Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Mowelle Nama Burung Zola


__ADS_3

Quality time yang pas, untuk setiap pasangan adalah saat malam hari! Di mana mereka sudah kembali dari pekerjaan sehari-harinya.


Sama halnya dengan Zola dan istrinya. Tak terasa pernikahan mereka sudah berumur tiga bulan. Akan tetapi, ada rasa yang kurang. Seperti— rumah terlalu sepi karena hanya dua orang yang tinggal di sana.


“Kucaiy!”


“Kucaiy?” tanya Arrahma menghentikan aktivitasnya. Gadis itu sedang memijat kaki suaminya yang berselonjor di pahanya.


Selojoran di sofa memang enak, apalagi dipijat sama istri.


“Anggap saja panggilan sayang!” ketus Zola sambil memejamkan matanya.


“Maknanya?”


“Tidak bermakna, aku berpikir, itu karena setiap pagi kamu! Berkicau seperti burung!” Katanya seraya menurunkan lengannya, yang tadi digunakan untuk menutupi wajahnya bagian mata.


“Aa menyamakan aku dengan burung?” Menatap suaminya tidak percaya. “Parah! Padahal kan Aa, yang punya burung! Udah begitu setiap pagi selalu membangunkan orang saja!” gerutunya kesal jika mengingat burung suaminya. Yang selalu berkicau tidak ada henti-hentinya.


Zola terkekeh mendengar keluh kesah istrinya. Nyatanya berhasil, idenya menjadikan burung peliharaannya sebagai alarm alami.


“Harusnya kamu bersyukur, karena adanya burung kamu tidak telat subuh! Dia itu kelaparan Sayang, makanya setiap pagi berkicau!”


Mowelle adalah penghuni baru di rumah Zola. Lelaki itu mengadopsinya tiga Minggu yang lalu. Ternyata mempunyai hewan peliharaan membuat sedikit waktunya, teralihkan. Dari pada mengurusi berita-berita diluaran sana, mulai dari artis yang selingkuh, keributan dll. Membuat masyarakat terbelah menjadi dua. Baik yang salah maupun yang benar, mengaku sebenarnya dia adalah korban. Berharap mendapatkan simpati dari masyarakat. Sedangkan masyarakat, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya mengikuti asumsi dan nilai yang ia pegang. Jika idolanya adalah yang harus diberikan suport. Sedangkan lawan idolanya dialah yang disalahkan. Sungguh naas, sebagai masyarakat ternyata kita belum cerdas. Untuk memusatkan pandangan kita. Terhadap dunia, kita mengeluarkan energi untuk membela idola kita mati-matian. Membuang uang hanya ingin bisa melihat instatory idola. Apa ada perkembangan terbaru mengenai masalah. Hingga kita lupa telah membuang waktu, hanya waktu untuk hal-hal yang tidak berguna.


Ya pilihan paling tepat adalah bersikap bodoh amat. Bodoh amat bukan berarti tidak memedulikan apa yang terjadi. Akan tetapi seseorang tahu mana yang harus dipikirkan dan tidak perlu untuk dipikirkan. Termasuk mengurusi urusan orang lain. Hal ini lah yang Zola lakukan. Lebih baik bercengkrama dengan Mowella, memberikan makanan. Setidaknya energi yang ia keluarkan bermanfaat baginya. Mungkin saja dengan merawat hewan, dirinya bisa masuk Surga dengan jalan yang berbeda.

__ADS_1


“Sudah ya A? Tanganku pegel nih!” ujar Arrahma meregangkan tangannya.


Zola langsung berdiri dia ingin ke kamar untuk mengambil ponselnya. Lelaki itu memasukkan tangannya disaku. Seperti ada sesuatu didalam sakunya. Lelaki itu pun mengeluarkan tangannya lagi.


Zola mengerutkan keningnya ternyata sampah bungkus pil. Arrahma yang tadi berjalan di belakangnya. Kini berdiri di sampingnya.


“Aa! Kenapa ada bungkusan pil kontrasepsi!” tanya Arrahma seraya menarik bungkusan yang ada ditangan Zola. Sedangkan lelaki itu mencoba mengingat-ingat bagaimana bungkusan pil kontrasepsi ada di sakunya.


“Aa, ayo jawab!” Arrahma sudah naik pitam. Yang ia pikirkan hanya satu hal. Suaminya selingkuh dengan perempuan lain.


