
Pintu ruangan Arrahma terbuka, suster cantik itu tersenyum. Sambil membawa nampan berisi makanan.
“Pagi, Sus!” Arrahma meyapa terlebih dahulu.
“Pagi, orang sakit tapi ceria! Jujur saja aku baru melihatnya!”
“Bisa aja Sus, langsung letakkan di overbed table. Biar saya eksekusi,” ujarnya nyengir kuda dibalik cadar.
Zola baru saja masuk ruangan istrinya, lelaki itu meletakkan ponsel istrinya disamping ranjang.
“Oh ngomong-ongomong saya bisa pulang kapan ya Sus?” tanya Arrahma yang tidak menghiraukan kedatangan suaminya.
“Besok sore, insya Allah sudah bisa pulang!”
“Okey, Emmm Sus boleh minta tolong tidak?”
Suster itu mengangguk setuju.
“Rahma minta tolong check berapa biaya dua hari ini ya?”
Suster melirik kearah Zola yang tadi hanya memandang ponsel. Akan tetapi saat Zola meliriknya dia langsung menunduk.
__ADS_1
“Masalahnya, aku juga punya pegangan kartu sendiri.” Arrahma tersenyum kikukuk. Dia tidak mau orang berpikir negatif tentang suaminya.
Setelah Suster itu keluar Arrahma langsung membuka cadarnya.
“Mau mempermalukan suami hem?” Zola menarik kursi untuk duduk.
“Apa sih? Selagi aku bisa membayar biaya rumah sakit untuk diri sendiri! Aku akan bayar!”
“Aa, tidak usah khawatir, insya Allah Rahma bisa mencukupi kebutuhan sendiri!” ujar Arrahma sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut. Gadis itu tidak mau bergantung pada siapa pun. Apalagi dengan suaminya yang kasar.
“Sekarang Rahma minta, nomer rekening! Aku mau bayar utang, biaya servis mobilnya Aa!” Arrahma melirik kearah suaminya.
Dalam hati Zola takut, jika istrinya membayar biaya kerusakan mobil. Itu berarti kapanpun dia bisa kehilangan mangsanya.
“Aa, egois! Aa mau Rahma kesulitan saat di akhirat karena belum bayar utang?”
Zola memutar bola matanya tidak percaya karena perkataan Arrahma.
“Masalahnya A, kalau yang namanya hutang itu harus dibayar. Tidak perduli itu istri atau suami, kalau yang namanya hutang! Bayar!”
“Jadi aku cicil dulu 17 juta, nanti tunggu sebulan lagi Rahma cicil lagi!” Arrahma mengambil ponselnya. Kemudian membuka aplikasi transfer.
__ADS_1
Gadis itu menyodorkan ponsel kearah suaminya. “Ayo A, isi! Kebetulan tadi Gus Imam, transfer. Jadi aku bisa bayar Aa!”
Zola menajamkan penglihatannya saat istrinya manggil nama lelaki lain.
“Masih berhubungan dengan lelaki brengsekk itu kamu rupanya?” sinis Zola sambil mengambil ponsel istrinya kasar.
“Bagaimana pun keluarganya sangat berjasa dalam hidupku! Jadi silaturahim tetap terjalin, apalagi aku juga masih menjadi santri di pondok. Meskipun aku tidak menetap di pondok. Karena pekerjaan!”
“Aa, Rahma mau Aa tetap mengizinkan Rahma mencari ilmu, Rahma belum rampung menghafal Al-Qur’an. Itu berarti mau tidak mau, setiap hari Rahma harus ke pondok buat hapalan!”
“Dan bukan hanya itu, Rahma juga mau Aa ngjinin Rahma tetap bekerja. Bagaimana pun ini adalah mimpi besar Rahma, dan kalau aku tidak kerja. Bagaimana aku mencukupi kebutuhan ku—“ Zola segera memotong ucapan istrinya.
“Kau pikir aku tidak bisa mencukupi kebutuhan mu?” kesalnya.
“Ya kalau, Rahma masih jadi istri Aa, itu sudah pasti jaminan yang paling bagus. Tapi kan Aa, sendiri yang bilang. Perempuan tidak ada harganya dimata Aa. Aa hanya mencarinya saat butuh dan membuang saat sudah tidak berguna.” Arrahma mengingatkan suaminya.
“Jadi Rahma, harus menyiapkan semuanya! Rahma tidak mau jadi gelandangan setelah Aa, buang! Setelah Aa, merasa Rahma tidak ada gunanya!” ujarnya yang menahan sesak di dada.
Zola nampak geram dengan tingkah laku Arrahma yang semakin berani dengannya.
“Sudah, bicaranya? Semakin kesini kamu semakin berani!”
__ADS_1
Setelah itu Zola menatap ponsel istrinya, matanya tidak percaya. Saat melihat isi saldo rekening istrinya.
'Siapa Arrahma sebenarnya?' batinnya.