
Ferdinan membaca dengan sesama berita tersebut. Setelah mengamati isi berita tersebut kemudian dia seger melanjutkan penelitian. "pak saya izin untuk melanjutkan penelitian, sepertinya saya menemukan kejanggalan"
"kejanggalan bagaimana?" tanya Dika.
"saya juga belum tahu, tapi menurut saya ini bukan masalah berhubungan dengan perusahaan saja tetapi masalah ini bisa sampai kemana-mana."
"maksudmu apa tunggu sebentar, saya akan ambil laptop saya" Ferdinan segera berlari tanpa menunggu jawaban dari Dika.
"apa masalah anak itu" gerutu Dika. Namun tak lama Ferdinan muncul kembali sambil membawa laptopnya dan seger memulai analisa.
"pak tolong kemari saya ingin menujukan hal sangat penting" pinta Ferdinan. Dika pun segera menghampirinya.
"itu gambar apa, hanya terlihat titik-titik saja" tanya Dika.
"baik pak akan saya jelaskan. Titik-titik itu merupakan simbol dari semua karakter yang ada di dalam game kita. Hijau mewakilkan pemain yang on line atau yang masih bisa online dan masih memainkan game 24 jam terakhir. Abu-abu pemain yang tidak bermain lebih dari 24 jam. Dan yang berwarna kuning pemain yang on line tetapi tidak bergerak lebih dari 24 jam" kelas Ferdinan. *dalam arti mereka terjebak dan tidak bisa log off" tambahnya.
"kemudian yang lainnya itu apa"
"nah yang berwarna biru adalah NPC baik itu hanya NPC merchan, pemberi quest maupun musuh dan prajuritnya"
"yang berwarna merah dan hitam itu apa? Kenapa terlihat bergerak?"
"itulah yang menjadi permasalahan kita, dua warna tersebut adalah virus. Sejak pertama saya amati virus ini hanya sedikit namun sepertinya yang psaya katakan sebelumnya virus itu sangat pintar dan dapat berkembang" terang Ferdinan.
Dika mengambil komputer dan mengamati dengan sangat serius seakan sedang memperhatikan sesuatu. Kemudian ia melakukan pengecekan "coba kau lihat ini setelah saya meneliti terlihat titik hijau hanya terdapat 5 titik dan titik kuning terdapat sekitar seratusan. Dengan seperti ini kita akan terpuruk" kata Dika dengan kesal.
"mungkin banyak pemain yang meninggalkan game karena berita yang beredar selama ini"
"oleh sebab itu kita harus mengatasinya, kemudian coba kau cari tahu siapa saja kelima pemain tersebut" perintah Dika
"usahakan secepatnya, mungkin mereka bisa menjadi jalan pemecahan masalah ini"
"baiklah, secepatnya saya akan memberikan hasilnya" jawab Ferdinan. Diapun meninggalkan ruangan Dika. Kemudian terlihat Jessica masuk ke runga Dika.
__ADS_1
"ada apa? Aku tidak memintamu masuk" tanya Dika.
"saya ingin menyampaikan pesan dari pak Yoga supaya anda segera menghubunginya"
"kenapa dia tidak menelepon ke ponselku?"
"katanya ponsel anda mati" jawab Jessica.
"ya...sudah nanti ku hubungi" Jessica pun meninggalkan Dika. "duh ada apa lagi bapak, gua lagi puyeng mikir kerjaan" gerutu Dika dalam hati. Namun ia segera menghubungi. Dika terlihat sedikit tersenyum saat menelepon.
"ya pak, nanti dia kuajak, bapak sama mama tungguin aja di rumah ya" Dika menjawab telepon tersebut yang merupakan bapak.
"ga bisa sekarang, aku masih kerja pak" kembali ekspresi kesal ditujukan Dika. "ya...ya...sekarang aku ke sana" Diapun menutup telepon. Seperti ada yang penting ia berjalan dengan cepat keluar dari ruangannya.
"Jessica ayo ikuti saya" kata Dika
"kemana pak?"
"ga usah banyak tanya, ikut saja" jawab Dika dengan ketus. Jessica hanya bisa mengikuti.