“Ini bukan milikku!” sergah Zola tidak terima jika mendapatkan tuduhan yang tidak sesuai.


“Ya! Ini tidak milikmu, tapi ini bisa jadikan milik selingkuhanmu hiks!” Arahan memukul bahu suaminya.


“Kau gila! Selama kita menikah, apa kamu pernah melihatku keluyuran tidak jelas.” Tegasnya.


“Sampai, aku tidak tahu kamu pulang! Hiks!”


Sedangkan Zola mencoba mengingat kenapa bungkus pil ada dalam sakunya. Dan sekarang ingatannya berputar dimana dia berada di taman rumah sakit sedang mencari istrinya.


“Aa! Jahat hiks! Katanya jangan pernah tinggalkan aku Arrahma! Tapi kenapa kamu malah MENGHIANATI KU?” teriak Arrahma teringat perkataan Zola yang begitu manis. Namun kenyataannya justru kepahitan yang ia rasakan saat ini.


“Terus apa maksud perkataanmu! Jangan pernah tinggalkan aku apapun keadaannya! Maksud kamu? Aku harus tetep diam, saat kamu selingkuh! Terus seumpama jika selingkuhan mu hamil aku harus menerimanya!” katanya dengan gigi yang menyatu. Sedangkan tangannya mencengkram erat kerah baju suaminya.


“Kau bisa diam tidak!” teriak Zola yang tak kalah kesal. Lelaki itu mengibaskan tangan istrinya dengan kasar.

__ADS_1


“Itu bukan punyaku! Dan aku tidak pernah selingkuh! Kau jangan gila!”


“Kau lupa dengan wanita yang kau cium di rumah sakit dulu?” tanya Arrahma seakan menentang suaminya.


“Siapa kalau bukan selingkuhan kamu? Ingat isi surat perjanjian A!” Arrahma mengingatkan suaminya.


“Sekarang aku tanya! Kenapa waktu kamu sakit dirumah Kong! Saat itu aku sedang mengecek pabrik tepatnya satu bulan yang lalu! Kamu mengatakan dengan tegas, jika kamu tidak mungkin mengandung! Padahal kamu muntah-muntah!” Zola melangkahkan kakinya sedikit kearah istrinya. Yang membuat Arrahma mundur dan menelan ludahnya dengan kasar.


“Ayo katakan!” Zola terus melangkahkan kakinya. Dia ingat jika bungkusan pil yang ada di sakunya. Adalah ia dapatkan saat mencari istrinya. Entah mengapa dia merasa jika bungkusan pil itu milik Arrahma. Hal ini diperkuat karena adanya dua butir pil, seperti sudah pernah diminum tergeletak di atas rerumputan. Bukan tanpa alasan, karena ia tahu Arrahma tidak bisa menelan pil.


Kini tubuh Arrahma terkungkung oleh tubuh Zola.


“Jawab aku Arrahma! Kenapa kamu begitu yakin jika kamu tidak hamil! Jika tidak ada sesuatu yang terjadi! Atau kau menyembunyikan sesuatu dari ku?” tanya Zola yang ingin mendengar pengakuan dari istrinya. Jika selama menikah Arrahma mengonsumsi pil kontrasepsi tanpa sepengetahuannya.


“A-aku!” Begitu alot membuat ucapannya lancar. Karena dia tahu letak kesalahannya.


Zola menghela nafas berat, menunggu istrinya berbicara. Seperti menunggu bantal yang jamuran.


“Apa ini punyamu?” Zola memperlihatkan bungkus itu tepat didepan wajah istrinya.


“Bukan tanpa alasan aku mengatakan hal ini! Karena aku menemukan bungkus pil, tepat dimana gantungan tasmu jatuh!” Kalimat yang jelas, padat mampu membuat Arrahma ketakutan.


Nyali Arrahma langsung menciut begitu teringat kejadian dimana ia meminum pil kontrasepsi.


“JAWAB!” teriak Zola yang membuat Arrahma terhenyak beriringan dengan itu Arrahma mengangguk pelan. Dengan bibir yang bergetar dia menjawab. “I ...i... iya!” Yang membuat Zola melengos pergi kedalam kamar. Mimik wajahnya terlihat kecewa.

__ADS_1


Brakkkk! Zola menutupnya dengan keras. Yang mampu membuat Arrahma terlojak karena kaget. Dengan air mata yang membasahi pipinya.


TBC...


__ADS_2