
Sesampainya di rumah, Frans hendak segera ke kamarnya. Dia sudah merasakan sangat letih setelah melakukan aktivitas hari ini. Namun ia dipanggil oleh ibunya.
"Frans, kemari sebentar ada yang ingin bunda bicarakan" pinta ibunya.
"ya bun, mau ngomongin apa? Fraksi cape banget" ujar Frans. Ia melangkah mendekat dengan lemas.
"bunda dapat kabar dari ayah, dia pulang sekitar dua minggu lagi" ibunya memberi kabar. Mendengar kabar tersebut ia merasa sangat senang.
"beneran bun? Aku dah ga sabar mau ketemu ayah" tanya Frans riang. Ia seperti anak kecil yang lama tak jumpa ayahnya.
"kamu ini, seperti anak TK yang mengejar ayahnya pulang" ledek ibunya.
"habis hampir setahun ga ketemu ayah" ucap Frans "kalau begitu aku istirahat ya bun" ia berdiri hendak meninggalkan ibunya namun dilarang.
"bunda belum selesai bicara, duduk dulu" perintah ibunya. "bunda mau ngajak kamu, Naila sama Roy buat bikin acar nyambut ayah"
"acara gimana bun? Memang ayah anak muda?" tanya Frans.
"cuma acara makan malem bareng aja" jelas ibunya. Ia menjelaskan kalau kedatangan ayahnya juga bertepatan hari jadi mereka. Ini membuat Frans tidak bisa menolak bahkan mempunyai ide tersendiri yang ia rahasiakan.
Saat ibu dan anak sedang berbicara, Hazel muncul di hadapan Frans. Ia memberi isyarat untuk segera ke kamar. Namun fran memberi isyarat agar mendekat kepadanya dan duduk di sampingnya.
"kamu kenapa sepertinya ada yang aneh sama kamu" tanya ibunya curiga.
"ga kok bun, tangan Frans cuma gatal aja" kilahnya, sedangkan Hazel sudah duduk di sampingnya dan menjahilinya. Mulai dari menarik tangannya sampai berbisik kata-kata aneh. Ini membuat Frans yang sedang berbicara dengan ibunya merasa terganggu.
"kamu bisa diam ga" ucap fraksi sedikit tiba-tiba, saat ibunya sedang berbicara. Ini membuat ibunya jadi terkejut.
"kau tidak suka bunda ngomong. Kamu capek banget ya sampai bicara seperti itu sama bunda" ibunya marah, Hazel terdiam mendengar ucapan ibu Frans. "sana kamu ke kamar istirahat sepuasnya" ibunya pergi meninggalkan Frans.
Frans merasa sangat bersalah dan kesal dengan Hazel. Ia meninggalkan Hazel sendiri di ruang tengah. Dengan kesal ia menutup pintu kamarnya dengan keras.
Di rumah Naila, Anita membayangkan Dika yang sangat tampan. Ia merasa sangat terpesona dengannya. Ia menghayal bila ia menjadi pendamping hidup Dika.
"ganteng banget bosku, andai saja aku bisa menjadi pendamping hidupnya" pikirnya dalam hati. "tapi aku juga tidak bisa ninggalin Ferdinan, tujuanku ke sini kan dia"
Anita sangat bimbang dengan pemikiran, yang memilih Dika atau Ferdinan. Terkadang dia tersenyum juga cemberut memikirkan kedua orang itu. Lamunannya yang indah itu harus buyar oleh suara ketukan pintu. Ia merasa kesal sambil berdiri membuka pintu.
__ADS_1
"kakak hebat banget bisa langsung di terima di tempat kak Ferdinan kerja" puji Naila setelah dibukakan pintu. "langsung tugas lapangan, itu jarang banget terjadi di sana loh kak. Biasanya sekitar setahunan baru boleh tugas luar."
Ia sangat terkejut mendengar ucapan Naila, bahkan merasa jika dia diistimewakan oleh Dika. "keren kan kakak" ucapnya bangga.
"iya kak, kakak ga ada duanya dibanding sama Kak Ferdinan" puji Naila lagi. Kemudian mereka berdua berbincang ala wanita mulai dari artis sampai drama yang mereka nikmati.
"Nai aku mau tanya kenapa kamu bisa kenal sama pak Dika?" tanya Anita.
"karena kak Ferdinan kerja sama dia" ucap Naila.
"benar juga ya, kalau Ferdinan tidak kerja di sana mana mungkin kamu kenal dia" ucap Anita. Mereka berbincang hingga larut dan Naila malam itu tidur di kamar Anita.
Pagi-pagi sekali Jessica terbangun, kondisinya sudah semakin membaik. Melihat Dika tidak ada di kamarnya, membuatnya ingin mencari kekasihnya. Setelah sampai di ruang tamu ia melihat Dika tertidur di sofa, segera dia mengambil selimut untuk Dika. Kemudian ia duduk disampingnya sambil menatap wajah Dika.
