
"Sudahlah, kalian tidak perlu bertingkah berlebihan dalam menyambutku! Aku tidak suka penyambutan seperti itu!" Ucapku dengan suara lantang sembari memandangi jejeran staf yang berdiri di sisi kiri dan kananku. Tidak ada satupun yang berani menatap wajahku, seolah aku adalah Raja dan mereka rakyat biasa.
Untuk sesaat netra ku menoleh kearah staf wanita yang berdiri tepat di samping pintu masuk Lobi Hotel. Bau parfum yang menguar dari para gadis itu membelai indra penciumanku.
Kau tahu? Presdir hotel kita adalah pria yang sangat tampan. Dia masih lajang, siapa tahu beliau kecantol padaku dan aku jadi wanita paling beruntung. Ucap seorang staf wanita pada rekan kerjanya.
Ucapan singkat itu seolah menjadi magnet untuk semua staf wanita mempercantik diri, sayangnya aku tidak tertarik untuk menatap siapa pun di antara gadis-gadis itu.
Aku mulai mempercepat langkah kakiku. Bobby menuntun ku menuju tempat di adakannya acara, di depan pintu masuk tempat diadakannya acara, nampak Dimas sedang sibuk dengan agenda rutinnya. Memeriksa berkas yang ada di tangannya, dan memastikan acara kali ini berjalan dengan sempurna.
"Dengar, bos akan segera datang. Cepat selesaikan semua ini. Aku tidak suka jika kalian sampai mengacaukan acara kali ini." Dimas berteriak kearah lima pekerja pria.
"Aisshhh! Apa ini?" Dimas kembali berteriak. Kali ini pada pria separuh baya.
Jelas saja Dimas marah pada pria itu, dengan cerobohnya ia membawa cucunya untuk bekerja, ku taksir usia anak itu sekitar Tujuh tahun.
Tubuh mungil anak itu menabrak bunga yang tersusun rapi di dekat pintu masuk Ballroom, bunga-bunga yang tadinya nampak indah terlihat berantakan.
"Jika anda masih mau bekerja untuk kami, jangan pernah lakukan kekacauan ini! Untuk apa anda membawa kuman kecil ini? Gara-gara dia, semuanya jadi berantakan. Bagaimana jika bos datang ketika sampah-sampah ini masih berserakan?" Ucap Dimas kasar.
Lelaki separuh baya itu hanya bisa merunduk mendengar ucapan pedas yang terlontar dari bibir Dimas. Sementara anak itu? Ia terlihat ketakutan, ia menangis sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Bibirnya tidak berhenti mengucapkan kata maaf.
Melihat kejadian di depanku, aku hanya bisa menghela nafas panjang. Berharap kejadian buruk ini tidak terulang kembali.
"Aku disini! Seharusnya kau tidak perlu marah-marah seperti itu! Dia hanya anak kecil." Ucapku mengagetkan Dimas.
Dimas hanya bisa merunduk.
"Tolong maafkan staf Hotel kami pak! Dia terlihat kelelahan, mungkin itu alasannya marah-marah." Ucapku sambil memegang bahu lelaki separuh baya itu.
"Kenapa bapak membawa anak kecil kearea ini? Seharusnya bapak tidak melakukan itu." Sambungku lagi sambil memegang lengan bocah manis itu.
"Dia cucu saya, nak!" Balas lelaki separuh baya itu dengan air mata yang mulai menetes dari mata sayunya. Raut wajahnya menunjukan beban berat yang sedang di alaminya.
"Nak? Berani sekali dia memanggil bos nak." Gerutu Dimas yang berdiri di samping Bobby.
__ADS_1
"Jangan ikut campur, biarkan tuan yang mengurusnya." Cegah Bobby sembari memegang lengan Dimas.
"Setahun yang lalu ayahnya tiada karena penyakit Jantung, kami hanya orang miskin. Kami tidak punya apa pun untuk berobat." Air mata lelaki separuh baya itu kembali tumpah.
"Seminggu yang lalu, ibunya juga tiada. Bapak tidak punya siapa pun yang bisa bapak percaya untuk menjaganya, karena itulah bapak membawanya bersama bapak untuk bekerja."
Tak terasa air mataku ikut tumpah, larut dalam kesedihan yang di kabarkan pria separuh baya di depanku. Dimas dan Bobby juga terlihat sedih, mereka memilih untuk tetap diam.
"Sini, nak!" Panggilku pada bocah laki-laki itu. Ia mendekat kearahku dengan malu-malu, tangannya masih memegang setangkai bunga yang sempat rusak karenanya.
"Siapa namamu?" Aku bertanya sembari membelai lembut wajahnya, aku tersenyum tulus tanpa di buat-buat.
"Afif." Balasnya singkat.
"Apa kau sekolah? Kelas berapa, nak?"
"Kelas satu." :.
"Apa kau suka sekolah?" Lagi-lagi aku menanyai bocah manis itu untuk mencari kepastian.
