FPS (FRANS PACAR SETAN)

FPS (FRANS PACAR SETAN)
Prestasi Frans


__ADS_3

Setelah mendapat kabar dari adiknya, Ferdinan meminta semua timnya untuk kerja lembur. Dia juga meminta izin kepada Dika agar dapat memberikan lembur kepada mereka. Tak lupa ia juga menyampaikan apa yang dia terima dari adiknya.


"jadi sebagian pemain yang tidak sadarkan diri bisa di selamatkan oleh mereka?" tanya Dika.


"benar pak, tapi mereka juga meminta di buatkan item-item penyembuhan dalam jumlah banyak" ujar Ferdinan.


"buatkan saja, bila perlu tingkatkan manfaatnya. Bila perlu aku akan menemani kalian" kata Dika sambil berjalan menuju bagian pengembangan.


Di sana dia melihat karyawan sedang bekerja dengan serius membuat disain baru. Sehingga membuat Dika penasaran.


"apa yang sedang kalian buat?" tanya Dika.


"saya memerintahkan mereka membuat item yang bisa membatu para pemain di dunia game dalam bertarung pak" jawab Ferdinan "item itu akan membatu dari atas setiap pemain untuk menyerang lawan"


Kemudian Dika melihat Linda yang sedang membuat item senjata berupa busur panah. Dia melihat dengan seksama item itu dari dekat. Terlihat dia sangat memahami busur panah itu.


"sepertinya aku kenal busur panah itu" kata Dika "kalau tidak salah namanya Recurve Bow"


"benar pak, tapi itu termasuk jenisnya pak. Panah ini sedang saya buat untuk membuat efek yang sangat besar terhadap musuh dalam radius sepuluh meter" Anita menjelaskan.


"maksudmu bagaimana?" tanya Dika penasaran.


"panah ini bila di arahkan kepada lawan, lawan lain yang berada dalam radius sepuluh meter juga akan menerima efek yang hampir sama" kata Anita.


"tapi sepengetahuan saya pemain yang tersisa saat ini satupun tidak ada yang jobnya sebagai pemanah. Mereka semua dalam kondisi tidak sadarkan diri" ucap Dika.


Lalu Anita menjelaskan pada awalnya dia membuat item itu untuk karakter yang di buat olehnya. Ia juga berterus terang bila dia pernah meretas untuk membuat karakternya.


"ketika saya bertemu dengan pemain lain, mereka mengatakan lebih baik saya membantu dari kantor agar tidak menjadi beban di game" kata Anita.


"jadi senjata itu kau buat untuk jadi pajangan?" tanya Dika marah.

__ADS_1


"suatu hari Naila pernah berkata bila Frans adalah pemain terbaik di game ini, dia dapat menggunakan senjata apa saja" kata Anita. "kalau tidak salah julukannya" MASTER OF WEAPON"


"apa dia sehebat itu dalam game perusahaan kita" tanya Dika. Kemudian Anita berselancar di dunia maya untuk mencari artikel mengenai Frans dalam game. Setelah berhasil mendapatkan apa yang dicari, dia menujukan kepada Dika.


"apa dia top global game ini. Berarti dia juga yang selalu menerima hadiah utama dalam setiap acara selama lima tahun terakhir" ucap Dika terkejut.


"bukan hanya itu pak dalam artikel, disebutkan kalau dia tidak memilih job yang ada dalam game. Juga dia termasuk pemain dengan keterampilan beladiri sangat baik" kata Anita "dia pernah meraih medali emas di pertandingan pencak silat tingkat nasional setahun yang lalu"


Dika sangat terkejut adegan prestasi Frans, terlebih lagi Anita yang sebelumnya memandang remeh kini mengaguminya. Dia kembali teringat dengan ucapan Frans.


"pak saya teringat ucapan Frans setelah melihat prestasinya. Dia mengatakan 'sekarang kemampuan kita juga ikut diperlukan' seakan dia paham bila saat ini bukan hanya bermain game" kata Anita.


Dika menjadi semakin simpati dengan Frans dan temannya yang saat ini sedang berjuang untuk menyelamatkan para pemain dan juga perusahaannya. Dia menyerahkan semua pekerjaan saat ini pada Ferdinan dan Anita.


"aku harap kalian berdua bisa menyelesaikan misi ini besok" ucap Dika kemudian duduk dibagian lain ruangan itu untuk memberi dukungan. Jessica masuk ke ruangan segera menghampiri Dika.


"Jessica tolong sampaikan kepada pak Yoga bila saya tidak pulang dalam dua hari karena ada pekerjaan penting" ucap Dika setelah Jessica mendekat.


