Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Sarapan Bersama


__ADS_3

Muslim sejati itu tidak putus asa dan putus harapan, dia tahu bahwa bersama hari ini masih ada hari esok, bersama kesulitan ada kemudahan, setelah malam ada fajar, dan banyak kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin.


Duka itu seperti langit malam tanpa bintang, gelap gulita dan terasa sangat menyesakkan. Jangankan berpikir jernih, tidak bertindak ceroboh saja sudah luar biasa.


Saat ini, detik ini, menit ini terasa sangat menyesakkan, dada ku rasanya akan pecah, saat ini aku berada di titik terburuk ku. Tidak ada hal yang bisa ku lakukan selain menagis pilu.


Tapi... Untungnya Fatimah merangkul ku penuh cinta. Cintanya menghilangkan dahaga ku, cintanya menghapus kesedihan ku, dan cintanya laksana hujan di gurun sahara, aku bisa hidup karenanya dan aku bisa bernafas lagi karenanya.


Bersama hari ini masih ada hari esok, bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh, ucapannya bisa menenangkan hati ku, mengobati luka-luka ku. Mendengar ucapannya saja aku sudah bisa mengontrol emosiku. Entah apa yang di pikirkan Ummi Fazila sampai ia melayangkan kecupan perdananya di bibir lembutku. Mendapat perlakuan manis darinya membuat darahku mengalir sepuluh kali lebih cepat.


Jiwa liar ku mengalir begitu saja, disaat aku mulai bersikap nakal Ummi Fazila malah berbisik di telingaku, mengajak shalat dan meniatkan semua hal untuk ibadah.


Assalamu'alaikum warahmatullah...


Assalamu'alaikum warahmatullah...


Malam ini aku kembali menjadi imam, kedamaian mulai membelai lembut lubuk hati terdalam ku. Setelah berdoa, pelan aku berbalik menghadap Ummi Fazila yang duduk bersimpuh di atas sajadahnya, tersenyum sambil mengedipkan mata.


"Kita sudah selesai shalat, sekarang apa lagi?" Aku bertanya dengan nada menggoda, jemari ku menyentuh hidung bangir Ummi Fazila. Tidak ada balasan darinya selain senyuman menawan yang mengungkapkan isi hatinya.


"Lakukan apa pun yang Abi inginkan! Kali ini Ummi tidak akan mengeluh, demi Allah yang menguasai jiwa dan ragaku, aku menerima Abi dengan sepenuh jiwa ku, sebagai pasangan di dunia sampai ke Surga." Ucap Ummi Fazila sambil menangkup wajah ku dengan tangan kanannya.


Aku mulai berdiri dan menggenggam tangan Ummi fazila, duduk di sisi ranjang bersamanya. Saling menatap dan tenggelam dalam keindahan matanya. Kami kemudian berangkulan, ada rasa syukur yang tak terkira di jiwa.


Aku mulai menyingkap dan melepaskan mukena yang di gunakan Fatimah, wajah seindah purnama kini menjelma di depanku.


Dag.Dig.Dug.


Dada ku berdebar sangat cepat, darahku pun mengalir sepuluh kali lebih cepat, untuk pertama kalinya aku melihat wajah Ummi Fazila tanpa kain penutup kepala. Rambut hitam nan panjang miliknya bersinar di bawah cahaya lampu kamar.


Dengan mengucap Bismillah. Jemari lembut ku mulai menangkup wajah nyaris sempurna Ummi Fazila. Mendaratkan ciuman lembut di puncak kepalanya, beralih kemata kanannya, kemudian kemata kirinya, menatapnya untuk sesaat dan ciuman berakhir di bibir tipisnya.


Mencium bibirnya perlahan, dan tentunya penuh dengan cinta dan rasa syukur mendalam. Kini kami berbaring sempurna di atas ranjang, tidak ada lagi bantal pembatas, yang ada hanya hasrat tanpa batas.


"Aku sangat, sangat mencintai mu Fatimah. Semoga kebersamaan kita hingga ke Surga-nya ." Aku berbisik di telinga Ummi Fazila, sementara bibir ku kembali mengukir senyuman.


