
Raiden terus melatih dirinya, dia berusaha mempelajari semua tentang Frans. Mulai mencari artikel yang berkaitan tentang Frans, dari apa saja yang di pelajari sampai kebiasaannya. Di juga mencari informasi melalui NPC di dunia game. Bahkan saat Frans sedang menyelamatkan para pemain, di terus memperhatikan semua tindakannya.
"aku baru melihat pemain seperti dia, walau seorang diri dia mampu mengalahkan banyak musuh bahkan dalam kondisi yang sangat kritis" batinnya. Setelah mengetahui Frans bisa kuat karena memiliki kemampuan bela diri, Raiden segera mencari informasi tentang ilmu beladiri yang di pelajari Frans dan mencoba untuk mempelajari.
Ibu Frans segera ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Naila. Melihat Frans yang masih belum sadar membuatnya sengat cemas. Naila dan Hazel berusaha menenangkan ibu Frans. Begitu juga Ferdinan dan Anita.
"tante jangan kwartir ya, kata dokter dia hanya perlu istirahat semalam karena kehabisan tenaga" kata Ferdinan menenangkan ibu Frans.
"kehabisan tenaga? Kenapa bisa terjadi seperti itu? Sedangkan pemain lain tidak?" tanya ibu Frans.
"ada dua faktor yang bikin dia kehabisan tenaga tante" kata Nila.
"faktor apa? Perusahaan tidak mau bantu?" tanya ibu Frans semakin sedih. "Coba ceritakan."
"pertama saat ingin melawan musuh, ada pemain yang membuat Frans sangat marah karena tidak mendengar arahnya, kedua saat akan ke luar dari game, Frans berusaha nyelamatin saya" jawab Naila yang kemudian menunduk.
"tapi kan seharusnya dia tidak seperti ini kalau kalian kerja sama"
"bukan kami tidak kerja sama tante, saat Naila ingin keluar dari dunia game tiba-tiba musuh menariknya dan pasukan musuh bertambah semakin banyak. Jadi Frans mendahulukan Naila dan dia melawan musuh." Roy menyela untuk, memberi penjelasan lebih detail.
"saat saya kembali, saya melihat Frans masih dunia game sendiri dan berusaha menyelamatkannya" mendengar penjelasan Roy, ibu Frans bisa menerima dan pasrah.
Malam itu Dika juga datang yang di temani Jessica. Mereka ingin melihat kondisi Frans yang sedang di rawat. Tanpa disadari Dika, ibu Frans sudah berada di sana.
"Fer, bagaimana kondisi Frans saat ini?" tanya Dika. "lalu siapa ibu ini?"
"kondisi Frans masih belum sadar, kata dokter mungkin dalam beberapa jam akan siuman" jawab Ferdinan. "oh iya pak, perkenalkan beliau ibu Frans"
Dika memperkenankan diri kepada ibu Frans dan menyatakan kekagumannya kepada Frans yang telah membantu perusahaan yang dia pimpin.
__ADS_1
"jangan merendah seperti itu pak, Frans hanya berusaha sebisanya" kata ibu Frans merendah.
Di ruang rawat lain, Linda dan adiknya berbincang. Linda menanyakan apa yang dia alami selama berada di dalam dunia game.
"selama di dunia game kami di tahan di sangkar burung yang sangat besar. Setiap sangkar terdapat sepuluh sampai dua puluh orang kak" jawab Hardi.
"trus kenapa kamu bisa sampai di tahan mereka?" tanya Linda lagi.
"kalau aku karena ga mau isi nomor ponsel kak, karena ga isi nomor ponsel lebih dari satu jam waktu mau keluar. Tiba-tiba avatarku sudah berada di sangkar itu" jawab Hardi. "kalau pemain lain ada juga yang karena kalah ada juga karena tidak daring dalam waktu 24 jam"
"lalu, apa kamu juga haru daring setiap hari?"
"kalau kata pak Ferdinan kami semua harus daring setiap hari paling tidak tiga menit" jawab Hardi. "oh iya kak, gimana kakak bisa ketemu sama Frans?"
"oh...kamu ingat sama Edi?"
"ya saya ingat, pacar kakak" jawab Hardi sambil menggoda Linda.
"siapa pak Dika?" tanya Hardi curiga dengan kakaknya. Tiba-tiba Edi masuk dan langsung menjawab pertanyaannya.
"pak Dika bos perusahaan game ini. Dia juga termasuk korban masalah ini, makanya dia mau bantu kami" kata Edi yang berjalan mendekati Linda.
