Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Perhatian Zezola


__ADS_3

Gedung pencakar langit tertinggi dipusat kota. Nampak indah apalagi di malam hari.


“Duduklah!” Zola membantu istrinya duduk di ranjang. Lelaki ini memutuskan untuk bermalam di hotel. Mengingat keadaan istrinya yang masih shock.


“Kau bisa membuka penutup wajahmu, pun dengan kerudungnya!” ujarnya melengos kearah lain.


'Kenapa aku begitu care padanya, perasaan apa ini? Kenapa aku takut sekali jika dia pergi dariku' batinnya bertanya. Tak heran, karena ini kali pertama dia begitu menghawatirkan seseorang. Kecuali ibunya.


“Hiks ...hiks!” Arrahma terisak kembali. Membuat Zola menatapnya.


“Menangis karena takut apa itu worthy? Jujur saja bagiku ini tidak! Karena kita sudah mengeluarkan banyak energi untuk takut itu sendiri!” Zola mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya.


“Tapi menangisi sesuatu keadaan, yang membuat kamu tetap berjuang!"


"Meskipun kamu takut!” Zola menepuk pundak istrinya lembut.


"Perlu mendapatkan reward dan apresiasi!"


Arrahma diam karena bicara pun susah, jika sesenggukan.


“Tenang! Arrahma, kau tidak perlu khawatir! Karena suamimu yang baik hati. Sudah menyiapkan hadiah untukmu!” ujar Zola seperti pembual profesional.


Arrahma menatap suaminya, heran.


“Hitungan ke!" Zola mengacungkan ketiga jarinya!"


"Tiga, dua, satu!”


Bersamaan dengan itu pintu diketuk. Zola tertawa renyah karena dia bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Lelaki itu melangkahkan kakinya.


Namun Arrahma segera mencekal tangannya. “Ma-u ke-ma-na!” Suara bergetar itu membuat Zola menghela nafas.


“Buka pintu,”


“Jang-an tinggalkan aku sendiri, aku takut!” ujarnya pelan.


Zola berdecak kesal. “Ya sudah ayo!” Zola menarik tangan istrinya.

__ADS_1


Lelaki itu mendorong tempat makan didekat sofa yang ada didalam kamar hotel.


“Bagaimana? Kau suka hadiahnya! Kau harus balas dendam Arrahma!” Zola mengepalkan tangannya sebagai penyemangat.


“Energi mu terkuras karena menangis. Maka untuk malam ini kau harus balas dendam. Dengan cara menambah asupan makanan!” Zola menghempaskan bokongnya ke sofa. Lelaki itu memang sudah merencanakan hal ini. Karena dia tahu sadari sore, istrinya hanya makan kue lapis legit.


“Aku tidak lapar!” jawabnya pelan, yang membuat Zola terlonjak tidak percaya.


“Arrahma air matamu tidak berhenti menetes dari tadi! Untuk hal ini, kamu harus minum, biar tidak ada hambatan saat menangis. Biar lancar!"


"Perumpamaan kamu sekarang, itu motor. Yang harus diisi bensin! Biar tidak mogok!” Zola mengambil soft drink. Kemudian menegaknya sambil melirik kearah istri. “Mau?” tanya Zola dengan gerakan menganggukkan kepalanya. Arrahma menggeleng membuat dia membuang napas pelan.


Lelaki itu berpikir sesuatu. 'Sial, apa yang gue lakukan? Hanya karena ingin melihat Terong, tidak sedih. Gue rela melakukan sesuatu untuknya! Agrhhh, ada apa dengan gue' batin Zola menggaruk rambutnya kasar.


Lelaki itu mengambil minuman kekinian rasa taro. Kemudian meminumnya dengan bantuan sedotan. Seraya melirik istrinya dengan ekor matanya. “Minumlah, aku berpikir ini cukup enak!” ujarnya menyodorkan minuman kearah istrinya. Lagi-lagi si istri menolaknya.


