terus menangis tanpa henti.
Aku menariknya ke dalam pelukan ku sambil mengusap rambutnya, mencoba menenangkannya seperti yang sering ku lakukan pada Fazila.
...***...
__ADS_1