Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Arrahma Merajuk Zola Bujuk


__ADS_3

Zola membuka pintu kamarnya, dilihatnya istrinya sedang duduk di ujung ranjang. Dengan posisi membelakanginya. Lelaki ini hanya menggeleng, entah karena apa. Tapi bibirnya tersenyum samar.


Lelaki ini memutuskan untuk duduk di samping istrinya. Ditengoknya wajah istrinya, ternyata sedang cemberut.


Suara isakan membuat matanya melebar, tidak percaya.


“Kenapa?” tanyanya ditengah kesunyian dalam kamar.


Tidak ada jawaban, membuat lelaki ini berinisiatif untuk memegang pundak istrinya. Namun sebelum terjadi, si empu langsung menggeser tubuhnya. Seakan tak mau disentuh.


Lebih dari beberapa menit ruangan tidak menampakkan kehidupan. Arrahma yang tidak mau bicara terus terang, sebenarnya apa yang membuat dia kesal. Dan Zola yang tidak mau bertanya. Lelaki ini hanya memandang wajah istrinya dari samping. Membiarkan istrinya untuk menenangkan diri.


“KENAPA KAMU DIAM SAJA SAAT DICIUM?” tanya Arrahma seraya membalikkan wajahnya agar bisa memandang wajah suaminya. Nafasnya naik turun, air matanya sudah tak terelakkan.


Zola terkejut karena mendapatkan bentakan diujung sore. 'Astaga dia ini kenapa?' batin Zola mencoba mencari tahu. Sebenarnya apa yang terjadi.


Melihat Zola yang diam membisu amarah, Arrahma semakin membuncah.


“Kenapa hanya diam?” ujarnya mengguncang bahu suaminya.


“Heh! Kamu itu kenapa sih, marah? Wajar saja jika Nan, menciumiku karena kita saudara.”


“Muhrim kan?” tukasnya kembali.


Arrahma semakin memanyunkan bibirnya. Dan dadanya naik turun. Tidak suka dengan jawaban yang suaminya berikan.


“Lihat kamu begitu mesepesialkannya, sampai-sampai ada panggilan sayangnya! Tapi kenapa kalau aku tidak?” Ternyata orang kalau sudah cemburu. Hal yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan pun ikut terseret.


Zola menggaruk tengkuknya, ternyata menjinakkan orang cemburu lebih susah dari pada menjinakkan banteng yang melihat orang memakai baju merah.

__ADS_1


Zola memegang kedua pundak istrinya. Di elus-elus biar lebih tenang. “Bukannya aku juga mempunyai nama panggilan sayang untukmu?” tanyanya dia berusaha menjelma menjadi suami idaman nan sabar. Saat istrinya marah karena cemburu.


“Apa maksudmu! TERONG!” jawabnya secepatnya kilat dengan suara menggelegar seperti guntur.


Zola meringis ini kali pertama dia dihadapkan dengan perempuan yang sedang hilang kesadaran karena rasa cemburu.


“Kenapa kamu marah-marah? Cemburu? Kamu sudah menyukaiku!” godanya yang justru membuat Arrahma berdiri dari duduknya. Namun disaat yang bersamaan Zola mencekal tangannya.


“Mau kemana? Mending duduk dipangkuan suami!” Zola menarik tubuh istrinya, agar istrinya bisa duduk di pangkuannya.


“Aku punya ide, bagaimana kalau kita melakukan challenge!” bujuknya sambil memeluk tubuh istrinya yang duduk di pangkuannya. Sesekali mencium leher istrinya.


“Nggak mau!” Mode merajuk masih tersetel dalam diri Arrahma.


“Beneran? Ini menguntungkan kita loh, dunia akhirat!” Diakhir ucapan lelaki itu mencium pipi istrinya dengan gemas. Ternyata dicemburui ada enak dan tidak enaknya.


“Gak, mau!” Arrahma menggeleng, dia tertawa saat suaminya menggosokkan kepala diperutnya. Karena geli.


“Ya sudah katakan!” Amarahnya mulai mereda. Rasa cemburunya yang tadi sudah di ubun-ubun mulai terlupakan. Tatkala suaminya mengalihkan pembicaraan yang lebih menonjol.


“Challengenya adalah...” Zola menggantung ucapannya. Akhirnya dia tidak perlu repot-repot untuk mendapatkan keinginannya.


“Begini ...satu Minggu kedepan! Kita harus memanggil pasangan kita dengan panggilan Sayang! Tidak boleh memakai kata ganti kamu atau nama! Dan tidak boleh memanggil diri kita dengan panggilan aku! Jika kita tak sengaja mengucapkan aku atau kamu! Maka wajib membayar denda setiap satu kesalahan bayar 5000! Nanti hasilnya kita bisa berikan ke orang yang tidak mampu!”


Arrahma mencoba mencerna perkataan suaminya.


“Contoh ya, ini kalau aku yang ngomong! 'Sayang tolong ambilkan ponselnya Aa dong!' Nah harus gitu!”


“Tidak boleh gini, 'Sayang tolong ambilkan ponselku' Oke?”

__ADS_1


Arrahma mengangguk antusias, tapi saat dia teringat panggilan yang suaminya buat untuknya membuat dia kesal.


“Terus kalau aku minta Aa ngambilin sayur dikulkas. Masa iya jadi gini! 'Sayang, bantu Terong ambil terong dalam kulkas dong' Jelek!”


Zola terbahak-bahak karena perkataan istrinya. Yang membuat Arrahma menatapnya malas.


"Ehem, kan bisa bilang gini. Sayang ambilkan terong!" ujar Zola menaikkan alisnya.


“Sambil menunggu Aa mendapatkan panggilan sayang untuk Terong! Sayang harus sabar ya?” ujarnya tidak kuasa menahan tawanya.


“Deal! Mulai detik ini kita mulai challengenya!” Zola menjabat tangan istrinya.


“Dael!”


“Bilang saja kamu mau dipanggil Sayang olehku!”


“Hem baru dimulai sudah salah. Ayo Sayang, harus bayar 10.000 karena dua kali salah,” ujar Zola yang membuat Arrahma menutup mulutnya.


“Ck! Aku lupa!”


“Tambah lagi, tiga kali jadi 15.000!” ujar Zola tertawa renyah.


“Sayang, belum lima menit masa Terong harus ngeluarin uang 15.000! Kalau seminggu ke depan berarti bisa-bisa, jutaan dong Yank!” ujar Arrahma membuka dompetnya.


“Ini melatih kefokusan biar tidak terdistraksi!”


Zola bahagia, jujur saja dia bersyukur punya ide sekonyol ini. Karena dia gengsi jika harus memanggil istrinya dengan panggilan Sayang terlebih dahulu. Waktu dia video call dengan istrinya. Dia hanya berkata sampai Say! Kemudian tidak diteruskan.


TBC...

__ADS_1


...Komentar Anda begitu saya tunggu! Tapi saya sadar komentar itu bukan diminta. Melainkan Anda memberi, karena menyukai ceritanya! Yang bagus dan membuat kalian emosional ❤️😘!...


__ADS_2