
Setelah menyelesaikan pemeriksaan medis, mereka semua kemudian diperintahkan menuju sebuah Aula besar yang berada di lantai atas gedung perusahaan tersebut. Di sana telah menanti seorang pria bertubuh cukup kekar dan menggunakan seragam beladiri. Tanpa basa-basi pria tersebut langsung menyuruh mereka untuk melakukan pemanasan.
Frans dan Roy nggak pernah belajar bela diri, segera melakukan instruksi dari pria tersebut. Sedangkan yang lainnya hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Frans dan Roy. Saat Frans dan teman-temannya sedang melakukan pemanasan, pria tersebut memperkenalkan dirinya, "perkenalkan nama saya Riki, saya di sini akan melatih kalian dasar-dasar bela diri dalam beberapa hari ke depan" ujar pria itu yang diketahui bernama Riki.
Riki mengajarkan posisi kuda-kuda yang benar kepada mereka setelah melakukan pemanasan. Disaat yang bersamaan hadir pemain lain bersama Ferdinan dan Dika. Frans terkejut melihat kehadiran mereka, karena dia mengira Hanya mereka saja yang dilatih.
"pak Riki, tolong latih juga mereka bersama Frans dan yang lainnya. Karena bagaimanapun misi kali ini sangat penting demi keselamatan pemain yang sudah lama tidak sadarkan diri dan juga perusahaan ini" ujar Ferdinan.
Riki kemudian menyuruh mereka semua yang baru datang untuk segera melakukan pemanasan. Salah seorang di antara mereka melakukan protes, karena menurutnya pemanasan tidak penting dan ingin segera melakukan latihan. Frans yang mengetahui orang itu adalah Zoe, segera menghampirinya.
"gua dari dulu ketemu susah banget dibilangin, Mau lu apa?" kata Frans sangat kesal.
"lu sama dia siapa? Beraninya lu perintah-perintah gua," ucap Zoe dengan keras.
"mending dulu gua nggak nyelamatin lu, kalo tau lu gini orangnya," kata Frans kemudian berjalan menuju Ferdinan. "kak, keluarin dia atau gua nggak mau ikut latihan" macam peran kepada Ferdinan.
Ferdinan berusaha untuk meyakinkan Frans bahwa Zoe akan menuruti perintah selama beradaptasi dalam pelatihan. Namun Frans yang sudah beberapa kali berhadapan dengan Zoe tetap bersih keras ingin meninggalkan pelatihan bila dia tetap mengikuti pelatihan.
"Zoe, sebaiknya kamu latihan di tempat berbeda" kata Ferdinan untuk menenangkan Frans.
"mending nggak usah ikut latihan sekalian, lagian cuma main game" kata Zoe terlalu meninggalkan uang pelatihan. Riki kemudian menghampiri Frans untuk menyuruhnya kembali melakukan pelatihan.
__ADS_1
Secara bertahap Riki memberikan pelajaran dasar-dasar bela diri baik teori maupun praktek. Semua peserta yang mengikuti pelatihan tersebut memperhatikan dengan seksama apa yang diajarkan. Merasa cukup materi yang perlu diajarkan kali ini, Riki menyudahkan latihannya.
"besok sebelum matahari terbit kalian semua sudah harus berada di area parkir" perintah Riki sambil berlalu meninggalkan mereka.
Di rumah Frans, kedua orang tuanya aku merasa khawatir setelah mendapatkan informasi dari perusahaan dan kampus tempat Anaknya kuliah berkaitan dengan pelatihan Frans saat ini. Kekhawatirannya itu bukan tanpa alasan, mengingat kejadian saat penyelamatan sebelumnya Frans sempat sempat dirawat.
"kalau anak kita harus mengalami kejadian seperti kemarin bagaimana?" kata ibu Frans sangat kuatir.
"kamu jangan berpikir yang tidak-tidak, doakan saja anak kita baik-baik saja" Ayah Frans mencoba menenangkan. "aku yakin kalau anak kita menyelesaikan misi kali ini dengan selamat tanpa mengalami kejadian yang seperti kemarin"
"kamu sepertinya tidak kuatir dengan kejadian yang kemarin"
"dia nggak bakal mengalami kejadian kemarin, kalau nggak ada yang bikin dia marah" kata ayah Frans.