"pak biar saya saja yang bawa. Nanti bapak tunggu di sini saja. Saya ada perlu tidak lama" kata Dika kepada supirnya. Jessica terlihat bingung sekaligus senang.
"woi jangan ngelamun, cepet naik" dia terkejut setelah mendengar suara Dika.
"eh..iya" iapun memasuki mobil. "kita mau kemana, kayaknya penting banget"
"gua di suruh bapak ajak elu kerumah, kayaknya dia perlu elu"
"apa? Bapak perlu apa sama aku?"
"ga tau, nanti di rumah lu tanya aja sendiri" jawab Dika singkat. Selama perjalanan mereka hanya terdiam. Jessica terlihat kelelahan dan tertidur. Jalan pada saat itu sedang terjadi jadi macet.
Sementara itu Ferdinan terus mencari informasi para pemain tersebut. Dia memulai dengan membuka file data pemain, namun tidak memperoleh hasil. Kemudian ia membuka datanya yang tersimpan di server, namun server yang dituju mengalihkan ke server lain. Saat membuka server tersebut dia kembali menemukan hambatan, server tersebut terkunci.
__ADS_1
"Tino tolong bantu gua' kata Ferdinan.
"bantu apa?"
"coba kamu buka akses ke server ini, kalau ga salah kamu punya 'caranya' kan?" kata Ferdinan sambil memberi isyarat dengan dua jari. Tino mengerti maksudnya, lalu ia mengeluarkan flashdisk dan memasukkan ke komputer Ferdinan
Tino mulai membuka file yang ada di flashdisknya dan berusaha membuka server yang terkucil tersebut. Percobaan demin percobaan dia lakukan, namun terus gagal. Tino sempat ingin menyerah, saat dia melihat sebuah file kemudian ia kembali berusaha membuka server tersebut. Kali ini usahanya berhasil, "pak servernya sudah terbuka" seru Tino.
"oke makasih ya" ucap Ferdinan. Dia kembali mencari data pemain tersebut. "aneh kenapa semua data pemain dari server lain pindah ke server ini?" tanya Ferdinan dalam hati.
"Tino apa kamu ada menemukan keanehan saat membuka server ini?" tanya Ferdinan.
"ada pak, seperti banyak pergerakan data yang masuk ke server itu" jawab Tino.
Ferdinan semakin curiga, dia kembali mehadap komputer "sekarang ku cari data pemain dulu, selagi bisa dan itu yang penting" dia berkata dalam hati. Setelah bersusah payah akhirnya dia menemukan apa yang dia cari. "akhirnya ketemu juga, walau cuma nomor ponsel"
Kemudian dia mencatat nomor tersebut. Karena merasa sudah mendapat hasil, dia kemudian hendak beranjak pulang.
"mau kemana pak?" tanya Tino.
"mau pulang lah. Inj sudah sore, lagian tugas hari ini sudah selesai kok" jawabnya kemudian meninggalkan Tino.
"Jes...Jes bangun ini dah sampai rumah" Dika berusaha membangunkan Jessica.
"Jes..bangun" sambil tangannya memegang pipi Jessica. Tak disadari Dika tangan Jessica memegang tangannya. Dia terkejut namun tetap berusaha tenang.
"Jessica ayo bangun, bapak sudah nungguin tu"
"Dika...kita mau kemana? Aku mau kita di sini aja" kata Jessica mengigau. Dika tersenyum, dia terdiam mendengar ucapan Jessica. Sedangkan tangan mesih berada di pipi Jessica yang terus dipegang oleh sekretarisnya. Karena tak ingin di lihat orang lain, Diapun menjepit hidup Jessica dengan dua jari. Tak perlu lama akhirnya sekretaris itu bangun.
"hmmm...Dika kamu kok bangunin aku?" tanya Jessica sambil memegang tangan Dika yang sedang berada di pipinya.
"kita sudah sampai dirumah Jes" jawabannya. "ayo kita kedalam, bapak sudah nungguin" ajaknya sambil menarik tangannya secara perlahan. Namun Jessica malah menarik tangan Dika dengan keras yang membuatnya terpental kearah Jessica.
__ADS_1
Pundak Dika berdekatan dengan pundak Jessica. Wajah mereka kemudian saling bertatapan. Mereka saling bertatap, saling memandang.