
“Terong, your okey?” tanya Zola tatkala melihat istrinya. Dalam layar ponselnya, terlihat jelas jika Arrahma mengenakan hoodie miliknya. Dan menyelimuti tubuh seperti kedinginan.
“He’em!” jawabnya, gadis itu menggigil.
Zola mengusap wajahnya kasar, dia bingung harus bagaimana. Sebagai suami dia tidak bisa mendampingi istrinya saat sakit.
“Kamu kedinginan?”
Arrahma mengerjapkan matanya sebagai jawaban.
“Wajahmu pucat! Sudah minum obat?”
“Makan?”
“Kenapa kamu bisa sakit?” Beberapa pertanyaan Zola lontarkan kepada istrinya. Gadis itu tersenyum tipis, bagaimana tidak. Jika suaminya bertanya tanpa jeda. Membuat dia sulit menjawab.
Saat Arrahma ingin menjawab, perutnya terasa mual. Gadis itu langsung menyingkap selimutnya berlari kearah kamar mandi.
Zola yang ada di seberang bisa melihat istrinya berlari. Kebetulan Arrahma menyandarkan ponselnya di bantal guling. Lelaki itu menggigit bibir bawahnya, raut wajah terlihat cemas.
Setelah beberapa menit dikamar mandi akhirnya gadis itu keluar. Dan merebahkan tubuhnya kembali.
“Sudah lumayan lega?” Zola menatap wajah istrinya yang menghiasi layar ponselnya.
“Hmmm!” Arrahma mengangguk.
“Jangan-jangan ini efek...” Zola menggantung ucapannya. Membuat Arrahma mengerutkan keningnya sekaligus penasaran.
__ADS_1
“Aduh, Mamae, mungkin saja ada bayi dalam perutmu.” ujarnya yang membuat Arrahma semakin mengerutkan keningnya.
“Welut ...kau ...welut-welut ...kau bunting
Kau bunting ...bunting ... bunting ... Arrahma-nya bunting!” ujarnya yang teringat sindiran yang istrinya berikan beberapa Minggu yang lalu.
Zola menahan tawanya melihat ekspresi istrinya yang keheranan. Melihat kekonyolan yang ia lontarkan, persis seperti Markunyok.
“Tidak mungkin!” tegas Arrahma yang membuat Zola menajamkan pendengarannya.
“Maksudnya? Tidak mungkin? Bukankah itu wajar jika kamu hamil?” Menatap penuh curiga.
“Iya, tapi itu tidak mungkin! Ini hanya masuk angin saja!” Yakin Arrahma.
“Masuk angin? Kok bisa?” pekiknya.
“Oh ... jadi karena pesan yang banyak? Kamu merasa tidak perlu, memperhatikan kondisimu? Keras kepala! Sudah aku bilang! Cari karyawan baru untuk membantu bisnismu itu! Tapi kenapa kau tidak melakukannya?” omel Zola yang membuat Arrahma bingung. Pasalnya selama ini, yang dia tahu suaminya cuek dengan apa yang ia lakukan.
“Sekarang lihat! Lihat! Dirimu sakit, dan siapa yang akan merawatmu? Aku tidak ada disana!” geramnya, lelaki ini begitu mengkhawatirkan istrinya. Namun sayang, cara mengekspresikan kekhawatirannya, tidak tepat. Membuat istrinya beranggapan sebaliknya.
Mata Arrahma berkaca-kaca, perkataan suaminya. Seolah mengingatkan, jika dia adalah orang yang teledor yang tidak bisa menjaga kesehatannya.
“Kenapa, malah mewek?” tanya Zola melihat mata istrinya yang sudah berlinang.
Tut! Arrahma mematikan sambungan telepon. Yang membuat Zola berteriak memanggil namanya.
“Set! Kenapa dimatikan?” tanyanya mencoba mengingat. Apa ada yang salah dengan perkataannya.
__ADS_1
Ternyata kesalahan pahaman bisa terjadi karena banyak hal. Termasuk hal sepele seperti ini, entah itu dari nada bicaranya atau justru ekspresi. Apa lagi saat pesan lewat tulisan, tidak jarang mereka salah mengartikan makna.
“Huft! Okey aku salah! Mungkin nada suaraku terdengar seperti menekannya. Seolah menyudutkannya!” Zola menyingkap selimutnya, sambil menatap jam yang menempel di tembok.
Lelaki itu segera berlari kearah kamar mandi. Setelah selesai dia menuruni anak tangga.
“Tuan mau kemana?” tanya Asrhaf yang kebetulan tadi dia terbangun karena haus.
“Pulang!” ujarnya sambil menatap layar ponsel.
“Maksudnya?” Asrhaf penuh rasa keingintahuan. Pemuda itu meletakkan gelas yang tadi digunakan buat minum keatas meja.
“Ini masih ada waktu tiga hari untuk pulang, semua pekerjaan belum selesai. Dan lusa kan ada seminar!” ujarnya mengingatkan atasannya.
Sebagai seorang pebisnis memang Zola sering diundang untuk mengisi acara seminar.
“Masih satu hari kan? Acara seminar dilaksanakan? Kau tenang saja, aku akan kembali tepat waktu! Saat aku tidak ada disini semua kamu yang handle!” ujarnya berjalan cepat menuju pintu utama apartemen.
“Memang Anda sudah membeli tiket pesawat? Ada hal penting apa?” teriaknya.
Zola membalikkan badannya, wajahnya terlihat kesal. “Sekarang sudah modern bro, check-in tiket bisa pakai aplikasi!” jawabannya yang membuat Asrhaf memukul jidatnya sendiri. Dia pikir ini masih zaman purba. Padahal setiap check-in tiket pesawat juga dirinya. Mungkin pemuda ini heran, karena atasannya tidak pernah melakukan sesuatu apapun. Tanpa koordinasi dengannya dulu.
Saat Asrhaf ingin bertanya kembali. Zola langsung mendahuluinya, dia tahu apa yang ditanyakan bawahannya. “Ini soal Rahma!”
Kemudian keluar dari apartemen, sedangkan Asrhaf menelan ludahnya kasar. Dia tidak bisa berkata apa-apa jika menyangkut Arrahma.
'Ashafira, kamu dimana sayang' batin Ashraf memejamkan matanya. Yang membuat dia teringat kejadian naas belasan tahun yang lalu. Sebelum dia bertemu dengan Zola.
__ADS_1
TBC...