“Huft, Arrahma! Minum ini perintah! Jangan dibantah! Apalagi ditambah dengan kata penolakan!” tegasnya, yang membuat Arrahma menatapnya. “Aku tidak lapar!”


“Aku tidak menyuruhmu untuk makan, cantik!” geramnya tapi berusaha manis. Sambil menggoyangkan kepala istrinya gemas-gemas kesal.


“Aku menyuruhmu minum!”


“Bajumu basah, itu sangat tidak nyaman bukan?” Zola menatap tubuh istrinya dari kepala sampai ujung. No! Dia hanya berpusat pada dada istrinya.


“Ehem!” Zola berdeham sejenak untuk menetralkan otaknya yang sedikit konslet. Lelaki itu melengos dan bergumam. "Waktunya tidak pas, untuk berpikir pornografii. Apa lagi mengajaknya main kuda poni!" gumamnya terkekeh geli.


“Ah, bagaimana kalau kamu lepaskan bajumu!” Arrahma melotot, yang membuat Zola meneruskan ucapannya kembali. “Maksudnya— kamu bisa memakai jaketku! Biar lebih nyaman,” tukasnya lagi, dia tersenyum kecut.


“Eh-eh kau mau apa?” tanya Zola langsung berdiri di atas sofa. Saat melihat istrinya ingin membuka baju didepannya.


“Kan kamu yang nyuruh ganti baju! Jadi?” Arrahma bertanya.


“Jadi?” Zola kembali menirukan ucapan istrinya.


“Dikamar mandi dong Terong! Masa disini!”


“Tapi aku takut sendirian!”

__ADS_1


Mau tidak mau akhirnya Zola mengalah. Membiarkan istrinya mengganti baju didepannya. Lelaki itu memutuskan untuk memejamkan matanya. Biar otaknya tidak traveling. Karena dia tahu mengendalikan nafsu itu benar-benar susah. “Andai saja, dia tidak shock dengan kejadian dikamar jenazah. Aku tidak akan melewatkan hal ini untuk meminta hak ku. Tidak lucu saat kita melakukan. Dia bilang ....agrh! Otak untuk malam ini, janganlah berpikir porno!” gumamnya.


“Sudah?” tanya Zola membuka suatu matanya.


“Sudah!” Arrahma mengangguk.


Lelaki itu menggeleng dan melangkah ke ranjang. Begitu lucu pikirnya, —dia terlihat seperti remaja yang malu-malu tapi sebenarnya mau.


“Bagus!” ujar Zola melihat istrinya memakai jaketnya. Sedangkan bawahan celana hitam panjang yang ketat.


“Seperti orang mau joging!” Zola tertawa renyah karena membuat wajah istrinya cemberut.


“Rileks dong, malah cemberut gila. Aku berusaha menghibur tapi kau terlalu kaku! Kanebo!” ujarnya menarik selimut. Kemudian mematikan lampunya.


“Aa, aku takut, huuaaaaaa! Jangan dimatikan lampunya!” Arrahma langsung meloncat ke ranjang.


Zola geleng-geleng kepala. Dan menyalakan lampunya kembali.


“Jangan dimatikan Aa, aku takut! Ini seperti dikamar jenazah hiks hiks!”


“Hemmm!” Malam ini Zola harus mengesampingkan egonya. Dia tidak bisa tidur saat lampu menyala.


“Peluk aku Aa, jangan tinggalkan aku sendiri ya?” tanyanya dibawah selimut.


“Bayar dulu!” ujarnya menahan senyumnya.


“Ya besok aja, emang harus bayar berapa?”


“Emang kamu tahu, bayaran yang aku maksud!”


“Tidak! Memangnya apa?”


“KMTM!”


“Apa itu ATM, aku harus bayar lewat transfer?”


“KMTM! Bukan ATM! Terong!”

__ADS_1


“Kissing Mouth To Mouth!”


TBC...


__ADS_2