Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Tidak Mau Sama


__ADS_3

“Coba renungkan, pendapatku ini. Aku tidak tahu ini salah atau tidak!” ujarnya serius.


“Pertama jika tujuan kita memiliki anak. Hanya ingin, saat kita tua ada yang mengurus kita! Bagiku, itu egois!”


“Kenapa?” tanya Arrahma.


“Ya, kenapa kita harus mikir! Masa depan, istilah kita saja belum tahu. Apa umur sampai tua!”


Diam-diam Zola mulai belajar agama. Lelaki itu memiliki guru spiritual pribadi. Arrahma tidak tahu mengenai hal ini.


“Kemudian keegoisan yang tidak pernah kita sadari adalah. Kita menjadikan patokan standar masyarakat, sebagai standar hidup kita!” Menggenggam tangan istrinya.


“Kamu pasti tahu bahwa negara kita ini. Itu menjadikan anak harus ada dalam pernikahan! Aku tidak menyalakan hal itu, karena setiap manusia memiliki pandangan terhadap sesuatu hal!”


“Akan tetapi, ada juga yang memiliki pandangan sebaliknya.”


“Arrahma, istriku! Aku menerimamu, akan tetapi, sebelum itu! Kamu harus menerima dirimu sendiri! Jika pasanganmu sudah mau menerimamu apa adanya! Namun kamu belum bisa menerima kekurangan dan kelebihan yang ada dalam dirimu sendiri. Maka apapun yang Aa, lakukan untukmu. Akan terlihat salah dimatamu!”

__ADS_1


“Karena kamu insicure dengan keadaanmu sekarang!” Zola mengelus pipi istrinya.


“Kenapa Aa, tidak kecewa! Sedih atau pun yang lain!” tanya Arrahma memeluk suaminya.


“Kecewa ada karena sebuah ekspektasi! Dalam hidupku, aku tidak bertanya kepada diriku sendiri. Tentang kebahagiaan apa yang aku mau. Melainkan sebaliknya, rasa sakit yang bagaimana yang aku inginkan!”


“Saat aku memutuskan untuk menikah! Ada beberapa hal, negatif yang harus aku terima. Pertama saat berpisah dengan pasangan baik perceraian maupun dipisahkan oleh maut! Kedua saat kita, tidak dipercayai untuk menjadi orang tua. Dan ketiga, disaat kita sedang bertengkar dengan pasangan kita, yang tentunya ini sangat wajar. Dan yang terakhir, mendapati pengihanatan yang pasangan kita lakukan!”


“Kenapa aku tidak membayangkan, hal yang positif?”


“Kenapa?”


“Aa, aku tidak mau poligami!” ujarnya mengatakan ketakutan.


Zola terkekeh mendengarnya. “Rahma, aku itu tidak paham poligami! Masa, kita melakukan sesuatu tanpa paham. Nanti kalau salah kaprah bagaimana? Aku akan tetap bersamamu, aku tidak akan mengikuti gaya hidup seseorang.”


“Menjadikan poligami adalah tuntutan yang harus dilakukan. Disaat seorang istri tidak bisa memberikan momongan! Aku ingin beda, menguatkan istriku! Menjalani cobaan bersama-sama! Bukannya malah nambah, beban dengan menikah lagi. Sungguh aku tak mau pusing, membiayai dua perempuan sekaligus. Cukup Rahma seorang,” ujarnya mencium kening istrinya. Zola terkekeh berusaha menghibur istrinya.

__ADS_1


“Kita bisa, pesanku untuk istriku yang aku cintai. Jangan teritimidasi karena keadaan! Karena semua ini, bukan kemauan mu. Jika seseorang, menghinamu! Karena keadaan! Sebenarnya dia tidak menghinamu, melainkan dia tidak percaya dengan Kebesaran Tuhan!”


“Tuhan bisa melakukan apa pun, untuk kita! Bahasa mandul bagiku hanya ada di medis! Setelah aku tahu bagaimana proses, bayi bisa ada dalam kandungan! Jadi Arrahma, nikmati kehidupan ini! Kita tidak sendiri, banyak orang diluar sana, yang mengalami nasib yang seperti kita alami! Kesempurnaan seorang istri, bukan terletak pada keturunan. Melainkan dia, yang tetap berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya! Menjaga kehormatan suaminya. Serta ikhlas dengan takdir Nya!”


Arrahma bersyukur memiliki suami seperti Zola.


“Sekarang aku tahu, yang patut bersyukur dalam pernikahan ini. Itu Rahma karena mendapat suami seperti Aa!”


“Aa, juga bersyukur! Memiliki Rahma!”


Diwaktu yang bersamaan, ponsel Zola berdering. Lelaki itu mengerutkan keningnya.


“Halo?” hanya


“Apa?” pekik Zola terkejut.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2