
Setiap manusia, memiliki sebuah ke inginan. Begitupun dengan Zola dan istrinya. Seolah merasa sudah siap memiliki momongan. Mereka pun berencana untuk program kehamilan.
Namun terkadang semesta, tidak atau belum mengizinkan. Keinginannya terpenuhi. Inilah kepahitan yang harus mereka alami. Saat Dokter mengatakan. “Sangat disayangkan! Istri Anda tidak bisa hamil!” Dokter itu menghela nafas berat menunduk dalam.
Hati wanita manakah yang tidak, patah saat mendengar. Dirinya tidak bisa mengandung. Pecah, tak terbendung lagi air matanya. Arrahma berlari menangis tersedu. Hingga ia tersungkur di area parkir.
“Aaaaaaaaaa!” teriaknya penuh kesedihan. Dadanya seakan tersekat oleh dinding.
Zola berlari mencari istrinya. Dadanya sesak melihat istrinya tak berdaya. Dia berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu, sebelum menenangkan istrinya.
“Pulang yuk!” ujarnya berjongkok di depan istrinya.
Namun sayang, rayuan dan kelembutannya. Tak melepaskan kesedihan istrinya. Justru sebaliknya, Arrahma semakin mencaci dirinya sendiri. “Aa, tidak beruntung mendapatkan aku! Istrimu tidak bisa memberikan keturunan untukmu!” Katanya dengan tidak jelas. Karena sesenggukan.
“Ya udah kita pulang saja, Arrahma harus istirahat!” Katanya lembut mengelus bahu istrinya. Tapi Arrahma dia tetap meraung, dan tidak mau beranjak dari duduknya. Zola menghela nafas berat. Orang yang lalu lalang melihat hal ini. Membuat Zola sedikit risi. Lelaki itu pun langsung mengangkat tubuh istrinya.
__ADS_1
Arrahma menangis dan berkata. “Turunkan aku! Turunkan aku, hiks!” Dia memaksa untuk turun, akan tetapi Zola terus membopongnya hingga tiba didamping mobil. Lelaki itu membantu istrinya masuk ke dalam mobil. Kemudian memasangkan sabuk pengaman. Dan ia pun segera masuk ke mobil, agar istrinya tidak keluar lagi.
Didalam mobil tangisan semakin keras. Membuat Zola harus sabar. Lelaki itu mengendarai mobilnya kedaerah—mana. Entah ke mana tapi yang Arrahma tahu ini bukan jalan pulang ke rumah.
Mobilnya berhenti, Zola turun kemudian membuka pintu untuk istrinya.
Lelaki itu mengajak istrinya duduk di kursi panjang. Dekat danau. Istrinya sudah tidak menangis. Tidak ada pembicaraan hampir beberapa menit.
Arrahma menatap kosong, sungguh ini adalah titik terendah dalam hidupnya. Setelah mengalami kejadian menjadi yatim-piatu saat masih kecil.
“Masalah keturunan, bukan ada di kendali kita. Tapi kendali Semesta! Kamu tidak bisa menyalahkan dirimu, atas apa yang terjadi padamu! Sekalipun kita berusaha! Jika Semesta bilang bukan bagian kita! Ya tidak akan menjadi bagian kita! Sekalipun kau berusaha! Karena jelas! Yang mengendalikan adalah Semesta!” Zola menatap danau tanpa berkedip. Sedangkan Arrahma terlihat seperti orang bengong. Tapi dia mendengar perkataan suaminya.
“Sebagai contohnya, seperti anak kecil yang dulunya tidak suka belajar. Tapi saat dia dewasa dia tahu, jika ilmu itu penting. Ia pun mulai membaca, dia bisa merubah dirinya! Karena kendali ada ditangannya! Dengan memutuskan untuk belajar, dia bisa tahu beberapa hal! Akan tetapi lain cerita, dengan orang yang ingin berangkat kerja! Namun ia terjebak macet, dan kendali macet ini! Bukan dia yang mengendalikannya! Sama halnya dengan kisah kita!”
“Mungkin kita memang tidak bisa punya keturunan karena kendali bukan pada kita! Akan tetapi kita bisa mengendalikan sesuatu, yang membuat kita bahagia! Mungkin dengan saling menerima atau mengadopsi anak!”
__ADS_1
“Ingat, jika anak juga masuk kedalam perhiasan dunia! Anak adalah sebuah titipan begitu juga dengan harta maupun pasangan!”
“Kamu tidak akan pernah kehilangan. Jika kamu tidak pernah memiliki!”
“ Sebenarnya, aku baru sadar! Baru saja pertanyaan ini terlintas di otakku!”
“Tujuan kita memiliki anak itu apa? Apa ini hanya keegoisan yang tidak pernah kita sadari?”
Arrahma mengerutkan keningnya, gadis itu memandang wajah suaminya.
“Maksudnya egois?” tanyanya, mana mungkin keinginan memiliki anak itu egois.
“Emmmm, begini—“
TBC...
__ADS_1
Cie kecewaaaa...