"kamu ingat tidak kalau penyebab Frans dirawat karena ada pemain yang susah diarahkan dan membuat dia marah" jawab ayah Frans sambil mengingatkannya pada kejadian sebelumnya. Setelah mendapat jawaban dari suaminya, ibu Frans kemudian minta diantarkan ke perusahaan game tersebut. Dengan terpaksa ayah Frans menuruti ajakan dari istrinya.
Sementara itu, Widio mendapatkan pesan dari Demian setelah membuka komputernya. Widio segera menghubungi Demian untuk mengetahui tujuan Demian menghubunginya.
"ada masalah apa hingga kau menghubungi aku?" tanya Widio.
"saya mendapatkan infomasi dari anak buah saya, dalam waktu dekat para pemain akan memasuki dunia game untuk menyelamatkan pemain lain yang masih berada di dalam" jawab Demian.
__ADS_1
Widio sangat terkejut mendengar informasi tersebut, namun ia berusaha tenang dan mengatakan akan membuat prajurit baru untuk menggagalkan rencana tersebut. Kemudian Widio menuju meja kerjanya dan mulai membuat sketsa pasukan dan beberapa monster baru.
Pasukan yang Widiio buat terdapat beberapa tipe. Ada yang berbadan besar dengan pergerakan lambat namun daya sering sangat kuat. Pasukan ini juga dilengkapi dengan baju zirah yang sangat kokoh. Selain itu ada juga pasukan yang berbadan ramping dengan pergerakan yang sangat cepat namun daya serang sedikit lemah. Untuk menutupi kekurangan tersebut, ia membekali pasukan tersebut dengan senjata yang memiliki daya hancur cukup kuat.
Semua pasukan tersebut diberikan poin kesehatan yang sangat tinggi agar tidak mudah dikalahkan. Setelah selesai membuat pasukan, Widio mulai membuat monster. Tinggi monster tersebut dibuat setinggi 5 meter, kepalanya bertanduk menyerupai tanduk rusa namun berbadan dan berwajah kera.
Widio juga menambahkan atribut kecepatan, kelincahan dan daya serang yang sangat tinggi. Tak lupa Ia juga membuatkan perisai di tangan kiri monster tersebut untuk memperkuat pertahanannya. Setelah merasa cukup, ia segera mengunggah semua file yang telah dia buat ke dalam server.
"kali ini misimu akan gagal Dika" batin Widio dengan ekspresi wajah tersenyum sinis.
Malam harinya di gedung perusahaan Dika, orang tua Robet dan Frans telah sampai di lobby. Ibu Frans mulai menyapa orang tua Robet setelah melihatnya.
"kalian bukankah orang tua Robet?" tanya ibu Frans.
"ya bu, kalau tidak salah ingat kita pernah bertemu di rumah sakit saat Robet sedang dirawat" jawan ibu Robet ramah.
Kemudian mereka berbincang sejenak mengenai anak mereka yang diminta oleh perusahaan untuk membantu menyelamatkan pemain lain. Setelah Mereka mencoba menemui resepsionis untuk menanyakan keberadaan anak mereka dan yang bertanggung jawab dalam misi tersebut.
"bapak Ibu tidak perlu kuatir, setelah selesai makan malam mereka akan kembali. Silakan Bapak Ibu menunggu di ruang tunggu" jawab resepsionis itu dengan ramah. Kemudian tersebut menghubungi seseorang untuk membawakan hidangan ringan untuk menjamu kedua orang tua Frans dan Robet.
"bapak, ibu silahkan dicicipi hidangannya Maaf Ala kadarnya" kata resepsionis sambil mengantarkan hidangan.
__ADS_1
"wahhhhh, kalian sampai repot-repot begini" kata ayah Frans.
"sebelum pak Dika pergi menemani para pemain makan malam, dia berkata untuk menjamu semua keluarga pemain yang datang" resepsionis tersebut mencoba menjelaskan. "bagi Pak Dika, para pemain adalah orang yang sangat penting dan berarti. Karena bila tidak ada pemain perusahaan ini tidak akan berdiri"