FPS (FRANS PACAR SETAN)

FPS (FRANS PACAR SETAN)
konferensi pers


__ADS_3

Setelah semua berkumpul, Dika mulai membuka acara tersebut. Pertama dia menjelaskan kepada para karyawannya bila acara ini dia adakan untuk memberikan penjelasan kepada para wartawan. Mereka diminta menjelaskan secara rinci dari awal hingga saat ini.


Dia juga menjelaskan bahwa kehadiran para pemain untuk menceritakan apa yang mereka alami selama terjadi kekacauan ini. Dika meminta kepada para wartawan untuk memuat berita sesuai dengan apa yang mereka terima dari para narasumber.


"semua ruang ini telah saya persiapkan untuk acara ini, jika ada yang memberikan berita tidak sesuai dengan yang anda terima jangan salahkan kami" ucap Dika dengan tegas.


Ferdinan sebagai perwakilan dari tim pengembang game diminta untuk menjelaskan. Dia menjelaskan secara rinci awal kejadian. Kemudian dilanjutkan oleh Toni dari tim keamanan siber. Seluruh wartawan yang hadir dalam ruangan itu memperhatikan dengan seksama. Ada juga diantara mereka yang merekam untuk mempermudah dalam memuat berita.


Setelah semua karyawan dari perusahaan memberi penjelasan, kini Naila dan teman-temannya di minta untuk. Namun eksperimen mereka terlihat sedih sedari awal datang ke acara tersebut membuat para wartawan penuh pertanyaan.


"sepertinya kalian sedang bersedih apa sebenarnya yang terjadi?" tanya seorang wartawan. Mereka semua tidak menjawab pertanyaan tersebut, sehingga wartawan lain memberikan pertanyaan yang menyatakan apakah semua alasan perusahaan. Sehingga membuat Naila harus menjawab.


"kami sedang berduka, karena teman kami sedang dirawat demi menyelamatkan pemain lain. Saya tegaskan perusahaan sangat membantu kami" kata Naila sangat marah kepada para wartawan.


"sekarang ini kami bermain game bukan sebuah kesenang-senang tetapi berjuang hidup. Teman kami yang sedang dirawat pernah mengatakan bermain game saat ini sama saja bertahan hidup, sambil menunggu masalah ini selesai" kata Roy yang juga ikut marah.


Semua wartawan terdiam mendengar ucapan Naila dan Roy, seakan penjelasan mereka semua sudah cukup. Dika yang melihat para wartawan diam, membuatnya ingin memberi pertanyaan kepada Hardi.


"Hardi, saya ada pertanyaan. Selama di dalam dunia game, apa saja yang kamu alami di sana?" tanya Dika.

__ADS_1


Dengan rasa trauma dia menjawab, "selama berada di dunia game, saya bersama pemain lain di kurung dalam sangkar burung yang sangat besar" jawabnya.


"apa yang terjadi sebelum kalian di kurung?" tanya seorang wartawan setelah mendengar jawaban Hardi.


"sebelumnya saya tidak ingin memasukkan nomornya ponsel. Setelah satu jam tidak memasukkan nomor ponsel, tiba-tiba saya sudah berada di dalam sangkar tersebut" jawab Hardi. Dia juga menjelaskan ada banyak pemain lain di tahan di sana dengan alasan tidak bermain game dalam dua hari atau karena kalah dalam game.


"Selama berada di sana, apa kamu mendapatkan informasi penyebab kalian sampai di tahan?" tanya Dika.


"saya hanya mendengar jika semua pemain harus segera di kalahkan" jawab Hardi.


Sementara di rumah sakit, Frans masih belum sadar. Ibunya dan Hazel yang menemani serta terus berharap agar dia segera sadar. Mereka berdua terlihat sangat sedih. Hingga beberapa jam berlalu, Frans mulai membuka matanya.


"Kenapa Bunda bisa berada di sini" tanya Frans melihat ibunya yang tepat di sampingnya.


Ibunya mengatakan, bahwa Ia mendapat kabar dari Naila. Kemudian Hazel mendekati dari sisi yang lain.


"Naila dan yang lain di mana sekarang?" tanya Frans.


"tadi pagi bunda dapat kabar, mereka diundang pak Dika" jawab ibu Frans. "bagaimana perasaanmu sekarang?"

__ADS_1


"masih sedikit lemas Bun, tapi sudah bisa pulang kok bun" jawab Frans. "lagian aku ga betah lama-lama di sini"


"yank, sambil menunggu mereka datang lebih baik kamu istirahat, ya kan bu" saran Hazel yang berada di sisi lain ranjang rawatnya. Ibu Frans hanya mengangguk sambil tersenyum. Frans menuruti ucapan Hazel.


Naila dan temannya kini dalam perjalanan ke rumah sakit setelah selesai memberi keterangan yang mereka alami selama ini. Dalam perjalanan terjadi perbincangan ringan di antara mereka, tetapi Hardi hanya menyimak hingga Naila yang memulai keisengannya.


"Edi, itu calon adek ipar jangan dicuekin. Nanti ga sepat restu lu," kata Naila untuk memancing Hardi berbicara.


"memang Edi ga perhatian sama calon ipar" tambah Roy. "masa iparnya diem, dia bukan ngajak ngomong"


"yang sabar ya, memang Edi parah" Robet juga ikut menimpali, "bilangin aja sama Linda supaya dia tau kalo Edi ga perhatian sama calon iparnya"


"memang betul sih, kalau kak Edi jarang ngomong sama aku setiap ketemu" kata Hardi mulai bersuara. Naila dan yang lainnya semakin semangat untuk meledek Edi.


"wah bener-bener parah lu Ed, bisa-bisa Linda ngejauhin elu" kata Naila yang disertai sorakan temannya.


"tapi kalau masalah perhatian dia lebih perhatian dari yang aku bayangin" Hardi berusaha membela Edi. "kalau dia dimintai tolong, sekali pun ga pernah nolak. Kami sudah terbiasa tidak banyak bicara"


Naila yang awalnya ingin meledek Edi kini malah terdiam. Dia kagum dengan Edi yang ternyata cukup baik di mata Hardi. Naila dan yang lainnya terdiam selama perjalanan setelah mendengar perkataan Hardi.

__ADS_1


__ADS_2