Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Masih Belum Berubah


__ADS_3

Begitu sesak saat melihat kekasih suaminya datang ke rumah sakit. Arrahma menatap ponselnya dengan jeli. Tidak memperhatikan apa yang suaminya lakukan dengan Hanza.


Ponsel Zola berbunyi, lelaki itu tidak peduli dengan Hanza yang bersandar di bahunya. Sambil menceritakan destinasi wisata yang baru dibuka bulan ini. Lelaki ini justru membulatkan matanya saat melihat ada transferan masuk ke rekeningnya. Lebih terkejut lagi saat tahu istrinya mengirimkan pesan kepadanya.


“Aku transfer 8jt! Berarti masih 50% untuk melunasi biaya kelecetan mobil!”


Omset penjualan bulan in memang meningkat, bisa puluhan juta per—hari. Membuat Arrahma bersyukur, akhirnya kerja kerasnya berbuah manis.


Raut wajah Zola memerah, tatkala mendapat pesan dari istrinya. Mengapa harus marah? Bukankah itu kabar baik? Karena istrinya akan melunasi hutangnya.


Untuk mengetahui kenapa seseorang bisa marah. Diharuskan tahu makna marah itu sendiri. Marah adalah Emosi yang datang ketika kita merasa. Frustrasi, diperlukan tidak adil. Ketika orang lain tidak me—respect. Dan yang terakhir ketika seseorang merasa terancam atau terserang di suatu keadaan.


Jelas inilah yang Zola rasakan malam ini. Dia seperti terancam oleh keadaan. Dia takut, jika istrinya akan pergi darinya saat istrinya bisa melunasi biaya kelecetan mobil. Tapi sayang, Zola belum sadar benar. Jika alam bawah sadarnya telah menerima Arrahma sebagai istri. Akan tetapi, rasa bencinya kepada perempuan lebih mendominasi.


Arrahma bangkit dari duduknya, kaki tegak itu berdiri di samping suaminya. Hanza melirik kearah Arrahma sinis. Lelaki itu mengelus pundak Hanza, seolah ingin membuat istrinya cemburu.


“Mumpung Dokter, sedang checkup keadaan Ayah! Aku ingin cari angin!” ujarnya dengan suara lembut tapi tidak menghilangkan ketegasannya.

__ADS_1


Asrhaf yang sedang bersandar di tembok. Miris melihat rumah tangga atasannya. Yang terlalu menekankan salah satu pihak.


“Aku tidak mengizinkanmu!” Zola lelaki yang memiliki ego sangat tinggi. Susah untuk membuat lelaki ini berubah menjadi lembut nan rendah hati. Butuh waktu panjang untuk merubah sifat-sifat jeleknya. Tapi keadaan, bisa merubahnya dengan sekejap. Ya, mungkin kata ini cocok untuk merubah Zola. 'PENYESALAN!' Kapan itu akan terjadi?


Mungkin dengan ini, dia akan tahu seberapa berharganya istrinya ini. Mengapa harus menunggu kehilangan uantuk menyadarkan seseorang penting dalam hidup kita.


Kemudian dia akan berjanji kepada Tuhannya. Agar diberi kesempatan, janji kedua diperuntukkan kepada istrinya. Berjanji tidak akan menyakiti dan akan menjadi suami yang lembut.


Tapi mengapa harus menunggu semua ini?


Zola kau harus segera sadar sebelum semuanya terlambat.


“Mengapa aku harus menuruti permintaanmu? Jika kamu tidak pernah menuruti permintaanku?” Gadis itu membalikkan badannya, namun disaat itu Zola mencekal pergelangan tangannya.


Menariknya, yang membuatnya jatuh di pangkuan suaminya.


Hanza menggeser duduknya saat Arrahma terjatuh di pangkuan Zola. Dia nampak tidak suka hal ini terjadi.

__ADS_1


“Turuti saja, apa yang aku inginkan! Kamu mau dosa? Membantahku?” Tatapan mata Zola begitu tajam saat dilihat dari dekat.


“Kau selalu saja mengingatkan aku tentang dosa! Tapi kamu lupa untuk mengingatkan dirimu sendiri. Bagaimana menjadi suami yang baik!” Arrahma sudah tersalut emosi karena suaminya. Selalu mengatasnamakan apa kata suami.


“Rahmaaaa! Jangan membuat aku marah! Yang mengakibatkanmu mendapati hukuman dariku!” geram Zola mencengkeram erat tangan istrinya.


Arrahma begitu kecewa dengan suaminya. Tapi dirinya sudah tidak terintimidasi oleh keadaan. Jika dirinya tidak salah. Mengapa harus takut.


“Saya terima, kamu hukum saya sampai mati pun. Saya terima! Tidak masalah, jika itu memuaskan Tuan Zola yang terhormat!”


Untungnya keadaan sepi karena sudah tengah malam. Membuat perang kedua muggle ini hanya disaksikan oleh Hanza dan Asrhaf.


Gigi Zola bergemeretak menahan kesal. Sedangkan Arrahma berdiri dari pangkuan suaminya. Kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu.


“Rahma kembali!” teriak Zola tidak terima. Saat Arrahma meninggalkannya.


Tapi Arrahma tidak mendengar terus berjalan meninggalkan Zola. Andai saja dia mempunyai payung ajaib seperti Hagrid dalam novel Harry Potter. Dia akan memukulkan ujung payungnya ke kepala Zola dan berkata. “Zezola jadi suami yang baik untukku!” Sekejap mata semua akan berubah.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2