Kami lalu memainkan melodi cinta terindah yang pernah dinisbatkan oleh manusia. Berpelukan erat dalam rangkulan ibadah kepada Allah. Bertasbih dalam ******* kami berdua untuk melahirkan generasi-generasi mulia. Kami menumpahkan semua nafsu yang telah halal dalam gelimang keringat ketika saling memadu kasih bersama. Inilah sebuah wujut cinta paling sempurna dalam kehidupan yang di arungi manusia.

__ADS_1


...***...


Aku terbangun tepat pukul 04:09. Untuk sesaat aku menatap wajah tertidur Abi Fazila, wajah tampannya memamerkan ketenangan, setiap orang memiliki impian tersendiri tentang malam pertama, tapi bagi kami berdua, malam pertama kami terjadi setelah menunggu sebulan lamanya.


Semua ketakutan ku sebelum pernikahan kini menghilang dan di gantikan oleh rasa syukur tak terkira. Sekarang kami telah menjadi pasangan seutuhnya.


"Bi... Bangun." Aku menggoyang tubuh Abi Fazila pelan, kami harus mandi karena sebentar lagi Azan subuh akan segera berkumandang.


"Bi-biarkan Abi tidur, Mi. Abi masih mengantuk." Ucap Abi Fazila sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.


Aku tersenyum sambil mengusap puncak kepala Abi Fazila, aku tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan kenak-kanankannya.


"Ummi tidak perlu menatap Abi seperti itu, tatapan Ummi melumpuhkan jiwa ku."


Glekkkkkkkkk!


Aku menelan saliva sambil menggeleng tak percaya. Sudut bibir ku sedikit terangkat.


"Kenapa? Apa Ummi semakin jatuh cinta pada Abi? Bisa ku pahami, karena tidak ada wanita manapun yang bisa terbebas dari pesona mengagumkan ku." Sambung Abi Fazila sambil perlahan membuka mata. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia tersenyum sembari meraih tangan ku dan meletakkannya di dada bidangnya.


"Gombal." Balas ku sambil menyebikkan bibir.


Tidak ada balasan dari ku selain anggukan kepala.


"Ummi istri terbaik. Aku sangat mencintai mu dan tidak akan pernah membantah ucapan mu." Abi Fazila melayangkan ciuman singkatnya di kening ku, setelah itu kami beranjak menuju kamar mandi.


Setelah melewati malam yang indah kini saatnya kami membersihkan diri, beribadah dalam bahagia sehingga Rahmat yang Kuasa akan selalu menyertai setiap langkah yang kami jalani.


...***...


Aku berjalan menuju dapur sambil memamerkan seyuman, tiga wanita dengan tugas berbeda sudah ada disana. Wajah mereka terlihat sedih, aku yakin ucapan kasar atau bentakan dari Abi Fazila semalam sangat melukai perasaannya.


Ketika ucapan kasar terlontar dari bibir tanpa berpikir ucapan singkat itu akan menusuk hingga ke jantung orang yang mendengarnya, kesedihan dan air mata akan menjadi perantara rasa sakit itu. Ketika hal itu terjadi, kata maaf tidak akan mudah mengapus rasa sakit yang telah ada. Setidaknya dengan ucapan maaf perlahan rasa sakit itu pun akan menghilang. Meminta maaf tidak akan membuat seseorang menjadi rendah, dan memberi maaf tidak akan mengurangi rasa hormat.


"Assalamu'alaikum... Mbok." Aku menyapa Mbok Liza sambil duduk di sofa ruang tengah, karena kebetulan dapurnya tidak terlalu jauh.


"Wa'alaikumsalam... Nyonya. Nyonya terlihat bahagia, saya turut bahagia untuk Nyonya dan Tuan."

__ADS_1


"Mbok masak apa?" Aku bertanya tanpa melepas senyuman dari wajah cantik ku.


"Nyonya Nani telpon, beliau bilang nona kecil suka memakan makanan olahan ikan. Karena nona kecil akan pulang hari ini, jadi Mbok sedang menyiapkan ikan yang akan Mbok masak untuk nona kecil, Fazila. Sarapan tuan dan Nyonya juga sudah siap di meja makan."


