
Pundak Dika berdekatan dengan pundak Jessica. Wajah mereka kemudian saling bertatapan. Mereka saling bertatap, saling memandang. "Jes bapak sudah nungguin kita" ucap Ferdinan dengan sangat lembut.
"Dik kita sudah lama"
"yang penting kita ketemu bapak dulu" Dika memotong ucapan Jessica, akibatnya Jessica pun cemberut.
"nanti kita lanjutin lagi waktu jalan pulang" senyumnya terpancar setelah mendengar ucapan Dika. Mereka berdua lalu masuk kerumah untuk menjumpai ayah Dika.
"selamat sore om" sapa Jessica kepada ayah Dika. Kedatangan mereka sudah ditunggu olehnya, sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu.
"kalian sudah sampai. Bu, Jessica sudah sampai" ayah Jessica memanggil ibunya.
"eh... Jessica, makin cantik saja" puji ibu Dika. "lama ga ketemu. Orang tuamu sehat?"
"sehat tante. Tente juga terlihat makin cantik kok" balas Jessica. "oh iya om om panggil saya ada apa ya?"
"om mau undang orang tuamu makan malam di sini dan om mau minta tolong kamu berikan bingkisan ini kepada mereka" jawab ayah Dika.
"ya om nanti saya akan sampaikan"
"kamu juga harus ikut, atau biar om suruh supir Dika yang jemput kalian" ucap ayah Dika. Dika hanya tersenyum ke arah Jessica.
Tak lama seorang pembantu datang "pak makanan sudah siap"
"Dika, ayo ajak Jessica makan" suruh ibunya.
"tapi bu aku masih harus ke kantor lagi, masih banyak kerjaan" jawab Dika.
"e e e kamu ya.. Ibu sudah lama ga makan bareng sama Jessica. Kalau kamu ga mau makan, ya sudah kamu ke kantor duluan sana" kata ibu Dika marah. "nanti Jessica biar ibu yang antar pulang"
Jessica menghampiri Dika "Dik nurut kenapa? Kamu juga kan tadi ada janji sama ku" bujuknya dengan berbisik .
"ya deh... Jes kita makan dulu yuk" ajak Dika dengar terpaksa. Sore itu orang tua Dika sepertinya sedang bahagia. Mereka makan sambil berbincang ringan.
Hari berganti dengan cepat. Sore itu terlihat Hazel bersama Frans sedang di balkon kamar. Mereka sedang berbincang. Suasana hati Hazel terlihat sangat bahagia karena bisa dekat dengan Frans.
"Frans aku ingin sekali pergi keluar bersama kamu, tapi aku takut" rengek Hazel dengan manja.
"kenapa kamu takut Zel?"
"kalau nanti samiri dan anak buah datang menyerang, aku tidak bisa lawan mereka"
__ADS_1
"kenapa ga bisa lawan mereka?" tanya Frans.
"karena kamu ga bawa alat kemana-mana" jawab Hazel lembut. Frans kemudian memikirkan ucapan Hazel, kemungkinan itu akan terjadi mengingat kejadian kemarin saat pertarungan terakhir para musuh menyerang dunia nyata.
"nanti aku akan fikirkan caranya supaya kamu bisa ikut denganku kemanapun" kata Frans menenangkan. Hazel kemudian memeluk tangan Frans dengan erat. "duh nih setan bikin gua salting³" kata Frans dalam hati.
Semenjak Hazel datang, Frans selalu di ikuti ke manapun selama berada di rumah, baik makan, belajar bahkan tidur. Ini membuat Frans semakin hari tumbuh perasaan terhadapnya.
"tapi kalau tidak bisa jangan dipaksakan, di rumah saja juga tak masalah" ungkap Hazel yang tak ingin membebani 'kekasihnya'.
"Aku akan usahakan demi kebaikanmu juga" kata Frans. Sedang asyiknya mereka berdua digagu oleh suara ibunya.
"Frans temanmu datang" panggil ibunya. Frans keluar kamar
"siapa sih bun?" tanya Frans kesal.
"Naila sama Roy trus satu lagi bunda ga kenal" jawab ibunya. "sudah sana temui mereka". Dengan kesal Frans menemui mereka dan Hazel mengikuti dari belakang.
"Nai, Roy eh Edi juga ikut?" sapa Frans dengan muka sedikit sebal.
