
Zola tidak bisa diam lagi, karena istrinya belum kembali juga. Lelaki itu keluar dari kamar Darwin, seraya memakai jaketnya.
“Srhaf, Rahma kenapa tidak kembali juga, ini sudah jam setengah sebelas lebih!” ujarnya dengan mimik wajah yang benar-benar khawatir.
“Aku begitu khawatir dengannya. Jangan-jangan dia ...?” Zola menggantung ucapannya, dia tidak tahu apa pun mengenai Arrahma.
“Lebih baik, Tuan! Check dulu posisi Nona! Jika tidak di sini mungkin ke pesantrennya!”
Zola segera membuka ponselnya, menatap dengan penuh teliti.
“Dia masih ada di rumah sakit!”
“Srhaf, mintalah Suster menjaga Darwin! Stelah Suster datang kau cari Arrahma! Aku tidak mau tahu, dia harus ketemu! Aku akan mencarinya mulai dari lantai paling atas!” Zola langsung berlari tanpa menunggu jawaban dari Asrhaf.
“Rahma! Rahma kau dimana!” gumamnya gusar. Sudah hampir dua puluh menit dia mencari tapi tidak menemukannya.
Lelaki itu memutuskan untuk menelpon Asrhaf, siapa tahu istrinya sudah ditemukan. Namun nihil, Asrhaf juga tidak menemukan istrinya.
“Semua lantai sudah aku check, tapi dia tidak ada!” Zola pergi kearah taman, entah mengapa dia teringat kejadian saat dia mendengar suara isakan. Lelaki itu menyalakan senter ponselnya.
“Rahmaaaa!” teriak Zola.
“Jika kamu ada disini, aku mohon jangan bersembunyi!“ Entah mengapa hatinya yakin jika suara isakan yang waktu itu ia dengar, milik Arrahma.
Tepat disebuah kursi panjang, tak sengaja kakinya menginjak sesuatu. Lelaki itu berjongkok untuk melihat sesuatu yang yang ia injak. Sebuah gantungan tas, yang lucu.
“Gantungannya jelek, seperti yang punya!” Zola tersenyum sinis saat istrinya memasang gantungan diresleting ransel.
“Emang iya?” tanyanya polos.
“Emmm!” Laki-laki itu mengangguk pelan. Kemudian berkata. “Tunggu dulu, aku punya gantungan yang bagus!” ujarnya bangkit dari rebahannya diranjang. Sang lelaki pun, membuka nakas. Dan mengambil benda lucu yang mengeluarkan sinar.
“Wahhhh!”
“Kamu bisa membayarnya, jika ingin mendapatkan ini! Cukup pijat pundakku, sampai aku bilang cukup!”
__ADS_1
“Ikilih ...aku kira, aku akan mendapatkannya dengan gratis!” Arrahma menggembungkan pipinya.
“Mau tidak? Aku beli juga pakai tenaga!”
“Emang iya? Tidak pakai uang?”
“Dasar Terong, otaknya kosong! Kalau beli itu jelas pakai uang. Untuk mendapatkan uang aku harus kerja dulu. dan kita digaji karena otak dan tenaga Terong!” Zola menoyor kepala istrinya pelan.
“Arrahma! Ini gantungan kunci yang aku berikan ke dia!” Zola celingak-celinguk mencari istrinya. Namun saat ingin berdiri dari berjongkoknya matanya melihat sesuatu di atas rumput.
“Apa ini?” Zola mendekatkan senter ponselnya kearah rumput.
“Pil?” pekiknya. Pil itu basah seperti sudah pernah diminum sebelumya.
“Setahuku Arrahma, tidak bisa meminum pil. Apa ini punyanya? Aku ingat bagaimana dia kesusahan, minum pil saat dirawat dulu! Pil apa ini?”
Zola mengambil bungkus pil yang tergeletak dikaki kursi.
Saat ingin membacanya, ada suara bising dari orang-orang. Membuat Zola segera berdiri dari duduknya. Tanpa sadar lelaki itu memasukkan bungkus pil itu ke saku celananya.