"Baiklah. Karena Afif suka sekolah, om janji, om akan membiayai sekolah Afif sampai Afif jadi Sarjana hebat. Tapi sebelum itu, Afif harus janji, Afif akan rajin belajar." Pintaku tanpa beban.
Bukannya menjawab 'Ia' atau 'Tidak' bocah manis itu malah memelukku dengan erat, ia mulai menangis sesegukan.
"Sekertarisku akan mengatur segalanya untuk bapak dan Afif, bapak hanya perlu memberitahukan informasi detail tentang kalian berdua." Ucapku singkat kemudian masuk kedalam Ballroom Hotel meninggalkan Bobby dan Dimas dibelakang.
Bobby mengikuti langkah kakiku. Sementara Dimas, ia mulai melaksanakan perintahku untuk mengumpulkan informasi detail tentang kakek dan cucunya itu.
"Saya minta maaf, pak! Tadi saya bicara kasar pada bapak. Sebenarnya saya tidak suka memarahi bapak seperti tadi. Hanya saja, mengetahui bos Alan akan segera datang membuat saya sedikit gugup." Ucap Dimas menyesal.
"Tidak apa-apa tuan. Saya yang salah." Ucap lelaki separuh baya itu sembari mengikuti langkah kaki Dimas menuju ruang kerjanya yang ada di lantai lima.
...***...
Iklima turun dari mobil, kemudian bergegas membukakan pintu mobilnya untukku, aku benar-benar terkejut karena Iklima melakukan itu. Ini pertemuan pertama kami, namun Iklima memperlakukan ku layaknya seorang nyonya besar sejak pertama kali kami bertemu.
__ADS_1
"Terima kasih, nona Iklima tetap berbuat baik padaku dan putriku sejak pertemuan pertama kita. Semoga nona Iklima tidak marah karena saya menganggap anda seperti saudara saya sendiri." Ucapku sambil menggenggam jemari lentik Iklima. Rambut sebahu coklatnya tidak bisa diam karena disapu angin siang ini.
Mendengar ucapan singkat ku! kelima pekerja itu tersenyum tipis sambil menunjuk pintu masuk.
"Hari ini saya akan mengenalkan nona Fatimah dengan Produser acara Hafidz, perjalanan saya untuk menemani nona Fatimah hanya sampai disini saja. Setelah ini saya akan bekerja dari kantor." Ucap Iklima dengan senyum menawan yang mengembang di bibir tipisnya.
Sementara itu, tak jauh dari tempatku dan Iklima berdiri, Fazila sedang asyik mengulangi hafalan Al-Qur'an nya sambil berjalan pelan tanpa menoleh kedepan ataupun kebelakang. Sungguh, putri manisku itu akan melupakan segalanya jika ia mulai membaca atau mengulangi hafalan Qur'an.
Gdebukkk!
Fazila, menabrak seorang wanita separuh baya. Wanita itu terlihat awet muda di usianya.
"Maafff!" Ucap Fazila dengan suara gugupnya.
Fazila terlihat ketakutan, tubuh kecilnya bersimpuh di lantai. Dengan cepat aku dan Iklima berlari mendekati Fazila yang hampir saja menangis.
"Fazila, sayang. Apa kau tidak apa-apa nak?" Tanyaku sambil mengangkat tubuh Fazila yang terjatuh karena menabrak wanita separuh baya itu. Mata putriku memerah, hampir saja ia menangis. Dengan cepat Fazila menyembunyikan wajahnya di balik jilbab besar yang ku gunakan.
"Nyonya Nani, anda disini?" Tanya Iklima sembari memandang ku dan Fazila bergantian.
"Maafkan nona kecil, Nyonya. Aku rasa dia sangat fokus mengulangi hafalannya sampai tidak menyadari kehadiran Nyonya." Sambung Iklima lagi
Kali ini aku menarik pelan tubuh Fazila dan memintanya dengan tulus untuk meminta maaf. Fazila mangut.
"Maafff." Ucap putri manisku sembari menjewer kedua telinganya.
Nyonya Nani tersenyum pada Fazila.
"Nona Fatimah, kenalkan! Beliau Nyonya Nani Wijaya, beliau mama dari Bos kami, tuan Alan Wijaya." Ucap Iklima dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.
Aku menjabat tangan wanita karismatik itu sambil tersenyum bahagia, ini benar-benar pertemuan tak terduga, disisi lain dokter Araf yang membantuku, dan disisi lain putranya yang tidak ku tahu siapa dia rela meminjamkan apartemen mewahnya sebagai tempatku untuk singgah.
Sungguh, kejutan Allah itu tidak terduga, jika kamu baik maka kamu akan di pertemukan dengan orang baik yang akan mengelilingimu dalam setiap tarikan dan hembusan nafasmu. Percayalah, Allah itu maha baik, maka tetaplah berprasangka baik padanya sehingga hidupmu kan dipenuhi kebahagiaan yang datang tanpa terduga.
...***...
__ADS_1