
Beberapa hari setelah menyelamatkan adik Linda yang bernama Hardi, Edi semakin dekat dengan Linda. Edi semakin sering berkunjung ketempat kerja Linda baik itu menjemputnya saat pulang maupun sekedar menikmati makan siang di sana. Namun kali ini Edi sengaja meminta Linda untuk pulang lebih cepat kepada atasan agar dia bisa menikmati makan malam berdua di restoran tempat Linda bekerja, karena hari ini dia mendapat tugas sift dua.
"gimana jika aku sift satu saja?" tanya Linda. "soalnya aku udah terlalu banyak izin bulan ini"
Melihat kondisi Linda saat ini, Edi segera mengirimkan pesan singkat kepada ayahnya yang meminta agar membooking rumah makan tempat Linda bekerja. Karena Edi tidak pernah meminta apapun semenjak SMA, ayahnya menyetujui tanpa syarat. Tak lama seorang manager datang bersama Linda.
"saya dapat informasi kalau anda telah membooking restoran ini, apa benar anda bernama Edi?" tanya manajer tersebut.
"ya, saya Edi"
Kemudian pelayan membawakan buku menu kepada Edi yang ditemani oleh Linda. Setelah menerima menu dari Edi, pelayan itu pergi sedangkan Linda duduk di kursi tepat di depannya.
"kenapa kamu melakukan ini?" tanya Linda.
"habis kamu selalu sibuk, dengan begini aku bisa berbicara denganmu dalam waktu yang lama jawab Edi. Kemudi mereka berbincang sambil menunggu menu pesanan datang.
Sementara itu di perusahaan game, Dika menyuruh semua bagian pengembang game FIGHT FOR GLORY dan tim keamanan siber berkumpul di ruang rapat.
"pak ini sudah sore, bagaimana kalau besok saja?" kata Ferdinan dengan nada mengharap.
"kalau besok terjadi serangan besar-besaran dari dunia game kamu bisa selamatkan para pemain lain?" jawab Dika kesal kemudian pergi menuju ruangannya. Dengan terpaksa Ferdinan meminta semua timnya untuk ke ruang rapat.
Setelah semua berkumpul, Dika segera memulai rapat.
"hari kalian saya kumpulkan di sini untuk membahas Bagaimana cara menyelamatkan pemain lain" kata Dika "Ferdinan setelah kemarin kalian membantu Frans, apa kalian menemukan cara untuk menyelamatkan pemain lainnya?"
Ferdinan dan Toni hanya terdiam karena mereka belum menemukan cara untuk menyelamatkan pemain yang masih tidak sadarkan diri. Tiba-tiba Anita menyatakan untuk menemukan cara tersebut, mereka memanggil Frans.
"kenapa harus memanggil Frans?"tanya Ferdinan.
"karena melalui Frans kita bisa meminta Hazel untuk menemukan celah agar bisa masuk ke dalam dunia game"
Semua peserta rapat menjadi bingung dengan pernyataan Anita. Kemudian Anita menjelaskan bahwa Hazel dapat melihat celah untuk memasuki dunia game dari VR para pemain yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"pak Dika, Ferdinan, saya lihat di berita ada seorang pemain yang telah sadar" tiba-tiba Jessica masuk ke dalam ruang rapat.
"mana mungkin, coba tunjukkan berita itu" kata Dika. Kemudian Jessica ponselnya ke sebuah proyektor yang ada di dalam ruang rapat tersebut untuk menampilkan berita yang dimaksud.
Setelah melihat berita tersebut, Anita yang dari awal berita mengamati dengan teliti menyimpulkan bahwa ada kejanggalan dari pemain tersebut.
"kejanggalan Bagaimana maksudmu?" tanya Ferdinan.
"aku tidak dapat menjelaskan secara rinci, namun aku merasa pemain tersebut telah terpengaruh oleh sesuatu dari dalam dunia game" ujar Anita
Seketika mereka semua mengamati berita tersebut. "lihat wajah pemain itu, tatapan matanya tampak kosong" kata Anita. Setelah menyaksikan berita tersebut, Dika melanjutkan rapat yang sebelum tertunda.
Sementara di tempat kerja Linda, Edi menikmati menu yang di pesan olehnya bersama Linda sambil berbincang ringan.