Zola mengedarkan pandangannya, disebuah sudut ruangan rumah sakit. Ada beberapa manusia berkerumun. Lelaki itu memutuskan untuk mendekatinya.
“Seseorang terkunci di dalam!” jawab perempuan paruh baya.
“Kenapa tidak dibuka?” Zola kembali bertanya.
“Aku mohon tolong aku!” teriak seseorang lemah dari dalam ruangan.
Duar! Zola terkejut karena mendengar ucapan istrinya.
“Rahmaaaa! Apa itu kamu?” Zola menggedor pintu itu.
Arrahma yang ada di dalam ruangan. Dia nampak girang mendengar suara Zola. Dia sudah lupa dengan prasangka buruknya terhadap suaminya.
“Aa! Keluarkan aku dari sini! Hiks! Aku takut hiks!” Rahma menggedor pintu cepat.
__ADS_1
“Kamu tenang, aku akan berusaha membuka pintunya!” teriak Zola.
“KENAPA KALIAN HANYA DIAM!” bentak Zola kesal.
“Kami berusaha tapi, pintunya terkunci!” ujar seseorang.
“Tapi tenanglah, seseorang telah meminta kunci kepada petugas rumah sakit!” ujar yang lain.
“Aa! Tolong keluarkan aku dari sini hiks ...hiks ... aku takut!” tangisan Arrahma mengeras.
Zola tidak bisa menunggu seseorang yang mengambil kunci dari petugas RS. Lelaki ini tidak tega melihat istrinya ketakutan didalam kamar jenazah.
“Arrahma, menjauhlah dari pintu. Aku akan mencoba mendobrak pintunya dari luar!” teriak Zola dengan wajah memerah. Dia tidak habis pikir kenapa istrinya bisa terkunci di dalam kamar jenazah.
“Aku nggak mau, aku takut!” gadis itu menggeleng tidak berani, sadari masuk dia tidak beralih posisi karena ketakutan.
“Kalau kamu tidak minggir, bagaimana aku mendobraknya? Apa kau mau menunggu seseorang yang mengambil kunci dari petugas?” tanya Zola tepat di depan pintu.
“Arrahma Sayang, ayo jangan takut. Langkah kan kakimu sedikit demi sedikit! Menjauh dari pintu. Ayo istriku, Tuhan bersamamu! Jangan takut! Dia menjagamu! Arrahma kau dengar aku?”
Arrahma yang ada di dalam, melakukan apa yang suaminya bilang. Nyatanya suara lembut Zola yang pertama kali. Mampu membuat Arrahma tenang.
“Arrahma sudah kah, kau menjauh dari pintu?”
“Emmmm!” Itulah jawaban dari dalam.
Zola mencoba mendobrak sekali belum berhasil, dua kali pintunya sedikit bergoyang. Ketiga kali tidak ada perubahan. Hingga ke lima kali pintu terbuka. Membuat Zola tersungkur kedalam ruangan, seraya memegang lengannya yang sakit. Tapi secepat kilat Zola berdiri tegak dan menghampiri istrinya yang menangis. Gadis itu langsung menghamburkan tubuhnya dipelukkan suaminya.
“Hiks ... hiks ...hiks! Aa!” Begitu erat pelukan dari istrinya. Zola menerima pelukan itu, tangannya mengelus kepala istrinya lembut.
“Tenanglah, kau sudah bisa keluar!” ujar mencoba menenangkan istrinya. Badan Arrahma bergetar hebat itu yang ia rasakan.
Arrahma mendongakkan wajahnya untuk menatap suaminya. Disaat itu Zola pun menatapnya. Dia tahu istrinya ketakutan. Lelaki itu menangkup wajah istrinya. Kemudian mencium mata Arrahma kanan-kiri bergantian. Dengan lembut dan diakhir dengan tersenyum lebar. Agar hati istrinya tenang.
“Jangan takut semua akan baik-baik saja!”
__ADS_1
Arrahma kembali memeluknya erat. Sedangkan orang yang tadi berkerumun bernafas lega. Karena melihat Arrahma bisa keluar.
TBC...