"Terima kasih, Mbok." Ucap ku sambil berjalan mendekati Mbok Liza, memegang pundaknya tanpa melepas senyuman.


"Sama-sama Nyonya. O iya... Ada yang ingin mbok kataka..."


Ucapan Mbok Liza tertahan di tenggorokannya begitu melihat Abi Fazila menuruni anak tangga, sosok yang tadinya tenang kini terlihat prustasi. Entah setakut apa dirinya sampai tubuh separuh baya itu bergetar? Aku sendiri tidak bisa menebaknya.


"Se-se-selamat pa-gi Tu-an." Mbok Liza menyapa Abi Fazila dengan suara bergetar. Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya. Dua gadis yang menjadi keponakan Mbok Liza pun terlihat sama. Mereka tak kalah takutnya dari Mbok Liza, saat suasananya terasa menegangkan seperti ini, tidak ada hal terbaik yang bisa ku lakukan selain menarik Abi Fazila untuk duduk di sofa, setelah itu memanggil semua orang. Tiga Art wanita yang terdiri dari Mbok Liza dan dua keponakan gadisnya, dua pria yang bertugas menjadi penjaga, dan dua lainnya bertugas membersihkan taman.


"Sekarang, katakan semua hal yang sudah Abi ucapkan di depan Ummi tadi." Ucap ku sambil berbisik di telinga Abi Fazila.


Netra Abi Fazila membulat, ia menatap ku sambil menyipitkan mata. Seolah tatapannya mengatakan 'Haruskah aku meminta maaf padanya?'


"Ayo Abi... Jika tidak sekarang, lalu kapan?"


"Baiklah, akan Abi lakukan. Hanya demi Ummi. Apa itu cukup?"


Aku tersenyum sambil memegang jemari abi Fazila, padahal ia hanya mengucapkan ucapan yang sederhana, entah kenapa aku benar-benar bahagia.


"Mmmmm.... Kalian bertuju."


"Abi... Bukan begitu caranya." Kali ini aku memegang lengan Abi Fazila sambil menyipitkan mata. Sepertinya meminta maaf pada pekerja yang ada di rumah ini membuat Abi Fazila kesulitan. Tapi, tetap saja dia harus melakukannya, aku tidak pernah memaksanya, aku hanya memberi pengertian singkat dan untungnya Abi Fazila cukup cerdas untuk menerima nasihat.


"Dengar, aku minta maaf pada kalian semua. Tadi malam aku marah-marah tanpa alasan, dan untuk itu aku merasa menyesal." Abi Fazila membuka suara diantara senyapnya udara. Netra teduhnya memandang tajam pada ketujuh Art yang berdiri di depannya.


"Apa kalian akan pergi? Jika kalian pergi karena ucapan ku semalam, berarti kalian tidak memaafkan ku. Istri ku bilang, meminta maaf tidak akan mengurangi kehormatan. Aku tidak memaksa kalian untuk memaafkan ku. Tapi, jika kalian tidak memaafkan ku, aku janji akan memotong gaji kalian bulan ini." Ucap Abi Fazila lagi.


Entah kenapa aku mulai tersenyum mendengar ucapannya, dia meminta maaf atau sedang mengancam? Apa pun itu aku merasa bangga padanya, status tinggi yang melekat dalam dirinya tidak membuatnya menjadi sosok angkuh yang memandang orang lain lebih rendah darinya.


Dan untungnya bukan aku saja yang tersenyum, Mbok Liza dan rekan-rekannya juga ikut tersenyum. Sama seperti sebelumnya, saat ini aku di penuhi rasa syukur yang membuncah.


"Assalamu'alaikum... Ummi, Abi. Fazila pulang."


Aku menatap Abi Fazila sambil tersenyum, putri manis kami pulang kerumah untuk pertama kalinya. Dia tidak datang sendiri, ada Mama Nani dan Papa Otis. Bukan hanya itu, ada Oma Ochi dan Opa Ade juga. Ini benar-benar kejutan. Aku pikir kami akan menghabiskan waktu bersama, dan hal pertama yang akan kami lakukan adalah sarapan. Sarapan bersama.

__ADS_1


...***...


__ADS_2