
Zola menutup pintu kamar hotel. Dan menurunkan tubuh istrinya. Arrahma sangat malu karena tadi suaminya menggendongnya dari rumah sakit hingga ke hotel.
“Buka cadarmu!” ujar Zola menunjuk istrinya, lelaki itu merebahkan tubuhnya di kasur.
Arrahma diam tidak bergeming, tapi matanya melirik kearah pintu. Kuncinya masih menggantung, berarti dia bisa keluar. Gadis itu pun berlari kearah pintu. Tapi dengan cepat Zola, yang tadi merebahkan tubuhnya langsung berlari. Dan mengambil kunci itu, tersenyum kemenangan. Karena berhasil membuat Arrahma meloncat untuk mendapatkan kunci yang ada ditangannya.
“Berikan!” tegas Arrahma.
“Mau?”
Arrahma mengangguk pelan. Zola tersenyum sinis, ada cara untuk mendapatkan keinginannya.
“Gampang! Tinggal layani saya malam ini!” Zola membalikkan badannya, sambil memutar kunci hotel. Zola menyunggingkan senyumannya. Karena kejadian istrinya dipeluk oleh asistennya. Dia bisa membuat alasan untuk menjadikan Arrahma miliknya dengan utuh.
“Tidak Mau!” Rasa sakit yang ia rasakan, membuat dirinya berani kepada suaminya.
“Benerkah? Kau tidak mau! Tapi bagaimana kalau aku yang mau!” Zola membalikkan badannya melangkah kearah Arrahma perlahan. Gadis itu melangkah mundur di saat suaminya mengikis jarak padanya.
Arrahma membeku saat tubuh tegap itu mengungkungnya.
“ZOLANDA JANGAN GILA!” teriak Arrahma saat suaminya menyingkap penutup wajahnya. Kemudian mencium bibirnya lembut.
“Emmmm!” Arrahma berusaha mendorong tubuh suaminya. Dia kehilangan nafas, karena berciuman dengan penutup wajahnya.
Zola melepaskan ciuman itu, dia tersenyum melihat istrinya kesal.
“Hukuman karena kamu terlalu banyak bicara! Jadi kalau kamu kehilangan nafas seperti ini, tidak mungkin kau bisa bicara!”
__ADS_1
Arrahma mengelap mulutnya kasar, dia terlihat jijik. Saat teringat bibir suaminya dicium oleh perempuan lain.
“Emmmm!” Zola menggeleng, dan berucap. “Tidak! Untuk malam ini, aku ingin mendengar suaramu. Ah ... lebih tepatnya...” Zola menggantung ucapan, lelaki itu berbisik ditelinga istrinya. “Desssahanmu!” Arrahma langsung menutup telinganya. Mengerikan begitu suara seksi suaminya menggema ditelinga.
“Aku tidak mau! Tidak!” Arrahma menggeleng. Ingin keluar dari kungkungan suaminya. Tapi Zola justru menempelkan badannya dengan miliknya.
“Aku tidak Sudi, melakukan hubungan sekss. Jika kamu masih berhubungan dengan perempuan lain!”
“Kau gila! Aku tidak sebodoh itu, melakukan hubungan intim dengan banyak perempuan. Buat apa, kerja keras tapi punya penyakit menular HIV! Aku ngumpulin uang buat menjamin kehidupanku di masa mendatang. Aku masih ingin hidup puluhan tahun lagi. Bukan mati teraniaya gara-gara menderita penyakit menular itu.”
“Jadi bagaimana? Bukannya kau yang menjadi pertama bagiku? Tapi apa aku yang pertama bagimu?”
“Bukan!” jawabnya kesal.
“Apa?” pekik Zola terkejut. “Jadi kau tidak perawan lagi?” tanyanya tak percaya.
“Akhh!” Zola menarik rambutnya frustasi.
“Terus gimana? Mau cerai?” tanya Arrahma tersenyum dibalik cadarnya.
“Kau membohongiku!” Zola terlibat kesal.
“Maksudnya? Bukannya kamu yang memaksa untuk menikah dengagku? Dan apa kamu pernah bertanya tentang statusku?” Arrahma begitu bahagia karena berhasil mengerjai suaminya.
“Sini kuncinya, aku mau menemui Ayah!” Arrahma mengambil kunci yang terletak diatas kasur. Sedangkan Zola menunduk sambil memegang kepalanya.
Cekklek! Pintu terbuka, sebelum dia mengunci. Arrahma masukan kepalanya untuk melihat apa yang suaminya lakukan.
__ADS_1
“Tapi Bohong!” Arrahma segera mengunci pintu dari luar. Sedangkan Zola yang diprank langsung menggedor pintu minta dibukakan.
“Buka Rahma! Buka!”
Arrahma tertawa kecil, tapi saat dia ingat jika ini dosa.
“Astagfirullah ampuni aku ya Allah! Bukan aku tidak mau melayaninya. Tapi aku ingin memberikan sedikit pelajaran. Agar tidak melakukan kesalahan lagi, maksiat. Serta menyakiti hatiku lagi!”
“ARRAHMA BUKA!” Zola putus asa karena sepertinya Arrahma sudah ditelan bada hingga ke rumah sakit.
"Akhhhhh!" Dia menjambak rambutnya kasar.
“Terong semakin hari semakin berani saja!”
"Dia benar-benar, seperti ikan belut saja licin sekali. Sekalinya ditangkap ingin dimasukkan ke penggorengan. Eh ... lolos! Semua ini salah Darwin, kenapa hipertensinya kambuh tidak menunggu aku selesai!" grutunya.
“Sial” Zola menghela napas panjang. Merebahkan tubuhnya ke kasur lagi. Bagaimana caranya keluar dari kamar.
"Tuhan! Aku mohon jangan hukum aku! Bagaimanapun aku lelaki normal, yang ingin merasakan itu! Tapi kenapa selalu saja gagal!" Zola mengadakan wajahnya, dia berpikir jika dia adalah lelaki yang paling tidak beruntung. Sudah menikah tapi belum tahu rasanya hubungan yang ada dalam pernikahan.
"Arrahma membuat aku tidak waras! Karena menghayal dessahan yang keluar dari mulutnya!"
Ting! Pesan masuk dari Bocah Terong. Yang membuatnya semakin geram.
"Kurang asem!"
TBC...
__ADS_1