FPS (FRANS PACAR SETAN)

FPS (FRANS PACAR SETAN)
Kerinduan yang Terjawab


__ADS_3

Frans dan temannya memesan hidangan yang mereka inginkan. Setelah semua selesai memesan pelayan yang bernama Linda meninggalkan mereka. Di ruang staf tempat Linda bekerja, ia meminta izin untuk untuk menemui Frans dan temannya. Ia melakukan demikian karena ada yang ingin dia sampaikan kepada mereka.


Linda mendapatkan izin dengan syarat harus mengantarkan seluruh pesanan Frans dan temannya terlebih dahulu. Dengan senang hati ia menyanggupi. Dengan cepat Linda menuju dapur untuk membantu para koki yang sedang menyiapkan pesanan Frans dan temannya.


"Frans gua mau tanya kenapa lu bisa bikin Anggun ga bisa luring?" tanya Edi dimana pertanyaan itu mewakili temannya yang lain.


"itu cuma kata gua aja" jawab Frans.


"tapi itu tadi gua liat beneran Anggun ga bisa luring"


"lu inget ga waktu kita mau luring dulu waktu pertama kejadian itu? Waktu itu kita gabisa luring juga kan" tanya Frans mengingatkan.


"oh iya, kalau ga salah kita harus isi nomor ponsel kita kan" kata Roy.


"nah gua cuma ngetes dia, apa bener dia pemain baru apa ga" kata Frans menjelaskan "kalau dia pemain baru pasti ga bakal bisa luring, sekalian mastiin kalau dia itu peretasan apa bukan"


"jadi itu tujuan elu" kata Naila "terus kalau lu tau dia itu peretas mau lu apain?"


"gua mau liat dia itu meretas buat bantu kita kaya yang dia omongin apa ga? Kalo ga gua bakal terus bikin dia ga betah main game ini" ucap Frans dengan nada tinggi. "gua ga mau dia malah ganggu usaha gua buat bikin game ini balik kaya dulu lagi" ucapnya semakin keren.


Di saat mereka sedang berbicara datang Linda menyela percakapan mereka. Dia memperkenalkan diri. Dia mengatakan, kalau dia mengenali Edi saat Edi masih di SMA dulu.


Saat Edi masih SMA, Linda sedang bekerja di sebuah cafe dimana Edi dan temannya sering berkunjung. Oleh sebab itu Linda tahu benar minuman yang menjadi kesukaan Edi.


"waktu kamu sudah lulus sekolah, aku sempat pindah kerja ke Jogja karena harus ikut orang tua" kata Linda.


"terus sejak kapan kamu kerja di sini lagi?" tanhya Edi


"sekitar dua bulan, karena adikku kuliah di sini" jawab Linda.


"kenapa kamu ga kasih kabar sama aku, kamu tau aku dah lama nyari kamu" kata Edi sedikit murung.


"woi ntar aja acara kangen-kangennan, biar dia cerita dulu kalau dah selesai gua tinggal lu disini sama dia" kata Frans kesal.


"maafin aku, semua kontak yang ada sama aku hilang semua saat peejalan ke sini" kata Linda murung "sekarang adikku sedang dirawat dirumah sakit"


"sakit apa dia" tanya Edi dan Frans bersama.

__ADS_1


"dia koma lebih dari sebulan ini" kata Linda sedih "aku harap kalian bisa bantu saya"


"sebulan lebih dalam keadaan koma? Apa dia memiliki penyakit" tanya Frans kwatir. Linda menggelengkan kepala.


"dia koma karena tidak bisa luring dari game" kata Linda menangis "di rumah sakit itu ada sekitar lima orang yang mengalami hal yang sama, mereka dirawat dengan VR yang masih tersemat di kepala" tambahnya.


Mendengar perkataan Linda semua terdiam, mereka bersedih mengetahui sebagian teman-teman di game tersebut dirawat.


"aku akan bantu kamu sampai adikmu sadar kembali" kata Edi. Frans dan yang lainnya menyatakan hal yang sama.


"apa kalian sudah sampaikan masalah ini kepada pihak perusahaan game" tanya Frans.