"terimakasih sudah menyelamatkan Hardi" kata Linda yang segera menggenggam tangan Edi. Hardi ingin segera berdiri untuk menyambut Edi, karena dia telah menjadi idola bagi Hardi.
"kak Edi, makasih ya. Sekarang bukan hanya Frans yang jadi idola aku, kak Edi juga" kata Hardi dengan semangat. Kemudian mereka bertiga berbincang sambil mengenang masalah lalu mereka.
Pagi-pagi sekali aparat wartawan sudah berada di depan gedung PT Semesta Game Nusantara. Mereka ingin mendapatkan informasi mengenai beberapa pemain yang kembali sadar. Beberapa diantara mereka sudah tidak sabar menunggu kedatangan para pemimpin perusahaan tersebut.
"pak, tolong berikan sedikit informasi yang anda ketahui" pinta seorang wartawan kepada keamanan. Namun dia kecaman tersebut hanya mengatakan bahwa dia tidak mengetahui apapun.
__ADS_1
Hal itu menyebabkan kegaduhan kecil di antara para wartawan. Namun tak berapa lama Ferdinan dan Anita datang bersama, yang membuat para wartawan segera mendekatinya.
"pak tolong berikan informasi mengenai beberapa pemain yang telah sadar, apa ada campur tangan dari perusahaan?" tanya seorang wartawan. Sementara itu beberapa wartawan mengambil foto Anita dan Ferdinan.
"saat ini saya belum bisa memberikan informasi, dalam waktu beberapa jam kami akan memberi informasi" jawab Ferdinan kemudian meninggalkan para wartawan tersebut bersama Anita.
Anita yang merasa jawaban Ferdinan kurang memuaskan protes, dia menanyakan mengapa tidak memberikan jawaban yang sebenarnya kepada para wartawan tersebut.
"kita harus menunggu pak Dika, karena jika sedikit saja salah bicara dampaknya sangat besar bagi perusahaan" jawab Ferdinan. Walau demikian Anita masih saja kurang suka dengan pendapat Ferdinan.
Tak lama setelah Ferdinan masuk ke dalam gedung, mobil Dika sampai di depan lobby gedung. Dika keluar bersama dengan Jessica dari sisi lain mobil. Mereka berdua di hampiri para wartawan saat hendak masuk ke dalam gedung.
"selamat pagi. Maaf pak, apakah anda bisa memberi informasi mengenai beberapa pemain yang telah sadar? Apa perusahaan bapak ada andil?" tanya seorang wartawan. Dika hanya mengatakan nanti akan memberi jawaban resmi kemudian meninggalkan para wartawan tersebut.
Para wartawan kembali kecewa setelah mendengar jawaban yang meminta mereka untuk menunggu. Sementara Dika yang telah sampai di ruangannya segera membuka komputer dan meminta Jessica memanggil tim pengembang dan keamanan siber.
"minta bagian kebersihan menyiapkan ruang rapat di lantai sepuluh dan katakan kepada tim pengembang dan keamanan siber untuk menyiapkan hasil analisa kemarin" perintah Dika kepada Jessica melalui telepon kantornya.
"kenapa harus di lantai sepuluh, ruangan itu sangat besar untuk dua tim" protes Jessica.
"kamu jalankan saja perintah saya, cantik" kata Dika sambil menggoda Jessica. Mau tidak mau Jessica menyampaikan apa yang dikatakan kekasihnya.
Setelah ruang rapat tersebut selesai di persiapkan, karyawan yang diminta Dika untuk hadir telah berkumpul. Tak lama Dika hadir bersama Jessica.
"selamat pagi semua, kali ini saya ingin meminta kalian semua memberi penjelasan kepada tamu yang akan segera hadir" kata Dika, yang membuat mereka semua terkejut. Dika kemudian meminta Jessica untuk menyuruh keamanan membawa beberapa wartawan yang saat ini berada di depan gedung.
Tak lama hadir di hadapan mereka Naila, Roy, Edi, Robet dan Hardi yang membuat mereka semakin bingung. "kenapa para pemain diundang juga" seorang karyawan kepada temannya.
"kalian bisa duduk di meja ini" kata Dika sambil menunjuk meja tepat di sampingnya.
__ADS_1
Kemudian beberapa wartawan masuk ke dalam ruangan tersebut. Kebingungan karyawan semakin bertambah melihat wartawan masuk.