"saya sedang sibuk, lagian kalau kamu yang bilang kan jadi lebih formal. Dan juga tolong pesankan makanan untuk semua orang yang ada di ruangan ini" perintah Dika. Jessica hanya menuruti perintahnya karena selama bekerja dia hanya sekretaris.


Esoka paginya, Frans sedang sibuk mempersiapkan keperluan kuliah, ia memasukkan buku-bukunya dengan cepat seakan dia di kejar waktu. Saat memasuki ruang tengah, dia teringat akan rencananya untuk membatu adik Linda. Kemudian dia menuju meja komputer untuk mengambil VR.


"kenapa kamu bawa VR itu? Bukannya kamu sudah bisa main game tanpa VR?" tanya ibunya Frans, saat melihat dia mengambil VR.


"bunda, VR ini untuk masuk ke dunia game. Sedangkan kacamata dan sarung tangan hanya bisa digunakan di dunia nyata" Frans menjelaskan kepada ibunya.


"buat apa kamu masuk ke dunia game? Bukannya sekarang banyak musuh di sini" tanya ibunya Frans bingung.


"kami semua dibantu oleh pihak perusahaan mau berusaha menyelamatkan sebagian pemain yang tidak sadarkan diri. Kata Hazel mereka semua di tahan dalam dunia game" kata Frans sambil menuntun ibunya untuk duduk di ruang tengah.


"berarti kamu kan bermain seperti dulu lagi? Terus pihak perusahaan bantu kalian seperti apa? Dari mana kamu mainnya?" tanya ibunya kwatir.

__ADS_1


"bunda ga usah kwatir gitu, aku ga sendiri kok sama teman yang lain juga kok" jawab Frans menenangkan ibunya. "trus masalah bantuan perusahaan, aku ga bisa bilang sama bunda soalnya aku juga ga tau. Tapi yang pasti mereka berusaha menyelamatkan semuanya"


Lalu Frans pergi setelah menjelaskan semuanya dan berpamitan kepada ibunya. Dia segera menghuni temannya untuk segera berkumpul di kantor Dika pagi ini juga.


Naila yang telah bersiap-siap dari fajar, segera berangkat setelah dihubungi Frans. Dia bahkan tidak membuat sarapan pagi kali ini. Ferdinan dan Anita yang baru saja menuju ruang tengah terkejut melihat Naila keluar pintu tergesa-gesa.


"Naila kamu mau kemana? Kenapa buru-buru banget?" tanya Ferdinan sambil berlari keluar mengejar adiknya yang sedang masuk ke dalam mobil.


"aku mau ke kantor kakak, Frans sama yang lain udah nungguin. Dah dulu ya" jawab Naila kemudian pergi meninggalkan Ferdinan.


Ferdinan menuju ruang makan, dia tidak menemukan apapun. Ia segera bersiap-siap untuk berangkat dan mengajak Anita untuk berangkat bersama.


"Nita, ayo kita berangkat" teriak Ferdinan dari ruang tengah.


"kamu duluan, aku mau sarapan dulu"


"Naila ga bikin sarapan, kita sarapan di dekat kantor" teriak Ferdinan kesal.


"ada apa? Kenapa Naila ga bikin sarapan?" bantin Anita sambil merapikan rambutnya.


"cepat, Naila sudah pergi ke kantor kita sekitar sepuluh menit" teriak Ferdinan semakin keras "apa kamu naik taksi daring saja"


"Naila ke kantor? Naik taksi daring? Aku ga mau" batinnya lalu berlari ke luar "aku sudah selesai, tungguin" teriaknya.


Ferdinan sudah berada di dalam mobil menunggu Anita sedikit kesal. "aku bukan supir pribadi, kaku duduk di depan sini" kata Ferdinan ketus saat Anita ingin masuk bagian belakang mobil.


"oke, oke kepala bagian" kata Anita kemudian masuk kedalam bagian depan mobil. Dalam perjalanan, Anita sesekali memandangi Ferdinan yang sedang konsentrasi mengendarai mobil. Terkadang dia juga memalingkan wajah saat Ferdinan menatap wajahnya. Kejadian itu berulang hingga mereka sampai di sebuah rumah makan dekat kantor mereka.


"wah benar, dia mau ajak aku sarapan" batin Anita dengan perasaan senang.


"woi jangan melamun, ayo turun kita sarapan" ajak Ferdinan yang membuat Anita terkejut. "cepetan, nanti makanan habis semua"

__ADS_1


Pagi ini Anita merasa sangat bahagia, dia ditraktir makan oleh pujaan hatinya.


__ADS_2