
Saat kelulusan Edi telah tiba, setelah menerima ijazah ia segera menuju rumah. Dia ingin menyampaikan kelulusan serta jurusan kuliah yang akan dituju olehnya.
"hei Maaf ya membuat kamu menunggu lama" kata Linda tiba-tiba yang membuat tersadar dari lamunannya.
"tidak juga kok" kata Edi. "oh iya waktu setelah aku lulus aku menghampirimu ke rumah Kenapa kamu tidak ada. apa pada waktu saat itu kamu sudah berangkat ke Jogja?"
Linda sejenak terdiam mengingat kembali kejadian pada saat keberangkatannya ke Jogja. Beberapa hari sebelum kelulusan Edi, orang tua Linda mengatakan harus pindah ke Jogja karena ayahnya dipindah tugaskan ke sana. pada saat itu orang tuanya seorang polisi. sehingga dia tidak dapat menolak orang tuanya.
"waktu aku bersama keluargaku berangkat satu hari sebelum kelulusanmu. Maaf bila aku tidak memberi kabar karena orang tuaku tidak mengizinkan, kata mereka agar kamu bisa melanjutkan kuliahmu dengan tenang" kata Linda dengan sedikit sedih.
"sebenarnya dalam berapa bulan Aku mencari kamu, kamu tahu aku berpikir kamu itu tidak lagi menginginkan aku. hampir saja aku melupakanmu, hingga hari ini aku bertemu kembali denganmu aku merasa sangat bahagia" kata Edi yang kembali menggenggam tangan Linda Setelah sekian lama hal itu yang sangat dirindukannya.
...----------------...
Sementara itu, Frans menyuruh Naila untuk menghubungi kakaknya. Dia ingin kembali bertemu dengan Dika untuk membahas mengenai adiknya dinda yang sedang dirawat karena game yang mereka mainkan.
"kata kak Ferdinan, disuruh datang besok siang" kata Naila setelah mendapat jawaban dari kakaknya.
"ya udah besok kita ke sana bareng sama Edi aja" ajak Frans. "ntar gua kabarin Edi"
...----------------...
Jessica telah sampai di rumahnya diantar oleh Dika. Selama perjalanan Jessica terus ketakutan dan suhu tubuhnya semakin tinggi. sampainya di rumah Jessica di papah hingga masuk ke dalam kamarnya. Hal ini membuat orang tuanya khawatir.
"apa yang terjadi, Jessica kenapa?" tanya ibunya.
"Jessica demam sangat tinggi tante" jawab Dika. Setelah mengantarkan sampai ke dalam kamarnya Dika pamit untuk pulang.
"aku sangat takut, Kamu jangan pergi. Bisa tidak?" minta Jessica dengan suara yang sangat lemah.
"tolonglah temani dulu dia, setidaknya sampai terlelap" pinta ibu Jessica. Dika hanya dapat menuruti karena itu adalah permintaan orang tua kekasihnya.
Dika menemani Jessica hingga terlelap, setelah itu dia menemui kedua orang tuanya dan menceritakan semua kejadian pada hari ini. Kedua orang tua Jessica sangat terkejut setelah mengetahuinya.
"om sama tante nggak usah khawatir, saya dan lainnya juga lagi berusaha untuk mengembalikan keadaan ini seperti semula" Dika berusaha menenangkan kedua orang tua Jessica. kemudian ia pamit untuk pulang setelah berbincang sejenak.
...----------------...
Edi dan Linda menuju ke rumah sakit tempat adiknya dirawat. Sepanjang perjalanan Linda terus saja memeluk tangan Edi seakan tidak ingin melepasnya.
__ADS_1
"jangan begitu malu dengan bapak sopir" bisik Edi.
"lagian kenapa harus naik taksi, biasanya kamu naik mobil" kata Linda dengan pelan.
"aku tadi dalam keadaan darurat ke sana, aku dijemput oleh Robet naik motornya supaya cepat sampai"
"oh... tapi apa kamu tidak kangen sama aku" kata Linda lagi "maaf ya kalau saya tidak sopan, ini pertemuan saya dengan dia setelah tiga tahun tidak bertemu"
"tidak apa-apa, lagi pula saya sudah sering melihat kejadian seperti ini bahkan lebih" ucap sopir taksi tersebut.
"tuh kan Pak sopirnya aja bilang tidak apa-apa, kamu malah mengelak dari aku" kata Linda sambil memeluk tangannya di semakin kuat. Ini membuat Edi semakin malu karena ia baru pertama kali naik kendaraan umum dengan seorang wanita.
