
Ayo Kita menikah!
Kata-kata itu terus saja bergema di indra pendengaran ku. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Aku terlalu terkejut.
Aku merasa seperti orang tidak waras! Aku ingin menangis, berteriak, dan tertawa disaat bersamaan. Apa yang ku dengar kali ini benar-benar sangat mengejutkan. Bahkan dadaku berdebar sangat kencang, seolah jantungku akan loncat keluar.
"Jangan katakan apa pun! Anda tidak perlu menjawabnya sekarang. Jika anda menolak pun tidak apa-apa."
Wanita saliha itu bicara dengan tenang, ketenangan yang berasal dari hatinya. Aku tahu dia masih marah padaku. Meskipun demikian, ku lihat tak ada keraguan dalam setiap hurup yang ia rangkai menjadi kata. Apa dia yakin dengan keputusannya? Atau ini hanya sebuah alasan kecil untuk membuatku bahagia? Entahlah, aku benar-benar tidak bisa menebak dari raut wajahnya.
Tiga puluh menit berlalu sejak wanita saliha itu meninggalkan ku sendiri, entah ada apa denganku? Aku bahkan tidak bergerak dari posisi dudukku, seperti ada kupu-kupu di perutku dan aku mulai merasakan geli karenanya. Bahagia ini melebihi dari apa yang pernah ku minta pada yang Kuasa, dan aku bersyukur untuk segalanya.
Alan... Mimpi apa kau semalam? Rasanya seperti bumi sedang berputar menurut kehendakmu. Hadirnya wanita saliha itu dan putri tersayangmu adalah karunia luar biasa yang telah Tuhan berikan. Aku bergumam sendiri tanpa bisa menahan derai air mata ku.
Banyak hal yang ingin kukatakan padanya! Sayangnya, saat duduk di depannya aku merasa bibirku tak bisa di gerakkan. Aku tidak bisa menahan rasa cintaku padanya. Aku bahkan bukan remaja yang baru mengenal kata cinta. Sungguh, cintaku padanya lebih berharga dari nyawaku.
Kata orang, waktu akan menyembuhkan luka. Namun tidak berarti akan bisa menghapus seluruh jejaknya, kita tak akan pernah bisa membohongi ingatan. Aku juga ingin mengatakan 'Ayo kita menikah' sebagai balasan dari ajakan berharganya. Namun ia buru-buru memintaku untuk memikirkannya. Tidak ada hal yang ingin ku pikirkan, aku hanya ingin segera tinggal di atap yang sama bersama wanita saliha itu dan putri berharga kami. Apa keinginanku terlalu berlebihan? Maafkan aku Tuhan!
"Alan, apa yang kau lakukan? Kau harus semangat." Ucapku sambil menepuk wajah dengan kedua tangan ku. Secepat kilat aku langsung berlari meninggalkan Restorant menuju area parkir, mengendarai mobil menuju rumah besar kediaman Wijaya, aku ingin membagikan bahagiaku pada semua anggota keluarga. Lagi pula Mama selalu saja mendesakku untuk segera menikah. Sekarang sudah waktunya untuk membawakan menantu bagi keluarga Wijaya, menantu yang lebih berharga di banding permata dan lebih indah dari berlian.
...***...
"Mam... Mama." Aku berteriak sambil memasuki rumah. Aku sangat bahagia sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak memanggil Mama dengan suara keras.
Mama nampak khawatir, ia berjalan sambil menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Di ikuti oleh Papa di belakangnya. Oma Ochi dan Opa Ade juga keluar dari kamarnya yang berada di lantai bawah dekat tangga, melihat kegilaanku pasangan sepuh itu hanya bisa menghela nafas kasar.
Mungkin mereka berpikir, cucu nakalnya tidak pernah berubah, selalu saja ada kegaduhan setiap kali aku menginjakkan kaki di rumah bersar kediaman Wijaya, setidaknya hanya itu alasan yang bisa ku pikirkan.
Uuuuuuuuu!
Aku menggendong Mama sambil berputar, Papa yang melihatku hanya bisa menggelengkan kepala, beliau tidak mengerti dengan semua kegilaanku.
"Turunkan Mama, Alan. Apa kau mau Mama tiada sebelum pernikahanmu?"
Mama memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing sambil membuang nafas lega.
__ADS_1
"Ccckkkkk! Opa tidak menyangka akan melihat tingkah kekanak-kanakan mu di usia Opa yang sekarang. Siapa yang akan percaya kalau kau ayah dari seorang putri yang cerdas." Gerutu Opa Ade sambil menatapku dengan tatapan tajam.
"Kenapa Ayah marah padanya, bukankah dia sangat menggemaskan?" Oma Ochi berusaha membelaku sambil berjalan mendekatiku. Ia mengusap kepalaku sambil tersenyum lebar.
Inikah yang dinamakan dengan keluarga? Aku merasakan kehangatan dalam setiap hembusan dan tarikan nafasku. Aku tidak ingin saat indah ini berakhir dengan cepat.
Pletakkkkk!
Mama menepuk bahuku pelan, ia berusaha duduk untuk menghilangkan pusingnya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirku, aku terlalu bahagia sampai tidak bisa menghentikan senyumku. Entah apa tanggapan Mama, Papa, Oma dan Opa setelah mendengar berita yang kubawa? Apa pun tanggapan mereka, aku berharap bahagiaku akan menjadi bahagia mereka juga.