"maaf deh dah ganggu elu" bujuk Naila. Karena Hazel mengikuti dari belakang Frans, Edi sangat terkejut.
"jangan kaget napa, lu kan dah party Frans" kata Roy menenangkan.
"maksudlu?"
"kalau dah party sama Frans lu bisa liat tu setan bucin walau lu ga pake VR" Roy menjelaskan.
"gitu ya. Hai Zel" sapa Edi kepada Hazel.
"Frans kita main lagi yuk" ajak Naila.
"gua sih oke aja" jawab Frans. Kemudian mereka memakai alat mereka.
"e e e e tunggu dulu" tiba-tiba ibu Frans datang dan menghentikan mereka sambil membawa minuman dan makanan ringan.
"ada apa sih bun?" tanya Frans.
"Naila, Roy kalian baru sampai sudah mau main game, apa kalian sudah lupa kebiasaan kalian?" keluh ibu Frans.
"eh udah jangan main dulu, itu tante bawa nampan" bujuk Naila kepada teman-temannya.
__ADS_1
"biasa kamu kalau main suka bantuin tante ambil hidangan, tumben hari ini kamu berubah"
"maaf tante, habis terlalu semangat mau main game" jawab Naila malu.
"ya udah kalian nikmati hidangannya. Eh iya nama kamu siapa? Sepertinya tante baru liat" tanya ibu Frans sambil menatap ke arah Edi.
"nama saya Edi, tante. Saya teman satu kampus Frans"
"nah kalau sudah kenal kan enak, ya sudah habiskan hidangannya kalau kurang suruh Frans atau Naila yang ambil. Mainnya jangan sampai kemalaman" kata ibu Frans, kemudian meninggalkan mereka.
"ibu lu baik banget sih" puji Edi.
"ini belum seberapa, lu kalau sering main ke sini nanti juga tau gimana tante" Naila meyakinkan kebaikan ibu Frans.
"emang lu dah lama main ke sini?"
"Roy sama Naila temen gua dari SMP, mereka sering main ke sini. Gua juga sering main kerumah mereka" jawab Frans
"tapi semenjak ada Hazel kami cuma bisa main di sini" tambah Roy
"berarti Hazel bikin kalian ga bebas dong" kata Edi dengan ekspresi sedikit tidak suka. Mendengar perkataan itu mereka agak geram. Hazel menghampiri Edi.
"Aku ga pernah bikin mereka ga bebas. Mereka mau pergi kemana saja atau mau lakukan apa saja, bukan masalah buat saya" ungkap Hazel kesal. Kemudian Hazel meninggalkan mereka.
"lu kalau ngomong pikir dulu, kami ga bisa main game di tempat bukan kami ga bebas" ungkap Naila. "lu inget waktu kemarin lawan musuh? Kalau ga ada dia kita bisa kaya player lain"
"maksud kalian gimana?" tanya Edi bingung.
"Hazel itu kesini lewat VR Frans. Kalau dia main di rumah gua atau Naila otomatis dia pake VR yang ada di sana, sedangkan dia cuma bisa datang bantu kita lewat VR Frans, coba lu pikir resikonya dengan kondisi sekarang" Roy menerangkan dengan kesal. Edi terdiam sambil berfikir. "lagian gua sama Naila malah seneng main di sini karena tante dah nganggep kami kaya anaknya"
"gua minta maaf Frans, gau ga tau kalau ke adanya begitu" kata Edi menyesal.
"untung lu dah party sama gua kalau ga, pas main lu bakal di hajar abis lu sama Hazel" kata Frans kesal. Edi teringat Robet yang di serang Hazel.
"Frans gua bener-bener minta maaf. Gua ga bakalan ngomong sembarangan lagi"
"udah udah, ga usah di bahas. Gua juga ga mau ada masalah. Lagian sekarang ini kita main game juga supaya kita ga 'mati' sia-sia" kata Frans jengkel. "ga main game kita bisa 'mati' jadi ga usah ribut"
Edi akhirnya mengerti kondisi saat ini, dimana mereka harus bermain game untuk bertahan hidup. Tanpa disadari mereka ibu Frans telah mengetahuinya dari berita dan hanya bisa mendukung anaknya. "semoga kalian bisa melewati masa-masa sulit ini" doa ibu Frans.
- salting ³\=salah tingkah
__ADS_1