"terima kasih direktur, sudah jaga aku semalaman ini" ucapnya dengan sangat pelan.
"kamu sudah baikan Jes" tanya ibunya yang melihatnya di ruang tamu.
"jangan berisik bu, nanti Dika bangun" kata Jessica, kemudian berdiri hendak mendekati ibunya.
"sejak kapan kamu bangun? Sekarang jam enam pagi" kata Jessica.
"sejak kamu menyelimutiku" jawabannya "suara kamu lembut banget waktu ngomong terima kasih"
"kamu jahat banget" ucap Jessica manja.
"keliatannya kamu sudah baikan, bagaimana kalau kita nanti makan di luar" ajak Dika.
"kamu ga ke kantor?"
"hari ini spesial buat kamu" ucap Dika sambil mengeluarkan ponsel dan menghubungi Ferdinan. "kamu jangan lupa nanti siang ke rumah sakit. Juga sampaikan ke resepsionis tolak semua yang ingin menemui saya hari ini." Jessica merasa senang dengan perlakuan Dika hari ini.
Naila, Frans dan Edi sudah berkumpul di kantor Ferdinan. Mereka berencana untuk pergi ke rumah sakit. Tak lupa Edi juga telah menghubungi Linda agar menunggu kedatangan mereka.
"kenapa muka elu keliatan kesel banget, terus mana Hazel?" tanya Naila yang melihatnya.
"gua ga apa-apa" jawab Frans ketus.
__ADS_1
"trus Hazel mana?"
"gua tinggal di rumah. Biar dia ga ngerusuh" jawab Frans semakin ketus.
"Nai udah jangan di terusin, dia lagi sewot itu. Nanti malah rencana kita berantakan" bisik Edi. Seketika mereka semua diam. Tak ada kata yang terucap dari mereka seakan tidak saling kenal. Lalu muncul Anita yang mengatakan jika Ferdinan sudah menunggu di depan lobby dengan mobil. Segera mereka bergegas menuju ke rumah sakit.
"Nit kamu seneng ya hari ini, baru masuk kerja sudah bisa 'jalan-jalan' gratis" kata Ferdinan.
"Kok kamu tau sih, kamu bisa baca pikiran ya" balas Anita.
"pasti kamu main belakang sama personalia"
"otak kamu banyak sampahnya ya" ejek Anita. Mendengar perbincangan mereka, membuat Frans yang sedang murung marah-marah.
"kalian seperti kucing yang mau kawin, berisik sekali" kata Frans dengan keras "kalian berdua sampai rumah sakit periksa kesehatan juga, mungkin otak kalian bermasalah" tambahnya.
"kenapa kamu ikut campur Frans?" tanya Ferdinan kesal.
"aku mau tenang tapi kalian malah buat keributan" jawab Ferdinan ketus. Naila yang melihat mereka sedang berdebat, ia segera merelai.
"sudah kak jangan di terusin, kakak masak ga tau gimana Frans kalau lagi bete" bisik Naila kepada Ferdinan. Dia terdiam mendengarkan ucapan adiknya dan kembali fokus mengendarai mobil. Semua yang berada di mobil tak ada yang berbicara sampai tujuan.
Samiri dan Raiden yang telah menunggu kedatangan mereka mulai beraksi setelah mengetahui kehadiran mereka. BFA muncul di sekitar rumah sakit, yang membuat rombongan Frans terkejut.
"apaan ini, kenapa di rumah sakit ada musuh juga" teriak Edi. Frans yang sedari tadi sedang menahan marah, sangat senang karena dapat melampiaskan amarahnya. Ia segera daring dan bersiap menghadapi musuh.
"pas banget, gua lagi emosi banget sama 'data' sialan itu" ucap Frans dengan keras. Edi segera membawa Ferdinan dan Anita ke dalam rumah sakit untuk menemui Linda. Setelahnya kembali ke luar untuk bersiap membantu.
"Nai telepon Robet sama Roy suruh mereka ke sini" pinta Edi.
"ga usah! Kita aja cukup!" teriak Frans. Tak lama muncul pemberitahuan di hadapannya permintaan duel dari Raiden. "jadi data juga mau duel, dah kaya manusia aja lu" ucap Frans. Naila terkejut mendengar Frans mengucapkan kata "data" berulang kali.
"apa Hazel yang bikin dia bete dari tadi" batin Naila. Raiden segera mendekati Frans, dan menatapnya dengan sini.
"jadi ini yang Demian bilang jangan dianggap enteng?" tanya Raiden. "kali ini akan kuberi kau hadiah yang tak akan kau lupakan" ucap Raiden sombong.
"hadiah itu adalah data sepertimu akan terhapus di tanganku" balas Frans sangat kesal. Kemudian terdengar suara yang mengatakan "duel Frans lawan Raiden dimualain dalam 30 detik" Mereka berdua bersiap-siap untuk bertarung. Sementara Naila dan Edi bersiap melawan pasukan yang segera hadir.
__ADS_1