"Edi terima kasih ya sudah bantu selamatkan adikku" kata Linda.
"sudah gak usah bahas itu lagi, memang itu juga tujuan kami kok selama ini"
"kami selama ini bermain game untuk bertahan hidup, kebetulan adik kamu pemain yang tidak sadarkan diri jadi kunci awal kami untuk menyelamatkan pemain lainnya" jawab Edi.
Edi kemudian mengalihkan pembicaraan dengan mengenang lagi masa lalu. Nampaknya Edi ingin menjalin kembali hubungan seperti dulu saat mereka masih SMA. namun saat hendak mengutarakan niatnya Hardi datang.
"Linda aku ingin..."
"kak...." teriak Hardi dengan keras, yang membuat Edi jadi terdiam seketika. "kok belum pul...lang? Eh ada kak Edi, maaf ya jadi ganggu kalian"
Linda langsung menghampiri Hardi, "kakak hari inj sift dua, lagi pula ini masih jam enam sore" kata Linda kesal. "sana pulang duluan"
"aku bosan di rumah sendirian" keluh Hardi.
"kamu sudah daring hari ini?" tanya Edi mengingatnya Hardi.
"belum kak"
__ADS_1
"terakhir kapan?"
"kemarin, sekitar jam tujuh malam"
"cepat kamu pulang, waktumu jatujam lagi atau kamu mau masuk kembali ke sangkar itu" perintah Edi. Dengan cepat Hardi pamit kepada kakaknya dan bergegas pulang untuk daring.
Setelah Hardi pergi, Edi kembali mengutarakan niatnya, "Linda aku ingin memulai lagi hubungan kita yang tertunda selama ini"
Dengan bimbang dan perasaan yang campur aduk, Linda memikirkan ucapan Edi. Di satu sisi perasaannya terhadap Edi masih sangat besar dan ingin menyambut Edi kembali. Di sisi lain dia masih harus membantu orang tuanya dalam membiayai kuliah Edi.
"kamu kenapa malah melamun? Apa yang kamu fikirkan?" tanya Edi. Linda tak bergeming dengan ucapan Edi. Dia terus memikirkan keputusan apa yang harus dia pilih. Hingga saat Edi menyentuh tangannya, dia terkejut.
"itu...anu...eh kamu bikin aku kaget aja" kata Linda terkejut.
"apa yang kamu fikirkan sampai kamu terkejut gitu?"
"aku memikirkan Hardi, apa aku bisa membagi waktu untuk Hardi, kamu dan kerjaku jika kita seperti dulu lagi" jawab Linda dengan pelan.
"ya bisa lah, aku juga kan harus kuliah ditambah lagi mulai besok aku harus kerja di kantor ayah untuk hari ini" kata Edi.
"maksudmu ayahmu memaksa kamu kerja karena booking tempat ini?" tanya Linda terkejut.
"ga juga, tapi aku punya komitmen kalau aku meminta hal besar seperti ini aku akan kerja selama sebulan di kantor ayah" jawab Edi menjelaskan "kamu juga ga usah panik gitu, lagian aku kerja di sana buat nambah kemampuan aku nanti"
Linda sedikit lega mendengar jawaban Edi, dan dia semakin mantap untuk memutuskan apa yang harus dia pilih. "Edi aku mau mengulang kembali hubungan kita, dengan syarat kita tidak saling mengganggu kewajiban kita"
"ohhh terima kasih Linda, aku akan menuruti syarat darimu" kata Edi bahagia. Dengan senang Edi memanggil para pelayan dan menyuruh mereka memesan apa yang mereka inginkan.
"kamu jangan boros gitu dong" protes Linda.
"ini ga boros, lagi pula aku sudah booking semua jadi kalau cuma menu yang aku pesan percuma saja" kata Edi dengan senang "biarkan teman-temanmu menikmati menu di restoran ini"
Melihat ekspresi kebahagiaan di wajah Edi, Linda juga ikut bahagia. Diapun izin kepada Edi untuk mengambil sesuatu. Semua pelayan di sana memesan hidangan yang selama ini hanya bisa mereka sajikan kepada para pelanggan.
__ADS_1