Setelah sampai rumah sakit mereka segera ruang rawat adik Linda. Edi sangat terkejut melihat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan, dalam hati ia berkata akan segera menyelesaikan semua masalah ini bersama teman-temannya. Edi juga melihat Linda yang sedang menangis saat melihat adiknya.
"aku akan berusaha bersama teman-teman untuk menyelamatkan adikmu" kata Edi untuk menenangkan Linda, kemudian ia pendekapnya dengan lembut.
"maafkan aku" kata Linda.
"kenapa kau meminta maaf?" tanya Edi.
"karena harus merepotkanmu di saat pertemuan kita pertama setelah sekian lama tidak bertemu"
...---------------...
Pagi-pagi sekali Jessica terbangun, dia sedih setelah melihat Dika tidak ada di sisinya. Iya berteriak dengan kencang menyebut nama Dika, sehingga membuat orang tuanya terkejut.
"ada apa nak? Kenapa kau berteriak?" tanya kedua orang tuanya.
"mana Dika, Kenapa dia pergi?" tanya Jessica dengan sedih.
"semalam dia telah sampai kamu terlelap, kemudian dia pulang" jawab ibunya.
"bu tolong suruh Dika datang kemari?" minta Jessica. ibunya hanya menurutinya kemudian segera menghubungi Dika. Ayahnya mendekati dan mengecek suhu tubuhnya.
"badanmu panas sekali, bapak akan suruh ibumu Membuat sarapan. Setelah sarapan kamu minum obat" kata ayahnya, Jessica hanya mengangguk kemudian kembali memejamkan matanya.
Dika datang dengan sangat panik. Iya segera menjumpai kedua orang tua Jessica dan menanyakan untuk keadaannya saat ini.
"suhu tubuhnya masih sangat tinggi, tapi sudah minum obat setelah sarapan" kata ibu Jessica.
__ADS_1
"saya hari ini akan menemaninya sampai keadaannya membaik" kata Dika.
...----------------...
Di rumah Naila, Anita telah menyiapkan surat lamaran yang ditujukan ke perusahaan tempat Ferdinan bekerja. Ia menunggu Ferdina agar dapat berangkat bersama.
Rapi sekali, memang kamu mau ke mana?" tanya Ferdinan setelah melihat Anita yang berpakaian rapi.
"aku Ingin Melamar di tempat kamu bekerja, aku lihat ada lowongan bagian pengembangan aplikasi" kata Anita sambil menunjukkan ponselnya yang berisi lowongan tersebut. "apa bisa bersama ke sana?"
Seketika muncul niat usil Ferdinan "nanti biar Naila yang antar" jawab Ferdinan ketus.
"kenapa harus sama dia? Dia masih tidur, kalau menunggu dia selesai berkemas bisa telat sampai sana" kata Anita. "lebih baik aku sendiri saja, jika nanti aku tersesat aku akan menghubungimu agar menjemput" ancamnya sambil berpura-pura pergi.
"aku akan mematikan ponsel agar kau tidak bisa menghubungi" kata Ferdinan. Anita terdiam mematung. "kenapa kamu diam di situ, mengganggu jalan saja"
"aku ke sini ingin bantu tapi kamu seperti ini" keluh Anita.
"mau bantu apa, bantu ngerusuhin?" tanya Ferdinan ketus.
"ya sudah kalau kamu tidak mengizinkan aku berangkat bersamamu, aku akan diam di sini sampai kamu mengajakku" ancam Anita.
"baik, kamu pikir aku tidak bisa pergi hanya karena kamu menghalangi jalan?" kata Ferdinan sambil mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi daring. Kemudian Ia berjalan keluar pagar rumahnya, kemudian disusul oleh Anita .
"kamu ini kerjanya mengikuti aku saja" kata Ferdinan kesal.
"Fer tolonglah biarkan aku ke kantor bersama denganmu" pinta Anita.
"apa untungnya aku ke kantor denganmu?" tanya Ferdinan.
"ada, kita bisa berbicara seperti dulu, apa kau tidak menginginkannya?" jawab Anita.
"dulu dan sekarang berbeda, aku berangkat dulu taksi daringku sudah datang" kata Ferdinan sambil masuk ke taksi, kemudian Anita masuk dari sisi lain dengan cepat.
"kamu ini, oh iya kamu ke kantor dengan taksi ini saja kamu tidak akan tersesat dan ongkosnya sudah aku bayar" kata Ferdinan kemudian keluar dari taksi. "Pak tolong antar nona ini sesuai tujuan ya, pembayarannya menggunakan uang elektronik ya pak"
"baik" jawab sopir taksi itu, kemudian Ferdinan pergi meninggalkan taksi itu dan Anita.
"dasar cowok tidak peka" batin Anita "pak tolong sedikit lebih cepat" minta Anita.
__ADS_1