"kami tidak mungkin melakukan hal itu" jawab Linda. Frans kemudi menanyakan alamat rumah sakit tempat adik Linda dirawat, kemudian melakukan janji bertemu dalam dua hari.


...----------------...


Sore harinya Jessica berlari dengan cepat memasuki kantor Dika. Dia meminta untuk segera diantarkan pulang dengan wajah ketakutan. Ketakutan yang dia alami sejak kejadian siang tadi saat makan siang.


"Dika cepat antar aku pulang" pinta Jessica.


"kamu kenapa terlihat sangat ketakutan"


"wah sekretaris mulai resah karena belum dipinang" ucap seorang karyawan.


"sepertinya terjadi perang besar antara bos dan sekretaris" kata karyawan lainnya. Isu semakin berkembang diantara para karyawan yang melihat kejadian tersebut.


Setelah berhasil mengejar Jessica, Dika segera memeluknya, yang membuat Jessica sedikit tenang.


"aku akan antar kamu pulang, jangan takut" kata Dika sambil menghubungi supirnya untuk menjemput di lobi.


"Dika kamu duduk di belakang ya, aku sangat takut" ucap Jessica dengan pelan. Setelah mobilnya sampai, supir segera keluar.


"kenapa keluar pak?" tanya Dika.


"itu...aduh..." supir berkata meracau.


"itu aduh, bapak kok ngomong jadi ngaco begitu" ucap Dika kesal, kemudian memapah Jessica masuk kedalam mobilnya di kursi belakang dan di temani olehnya.

__ADS_1


"masuk pak bawa mobilnya, kalau saya di belakang mana bisa bawa mobil" kata Dika semakin kesal.


"saya kira pak Dika mau bawa mobil sendiri karena ada non Jessica, biasanya kan seperti itu" kata supirnya setelah menjalankan mobil.


"dia sedang tidak baik-baik saja" kata Dika "Jes, kenapa kamu? "


"aku...takut" ucap Jessica yang kemudian mengarahkan wajahnya ke badan Dika. Seluruh tubuh Jessica sangat panas. Dia sedang mengalami demam tinggi.


"pak kita ke rumah sakit ya" kata Dika


"jangan aku ingin pulang, jangan bawa aku ke sana" teriak Jessica histeris.


"baik baik kita pulang saja" kata Dika menenangkan.


"kalau ke rumah sakit lebih baik aku pulang sendiri" ucap Jessica sekali lagi.


"duh kenapa dia ini, dari pulang makan siang ketakutan terus" batin Dika "sudah pak antar ke rumah Jessica"


...----------------...


Edi ditinggal oleh temannya setelah sebelumnya dia berkata ingin berbicara dengan Linda. Edi memesan minum untuk menunggu Linda selesai bekerja. Dia mengingat kembali saat masih SMA dia sering melakukan hal ini.


Setelah pulang sekolah dia selalu ke kafe tempat Linda bekerja. Dia melakukan bukan tanpa alasan, mereka sudah saling merasa ada ketertarikan.


"apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Linda kepada Edi pada saat menjelang kelulusan.


"ya, aku sudah mantap walaupun kamu seperti ini aku ingin selalu bersamamu" ucap Edi.


"aku ini cuma seorang pelayan di kafe, bagaimana nanti orang tuamu berkata?" tanya Linda.


"mereka tidak mempermasalahkan, karena mereka pernah merasakan masa-masa sulit" ucap Edi.


"aku juga sebenarnya ingin sekali bersama denganmu" kata Linda sembari menyadarkan kepala di pundak Edi.


"kelulusan sudah dekat, setelah itu aku akan ajak kamu untuk berkenalan dengan orang tuaku" kata Edi sambil menggenggam tangan Linda.


"aku akan menunggu saat itu, aku harap kita bisa ke jenjang lebih tinggi lagi" Linda menaruh harapan.

__ADS_1


Mereka menikmati sore dengan berjalan kaki diantar pertokoan di lokasi kafe tempat Linda kerja. Edi selalu mengantarkannya pulang kerja sambil menikmati sore.


"hari ini kita jalan kaki saja, aku ingin berjalan berdua denganmu lebih lama dari bisanya" pinta Linda. Edi langsung menggenggam tangan Linda sambil berjalan pelan menuju rumah Linda.


__ADS_2