"Mbok... Tolong ambilkan saya air." Mama berucap sambil memegangi kepalanya.
"Ini airnya Nyonya." Ucap Mbok Dami, Art sepuh yang sudah menghabiskan setengah hidupnya di kediaman Wijaya.
"Terima kasih, mbok." Balas Mama sambil menatap wajah Art sepuhnya. Mbok Dami mengangguk sambil berjalan mundur.
"Mam... Hari ini Alan sangat... Sangat bahagia." Ucapku sambil tersenyum lebar. Mama mengabaikan ucapan ku sambil meraih gelas air mineral yang ada di atas meja.
"F-A-T-I-M-A-H B-E-R-S-E-D-I-A M-E-N-I-K-A-H D-E-N-G-A-N K-U." Ucapku sambil terbata-bata. Netraku menatap wajah sepuh Oma yang terlihat terkejut setelah mendengar berita besar yang ku bawa.
Puuhhhhhh!
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Mama terlihat terkejut, mata besarnya menjelaskan segalanya. Aku yakin Mama sangat bahagia, bahkan lebih bahagia di bandingkan dengan diriku.
"Be-benar kah?" Mama bertanya dengan derai air mata yang mulai menetes dari sudut matanya. Di sela-sela tangisnya ia mulai tersenyum bahagia.
"Kau tidak tahu betapa berharganya berita yang kau bawa.
Setiap tarikan dan hembusan nafas Mama, Mama selalu meminta permohonan yang sama. Permohonan agar yang Kuasa menyatukan kalian berdua. Dan hari ini Tuhan mendengar do'a Mama. Tidak ada hal yang lebih berharga dari ini." Ucap Mama sambil membersihkan sudut mata dengan punggung tangannya.
Papa memeluk ku sambil tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya aku melihat senyum seindah itu dari Papa.
"Nak, kau membuat kami bahagia!" Ucap Papa pelan, beliau mencium keningku kemudian menepuk bahu kekarku.
__ADS_1
"Ap-apa yang harus kita lakukan? Apa Mama perlu melamarnya ke-Malang? Atau mama perlu menjemputnya ke-asrama? Atau...."
"Cukup, Mam! Mama bisa merayakan segalanya nanti! Mama bisa bicara dengannya saat Mama bertemu dengannya di studio!" Ucapku sambil menghapus air mata Mama yang terus saja menetes karena bahagia.
"Sayang, bagaimana kau melakukannya? Terakhir kali kami memintanya secara resmi, dia bahkan menolak dengan tegas." Oma bertanya sambil menggenggam jemari Opa Ade yang terlihat penasaran.
"Oma... Alan juga bingung, dia datang secara tiba-tiba dan meminta agar kami menikah." Aku bicara sambil menatap wajah sepuh Oma.
"Oma... Alan tahu wanita saliha itu melakukan semua ini demi putri kami, Fazila. Yang Mama katakan itu memang benar, putri kami yang menjadi penghubung di antara kami berdua.
Dan Alan juga tahu... Di dalam hati wanita saliha itu masih terdapat banyak duri. Dia masih takut padaku, tapi demi putri kami yang berharga dia sampai memaksakan senyumannya di depanku. Katakan apa yang harus Alan lakukan Ma?" Wajah bahagia yang tadi terpancar seolah menghilang di balik air mata.
"Jangan khawatir, nak. Semuanya akan baik-baik saja. Mama yakin ini langkah awal yang baik untuk kalian berdua. Setelah kalian bersama, Fatimah akan menyadari bahwa kau pria yang baik.
Tak kenal maka tak sayang! Mama rasa itu ada benarnya. Allah bersama kita! Allah yang maha membolak balikkan hati, minta hatinya pada Allah agar kalian di satukan. Bukan hanya di dunia, tapi sampai ke-surga." Ucap Mama sambil menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
Alan... Semuanya akan baik-baik saja! Yang Kuasa tidak akan menguji hambanya melebihi batas kesanggupannya.
Kau memang berdosa, tapi sekarang kau bertaubat dan sedang memperbaiki segalanya. Yang Kuasa melihat usahamu untuk menjadi baik. Dan yang Kuasa tidak akan menyia-nyiakanmu. Aku bergumam sendiri sambil menatap satu per satu wajah anggota keluarga Wijaya.
Opa Ade tidak mengatakan apa pun, meskipun demikian, aku tahu dia lebih bahagia dari siapa pun. Wajah sangarnya terlihat mengukir senyuman. Senyuman yang tidak pernah kulihat seumur hidupku.
...***...
Fyi: Karya Mencintai Bodyguard Saleha Up hari selasa, dan Insya Allah itu akan menjadi episode trakhir dari kisah Sawn Praja Dinata dan Raina Salsadila.
Bagi sahabat yang pernah mampir di karya ini pasti gak asing kan sama sosok Robin yang jadi sahabatnya Sawn? Kok cepat tamatnya? Kan Robin belum ada pasangan. Tenang aja, Authornya akan mengawal Robin sampai halal dengan pujaan hatinya, sama seperti author mengawal sampai halal kisah cinta Sawn&Raina. Prof. Zain&Yuna. Kisah manis Robin ada di karya baru ini.
Dalam setiap karya Author, Insya Allah tidak ada kisah 21+
__ADS_1
Kita hanya berbagi hal yang baik saja, terima kasih untuk dukungan sahabat semua.
...***...