Gadis Bercadar Milik Tuan Zola

Gadis Bercadar Milik Tuan Zola
Jadikan Motode Penasehat


__ADS_3

Gadis itu memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Hukuman kali ini benar-benar. Membutuhkan nyali yang cukup. Bagaimana tidak, jika suaminya meminta dirinya. Menjelma menjadi wanita penggoda, yang berbanding terbalik dengan kehidupan nyatanya.


Zola mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya kearah kamar mandi. Lelaki itu tersenyum sinis, melihat istrinya yang hanya mematung di balik pintu. Sambil mengigit bibir seperti grogi.


“Kenapa hanya diam? Aku kasih waktu lima menit untuk memulai hukumanmu. Jika dalam waktu lima menit kedepan, kamu tidak mulai menjalankan hukuman. Aku tambah!” Lelaki predator bermata keranjang ini. Terlihat benar-benar menjengkelkan.


Arrahma menarik napas panjang, sebelum memulai hukumannya. Gadis itu membuka pintu kamar mandi sedikit guna dirinya bisa melangkahkan kakinya keluar.


Zola menelan ludahnya dengan susah payah. Saat melihat istrinya memakai baju sebatas paha. Lelaki itu menutupi wajahnya, seraya mengumpat diri sendiri. Karena hukuman yang diberikan kepada istrinya. Nyatanya malah mengikut sertakan dirinya mendapat hukuman.


Arrahma melangkah kearah suaminya. Gadis itu meraba dada Zola layaknya penggoda. Sedangkan Zola mencoba mengendalikan dirinya yang mulai terjebak dalam permainannya sendiri.


“Selamat malam Tuan, bagaimana jika malam ini kita habiskan malam bersama?” Arrahma bersuara serak, terdengar menggoda ditelinga Zola. Dengan penuh keragu-raguan. Gadis itu duduk dipangkuan suaminya. Seraya menggulung tangan dileher Zola. Satu kecupan manis dileher, membuat Zola menegang.


“Tampan, wajahmu sangat tampan. Aku sangat tergila-gila!” jari-jemarinya membelai wajah Zola. Jantung keduanya berdetak, karena ini kali pertama pasangan itu. Bersikap layaknya seorang pasturi yang dimabuk cinta. Ulat bulu yang menempel di ranting pohon. Ya ini sangat cocok untuk menggambarkan keadaan keduanya.

__ADS_1


“Tapi, apa artinya ketampanan. Jika pada akhirnya akan sirna. Apa artinya kekayaan jika pada akhirnya kita tinggalkan. Atau justru malah harta yang meninggalkan kita dahulu!”


Zola mengerutkan keningnya kenapa istrinya malah berkata aneh.


“Suamikuu!” suaranya terdengar begitu menggoda.


“Sebagai istri aku hanya bisa mengingatkan dirimu. Sebagai istri aku hanya ingin dirimu selamat. Baik di dunia maupun diakhirat!”


Sekarang lelaki itu tahu jika istrinya akan berceramah. Lelaki itu ingin membuka mulutnya, namun dengan cepat Arrahma menyumpalnya dengan bibir. Inilah kali pertama mereka berciuman dengan saling bertatapan. Mata Arrahma tetep membuat Zola tersihir. Lelaki itu langsung melirik kearah lain.


“Tidak maukah Aa, sesurga denganku? Dengan ibu dan dengan orang-orang shaleh?” gadis menangkup wajah suaminya. Mungkin malam ini saatnya, untuk mengingatkan Zola. Mengingatkan suaminya dengan terang-terangan. Tidak hanya menyeru semata tanpa sebuah penjelasan dan nasehat.


“Silahkan kamu tertawa di dunia. Tapi jangan sampai kamu ditertawakan oleh dunia. Sebagai manusia kita boleh mencari kekayaan untuk kita hidup. Tapi jika kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau! Laksanakan lah tugasmu sebagai seorang hamba.” Arrahma meraih tangan suaminya. Gadis itu menciumnya dengan lembut. Kemudian tersenyum lebar kearah Zola. Lagi-lagi hati Zola mengeluarkan kilat. Terpesona, mungkin saja.


“Aa!” panggilnya tertahan, ingin menangis saat melihat gaya hidup suaminya. Masuk katagori agnostik.

__ADS_1


Zola melirik mata istrinya sesat, terlihat berlinang.


“Aa, suamiku! Janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan Nya, adalah kezaliman yang benar-benar besar!” ujarnya lembut begitu prihatin dengan suaminya.


“Aa suamiku, jika ada sesuatu perbuatan sebesar biji sawi. Baik berada dalam batu, langit atau dibumi. Niscaya Allah, akan memberikan balasannya.”


“Aa, jika Aa berbuat baik maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Maka apabila kamu kufur, maka Tuhan tidak mendzalimi hambaNya. Karena yang menzalimi diri adalah kita sendiri!”


Zola terdiam, setiap kali dia ingin mengucapkan sesuatu. Arrahma lebih gesit membungkam mulutnya.


“Sholat adalah kewajiban, sholat pula amalan pertama yang akan dihitung nantinya. Jangan pernah tinggalkan sholat meskipun kita sering melakukan kemaksiatan! Akan tetapi sebagai manusia, Allah memberikan akal! Yang bisa mengendalikan diri kita. Mau berbuat dosa atau berusaha menghindarinya! Kendali ada dalam diri kita. Akan tetapi sebagai manusia terkadang setir yang kita kendalikan. Memilih jalannya sendiri. Disaat kita tidak bisa mengendalikan dan mengontrol diri. Untuk berbuat dosa, maka segeralah mohon ampunan, cepat-cepat bertobatlah!


"Dan jangan pernah terputus dari rahmatNya. Karena rahmat Allah jauh lebih banyak daripada murkaNya!”


Zola tersenyum kemudian mengelus rambut istrinya.

__ADS_1


“Sudah ceramahnya Bu Us-tadzah?” sinis Zola membuat Arrahma menciut. Gadis itu meremas jari-jemarinya.


Hati Zola sudah tandus seperti gurun Sahara. Butuh hujan salju untuk menghilangkan ketandusan. Agar hidup dan subur kembali. Lantas bisakah, Arrahma jadi salju untuk suaminya?


__ADS_2